MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
So Beautiful, Like You



" Kia, Mama senang kalian mau menginap di sini. Kamu harus sering-sering datang dan menginap di sini ya, Sayang. Di sini juga rumah kalian, jadi jangan sungkan-sungkan kalau di sini, anggap saja ini seperti rumah kalian sendiri." Lusiana meminta agar Azkia rutin mengunjungi bersama Raffasya ke rumahnya itu.


" Iya, Ma. Kia juga tadi sudah berdiskusi dengan Kak Raffa, Insya Allah ke depannya kita akan sering-sering berkunjung ke sini." Azkia melirik ke arah suaminya yang sejak mulai menyantap makan malam tidak banyak bicara dan lebih banyak mendengarkan percakapan Azkia dan Lusiana.


" Syukurlah kalau kalian sudah memutuskan untuk sering kemari. Mama harap tiap Minggu kamu bisa menginap di sini biar Mama ada teman." Kehadiran Azkia di rumah Lusiana tentu saja membuat suasana di rumah wanita itu terasa lebih hangat.


" Kami tadi sudah sepakat sebulan sekali akan menginap di rumah Mama ini." Azkia menjelaskan hasil diskusinya bersama Raffasya tadi. Dia tidak ingin secara terang-terangan menolak permintaan Mama mertuanya itu.


" Kenapa hanya sebulan sekali?" Lusiana memprotes keputusan Azkia dan Raffasya yang hanya menyempatkan waktu sebulan sekali menginap di rumahnya


" Karena kami harus bergantian dengan menginap di rumah orang tuaku, Ma. Biar adil." Azkia menjelaskan alasannya.


" Kenapa nggak dua Minggu sekali saja, Kia? Dua Minggu sekali tiap weekend di rumah Mama, sisanya di rumah orang tua kamu. Hari-hari biasa kalian bisa tinggal di rumah kalian, kan?" Lusiana menawar keputusan Azkia dan Raffasya.


" Nggak bisa, Ma. Kami juga punya privacy, Kami juga pingin melewati weekend bersama dengan anak kami nantinya." Raffasya dengan tegas menolak permintaan Mamanya.


" Ma, kami menginap setiap bulan sekali bukan berarti kami ke sininya hanya sebulan sekali. Nanti aku dan Kak Raffa akan meluangkan waktu ke sini mengunjungi Mama walaupun tidak menginap." Azkia mencoba mencari jalan keluar agar suami dan Mama mertuanya itu tidak lanjut berdebat.


" Kamu itu benar-benar menantu yang baik, Kia. Mama benar-benar nggak menyesal memilih kamu untuk menjadi istri Raffa." Lusiana tak segan mengagumi Azkia sebagai menantunya dengan memuji istri dari anaknya itu


Azkia tersipu dipuji oleh Mama mertuanya, " Terima kasih, Ma." sahutnya kemudian.


" Oh ya, soal nama untuk anak kalian ...."


" Kami sudah siapkan namanya." Raffasya langsung memotong perkataan Lusiana. Dia tidak ingin Mamanya itu ikut mengaturnya memberi nama kepada calon anaknya itu.


Lusiana langsung melirik ke arah putranya karena perkataannya langsung dihentikan oleh Raffasya.


" Ya sudahlah kalau kalian memang sudah memberikan nama untuk anak kalian." Lusiana mengalah tak ingin membahas soal nama untuk cucunya. " Oh ya, kamu nanti mau melahirkan normal atau caesar, Kia?" tanya Lusiana kemudian.


" Mama aku menyarankan untuk melahirkan secara normal saja, Ma. Karena Mama dulu melahirkan anak-anaknya secara normal," sahut Azkia.


" Kalau Mama dulu melahirkan Raffa, caesar. Tapi kalau nanti mau melahirkan secara normal atau caesar buat Mama nggak masalah, yang penting Ibu dan bayinya sehat dan selamat. Kamu harus jaga kesehatan agar tetap fit dan makan-makanan yang bergizi apalagi kamu ingin melahirkan secara normal." Lusiana memberikan nasehatnya kepada Azkia.


" Iya, Ma." sahut Azkia tersenyum. Bisa dekat dan disayang oleh Mama mertua bukankah impian setiap wanita di dunia ini. Dan kini dia mendapatkannya. Bukan hanya seorang suami yang begitu perhatian tapi juga Mama mertua yang perhatian. Nikmat mana yang mesti kau dustakan? Mungkin itu ungkapan yang paling tepat menggambarkan seorang Azkia.


Percakapan antara Azkia dan Mama mertuanya terus berlanjut sampai selesai mereka menyantap menu makan malam yang berganti kini berbincang di ruang keluarga. Pembicaraan mereka lebih banyak membahas seputar kehamilan Azkia, karena Lusiana memang sangat antusias menyambut cucu pertamanya itu. Sesekali Azkia menanyakan soal kehidupan pribadi Mama mertuanya, karena dia tidak mungkin mendapatkan informasi tentang kehidupan Lusiana dari Raffasya. Raffasya sendiri lebih memilih kembali ke kamar dan tidak menemani istri dan Mamanya berbincang.


" Tadi waktu Kia telepon Mama, Mama masih ada di kantor. Memangnya Mama kalau pulang ke rumah jam berapa, Ma?" Azkia memberanikan diri untuk bertanya.


" Biasanya habis Isya sampai jam sembilan Mama sampai rumah. Kalau sudah sampai rumah terlanjur capek duluan, mandi terus tidur. Habis di sini Mama sendirian hanya ada ART saja, jadi Mama lebih banyak di kantor menghadapi pekejaan di sana, atau berkumpul dengan teman-teman Mama." Nada suara Lusiana tersirat adanya kepedihan. Selama bertahun-tahun jauh dengan anak dan tidak menikah lagi, Azkia bisa merasakan jika Lusiana sebenarnya merasa sangat kesepian.


" Mama kenapa nggak menikah lagi? Hmmm, maaf kalau Kia lancang bertanya. Jika Mama menikah, Mama 'kan bisa punya keluarga baru, punya suami dan juga anak-anak lagi." Azkia memberanikan diri untuk bertanya.


" Mama nggak ingin terlalu terkekang dengan ikatan pernikahan. Mungkin itu sifat jeleknya Mama yang membuat rumah tangga Mama dan Papanya Raffa kandas. Mama juga nggak ingin ada Raffa-Raffa lain yang menjadi korban akibat keegoisan Mama yang lebih mementingkan pekerjaan dan karir." Lusiana mengungkapkan alasannya.


" Apa Mama bahagia dengan kehidupan yang Mama jalani saat ini? Semakin bertambahnya usia, bukankah setiap wanita atau pria butuh seorang pendamping hidup untuk berbagi kebahagiaan dan juga keluh kesah ketika masa tua tiba? Bukan soal materi, walaupun yaaa ... materi sangat berpengaruh besar, tapi nggak semua kebahagiaan bisa dibeli dengan materi. Maaf ya, Ma. Kalau Kia bertanya seperti ini." Azkia membandingkan kehidupan Lusiana dengan kehidupan orang tuanya, terutama Mamanya. Walaupun Mamanya juga seorang pebisnis dan punya ambisi untuk memiliki banyak usaha, namun dia menilai Mamanya tidak melupakan kodratnya sebagai seorang istri yang harus mengurus suami dan juga anak-anaknya. Dan dia merasa jika Mamanya memang sangat beruntung mendapatkan jodoh seperti Papanya.


" Nggak apa-apa, Kia. Iya kamu memang benar, tapi sekarang ini Mama sudah tua, sudah tidak mungkin juga menikah lagi. Siapa pria yang mau sama nenek-nenek seperti Mama ini?" Lusiana mengibas tangannya ke udara seraya terkekeh.


" Siapa bilang Mama sudah tua? Mama masih cantik, kok." Azkia kini yang memuji Mama mertuanya.


" Ah, kamu bisa saja, Kia." Lusiana tersipu malu mendapat pujian dari menantunya, sudah pasti kehadiran Azkia semakin membuat Lusiana bahagia.


Setelah beberapa saat Azkia berbincang dengan Lusiana, dia kembali ke dalam kamar untuk menemui suaminya, karena hampir satu jam dia berbincang dengan Mama mertuanya itu.


" Sudah selesai ngobrolnya?" tanya Raffasya saat melihat Azkia masuk ke dalam kamar.


" Kak Raffa kenapa nggak mau ikut bergabung mengobrol bersama Mama?" Azkia justru mempertanyakan kenapa suaminya itu tidak ikut bergabung bersamanya dan Lusiana.


" Aku malas jika harus mendengar para wanita merumpi." Raffasya yang sejak tadi duduk berselonjor di sofa bangkit dan melangkah ke arah tempat tidur.


" Kasurnya empuk juga nih, May. Kuat kayaknya kalau buat kita olah raga di sini." Raffasya menyeringai seraya memainkan alisnya.


" Astaga, Kak. Mikirnya hal itu terus, deh." Azkia memutar bola matanya menanggapi perkataan suaminya, membuat Raffasya terkekeh.


" Tadi bicara apa saja sama Mama?" tanya Raffasya saat Azkia ikut duduk di sampingnya.


" Bilang malas tapi kepo." Azkia menjulurkan lidahnya mengejek suaminya yang ingin tahu pembicaraannya dengan Lusiana.


Raffasya kembali tertawa, dia lalu melingkarkan tangannya ke pundak Azkia seraya menciumi pipi istrinya.


" Aku nggak sangka, ternyata dibalik sikap bar-bar kamu, kamu punya pemikiran yang dewasa. Kamu benar-benar tulus ingin membuat aku dekat dengan Mama," ucap Raffasya kemudian.


" Aku terlahir dan dibesarkan dari keluarga yang bahagia, Kak. Hubungan keluarga aku, nggak hanya antara orang tua dan anak, tapi juga dengan saudara dari Papa dan Mama, kami saling akrab dan harmonis. Karena itu aku juga ingin Kak Raffa bisa akrab dengan orang tua Kak Raffa. Karena orang tua Kak Raffa adalah orang tuaku juga. Aku ingin semua orang yang ada di lingkunganku bahagia, termasuk Kak Raffa." Azkia menjelaskan.


Raffasya menatap bola mata istrinya, dia tersenyum bahagia. " Aku makin sayang sama kamu, May." Dia lalu memeluk erat tubuh Azkia di sampingnya. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi oleh Raffasya jika dia merasa beruntung dengan kehadiran Azkia dalam hidupnya.


***


Siang ini Azkia dan Raffasya melakukan perjalanan ke Nusa Tenggara Timur, di mana tujuan mereka adalah berlibur ke Labuan Bajo. Menempuh perjalanan dari Cengkareng menuju Komodo Airport menempuh perjalanan sekitar dua jam setengah. Mereka langsung menuju hotel tempat mereka menginap.



" Wow ... " Azkia nampak excited saat masuk ke dalam kamar dan mendapati pemandangan dari dalam kamar hotelnya. Dia langsung membuka pintu balkon hingga dia bisa melihat ke arah laut. Azkia bahkan tertawa-tawa kecil layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru dari orang tuanya.



" Masya Allah, indah banget pemandangan dari sini, Kak." ucap Azkia tidak bisa menutupi kebahagiaannya.


" Kamu suka, May?" Raffasya yang mengikuti arah langkah Azkia langsung memeluk Azkia dari belakang dan mencium ceruk Azkia.


" Suka sekali, Kak." Azkia kini memutar tubuhnya hingga saling berhadapan dengan suaminya. Lengannya lalu merangkul leher suaminya. " Makasih ya, Kak."


" Ini baru mulai, May. Belum apa-apa ..." Raffasya mendekatkan keningnya dengan kening Azkia hingga saling menempel satu sama lainnya.


" He-eh, tapi semua ini harus kamu bayar nanti." Raffasya menyeringai.


" Maksudnya Kak Raffa meminta penggantian biaya perjalanan ini?" Azkia mengeryitkan keningnya.


" Tentu saja, tidak ada yang gratis di dunia ini." Raffasya kini menyatukan bibirnya dengan bibir manis sang istri, memberikan kecupan penuh kelembutan dengan penuh penghayatan.


Azkia tidak langsung menjawab ucapan suaminya karena dia asyik menikmati dan membalas penyatuan bibir mereka hingga akhirnya menjeda pagutan itu karena mereka perlu menghirup udara.


" Berapa yang harus aku bayar?" Kali ini Azkia menjawab perkataan suaminya.


" Yang harus kamu bayar? Satu hari sama dengan satu malam melayaniku di ranjang. Karena kita di sini seminggu. berarti kamu harus seminggu ini melayaniku." Raffasya terkekeh seraya mengedipkan matanya.


" Haha, mana mungkin aku bisa melayani seminggu penuh. Aku sedang hamil, Kak. Bisa-bisa aku melahirkan mendadak kalau Kak Raffa kunjungi setiap hari." Azkia terkikik seraya menenggelamkan wajahnya ke dada Raffasya.


" Tapi kayaknya asyik kalau kita lakukan sekarang, bercinta sambil menikmati keindahan pemandangan laut.


" Dengan jendela seperti ini?"


" Tak akan ada yang melihat, May." Raffasya menyampirkan helaian rambut Azkia ke belakang telinga istrinya itu.


" Siang-siang begini, Kak?"


" Habis Azhar kita masih ada waktu, kan?" Raffasya tersenyum nakal.


Azkia membalas senyum suaminya, " Ada syaratnya lho, Kak." Azkia langsung menarik tangan suaminya kembali masuk ke dalam kamar.


" Apa syaratnya?"


" Pijat kakiku dulu, nanti aku kasih." Azkia mengedipkan matanya menggoda suaminya.


" Hohooo ... kalau itu tanpa kamu minta juga aku bersedia melakukannya, May." Raffasya langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawa istrinya itu ke atas tempat tidur.


" Kak, sabar ... belum Ashar. Tunggu kalau sudah masuk Azhar, ya?!" Jari lentik Azkia menyelusuri rahang tegas Raffasya. Dia mencoba menahan has rat suaminya namun dia melakukan gerakan yang memancing ga irah suaminya itu.


" Aaaarrggh, May ..." Raffasya langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Azkia.


" Mandi dulu saja deh, Kak. Biar segar ..." Azkia kemudian bangkit dari tempat tidur namun dia sempat membungkukkan tubuhnya dan berbisik di telinga suaminya. " Kak Raffa nggak ingin temani aku mandi?" Azkia langsung melangkah ke arah kamar mandi setelah mengatakan kalimat menggoda kepada Raffasya.


Sontak bisikan dari mulut Azkia membuat Raffasya seketika bangkit dan berlari mengejar Azkia, dia lalu mengangkat kembali tubuh Azkia dengan kedua lengannya.


" Aaakkkhh, Almayra ... you drive me crazy, Honey." ucap Raffasya sambil membawa tubuh Azkia ke dalam kamar mandi.


***


" Kak, Kak Raffa ...!!" teriak Azkia kepada suaminya yang masih membersihkan diri di dalam kamar mandi. Setelah siang tadi mereka berdua mandi setelah melakukan perjalanan udara dari Jakarta ke Flores, dan melaksanakan sholat Ashar, pasangan suami istri itu menyempatkan diri untuk memadu kasih untuk pertama kalinya saat melakukan liburan babymoon mereka. Mereka melakukan keinti man itu hingga jam lima lebih.


Setelah selesai memadu kasih, mereka kembali membersihakan diri dengan Azkia terlebih dahulu yang membersihkan tubuhnya setelah melakukan aktivitas percintaan dengan suaminya dan kini giliran Raffasya yang membersihkan tubuh.


" Ada apa teriak-teriak, May?" tanya Raffasya yang keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya dan bertelanjang dada.


" Lihat deh, Kak!" Azkia menunjuk ke arah luar kamarnya.



" Sebentar lagi sunset, indah banget, kan?" Azkia menunjukkan matahari yang sebentar lagi akan terbenam.


" So beautiful, like you ..." Raffasya memeluk tubuh Azkia dari belakang dan mengecup pucuk kepala istrinya.


Azkia tersenyum mendengar pujian-pujian yang keluar dari bibir suaminya itu.


" Kak ...."


" Hemmm?"


" Kenapa nggak dari dulu kita pergi seperti ini, ya?"


" Karena aku harus mengumpulkan uang dulu untuk bisa mengajakmu berlibur kemari ..." Raffasya terkekeh menjawab pertanyaan istrinya.


" Nanti kita berlibur lagi kemari kalau aku sudah melahirkan ya, Kak? Nanti aku juga akan menabung agar kita bisa sering-sering liburan seperti ini," ucap Azkia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


" Aku hanya bercanda, May. Aku nggak mengajak kamu kemarin karena usia kehamilan kamu masih muda. Dan kalau kita pergi dari awal mungkin kita nggak akan bisa melewati momen romantis seperti ini, karena kemarin-kemarin kita masih sering berdebat, kan?" Raffasya kembali mencium bagian atas kepala Azkia cukup lama.


" Iya juga ya, Kak." Azkia terkikik. " Ya sudah, Kak Raffa pakai baju dulu sana." Azkia mengurai pelukan suaminya di pinggangnya. " Sebentar lagi masuk waktu Maghrib. Setelah itu kita makan, kan? Apa lagi kejutan dari Kak Raffa untukku?"


" Hmmm, apa, ya?" Raffasya memaksakan keningnya untuk berkerut seolah dia sedang berpikir keras.


" Lebay banget sih, Kak." sindir Azkia mencibir suaminya.


" Kamu ingin aku pakai baju. atau lebih suka seperti ini?" Raffasya melepas handuk yang membelit pinggangnya hingga memperlihatkan tubuh polos dan alat tempurnya yang sedang tertidur setelah aktivitas percintaan tadi.


" Astaghfirullahal adzim, Kak Raffa!! Nanti ada yang lihat!" Azkia langsung menengok ke arah jendela, karena khawatir jika ada orang yang akan melihat aksi suaminya itu. Sementara Raffasya langsung tertawa kencang melihat kepanikan Azkia tadi.


" Nggak akan ada yang lihat, May." Raffasya langsung melempar handuk itu ke arah tempat tidur dan dengan santainya mengambil pakaian yang sudah disediakan oleh Azkia membuat Azkia menggelengkan kepalanya melihat aksi konyol suaminya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️