MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Mencari Dukungan



Hari ini di rumah Raffasya terlihat sangat ramai karena kedatangan Fariz dan Rosa yang 'dipaksa' Azkia untuk datang ke Jakarta karena besok adalah hari ulang tahun Naufal yang ke satu tahun.


Rosa sendiri yang baru pertama kali bertemu keponakannya secara langsung terlihat sangat senang bisa bertemu dengan bayi menggemaskan itu.


" Kamu ini, Masya Allah ... menggemaskan sekali sih, Dek." Rosa terlihat gemas mencium pipi gembul Naufal. " Kepingin bawa pulang deh, rasanya."


" Kenapa dibawa pulang, Tante Oca? Tante Oca saja yang pindah ke sini." Azkia membalas ucapan Rosa. " Jadi kapan kamu pindah kuliah di Jakarta ini, Ca?" lanjut Azkia bertanya.


" Aku sih, tinggal tunggu keputusan Papa, Kak. Karena Papa masih bingung cari pekerjaan di sini. Usia Papa 'kan sudah nggak muda lagi, agak susah tentunya mencari pekerjaan apalagi di kota besar seperti Jakarta ini," ujar Rosa menaruh Naufal di mainan motor-motorannya.


" Padahal kalau Papa mau, aku bisa bilang ke Papaku atau Uncle buat kasih posisi di kantornya Eyang atau Uncle lho, Ca." ujar Azkia


" Papa pasti nggak akan maulah, Kak." ucap Rosa yang sangat mengenal karakter Papanya. Mungkin keteguhan prinsip Fariz ini yang menurun kepada Raffasya.


" Iya juga, sih. Papa itu mirip dengan Papanya Naufal sifatnya." Azkia mengomentari.


Tin tin


Terdengar suara klakson mobil saat Azkia dan Rosa berbincang di ruangan tamu membuat adik dan kakak ipar itu menolehkan pandangan ke arah luar ruangan.


" Siapa, Kak?" tanya Rosa.


" Mama Lusi." Azkia tersenyum mendapati kedatangan Mama mertuanya yang tidak mengetahui jika saat ini Fariz pun ada di rumah Raffasya. " Dek, ada Oma datang, tuh!" sambung Azkia.


" Assalamualaikum, Kia ... Naufal ..." Tak lama suara Lusiana pun terdengar berteriak memanggil menantu dan juga cucunya.


" Waalaikumsalam, Oma ..." Azkia bangkit dan memgambil Naufal dari mainannya lalu berjalan mendekat ke arah Lusiana dan mencium tangan Mama mertuanya serta menyuruh Naufal pun melakukan hal yang sama.


" Aduh, Kia. Kamu jangan bawa yang berat-berat! Sini Naufal yang gendong Oma." Melihat menantunya menggendong Naufal, Lusiana langsung memprotes, dia pun langsung mengambil cucunya dari tangan Azkia seraya melirik ke arah Rosa karena Lusiana merasakam kehadiran orang asing yang bukan penghuni rumah itu.


Rosa yang merasa Lusiana memperatikannya langsung berjalan menghampiri dan mencium tangan Lusiana layaknya seorang anak kepada mamanya.


" Halo, Tante. Apa kabar?" tanya Rosa dengan santun.


" Ini Rosa, Ma. Mama masih ingat, kan? Anaknya Papa Fariz." Azkia mencoba membuka ingatan Lusiana yang sepertinya tidak hapal siapa Rosa. Lusiana memang hanya bertemu sekali dengan Rosa dan itu terjadi saat Nenek Mutia meninggal dunia, jadi Lusiana tidak terlalu mengingat sosok anak dari mantan suaminya itu.


" Oh, kamu ada di sini? Datang kapan?" tanya Lusiana berusaha bersikap ramah dengan berbasa-basi.


" Datang siang tadi, Tante. Kebetulan Kak Kia mengundang saya karena Naufal akan berulang tahun," jawab Rosa masih terlihat canggung berhadapan dengan mantan istri dari Papanya.


" Oh ..." Hanya itu jawaban dari Lusiana menanggapi perkataan Rosa.


" Kok nggak ditanya datang sama siapa sih, Ma?" Azkia mulai iseng menggoda Mama mertuanya itu, membuat Lusiana langsung melirik tajam ke arah menantunya itu dan Azkia hanya menyeringai seakan tidak takut dengan tatapan tajam Lusiana.


" Kak, aku ke dalam dulu, ya!?" Rosa berpamitan karena tidak enak akan mengganggu moment kebersamaan Azkia dan Lusiana.


" Iihh kamu mau ke mana, Ca? Sudah di sini saja ngobrol-ngobrol sama Mama biar kamu akrab sama Mama Lusi," ucapan-ucapan Azkia memang benar-benar membuat Rosa maupun Lusiana salah tingkah.


" Kia ...! Kamu ngomong apa, sih?" Lusiana memprotes. Dia sadar menantunya itu pasti merencanakan sesuatu jika dilihat dari kata-katanya itu.


" Ma, Oca ini ingin melanjutkan kuliah di Jakarta dan mungkin juga akan tinggal di sini jadi biar Oca bisa akrab sama Mama karena Mama juga 'kan sering ke sini." Azkia memakai alasan kepindahan kuliah Rosa padahal itu belum pasti terjadi.


" Kamu mau pindah ke sini?" Lusiana nampak terkejut dengan penjelasan yang diucapkan oleh Azkia tentang rencana kepindahan Rosa kuliah di Jakarta.


" Iya, Ma. Oca 'kan nggak punya sanak saudara di sini selain Papanya Naufal, jadi daripada Oca ngekost mending juga tinggal di sini. Atau barangkali Mama nggak keberatan menyediakan tempat buat Oca di rumah Mama? Rumah Mama 'kan besar, kamarnya juga banyak, biar Mama ada temannya." Azkia terkikik senang sekali wanita muda yang tengah hamil anak kedua itu menggoda Mama mertuanya.


" Kalau ajak anaknya di rumah Mama, nanti menyusul ajak Papanya juga ya, Ma?" bisik Azkia kemudian. Dia benar-benar tidak takut Lusiana akan marah kepadanya karena dia tahu jika Mama mertuanya itu sangat menyayanginya apalagi saat ini dia dalam kondisi hamil, tidak mungkin Lusiana akan memarahinya.


Lusiana membulatkan matanya mendengar menantunya itu semakin menjadi meledeknya.


" Kamu ini gomong apa sih, Kia?" Lusiana melotot sedangkan Azkia hanya menyeringai. Sementara Rosa yang tidak tahu permasalahannya hanya bingung tidak mengerti.


" Pantas saja seperti pasar ternyata ada Omanya Naufal di sini ..." Suara Fariz tiba-tiba terdengar dari kamar Nenek Mutia.


Lusiana langsung menolehkan wajahnya ke arah suara mantan suaminya itu berasal. Dia langsung memalingkan wajahnya saat bertatapan dengan Fariz.


" Hmmm, Ca. Bantu aku sebentar, yuk!" Azkia segera menarik tangan Rosa saat melihat kehadiran Fariz. Sepertinya dia ingin memberi peluang kepada kedua mertuanya itu untuk berinteraksi.


" Lho, lho, kamu mau ke mana, Kia?" tanya Lusiana melihat Azkia yang membawa Rosa pergi.


" Sebentar, Ma. Kia titip Naufal dulu, ya!?" Azkia tak ingin menanggapi protes Lusiana. Dia terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


" Hati-hati naik tangganya, Nak!" Fariz menasehati Azkia agar menantunya itu tidak berlari di anak tangga.


Lusiana mende sah, dia sudah menduga jika ini hanya akal-akal Azkia meninggalkan dirinya dan mantan suaminya itu bertiga dengan Naufal.


" Kamu sudah semakin tua, Lus. Cucumu sebentar lagi dua." Fariz mulai meledek Lusiana.


" Memangnya cuma aku saya yang tua? Mas Fariz juga sama saja tuanya!" Lusiana berkelit membalas ucapan Fariz.


" Walaupun tua, tapi aku punya anak gadis yang akan mengurusku saat aku tua renta nanti. Sedangkan kau, Lus? Hanya ada ART yang setia menemani." Fariz terkekeh menyindir Lusiana yang memang belum berumah tangga kembali sejak bercerai dengannya.


" Raffa dan Kia juga belum tentu bisa mengurus mu, karena mereka harus mengurus anak-anak mereka." Kalimat provokatif kembali dilontarkan oleh Fariz. Opa dan Oma Naufal itu seakan tidak menyadari usia mereka yang sudah melewati separuh baya.


" Mas Fariz nggak perlu sombong seperti itu! Nanti kalau Oma sudah tua ada Naufal yang akan jaga Oma, iya 'kan, Sayang?" Lusiana berkata kepada Naufal seakan meminta pembelaan dari cucunya itu.


" Kia bilang anak Mas Fariz akan kuliah di sini. Mas Fariz nggak kasihan sama Raffa dan Kia kalau anak perempuan Mas Fariz itu tinggal di sini?" Tak ingin melanjutkan perdebatan tentang statusnya yang belum menikah lagi, kali ini Lusiana mengalihkan pembicaraan.


" Itu atas permintaan Kia sendiri, kok. Menantuku itu memang anak yang baik, bahkan sama Oca saja dia sangat perduli dan perhatian. Beruntung aku mendapatkan menantu seperti Kia itu. Menantuku itu memang hebat," ucap Fariz membanggakan menantunya seraya menaikan kedua ibu jarinya.


" Kia itu menantuku juga, bukan hanya menantu Mas Fariz sendiri." Lusiana tidak terima Fariz menghaki Azkia sendiri.


Fariz tertawa kecil mendengar sanggahan Lusiana, wanita itu sejak dulu tidak pernah berubah jika berdebat dengannya. Dulu dia mungkin akan terpancing menjadi emosi jika mendapati kekerasan hati Lusiana namun kali ini dia lebih rileks menanggapi setiap perdebatan yang terjadi antara dirinya dengan mantan istrinya tersebut.


***


" Kak Kia mau minta bantuan apa, Kak?" Sementara di kamar Azkia, Rosa yang bingung dengan sikap Azkia tadi yang membawanya tiba-tiba langsung bertanya saat mereka sampai di kamar.


" Nggak ada, Ca. Aku hanya ingin memberi kesempatan untuk Papa dan Mama. Sorry ya, Ca. Aku berencana ingin menjodohkan Papa Fariz dan Mama Lusi kembali," aku Azkia.


Rosa terkesiap mendengar pengakuan Azkia yang berniat menyatukan Papanya dengan mantan istri Papanya itu.


" Aku bukannya nggak menghargai perasaan kamu. Tapi sekarang ini jodoh Papa dan Mamamu sudah berakhir karena Tante Wina sudah meninggal. Sudah lebih dari setahun juga. Aku rasa nggak ada salahnya jika berusaha untuk menyatukan Papa dan Mama kembali. Mama Lusi sampai saat ini belum memutuskan untuk menikah kembali setelah bercerai dari Papa, mungkin Mama masih belum bisa move on dari perasaan cintanya sama Papa Fariz." Azkia berusaha menjelaskan ke Rosa agar adik iparnya itu mengerti.


" Mama Lusi itu orangnya baik kok, Ca. Ya ... mungkin terlihat galak dan cerewet, tapi aslinya Mama itu baik dan sayang banget sama aku. Aku yakin, Mama juga bisa menerima kamu seperti anaknya sendiri jika Papa dan Mama kembali bersatu." Azkia terus mencoba meyakinkan Rosa.


" Papa dan Mama sudah tua, mungkin saat ini mereka masih belum merasakan tapi beberapa tahun ke depan, mereka akan kesepian jika mereka memutuskan tidak menikah kembali." Azkia menggenggam tangan Rosa. " Ca, kamu juga ingin melihat Papa bahagia di hari tuanya, kan? Kamu pasti ingin melihat ada yang mendampingi Papa ketika kamu akan menikah dan ikut dengan suamimu, kan? Aku rasa Mama Lusi adalah wanita yang tepat untuk mendampingi Papa Fariz. Mungkin dulu memang banyak kesalahan pahaman di antara mereka berdua. Tapi aku yakin semua itu bisa diatasi sekarang ini jika mereka bersama kembali." Azkia memang pantang menyerah untuk membuat Lusiana dan Fariz bersatu kembali.


" Itulah sebabnya aku berharap kamu dan Papa bisa pindah ke Jakarta agar bisa memuluskan rencanaku itu. Aku minta kamu bisa mendukung aku, Ca." Azkia meminta dukungan dari Rosa.


Rosa menarik nafas panjang. Dia bingung harus menentukan sikap seperti apa? Di sisi lain dia ingin Papanya setia selalu dengan Mamanya, namun dia menyadari, Papanya memang tidaklah mungkin selamanya hidup sendiri tanpa pendamping. Papanya itu kelak pasti akan membutuhkan seorang pendamping untuk mengisi hati tuanya.


" Aku terserah Kak Kia saja, jika menurut Kak Kia ini adalah jalan yang terbaik, aku akan dukung Kak Kia." Akhirnya Rosa menyetujui permintaan Azkia dengan mendukung istri dari kakaknya itu untuk menyatukan kembali Papanya dan juga mantan dari istri Papanya dulu.


" Aaaahh ... makasih ya, Ca." Azkia langsung memeluk Rosa sebagai ungkapan rasa terima kasih atas dukungannya Rosa kepadanya.


" Aku ingin yang terbaik buat Papa ..." ucap Rosa melambungkan harapannya.


" Aku yakin Mama Lusi adalah yang terbaik saat ini untuk Papa. Daripada Papa jatuh ke teman-teman kuliah kamu itu ..." Azkia terkekeh mengingat cerita Rosa tentang beberapa teman kuliahnya yang tertarik kepada Fariz.


" Idih, jangan sampai deh, Kak." sergah Rosa cepat seraya tertawa ringan.


" Eh, kamu lihat nggak waktu Papa meledek Mama tadi? Mirip Papanya Naufal sama aku dulu waktu awal-awal nikah, deh." Azkia terkikik menutup mulutnya.


" Serius, Kak?"


" He-eh ...."


" Kok bisa Kak Kia sama Kak Raffa menikah kalau menang sering bertengkar seperti itu?"


Azkia terdiam, Rosa memang tidak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi antara dia Raffasya dulu.


" Ceritanya panjang deh, Ca. Nanti kapan-kapan aku ceritain, deh. Sekarang kita balik ke bawah, yuk!" Azkia merangkulkan tangannya di pundak Rosa dan mengajak adik iparnya itu kembali turun ke bawah.


***


" Selamat pagi anak Sholeh Mama Kia ... Happy Birthday, Barakallah Fii Umrik kesayangan Mama sama Papa ..." Azkia dan Raffasya menciumi Naufal yang baru terbangun pagi ini dan memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Naufal.


Naufal yang baru terbangun langsung terduduk sambil menegadahkan kepalanya saat melihat banyak balon di langit-langit kamar tepat di atasnya. Dia kemudian berdiri seolah ingin mengambil balon-balon itu.


" Uuuhh ... aaooon ..." Naufal menunjuk dan berjinjit karena kesulitan meraih balon itu.


" Balon? Naufal mau balonnya, ya? Papa ambilkan, ya!?" Raffasya segera berdiri dan mengambilkan satu balon berwarna biru muda untuk Naufal.


Naufal yang kegirangan mendapatkan balon dari Papanya langsung memainkan balon itu sambil tertawa-tawa.


" Naufal sudah setahun, Pa." Azkia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


" Iya, nggak kerasa dia sudah setahun saja, sama nggak kerasa kayak waktu bikinnya." Raffasya terkekeh melirik Azkia.


" Memang waktu buat dulu Papa nggak kerasa gitu?" sindir Azkia menanggapi perkataan suaminya.


" Hmmm, antara kerasa nggak kerasa. Gimana, ya? Antara ingin nolak tapi kepingin juga. Siapa yang tahan kalau digoda sama wanita secantik kamu, Ma?" Raffasya menyentuh rahang Azkia lalu menempelkan bibirnya memberikan kecupan lembut di bibir Azkia.


" Semoga Naufal menjadi anak yang baik, yang Sholeh yang taat agama dan berbakti sama orang tua ya, Pa!? Biar kita bisa membuktikan walaupun dia adalah anak yang lahir karena suatu perbuatan yang salah tapi dia bisa menjadi anak yang berguna, berkepribadian yang baik dan juga santun." Azkia mendoakan anaknya itu dengan harapan-harapan yang baik.


" Aamiin, Ma. Itu tugas kita sebagai orang tua," sahut Raffasya. " Kita ke bawah, yuk! Oca sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Naufal." Raffasya lalu menggendong Naufal dan merangkul Azkia untuk keluar dari kamar mereka.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️