
" Happy Birthday, Zyan ..." Raffasya masuk ke dalam kamar Zyan, adik sepupunya yang hari ini berulang tahun yang ke tiga belas tahun. Raffasya lalu menyodorkan kado kepada Zyan.
" Wah ... makasih, Kak Raffa." Zyan langsung antusias mengambil kado berupa gitar yang diberikan oleh Raffasya.
" Suka nggak?" Raffasya mengacak rambut Zyan.
" Suka banget, Kak. Zyan 'kan memang ingin sekali punya gitar sendiri," sahut Zyan tak bisa menutupi kegembiraannya. " Nanti ajari Zyan ya, Kak!" pinta Zyan.
" Oke, next time Kak Raffa ajari."
" Eh, ada Raffa?" Amara yang masuk ke kamar putra bungsunya sedikit terkejut melihat kehadiran Raffasya di sana.
" Aku cuma mau antar kado buat Zyan," sahut Raffasya.
" Kak Raffa kasih Zyan gitar, Ma." Zyan lalu menunjukkan gitar pemberian Raffasya kepada Mamanya.
" Wah, pantas Zyan senang banget kelihatannya." Amara tersenyum melihat anaknya itu terlihat sangat gembira dengan pemberian Raffasya.
" Iya, Ma."
" Kamu mau minum apa, Raffa?" tanya Amara.
" Nggak usah, Tan. Aku mau langsung pulang, kok." Raffasya menolak tawaran dari Amara.
Sementara di depan rumah Amara dan Raditya, mobil Azkia baru saja terparkir. Azkia lalu mengeluarkan kado yang dia siapkan untuk Zyan dari dalam mobilnya. Azkia kemudian melirik mobil yang terparkir di depan halaman rumah Amara yang dia rasa bukan milik Tante dan suami tantenya itu.
" Hmmm, mobil barunya siapa, ya?" Azkia bertanya-tanya saat berjalan melewati mobil itu.
" Assalamualaikum ..." Azkia lalu mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah Amara.
" Waalaikumsalam, eh ... kamu, Kia."
" Zyan mana, Tan. Kia bawa kado buat Zyan, nih. Zyan pasti suka." Azkia lalu memamerkan kado yang ingin dia berikan kepada Zyan, namun tiba-tiba dia melebarkan bola matanya saat melihat sosok Raffasya yang baru saja keluar dari kamar Zyan.
" Kenapa harus ketemu dia lagi, sih?" gumam Azkia menggerutu.
" Zyan ada di kamarnya." sahut Amara membalas pertanyaan Azkia.
" Kak Kia bawa kado untuk Zyan, ya?" Dari arah belakang Raffasya terdengar suara Zyan menanyakan hadiah yang akan diberikan oleh Azkia. Sementara Amara langsung melangkah ke arah dapur karena ingin mengambilkan makanan dan minuman untuk keponakan-keponakannya.
" Oh iya, ini kado dari Kak Kia. Taraaaaa ... Zyan pasti suka." Azkia menunjukkan kadonya.
" Hahh?? Gitar lagi?" Zyan terlihat kecewa karena pemberian Azkia ternyata sama dan Raffasya.
" Lho, memang Zyan nggak suka Kak Kia kasih gitar? Kan Zyan kepingin punya gitar sendiri?" Azkia yang melihat ekspresi Zyan yang tidak antusias atas kado pemberiannya terlihat heran.
" Zyan sudah dapat kado gitar dari Kak Raffa." Zyan mengatakan alasannya terlihat biasa saja dengan pemberian Azkia.
Azkia yang mengetahui jika Raffasya juga memberikan hadiah berupa gitar kepada Zyan langsung tercengang. Dia pun lalu melirik ke arah Raffasya yang terlihat menarik satu sudut bibirnya dengan sinis seolah mengoloknya.
" Tapi gitar dari Kak Kia ini pasti lebih bagus, Zyan, coba saja Zyan lihat!" Azkia kemudian menyodorkan gitar darinya.
" Kak Kia 'kan nggak bisa main gitar, mana Kak Kia tahu gitar yang bagus. Kalau Kak Raffa memang jago main gitarnya, sudah pasti Kak Raffa tahu soal gitar yang bagus." Zyan merasa jika gitar pemberian Raffasya lah yang paling keren. " Kak Kia kadonya ditukar saja, deh! Jangan gitar." Zyan menawar kado yang akan diterimanya lalu berjalan masuk ke arah kamarnya.
" Kak Raffa ngapain sih, pakai kasih kado gitar segala? Itu 'kan ide aku!" Azkia yang merasa idenya dicuri Raffasya langsung memprotes karena Azkia memang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan kado itu.
" Eh, siapa juga yang curi ide lu? Lu nggak dengar tadi Zyan bilang apa? Kalau gue itu lebih jago main gitar, jadi nggak heran dong kalau gue kasih Zyan gitar?" Raffasya merasa jika pemberian alat petik itu karena dia melihat adik sepupunya memang mempunyai minat di bidang seni musik.
" Sudah, lu ganti saja kadonya!" Raffasya menyeringai seraya mencibir membuat Azkia memberengut. Dia lalu berjalan menghampiri Zyan ke kamarnya ingin membujuk sepupunya itu agar mau menerima kado pemberiannya.
Setelah melihat Azkia memasuki kamar Zyan, Raffasya pun berniat meninggalkan rumah Om nya. Namun saat dia sampai di halaman rumah nya, dia melihat mobil Azkia yang berada di belakang mobilnya, membuat mobil yang baru dia beli satu bulan lalu itu tidak bisa keluar dari rumah Raditya dan Amara.
" Ck, Ngapain juga sih mobil cewek bar-bar itu menghalangi mobil gue?!" gerutu Raffasya terpaksa membuatnya kembali masuk ke dalam rumah Amara dan Raditya.
" Iya, iya, nanti Kak Kia tambah lagi kadonya. Zyan mau apa?" Di dalam kamar Zyan, Azkia sedang berusaha membujuk adiknya itu.
" Eh, mobil lu menghalangi mobil gue, tuh! Gue mau pergi, cepat singkirkan mobil, lu!" ketus Raffasya saat kembali ke kamar Zyan.
Permintaan Raffasya yang diucapkan dengan dengan nada ketus membuat Azkia mendengus kesal.
" Siapa suruh parkir di dalam? Makanya parkirnya itu di luar halaman jadi nggak bikin repot orang!" Bukannya segera keluar dan memindahkan mobilnya terlebih dahulu, Azkia malah duduk di tepi tempat tidur Zyan.
" Yang bikin repot orang itu lu! Orang mau keluar dihalangi, itu yang namanya bikin repot!" geram Raffasya karena Azkia terlihat tidak perduli dengan keluhannya.
" Eh, cepat, dong! Gue ada urusan!" bentak Raffasya karena Azkia tidak juga merespon permintaannya.
" Ya Kak Raffa pindahkan sendiri saja sana! Nggak usah suruh-suruh aku."
" Sini kuncinya!" Raffasya yang tidak ingin terlalu lama berdebat dengan Azkia langsung meminta kunci mobil Azkia.
" Buat apa minta kunci mobil? Kak Raffa pindahkan saja sendiri sana! Angkat saja mobil aku biar mobil Kak Raffa bisa lewat. Lagipula ke sini pakai pamer bawa mobil baru segala, biasanya juga pakai motor butut saja tuh!" cibir Azkia.
Melihat Azkia yang tidak mau memberikan kunci mobilnya membuat Raffasya langsung menarik sling bag milik Azkia.
" Eh, eh, eh, Kak Raffa mau apa pegang-pegang tas aku? Mau menjambret, ya?!" Azkia mempertahankan tasnya yang ditarik Raffasya.
" Gue ambil kunci lu, be go!" Raffasya sepertinya sudah kehilangan kesabaran.
" Aku nggak mau kasih kunci mobil! Nanti mobil aku lecet kalau dipakai Kak Raffa, Kak Raffa itu nggak biasa bawa mobil!" Azkia berasalasan menghalangi Raffasya.
" Lu nggak usah mikir yang aneh-aneh, deh! Kemarikan kuncinya!" Raffasya tetap menarik tas Azkia.
" Astaga! Kak Raffa jangan kasar, dong! Ini tuh tas mahal tahu! Harga tas ini bisa buat bayar dua bulan cicilan mobil Kak Raffa. Kak Raffa mau aku klaim senilai dua puluh juta? Mending buat nyicil mobil, kan? Daripada aku suruh ganti rugi tas aku ini?"
" Eh, sorry ya! Gue beli mobil cash nggak pakai cicil!" Raffasya berkata jumawa.
" Sombong!"
" Kalau lu nggak mau geser mobil lu, jangan menyalahkan gue kalau gue bikin rusak tas lu tanpa penggantian!" ancam Raffasya.
" Coba saja kalau berani!" tantang Azkia.
" Gue akan panggil mobil derek kalau lu nggak pindahkan mobil lu!" Kini Raffasya kembali mengancam dengan cara lain.
" Silahkan saja, siapa takut?!"
Raffasya yang semakin kesal karena Azkia seolah menantangnya langsung menarik kembali secara kasar tas bermerk itu.
" Kak Raffa nggak usah main paksa, dong!"
" Memang lu senangnya dipaksa!" Kedua orang itu saling tarik menarik tas layaknya anak kecil yang sedang berebut mainan.
" Mama ...!! Kak Raffa sama Kak Kia berantem!" Zyan yang sedari tadi memperhatikan kedua kakak sepupunya saling beradu mulut bahkan saling berebut tas akhirnya berteriak memanggil Mamanya. Sementara kedua orang yang berebut itu masih tidak mau saling mengalah dan tidak perduli saat Zyan berteriak mengadu kepada Tante mereka.
" Asataghfirullahal adzim, Raffasya, Azkia!! Kalian ini sedang berebut apa, sih? Kalian seperti anak kecil saja!" Amara segera menghampiri putranya saat Zyan meneriakan namanya hingga membuat pertengkaran Raffasya dan Azkia berhenti.
" Keponakan Tante ini yang cari masalah!" Raffasya segera mengadukan kelakuan Azkia.
" Iiihh, Kak Raffa yang paksa mau ambil tas Kia?" Azkia menyangkal tuduhan Raffasya.
" Salah lu sendiri, kenapa mobil lu menghalangi mobil gue yang mau keluar?!" Raffasya masih tetap menyalahkan Azkia.
" Makanya kalau minta tolong itu bicaranya baik-baik, bahasanya yang halus, jangan pakai kata-kata yang ketus!" Azkia menyalahkan Raffasya yang memintanya dengan tidak sopan.
" Sudah-sudah! Jangan teruskan pertengkarannya! Kia, cepat pindahakan mobil kamu itu! Jangan selalu bikin masalah kalau di sini!" Amara segera menegur anak dari kakaknya itu.
" Nggak mau, Tan. Kalau mobil dia mau keluar, nanti tunggu Kia selesai dari sini." Azkia bersikukuh tidak mau mengalah.
" Kia!" Amara berkata dengan nada menyentak membuat Azkia mengerucutkan bibirnya lalu dengan terpaksa mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.
" Tuh, pindahkan sendiri! Awas jangan sampai lecet mobil aku! Jangan mengambil barang-barang di dalam mobil aku!" Azkia akhirnya menyerahkan kunci mobilnya kepada Raffasya.
" Kamu ini kenapa sih, dari kecil nggak pernah bisa akur sama Raffa? Tante sama Om itu pusing menghadapi kelakuan kalian berdua," keluh Amara saat Raffasya sedang memindahkan mobil Azkia.
" Kak Raffa dulu yang cari masalah, Tan." Azkia berusaha membela dirinya.
" Sama saja! Nggak kamu, nggak Raffa, sama-sama keras kepala!" Amara menegaskan jika Raffasya dan Azkia sama-sama bersalah.
Sementara Raffasya yang sedang menggeser posisi mobil Azkia matanya tertuju pada foto di atas dashbord mobil Azkia. Foto Gibran yang memeluk Azkia dari belakang hingga kedua pipi mereka saling bersentuhan.
" Nempel terus kayak cicak. Lama-lama itu cowok bikin lu bunting duluan, deh!" Raffasya tersenyum sinis melihat foto mesra antara Gibran dan Azkia itu. Setelah selesai memindahkan mobil Azkia, Raffasya pun lalu mengeluarkan mobilnya dari pekarangan rumah Om nya tanpa mengembalikan lagi mobil Azkia ke posisi semula. Dia sengaja mengeluarkan mobil Azkia di tepi jalan depan rumah Raditya dan Amara, lalu meletakan kuncinya di meja ruang tamu lalu meninggalkan rumah Om nya dengan segera.
***
Tok tok tok
" Permisi, Bu. Ada Pak Togar di luar." ucap sekretaris Lusiana yang memberitahukan kedatangan Togar di kantornya.
" Suruh dia masuk!" sahut Lusiana melepas kacamatanya.
" Baik, Bu." Sekretaris Lusiana kemudian keluar dan mempersilahkan Togar untuk masuk ke dalam ruangan Lusiana.
" Selamat siang, Bu."
Lusiana mendengus tak membalas sapaan Togar.
" Bagaimana hasil kerjamu, Togar? Sudah berbulan-bulan tidak menampakkan hasilnya." Lusiana terlihat kecewa karena orang yang dia suruh melaksanakan tugasnya tak juga menunjukkan hasil yang berarti.
" Maaf, Bu. Saya sudah berusaha tapi putra Anda dan wanita itu sulit sekali untuk dibuat akur apalagi untuk bisa saling mencintai. Dan wanita itu dengan kekasihnya sudah sangat dekat. Kekasih wanita itu sangat sabar hingga tidak mudah terpengaruh dengan provokasi apapun yang bisa menggoyahkan hubungan mereka." Togar menjelaskan apa saja yang sudah dia lakukan untuk menjauhkan Azkia dan Gibran juga berbagai rencana untuk mendekatkan Azkia dengan Raffasya.
" Kalau begitu percuma saya bayar kamu kalau hasil kerja kamu tidak memuaskan!" ketus Lusiana.
" Maaf, Bu." sesal Togar.
Lusiana lalu mengambil amplop yang sudah dia isi uang dan menyerahkan amplop itu kepada Togar.
" Ini upahmu, mulai sekarang tidak usah lagi mengawasi Raffasya dan wanita-wanita yang ingin mendekati dia lagi. Buang-buang uang saya saja!" Lusiana tidak bisa menutupi rasa kecewanya.
" Baik, Bu. Terima kasih."
" Kamu boleh keluar dari ruangan saya!"
" Baik, Bu. Permisi ..." Togar pun berpamitan meninggalkan ruang kerja Lusiana
***
Di sebuah club malam di kota Jakarta terlihat dua orang wanita sedang saling berbincang. Suara musik yang terdengar kencang membuat mereka harus berkata dengan kencang.
" Kamu sering datang kemari, Dys?" tanya Shendy karena dia merasa asing dengan kehidupan dunia malam seperti ini.
" Biasanya seminggu sekali aku nongkrong di sini, tapi sudah sebulan ini aku nggak kemari." Gladys menyesap wine secara perlahan.
" Aku baru sekali ini masuk ke tempat begini, Dys." aku Shendy jujur.
" Kalau begitu nanti aku akan sering-sering ajak kamu kemari agar kamu terbiasa dan tidak memilih minuman softdrink saja." Gladys terkekeh karena Shendy yang tidak terbiasa mengkonsumsi minuman beralkohol dengan kadar yang cukup tinggi lebih memilih softdrink.
" Aku takut mabuk, Dys. Orang tua aku akan marah kalau aku pulang dalam keadaan teler." Shendy beralasan.
" Minumlah sedikit biar nggak terlalu mabuk dan masih bisa mengontrol kesadaran. Nanti aku ajari caranya agar tidak mabuk saat mengkonsumi alkohol," ujar Gladys.
" Memang bisa?"
" Ada triknya, nanti aku kasih tahu."
" Oke, deh."
" Oh ya, Shen. Soal ceweknya si Gibran itu. Aku kesal banget sama dia. Sombong banget, menyebalkan!" Gladys mulai membahas soal Azkia.
" Apalagi aku, Dys. Dia penghalang aku untuk mendapatkan Gibran." Shendy menimpali.
" Shen, gimana kalau kita bersekutu untuk menyingkirkan cewek itu?" Mulai muncul niat jahat di otak Gladys.
" Maksudnya?"
" Aku bantu kamu buat menyingkirkan cewek itu agar dia dan Gibran itu putus jadi kamu bisa dekati Gibran. Gimana?" Gladys menyampaikan idenya.
" Boleh juga, tuh! Tapi caranya gimana?"
" Nanti aku pikir deh caranya, yang penting kita harus bersatu menyingkirkan cewek itu. Walaupun dia bilang kalau dia dan Raffa nggak ada hubungan apa-apa, tapi aku masih kesal saja lihat sikap dia yang songong. Apalagi pakai mengancam mau tinju mukaku, dia pikir muka aku yang cantik ini samsak tinju apa?" gerutu Gladys.
" Benar, Dys. Aku juga sebal sama dia sejak pertama bertemu," sahut Shendy.
" Hai, Gladys ..." Tiba-tiba seorang pria berbadan mirip bodyguard menyapa Gladys.
" Hai, Bim ..." Gladys balik menyapa Bimo, pria yang menyapanya itu.
" Siapa teman kamu yang cantik ini?" Bimo menoleh ke arah Shendy.
" Nggak usah macam-macam sama teman aku ini, ya!" ancam Gladys.
" Hahaha ... tenang, Dys. Gue 'kan cuma ingin kenalan saja, masa nggak boleh?" Bimo tergelak melihat Gladys yang tidak mengijinkan dia mengenal Shendy.
" Dia Shendy, teman SMA aku dulu." Akhirnya Gladys memperkenalkan Shendy.
" Hai, Shendy. Gue Bimo." Bimo mengulurkan tangannya yang dengan cepat dibalas Shendy.
" Eh, Bim. Kamu mau cewek nggak?" Tiba-tiba terbersit rencana baru di otak Gladys.
" Cewek siapa? Oke nggak orangnya?" Bimo langsung antusias.
" Yaaaa cantik, sih." Dengan berat hati Gladys harus mengakui paras cantik Azkia. " Tapi kamu mesti bantu kami." Gladys memberikan syarat yang harus dikerjakan oleh Bimo.
" Bantu apa?" tanya Bimo penasaran.
" Sini deh!" Gladys menyuruh Bimo mendekatkan telinganya, lalu Gladys membisik rencananya kepada Bimo.
" Gimana?" tanya Gladys.
" Oke, kapan eksekusinya?"
" Secepatnya kalau bisa. Tapi kita harus cari cara agar bisa membawa dia," ujar Gladys.
" Gampang nanti gue yang atur," sahut Bimo. " Okelah gue mau gabung ke teman-teman gue dulu." Bimo menunjuk ke arah selatan di mana beberapa pria dan wanita berkumpul dan tertawa-tawa.
" Oke, Bim."
" Kamu merencanakan apa, Dys? Bukan tindakan kriminal, kan?" Shendy merasa khawatir jika apa yang direncanakan oleh Gladys dan Bimo mengandung unsur kriminal.
" Tenang saja deh, Shen! Nggak ada salahnya kita bermain licik, yang penting nanti Gibran akan menjadi milik kamu." Gladys mencoba untuk meyakinkan Shendy agar tenang dan tidak perlu mengkhawatirkan rencana liciknya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️