MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Aku Nggak Mau Kekasihku Direbut Raffa



Dua hari setelah peristiwa di Bandung, Azkia berusaha menjalani aktivitas seperti biasanya. Tetap sebagai Azkia yang periang karena dia tidak ingin membuat keluarganya curiga. Namun ada sedikit perbedaan dengan sikap dirinya kepada Gibran. Sampai saat ini, Azkia belum juga mau menerima panggilan masuk dari kekasihnya itu.


Jujur saja Azkia merasa sangat bersalah kepada Gibran, dia merasa telah mengkhianati cinta mereka dengan terengutnya kesucian yang sejatinya ingin dia berikan kepada Gibran saat mereka sudah dalam ikatan halal pernikahan.


Tok tok tok


" Mbak Kia, ada tamu yang mencari Mbak di bawah." Suara Winda membuat Azkia yang sedang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya seketika menoleh ke arah Winda.


" Tamu siapa, Mbak?" tanya Azkia.


" Cowok, ganteng, kata Pak Satpam ngakunya saudara Mbak Kia," sahut Wanda.


" Saudara? Siapa? Abhi? Kak Alden?" Azkia bertanya-tanya.


" Pak Satpam nggak kasih tahu namanya, Mbak." sahut Wanda.


" Mbak, kalau kasih info itu jangan setengah-setengah! Kalau ada tamu cari aku itu ditanya yang jelas siapa dan apa tujuannya mau ketemu aku?!" bentak Azkia.


Wanda yang tidak pernah melihat bosnya itu berbicara ketus terhadap karyawannya nampak kaget saat melihat Azkia terlihat marah kepadanya.


" Ma-maaf, Mbak. Sebentar saya tanya dulu ke Pak Satpam." Wanda yang merasa bersalah lalu keluar ruang kerja Azkia.


Tak berapa lama Wanda telah kembali ke ruang kerja wanita anak dari pemilik butik tempatnya bekerja.


" Maaf, Mbak Kia. Kata Pak Satpam namanya Raffa." ucap Wanda setelah mencari informasi tentang siapa orang yang ingin bertemu dengan bosnya.


Azkia langsung membelalakkan kedua matanya saat mendengar nama pria yang dua hari berbagi kenikmatan walaupun hal itu terjadi tanpa kesadarannya yang berjalan normal karena pengaruh obat yang tanpa dia sadari tertelan di tenggorokannya.


" Mbak, tolong jangan biarkan orang itu masuk ke sini!" perintah Azkia kepada asistennya itu.


" Memangnya kenapa, Mbak?" Wanda merasa penasaran karena Azkia menolak tamunya saat ini.


" Mbak, kalau aku kasih perintah jangan banyak tanya, cepat dilaksanakan!" Azkia memang benar-benar mewarisi sifat dari sang Mamanya.


" Oh i-iya, Mbak " Wanda langsung bergegas meninggalkan ruangan Azkia kembali karena dia tidak ingin kena amuk Azkia yang sepertinya saat ini sedang tidak memiliki mood yang baik.


Sementara itu, di depan butik, Raffasya sedang menunggu Satpam yang sedang berbicara di telepon dengan orang yang dia duga adalah orang kepercayaan Azkia.


" Maaf, Mas. Kata asistennya, Mbak Kia sedang tidak ada di tempat, Mas." ucap Satpam itu setelah mengakhiri percakapannya di telepon dan memberitahukan kepada Raffasya tentang bosnya yang tidak ada di tempat.


" Tidak ada di tempat? Tapi mobilnya ada di sana." Raffasya menunjuk ke arah mobil milik Azkia.


" Wah, saya nggak tahu, Mas. Tadi yang kasih tahu asistennya, kok." ucap Pak satpam seperti apa yang sudah diiformasikan oleh Wanda kepadanya.


" Saya boleh tunggu di dalam, Pak? Saya mau menunggu dia kembali. Dia pasti kembali karena mobilnya masih ada di sini, kan?" Raffasya tahu jika sebenarnya Azkia berada di dalam ruangannya namun waita itu tidak ingin bertemu dengan dirinya.


" Oh, silahkan ..." Pak Satpam mempersilahkan Raffasya yang berniat menunggu di dalam.


Sesampainya di dalam butik, Raffasya tidak memilih duduk menunggu di sofa, melainkan berputar-pura melihat-lihat pakaian pria seraya mencari-cari di mana letak ruang kerja Azkia. Hingga dia akhirnya menemukan tangga yang dia anggap di sanalah ruangan kerja Azkia. Setelah dia diperhatikan saat ini butik nampak ramai dengan para pegawai yang masing-masing sibuk melayani pelanggan, Raffasya dengan cepat bergerak menaiki anak tangga. Mungkin saat itu hanya kamera CCTV lah yang melihat gerak Raffasya yang menaiki anak tangga. Untung saja kamera CCTV tidak bisa berteriak dan melarang langkah Raffasya bergerak menaiki anak tangga.


Saat mencapai lantai atas Raffasya melihat seseorang wanita yang dia pikir adalah asisten dari Azkia.


" Di mana ruangan Almayra?"


Wanda yang sedang memasukan data-data penjualan dari semua cabang Alexa boutique langsung terperanjat saat seorang pria tampan tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya saat ini.


" Almayra? Mbak Kia maksudnya?"


" Terserah kalian memanggilnya apa? Di mana ruangannya?" tanya Raffasya kembali.


" Mas ini siapa? Ada keperluan apa ingin bertemu Mbak Kia?" Wanda segera bangkit karena dia menduga jika pria di hadapannya itu adalah orang yang tadi dimaksud oleh satpam di bawah.


" Ada urusan penting yang ingin saya bicarakan dengan bos kamu!" tegas Raffasya seraya melangkah ke pintu ruangan di samping meja Wanda.


" Eh, Mas, Mas ... mau ke mana?" Wanda hendak menghalangi namun langkah Raffasya berhasil membuat dia sampai lebih dulu ke arah pintu dan ingin membuka handle pintu, namun tiba-tiba pintu dibuka dari dalam hingga membuat Raffasya dan Azkia yang saat itu hendak melewati pintu itu bertabrakan.


Buugghh


Mereka berdua sama-sama terhuyung satu langkah ke belakang. Dengan mata Azkia yang terbelalak saat menjumpai Raffasya saat ini sudah berada di hadapannya.


" Kenapa Kak Raffa bisa ada di sini?" tanya Azkia dengan ketus.


" Kita harus bicara!" tegas Raffsya yang memang menginginkan ada pembicaraan yang serius tentang kejadian di Bandung.


Azkia langsung melotot ke arah Wanda, karena dia tidak ingin Wanda curiga sementara Wanda langsung ciut karena dia mengira Azkia melotot karena dia kecolongan hingga pria itu berhasil bertemu dengan Azkia, padahal Azkia tidak ingin bertemu dengan Raffasya.


" Aku 'kan sudah bilang! Nggak usah bahas masalah itu! Anggap tidak ada apa-apa saat itu!" Azkia berkata dengan nada berbisik dengan gigi mengerat karena merasa geram dengan kehadiran Raffasya namun dia juga tidak ingin Wanda mendengar ucapannya.


" Kita nggak bisa begitu saja menganggap semua itu nggak ada, Almayra!" Raffasya tidak sependapat dengan Azkia.


Azkia yang tidak nyaman jika berbicara di luar karena keberadaan Wanda langsung menarik lengan Raffasya hingga tubuh pria itu ikut tertarik ke dalam ruangan dan segera menutup pintu ruangan kerjanya.


" Mau Kak Raffa itu apa, sih?" Azkia melipat kedua tangannya dengan sorot mata tajam menatap pria tampan di hadapannya itu.


" Kita harus membicarakan kemungkinan yang akan terjadi atas apa yang sudah kita perbuat kemarin," sahut Raffasya.


Azkia memalingkan wajahnya bahkan udara yang dia hirup terasa sesak mendengar Raffasya menyebut kalimat 'apa yang sudah kita buat kemarin'.


" Bagaimana kalau nanti lu hamil?"


Pertanyaan Raffasya membuat Azkia kembali menolehkan wajah ke arah pria itu.


" Nggak mungkin ya aku hamil!" tepis Azkia merasa kesal seraya berjalan menjauh dari Raffasya dengan satu tangan bertolak pinggang dan tangan lainnya memijat pelipisnya. Apa yang dikatakan Raffasya seperti cambuk yang melecut hatinya. Suatu hal yang menakutkan jika semua itu benar terjadi.


" Segala kemungkinan bisa saja terjadi, May! Termasuk kemungkinan lu hamil."


Azkia tersenyum getir membayangkan jika hal itu benar terjadi.


" Kita hanya melakukan sekali, jadi nggak mungkin jika itu terjadi!" Azkia tetap bersikukuh jika hal itu tidak mungkin terjadi.


" Kita tetap harus prepare untuk menghadapi kemungkinan itu," ucap Raffasya yang juga bersikukuh jika mereka harus membicarakan hal ini lebih serius.


" Aku nggak mau hamil! Kalau itu sampai terjadi, aku akan aborsi! Jadi Kak Raffa nggak perlu pusing memikirkan tentang hal itu! Sekarang silahkan Kak Raffa keluar dari sini!" Azkia melangkah menuju pintu namun tangan Raffasya mengcengkam lengannya.


" Lu mau aborsi?? Eh, gue nggak mau ya, lu bunuh darah daging gue!" Raffasya terlihat emosi mendengar niat Azkia yang ingin menggugurkan kandungannya.


" Nggak usah berlebihan gitu deh, Kak!" Azkia menyingkirkan tangan Raffasya yang mencekal lengannya. " Lagipula aku juga belum tentu hamil, kok! Karena aku nggak mau punya anak dari cowok berandalan seperti Kak Raffa!" Azkia kemudian melangkah membukakan pintu untuk Raffasya.


" Silahkan keluar dari sini!" usir Azkia.


Raffasya mendengus kasar karena sikap Azkia hingga dia akhirnya berjalan ke pintu yang sudah dibukakan Azkia untuknya.


" Kak Raffa nggak perlu khawatir, kalaupun aku hamil, aku nggak akan meminta pertanggungjawaban dari Kak Raffa!" tegas Azkia dengan suara teredam di mulutnya.


Raffasya menghentikan langkahnya di hadapan Azkia dengan menatap tajam ke arah Azkia yang juga mengarahkan pandangan ke arahnya.


" Ini terakhir kalinya kita bicarakan hal ini! Nggak usah mengungkit tentang hal ini lagi!" tegas Azkia.


Raffasya kembali mendengus kasar mendengar ucapan Azkia.


" Kalau lu hamil, kasih anak itu ke gue, biar gue yang urus kalau lu keberatan urus anak itu," pinta Raffasya.


" Silahkan keluar!" Azkia kembali mengusir Raffasya dari dalam ruangannya hingga pria itu benar-benar meninggalkan ruang kerjanya.


" Ya Allah, semoga itu nggak akan terjadi. Aku nggak mau hamil di luar nikah! Aku nggak mau bikin Papa Mama malu, Aku nggak mau bikin mereka kecewa." Seketika tangis Azkia pecah membayangkan jika kemungkinan buruk itu terjadi.


***


Dua Minggu berlalu ...


Kak Kia, ada kak Gibran, tuh!” Aliza yang membuka pintu kamar Azkia langsung memberitahukan kedatangan Gibran kepada Kakaknya itu.


“ Bilang saja Kak Kia sudah tidur, Dek.” Sahut Azkia langsung bergelung selimut.


“ Iihhh, Kak Kia kok mengajarkan Aliza suruh bohong, sih! Lagipula ini belum jam tujuh, Isya juga belum. Mana percaya kalau bilang Kak Kia sudah tidur,” sahut Aliza yang tak merubah posisinya masih berdiri di pintu.


“ Iya nanti habis sholat Isya, Kakak mau langsung tidur, kok!” Azkia beralasan.


“ Kak Kia sama Kak Gibran lagi berantem, ya? Kok nggak mau ketemu sama Kak Gibra" tuding Aliza karena melihat Kakaknya yang terlihat enggan bertemu dengan Gibran.


“ Iiihhh, anak kecil sotoy, nih!’ tepis Azkia.


“ Ya sudah, pokoknya Aliza sudah kasih tahu Kak Kia.” Aliza kemudian menutup pintu kamar Azkia kembali dan segera menuju kamarnya sendiri.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Natasha lah yang mendatangi Azkia karena ternyata Azkia tidak tidak juga muncul di ruangan tamu menemui Gibran.


“ Azkia, ya ampun … pantas dari tadi Mama suruh Aliza panggil kamu nggak datang-datang, ternyata masih tiduran. “ Ada Gibran itu di depan,” ucap Natasha menghampiri Azkia.


“ Kia capek, Ma. Mau istirahat.” Azkia kembali beralasan.


“ Kamu minum vitamin, dong! Mama ‘kan selalu sedia vitamin buat keluarga. Nanti Mama ambilkan! Kamu itu kuliah sambil urus butik, harus bisa jaga kesehatan. Sekarang kamu temui Gibran dulu sana. Dua malam Minggu kemarin nggak ketemu, masa sekarang nggak kangen malam mingguan gitu?" Natasha menggoda putrinya itu. Wanita itu kemudian menyuruh Azkia untuk bergegas turun ke bawah menemui Gibran.


***


Saat ini Azkia dan Gibran sedang berada di sebuah restoran Jepang, karena setelah dibujuk berkali-kali oleh Gibran, akhirnya Azkia mau juga diajak pergi keluar menikmati suasana malam minggu seperti kebanyakan pasangan lainnya.


" Yank, kamu kenapa, sih? Belakangan ini kayaknya kamu banyak menghindar dari aku. Seingat aku sejak aku ke Jambi, dan aku batal menemani kamu, kita jarang komunikasi. Kamu marah sama aku karena aku nggak bisa ikut kamu ke Bandung, atau karena belakangan ini aku sibuk sama pekerjaan? Iya aku akui, belakangan aku agak stress sama pekerjaan yang semakin padat, tapi itu bukan berarti aku melupakan kamu, Yank." Gibran menanyakan perubahan sikap Azkia kepadanya. Wanita yang biasanya banyak bicara dan selalu cerewet kepadanya kini nampak lebih banyak berdiam diri. Bahkan sepanjang perjalanan dari rumahnya hingga kini mereka menyantap makanan yang ada di meja mereka, Azkia hanya bersuara ketika dia tanya saja.


" Nggak kok, Kak." Azkia menjawab seraya memasukkan shusi dengan sumpit ke dalam mulutnya.


" Lalu kenapa kamu nggak seperti biasa sekarang ini? Biasanya kamu selalu cepat kalau terima telepon dari aku. Belakangan ini kamu malah susah sekali angkat panggilan teleponku. Kalau kamu sedang ada masalah, bilang sama aku, Yank. Aku pasti bantu kamu, jangan dipendam sendiri saja." Gibran tetap yakin jika Azkia menyembunyikan sesuatu darinya.


" Aku hanya sedang merenung saja, Kak." sahut Azkia.


" Merenung? Tentang apa? Tentang hubungan kita? Apa yang kamu pikirkan sih, Yank? Kapanpun kamu siap, aku akan segera melamarmu."


Azkia menghentikan kunyahannya. Kalimat yang terdengar sangat indah di telinga namun terasa menyayat di hatinya. Keinginan menikah dengan Gibran sebelum kejadian di Bandung kemarin adalah suatu impiannya. Menggapai mahligai rumah tangga bersama Gibran adalah hal terindah yang dia inginkan. Namun semua itu sepertinya hanya tinggal angan-angan saja. Karena dia tidak yakin Gibran masih akan menerima dirinya yang sudah ternoda. Kesucian yang semestinya dia berikan untuk Gibran setelah resmi menikah kini telah terkoyak.


" Kak aku mau tambah ramen ..."Azkia mengalihkan pembicaraan mereka agar Gibran tidak terus menerus menanyakan tentang perubahan sikapnya.


" Kamu lapar, Yank?" tanya Gibran melihat Azkia meminta ramen padahal sudah menghabiskan tiga perempat shusi di tray nya, kini meminta menu lain yang sudah pasti akan mengenyangkan perut.


" Iya, mungkin karena faktor lelah jadi kepingin makan banyak," sahut Azkia kini kembali memasukan potongan shusi ke dalam mulutnya.


" Kamu pasti akan kenyang banget lho, Yank. Kalau lanjut makan ramen. Pesan yang lain saja." Gibran meminta Azkia mengganti pesanannya karena Azkia pasti tidak akan bisa menghabiskan ramen setelah wanita itu memakan shusi.


" Tapi aku mau ramen, Kak!" desak Azkia.


" Ya sudah nanti aku pesankan." Gibran pun akhirnya menuruti apa yang diminta Azkia. Hingga akhirnya pesanan Azkia itu datang dan Azkia hanya sanggup memasukan setengah mangkuk ramen ke perutnya.


" Kak kita langsung pulang saja, ya! Aku ngantuk ..." ujar Azkia saat mereka berdua keluar dari restoran.


" Nggak baik habis makan langsung tidur, Yank. Bisa menimbulkan penyakit." Gibran menasehati.


" Iya tapi kita pulang, ya? Aku rasanya capek banget," pinta Azkia lagi.


" Iya, iya ..." Gibran lalu melingkarkan tangannya di pundak Azkia.


Azkia melirik tangan Gibran yang merangkulnya. Suatu hal yang biasa terjadi namun dia merasa tidak nyaman sekarang ini.


" Maafkan aku, Kak. Kak Gibran pasti akan kecewa kalau tahu sekarang aku seperti apa?" lirih Azkia membatin.


Saat ini Azkia memang belum berani mengambil keputusan untuk berpisah, dia tahu tidak mudah untuk Gibran bisa menerima kenyataan karena pria itu sudah cukup lama menunggunya. Dia pun pasti akan membutuhkan waktu untuk mengumpulkan kekuatan untuk bisa mengutarakan hal itu pada sosok pria yang begitu dia cintai.


" Hai, Raf ..."


Azkia mengerjapkan matanya saat dia mendengar Gibran menyebut satu nama yang tentu saja tidak ingin dia dengar lagi di dalam hidupnya. Azkia lalu mengangkat pandangannya ke depan dan kini dia mendapatkan seorang pria yang belakangan justru mengusik ketenangannya. Bukan, bukan hanya mengusik tapi merusak ketenangan hidupnya.


Namun bukan hanya Raffasya seorang yang dia lihat saat ini, tapi seorang gadis cantik yang kini sedang melingkarkan tangannya di lengan Raffasya. Azkia lalu melirik ke Raffasya yang juga sedang menatapnya namun tak lama Azkia memalingkan wajahnya.


" Cewek kamu ini, Raf?" tanya Gibran.


" Kak, ayo kita pulang! Azkia langsung menarik tangan Gibran meminta pria itu menjauh dari Raffasya, karena dia tidak ingin Raffasya sampai mengatakan apa yang sudah terjadi antara dia dan pria itu.


" Raf, gue duluan ...!" seru Gibran yang berjalan menjauh dari Raffasya.


" Mereka teman Kak Raffa?" tanya gadis itu kepada Raffasya.


" Teman sekolah dulu," sahut Raffasya dengan tatapan masih bertumpu pada Azkia yang semakin menjauh.


" Kok ngelihatinnya gitu banget, Kak? Kak Raffa suka ya sama cewek itu?" ledek Nita gadis yang sebenarnya adalah adik sepupu Raffasya dari keluarga Papanya. Nita dapat melihat Raffasya yang terlihat sedang menatap kepergian Azkia.


" Sotoy lu, anak kecil!" Raffasya mengacak rambut gadis berusia tujuh belas tahun itu.


" Eh, tapi kenapa cewek tadi ngeliat aku kok gitu banget ya, Kak?" Kening Nita berkerut.


" Gitu banget gimana?" Kini justru kening Raffasya yang berkerut.


" Kayak orang yang nggak suka gitu. Sinis banget tatapan matanya. Ah, jangan-jangan dia cemburu lagi lihat Kak Raffa jalan sama aku." Nita terkikik.


" Jangan ngaco! Sudah buruan, mau minta dibelikan kado apa dari Kakak?" tanya Raffasya kepada Nita.


" Yang spesial, dong, Kak! Ini 'kan sweet seventeen ..." Nita dengan cepat menyahuti.


" Iya, iya, bawel banget lu itu." Raffasya kemudian merangkulkan lengannya di pundak Nita.


***


Gibran terkekeh melihat Azkia yang berebut kesal saat menariknya menjauh dari Raffasya.


" Kamu itu kapan akurnya dengan Raffa, Yank? Awas lho, jangan benci-benci, nanti jadi cinta bisa berabe. Aku nggak mau kekasih aku yang cantik jelita ini direbut oleh Raffa." Gibran tertawa seraya merangkulkan kembali lengannya di pundak Azkia.


Tentu saja perkataan Gibran membuat hati Azkia mencelos. Bagaimana jika Gibran akhirnya tahu justru kesuciannya lah yang sudah direbut Raffasya sekarang ini.


*


*


*


Bersambung


Happy Readin❤️