
" Masya Allah cantiknya Baby Alma, gemesin banget sih, Kak." Melihat keponakan barunya, Rosa nampak gemas bahkan sampai menciumi terus menerus pipi bayi mungil itu.
" Aku boleh gendong nggak, Kak?" tanya Rosa kemudian karena dia terlalu excited dengan kehadiran keponakan barunya itu.
" Boleh saja, tapi kamu bisa nggak gendongnya? Kalau nggak bisa kamu gendong Naufal saja, deh!" Azkia terkekeh meledek adik iparnya itu.
" Coba dulu, Kak. Kasih tahu caranya bagaimana?" Rosa tetap ingin menggendong Baby Alma hingga membuat wanita itu bersikeras minta diajari oleh Azkia bagaimana cara menggendong bayi yang baru lahir tanpa membuat tubuh bayi itu kesakitan karena terkilir.
Azkia lalu mengangkat bayinya dan menyerahkannya kepada Rosa. Dia mengajari bagaimana cara meletakkan posisi bayi yang tepat agar bayi itu terkilir.
" Nah, kalau begini 'kan sudah cocok kalau punya anak sendiri." Azkia terkekeh, kembali dia menggoda adik iparnya, membuat wajah Rosa dipenuhi rona merah.
" Oh ya, bagaimana kabar hubungan kamu dengan Kak Gibran?" Azkia menyinggung soal hubungan adik iparnya itu dengan mantan kekasih dirinya.
" Kak Gibran sedang pulang ke Jambi, Kak. Kak Gibran bilang ingin membicarakan soal hubungan kami kepada orang tuanya." Rosa menyebutkan jika kekasihnya saat ini sedang pulang ke Jambi.
" Oh ya?" Azkia menaikan alisnya. " Ca, kalau Kak Gibran langsung melamar kamu dan meminta secepatnya menikahi kamu, apa kamu siap?" tanya Azkia kemudian. Mengingat usia Gibran yang sudah matang, Azkia yakin jika Gubgan tidak ingin berlama-lama berpacaran dan pasti memutuskan untuk segera menikah.
" Aku 'kan masih kuliah, Kak." sahut Rosa.
" Nggak masalah menikah saat masih kuliah juga, Ca. Aku juga menikah sama Kakakmu saat masih kuliah." Azkia merasa tidak masalah dengan status mahasiswa Rosa untuk melangkah ke pelaminan.
" Aku nggak tahu deh, Kak. Aku belum memikirkan sejauh itu." Nampaknya Rosa masih enggan membicarakan soal pernikahan, karena dia merasa dirinya masih terlalu muda untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
" Kamu nggak bisa mengabaikan begitu saja, Ca. Kamu harus punya persiapan kalau Kak Gibran tiba-tiba memutuskan ingin melamar kamu. Kak Gibran sekarang pulang ke Jambi untuk membicarakan hubungan kalian, kan? Itu artinya Kak Gibran sudah memutuskan sesuatu yang serius. Kalau hanya sekedar berpacaran saja nggak harus repot-repot pulang ke Jambi hanya untu mengenalkan kamu sebagai pacar Kak Gibran." Azkia bahkan bisa menduga jika Gibran memang merencanakan sesuatu yang serius terhadap Rosa.
" Benar begitu, Kak?" tanya Rosa.
" Dulu saja Kak Gibran itu sudah mengajak aku menikah waktu aku masih kuliah. Rencananya setelah aku lulus, kami akan menikah, eh ... kejadian sama Kakak kamu, jadinya batal, deh." Azkia menceritakan rencana yang pernah dibuat dirinya dan Gibran saat masih bersama. " Eh, maaf lho, Ca. Aku nggak maksud buat mengungkit masa lalu aku sama Kak Gibran, lho. Cuma sekedar mengingatkan kamu agar kamu jaga-jaga saja." Azkia memang tidak bermaksud mengingat masa lalu dia bersama mantan kekasihnya itu. Dia hanya ingin Rosa lebih siap jika Gibran dan keluarganya sudah merencanakan melamar Rosa.
" Kalian sedang bicara apa? Sepertinya serius sekali?" Raffasya masuk ke dalam kamarnya sambil menggendong Naufal yang tertidur dalam rengkuhannya.
" Eh, Papa ... nggak ngobrolin apa-apa kok, Pa. Cuma mengajari Oca cara menggendong bayi. Siapa tahu nanti Oca ketularan kepingin cepat-cepat punya bayi juga." Azkia menutupi apa yang tadi dibicarakan dengan adik iparnya kepada Raffasya.
" Iiihhh, Kak Kia ..." Rosa langsung menyangkal apa yang dikatakan Azkia tentang dirinya kepingin cepat punya anak.
" Benar kamu ingin kepingin punya anak, Ca? Kamu sudah siap menikah memangnya?" Raffasya menanggapi serius apa yang dikatakan istrinya tadi. Kemudian dia menaruh tubuh Naufal yang tertidur di atas tempat tidur.
" Kak Raffa kenapa didengar sih, ucapan Kak Kia? Kak Kia itu hanya meledek Oca saja, kok!" Rosa tetap menyangkal karena dia yang masih polos, baru pertama kali pacaran, itupun belum berjalan lama, tentu saja belum memikirkan sampai ke jenjang pernikahan.
" Pa, Oca bilang kalau Kak Gibran itu sedang ke Jambi untuk membicarakan soal hubungan Oca sama Kak Gibran. Menurut Papa mungkin nggak sih, kalau Kak Gibran itu sedang mempersiapkan untuk melamar Oca, Pa? Secara usia Kak Gibran itu 'kan sudah mapan untuk berumah tangga." Azkia meminta pendapat suami tentang kemungkinan Gibran akan melamar Rosa.
Raffasya kini menatap adiknya. " Kamu sudah siap, Ca?" Dan sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Raffasya.
" Kenapa semuanya pada bicara soal melamar dan menikah, sih?" Rosa semakin tak nyaman seakan sedang dikeroyok oleh dua orang.
" Oca harus punya persiapan 'kan, Pa? Siapa tahu itu memang benar." Azkia sepertinya bersemangat sekali menggoda adik iparnya itu.
" Papa juga harus kasih pengertian ke Papa Fariz dan Mama Lusi jika kemungkinan itu terjadi, Pa. Jadi mereka nggak kaget dan punya persiapan. Aku yakin walaupun Papa dan Mama sudah merestui hubungan Kak Gibran dan Oca, tidak akan mudah untuk mereka melepas Oca menikah di usia yang muda ini." Azkia meminta suaminya berbicara kepada orang tuanya agar nantinya tidak ada masalah dengan hubungan antar Gibran dan Rosa, karena usia Gibran yang sudah cukup matang sedangkan Rosa yang baru beranjak dewasa.
" Oke, nanti aku bicarakan dengan Papa dan Mamaku." Raffasya menyutujui saran istrinya.
" Tapi bicaranya mesti hati-hati ya, Pa. Apalagi sama Mama Lusi." Azkia menyadari jika Mama mertuanya itu terlalu protektif kepada Rosa. Tidak akan mudah melepas Rosa bagi Mama Lusi apalagi dia seperti baru saja mendapatkan anak perempuan.
" Iya, Ma." sahut Raffasya mendekat ke arah Baby Alma yang masih dalam gendongan Rosa.
" Kak Raffa mau gendong?" tanya Rosa.
" Sini ..." Raffasya meminta Rosa menyerahkan Baby Alma kepadanya.
" Aku nggak bisa, Kak. Takut terkilir." Rosa takut untuk memindahkan Baby Alma. " Kak Raffa saja yang ambil, nih!" Rosa justru menyuruh Raffasya yang mengambil Baby Alma darinya.
Raffasya dengan hati-hati mengambil tubuh mungil putri kecilnya dari tangan Rosa.
" Kak, Oca pamit dulu, ya." Rosa segera berpamitan setelah Raffasya berhasil mengambil Baby Alma darinya.
" Lho, kok pulang, Ca? Nggak menginap saja di sini?" tanya Azkia kepada Rosa.
" Nanti saja, Kak. Kalau weekend aku menginap di sini," sahut Rosa.
" Kamu pulang sama siapa?" tanya Raffasya.
" Aku pesan Ojol saja, Kak." ujar Rosa.
" Ya sudah, hati-hati ya, Ca." Azkia berpelukan dengan Rosa.
" Iya, Kak." Rosa menyalami tangan Azkia bergantian dengan Raffasya sebelum akhirnya meninggalkan kamar kakaknya itu.
" Pa, apa Papa nggak berminat mencari supir buat aku, Pa? Jadi kalau ada Oca ke sini bisa pulang diantar sama supir pribadiku. Aku juga kalau pergi ke mana-mana 'kan nggak boleh bawa mobil sendiri, jadi kasih aku supir pribadi dong, Pa." Azkia mengusulkan supir pribadi untuknya.
" Ya sudah, nanti aku carikan supir untuk kamu, Ma." Tanpa berpikir panjang Raffasya menyetujui permintaan Azkia.
" Makasih, ya, Pa." Azkia memeluk tubuh suaminya dari belakang karena saat ini suaminya itu sedang menggendong Baby Alma.
Dua hari kemudian ..
" Mbak, ada tamu di depan." Uni memberitahukan Azkia jika ada seseorang yang mencari Azkia.
" Tamu? Tamu siapa, Mbak Uni?" tanya Azkia mengeryitkan keningnya.
" Katanya sih, disuruh Mas Raffa kemari untuk melamar pekerjaan di sini, Mbak." sahut Uni kembali.
" Bekerja di sini? Memang kita butuh tenaga lagi, ya?" tanya Azkia heran.
" Katanya lagi dia ingin melamar jadi supir pribadi Mbak Kia," jawab Uni.
" Supir pribadi aku? Serius?" tanya Azkia. " Masih muda atau sudah tua, Mbak?"
" Oh ya?" Mata Azkia berbinar saat Uni menjelaskan tentang calon supir pribadinya itu.
" Ya sudah, suruh tunggu dulu ya, Mbak. Nanti saya turun ke bawah. Sama suruh Bi Neng ke atas sini, Mbak Uni." Azkia memerintah ART nya untuk melaksanakan apa yang disuruhnya.
" Baik, Mbak." Uni segera turun ke bawah untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Azkia kepadanya.
Sepeninggal Uni, Azkia segera merapihkan pakaiannya dan juga memoles lipbalm di bibirnya. Dia ingin terlihat segar walaupun dia baru saja melahirkan. Bagaimanapun juga dia ingin selalu terlihat cantik di hadapan siapapun juga.
Azkia turun ke bawah setelah Bi Neng datang untuk menjaga Naufal dan Baby Alma yang sama-sama sedang tertidur.
Azkia mencari sosok pria gagah yang disebutkan Uni akan melamar sebagai supir pribadinya. Namun dia tidak menemukan orang yang dimaksud oleh Uni. Dia justru mendapati seorang wanita berusia kisaran umur tiga puluh tahun berambut pendek dengan menggunakan jaket kulit duduk di ruang tamunya.
" Maaf, cari siapa ya, Mbak?" tanya Azkia menyapa orang yang duduk di sofa tamunya itu. Walaupun berpenampilan seperti laki-laki namun Azkia masih dapat mengenali jika orang itu adalah seorang wanita.
" Selamat siang, Bu Kia. Perkenalkan saya Arin, saya diminta Pak Raffa untuk datang kemari untuk menemui Bu Kia. Katanya Bu Kia sedang mencari supir pribadi. Saya berminat untuk mengisi posisi itu jika Bu Kia tidak keberatan." Walau suara wanita itu terdengar berat namun kalimat itu terucap dengan tegas.
Azkia mengerutkan keningnya mendengar ucapan wanita itu.
" Mbak berminat menjadi supir pribadi saya?" tanya Azkia.
" Benar, Bu. Jika Bu Kia tidak berkeberatan," sahut wanita bernama Arin itu.
" Mbak ini sudah bicara dengan suami saya, kan? Suami saya bicara apa?" Azkia penasaran apa yang diperintahkan suaminya kepada Arin.
" Pak Raffa menyerahkan keputusan kepada Bu Kia. Saya mempunyai kemampuan bela diri, Bu. Saya rasa itu bisa menjadi nilai lebih jika saya menjadi supir pribadi Bu Kia." Arin mengatakan jika dia akan bisa menjadi supir sekaligus bisa menjaga Azkia dan anak-anaknya.
" Oke, oke ... nanti saya bicarakan lagi dengan suami saya, ya!? Mbak Arin tinggalkan saja dulu nomer HP nya, nanti saya akan hubungi Mbak Arin kalau saya dan suami saya sudah mencapai kesepakatan." Azkia tentu ingin bicara terlebih dahulu dengan suaminya sebelum memutuskan menerima Arin bekerja sebagai supir pribadinya.
" Baik, Bu. Saya sudah tinggalkan nomer HP saya di surat lamaran. Kalau begitu saya permisi." Arin segera berpamitan kepada Azkia dan keluar dari rumah Raffasya.
" Itu yang mau jadi supir Mbak Kia?" tanya Atun setelah mengantar Arin sampai keluar pintu gerbang.
" Iya, Mbak Atun." sahut Azkia.
" Tomboy begitu, Mbak. Perawakannya kayak laki-laki, ya?" Atun mengutarakan pendapatnya saat melihat wanita yang berpenampilan seperti laki-laki itu.
" Iya, Mbak. Kayak jagoan, ya?" Azkia terkekeh.
" Tapi mending supir kayak gitu sih, Mbak. Jadi aman."
Azkia melirik ke arah Atun, karena tidak mengerti maksud dari perkataan Atun tadi
" Aman gimana, Mbak?" tanyanya.
" Kalau supirnya masih muda dan cowok 'kan bahaya, Mbak. Siapa tahu nanti supir itu bisa naksir kalau lihat Mbak Kia yang cantik gini," sahut Atun mengatakan maksud perkataannya tadi.
" Jangan-jangan Mas Raffa memang sengaja pilihkan supir itu untuk Mbak Kia, biar Mas Raffa tenang nggak cemburu." Atun terkekeh menyampaikan apa yang ada dipikirannya.
" Ngapain mesti cemburu? Memangnya apa yang mesti dicemburui? Takut aku selingkuh sama supir, gitu? Ada-ada saja ..." Azkia lalu berjalan kembali ke arah tangga untuk menuju kamarnya meninggalkan Atun yang masih terkekeh.
***
Raffasya menyeringai saat melihat istrinya itu menatapnya tajam saat dia memasuki kamarnya sepulang dari cafe sore ini.
" Assalamualaikum, Mama cantik." Raffasya lalu mendekati dan mengecup pipi istrinya yang masih menunjukkan wajah memberengut.
" Waalaikumsalam ..." Walau dengan nada ketus Azkia masih menjawab salam yang diucapkan oleh suaminya.
" Halo, Adik Alma ... Halo, Kak Naufal." Raffasya menyapa anak-anaknya yang berada di tempat tidur. Baby Alma yang sedang menggeliat dan Naufal yang terlihat asyik memainkan mainan baru yang dibelikan Omanya.
" Papaaa ..." Melihat Papanya datang, Naufal langsung bangkit dan berdiri minta digendong oleh Papanya itu.
" Naufal mau minta gendong? Papa mandi dulu ya, Nak." Raffasya mengecup kening putranya. " Naufal sama Mama dulu, temani Mama biar Mama nggak marah-marah terus." Raffasya menyeringai melirik ke arah Azkia.
Setelah membersihkan tubuhnya, Raffasya mengangkat tubuh Naufal terlebih dahulu, karena putranya itu sering menampakkan sikap cemburunya saat dia lebih mendahulukan Baby Alma.
" Kenapa cemberut saja, Ma?" tanya Raffasya berpura-pura tidak mengetahui apa yang membuat istrinya itu marah.
" Papa sengaja, kan? Kasih supir pribadi perempuan buat aku!?" Azkia mulai mengatakan apa yang membuat dirinya merasa kesal terhadap suaminya itu.
" Memangnya kenapa? Apa ada yang salah kalau aku kasih supir pribadi perempuan? Waktu minta dicarikan supir pribadi kamu nggak kasih syarat tidak boleh perempuan, kan?" Raffasya merasakan tidak ada yang salah dengan orang yang dia rekomendasikan untuk menjadi supir pribadi istrinya.
" Memangnya kamu ingin supir pribadi seperti apa? Kamu ingin supir pribadinya itu cowok? Yang ganteng dan masih muda? Biar kamu bisa selingkuh sama supir pribadi kamu itu nantinya?" Raffasya bertanya penuh rasa curiga karena istrinya itu tidak menyukai dirinya memilih supir pribadi wanita.
" Iiihhh ...!! Jangan ngaco, deh! Siapa juga yang mau selingkuh!?" tepis Azkia mencubit lengan suaminya.
" Aduh, aduh, Kak Naufal ... Mama cubit Papa, nih. Mama nakal sama Papa ... hiks ..." Raffasya mendramatisir seolah merasa terdzolimi dan mengadukan perbuatan istrinya itu kepada anak pertama mereka.
" Papaaaa ..." Naufal memperhatikan wajah Papanya yang berpura-pura menangis, bahkan dia menyingkirkan tangan Raffasya yang digunakan Raffasya untuk menyeka air mata palsunya.
" Mama nakal sama Papa, Nak." Raffasya melirik ke arah Azkia yang langsung memalingkan wajahnya melihat drama yang dimainkan oleh dirinya.
Raffasya pun akhirnya duduk di tepi tempat tidur bersebelahan dengan Azkia. Dia melingkarkan tangannya ke pundak sang istri, dan kembali mencium pipi Azkia.
" Aku pilih supir pribadi perempuan untuk kamu, supaya hubungan kita nggak terganggu, Ma. Kamu ingat peristiwa ART wanita muda yang pernah kerja di rumah ini, kan? Aku nggak menanggapi dia tapi dianya yang suka sama aku. Aku takut jika aku kasih kamu supir laki-laki, terus supir itu akan suka sama kamu. Aku nggak mau ada pria lain yang menyukai kamu, Ma. Kamu harus berpikir panjang untuk kebaikan rumah tangga kita." Raffasya menjelaskan alasannya kepada Azkia kenapa dia memilihkan supir perempuan untuk istrinya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️