
Tok tok tok
" Permisi, Pak Raffa." Nindi masuk ke dalam ruangan Raffasya seraya melirik ke arah Azkia. Sejak ditegur pertama kali oleh istri dari bosnya itu, Nindi terlihat hati-hati bersikap di hadapan Azkia.
" Ada apa, Nin?" tanya Raffasya menoleh ke arah pintu.
" Ada Mbak Aisyah dan Mbak Humaira, hari ini mereka ada jadwal untuk talk show siap acara lomba dakwah remaja, Pak."
Raffasya langsung melirik ke arah Azkia yang seketika menatap tajam ke arahnya.
" Hmmm, suruh Adam saja yang menerima mereka, Nin." Raffasya memerintahkan Nindi untuk menyuruh Adam menemui Aisyah dan Humaira karena dia tahu istrinya pasti tidak menyukai kehadiran kedua wanita itu.
" Baik, Pak." sahut Nindi kemudian berniat meninggalkan kembali ruangan Raffasya.
" Eh, eh, kamu suruh masuk ke sini saja tamunya." Tiba-tiba Azkia berbicara kepada Nindi dan meminta Nindi membawa kedua tamu Raffasya ke ruangan suaminya.
" Baik, Mbak." ujar Nindi kemudian keluar dari ruangan bosnya.
" Kenapa kamu suruh mereka kemari? Bukannya kamu nggak suka kalau ada wanita itu?" Raffasya menatap curiga istrinya yang menyuruh Nindi membawa Humaira dan rekannya masuk ke ruangannya.
" Aku hanya ingin memberitahukan wanita itu kalau Kak Raffa sudah menikah dan akan mempunyai anak!" tegas Azkia kemudian mengambil compact powder untuk merapihkan riasannya. Tentu saja dia ingin terlihat cantik di mata Humaira agar Humaira tahu jika Raffasya sudah memiliki istri secantik dirinya. Sedangkan Raffasya hanya menggelengkan kepala menanggapi sikap tegas Azkia yang tidak menginginkan ada satu wanita pun dekat dengan dirinya.
Tok tok tok
" Silahkan ..." Nindi kemudian membuka pintu dan mempersilahkan Aisyah dan Humaira masuk ke dalam ruangan kerja Raffasya.
" Terima kasih, Mbak." sahut Aisyah dan Humaira bersamaan.
" Assalamualaikum, Mas ..." sapa Aisyah kepada Raffasya seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
" Waalaikumsalam, silahkan ..." Raffasya mempersilahkan Aisyah dan Humaira untuk duduk di kursi sofa ruangannya.
Azkia memandangi dua orang wanita cantik di hadapannya dengan tatapan mata tajam terutama pada wanita yang wajahnya pernah dia lihat sebelumnya yang dia duga bernama Humaira. Namun Azkia juga melirik ke arah Aisyah yang tadi menyebut suaminya dengan panggilan ' Mas '.
" Maaf ya, Mbak. Suami saya ini sebentar lagi menjadi seorang ayah. Jadi sebaiknya panggil Pak saja. Nggak enak didengar kalau Mbak-Mbak ini memanggil dengan panggilan 'Mas'." tegur Azkia memprotes panggilan Aisyah kepada suaminya. Azkia sendiri lalu duduk di samping suaminya dan menyandarkan tubuhnya hingga merapat ke tubuh Raffasya dengan tangan menyentuh paha suaminya.
" Oh, maaf, Mbak. Baik, saya akan memanggil dengan sebutan Pak Raffasya." Asiyah langsung menyampaikan permohonan maafnya seraya melirik ke arah Humaira yang juga melirik ke arahnya.
Raffasya menahan senyumnya melihat kecemburuan istrinya kepada dua orang tamu wanitanya itu.
" Oh ya, nanti kalian breafing terlebih dahulu dengan hostnya Apa-apa saja yang akan kalian sampaikan dalam talkshow itu jadi host juga bisa mempelajari topik untuk talkshow nanti."
" Baik, Pak. Kami nanti akan menjelaskan seputar tujuan acara tersebut diadakan dan bagaimana cara mengikuti acara tersebut." Humaira yang kini menjawab perkataan Raffasya dengan bahasa yang sangat santun.
Entah kenapa saat Azkia mendengar suara Humaira yang terdengar lembut berbicara kepada Raffasya membuat dirinya semakin tidak menyukai Humaira.
" Kok ruangan di sini jadi panas ya, Kak? AC nya mesti diganti kali, ya? Atau karena di ruangan ini terlalu banyak orang?" sindir Azkia tiba-tiba. Dia tidak bisa mengontrol rasa cemburunya, padahal tadi dia sendirilah yang meminta Raffasya menerima Humaira di ruangan suaminya itu.
" Masa, sih? Perasaan AC nya sudah sejuk kok, May." sahut Raffasya yang sadar jika istrinya itu sudah mulai menunjukkan kecemburuannya, tapi malah sengaja pura-pura tidak tahu.
" Host yang memandu acara talkshow siapa memangnya, Kak?" tanya Azkia.
" Erwin yang akan jadi host," sahut Raffasya.
" Ya sudah suruh Erwin saja yang menemani Mbak-Mbak ini." Azkia meminta suaminya untuk memanggil Erwin.
Aisyah dan Humaira kembali saling menoleh, mereka merasa jika mereka tidak disambut hangat oleh Azkia, berbeda dengan sambutan mereka oleh Raffasya.
Tak berapa lama Erwin yang diperintah oleh Raffasya untuk masuk ke dalam ruangan kerja Raffasya muncul di ruangan pemilik stasiun radio FM itu.
" Pak Erwin, tolong ditemani Mbak-Mbak ini. Mereka adalah nara sumber acara talkshow Pak Erwin nanti." Azkia yang langsung memberikan perintah kepada Erwin.
" Baik, Mbak." Erwin lalu mendekat ke arah Aisyah dan Humaira. " Mari ikut saya, Mbak." Erwin kemudian mengajak kedua orang tamu Raffasya untuk ikut bersamanya.
Aisyah dan Humaira pun lalu berdiri.
" Maaf kalau kedatangan kami mengganggu Mbak." Aisyah yang merasakan tanggapan Azkia tidak bersahabat dengannya langsung berkata sedikit ketus.
" Kami permisi, Pak. Mbak. Assalamualaikum." Berbeda dengan Aisyah, Humaira justru masih dengan bahasa yang santun berpamitan kepada Raffasya dan Azkia dengan mengatupkan kembali tangannya di depan dada.
" Waalaikumsalam ..." Azkia dan Raffasya menjawab bersamaan. Sebelum Erwin, Aisyah dan Humaira keluar dari ruang kerja Raffasya.
" Memang ruangan aku tadi terasa panas ya, May? Perasaan aku tadi udaranya sejuk banget, lho. Apalagi ada tiga cewek cantik di sekelilingku." Raffasya kembali meledek Azkia membuat Azkia spontan melotot ke arah suaminya.
" Untung saja aku ikut ke sini, kalau nggak ... Kak Raffa pasti senang dipepet dua cewek tadi." Azkia bereaksi atas ucapan suaminya.
" Kamu cemburuan banget deh, May." Raffasya tersenyum bahagia melihat istrinya itu terlihat jelas menunjukkan rasa cemburunya.
" Memangnya aku nggak boleh cemburu sama suamiku sendiri?" Kali ini Azkia berkacak pinggang dan berdiri di hadapan Raffasya.
" Boleh, boleh saja ... aku justru senang kalau istriku yang bar-bar ini sedang cemburu. Terlihat semakin garang, preman saja kalah sama kamu, May." Raffasya tergelak dan merangkulkan lengannya di pinggang Azkia dan menarik tubuh istrinya itu hingga kini merapat kepadanya walau terhalang perut buncit Azkia.
" Tapi kamu jangan berlebihan cemburunya, aku nggak akan berpaling dari kamu kok, May. Kamu tahu kenapa aku nggak akan berani selingkuh dari kamu?" Raffasya memainkan anak rambut di kening Azkia.
" Kenapa?" Azkia kini melingkarkan tangannya di tengkuk sang suami. Saat ini dia sudah tidak lagi malu jika ingin bermesraan dengan suaminya.
" Karena aku takut nggak dikasih jatah yang hot lagi seperti kemarin dari kamu." Pertanyaan Azkia yang serius dijawab Raffasya dengan tertawa.
" Me sum terus ..." Azkia mencebikkan bibirnya.
" Tapi kamu juga suka 'kan aku me sumin?"
" Bukan suka tapi menikmati." Azkia kini terkekeh menjawab pertanyaan suaminya.
" Oh, May. Kamu benar-benar buat aku jatuh cinta sama kamu." Raffasya menatap bola mata indah milik istrinya itu.
" Sejak kapan Kak Raffa jatuh cinta sama aku? Apa jangan-jangan sejak dulu Kak Raffa itu sudah jatuh cinta sama aku, tapi baru Kak Raffa sadari sekarang?" Dengan penuh percaya diri Azkia menebak perasaan suaminya.
" Hahaha, entahlah ... tapi dulu aku memang senang kalau berbuat usil sama kamu. Aku senang kalau mengganggu kamu," aku Raffasya jujur. " Yang pasti dulu itu kamu itu sudah menyita perhatian aku, apalagi saat kamu menghalangi aku untuk mendekati Rayya. Rasanya ingin aku masukan kamu ke dalam botol terus aku hanyutkan di laut." Raffasya kembali menggoda Azkia.
Azkia melotot mendengar niat Raffasya walaupun dia tahu hal itu diucapkan suaminya sebagai candaan. " Iiihhh memangnya aku Genie in a bottle?"
" Memang, karena kamu 'kan senangnya aku usap-usap." Raffasya tergelak menimpali.
" Iiihhh ..." Azkia mencubit pinggang Raffasya.
" Kak, nanti menginap di rumah Papa, ya? Aku kangen sama Papa Mama dan adik-adik." Azkia mengajak suaminya itu menginap di rumah kedua orang tuanya.
" Oke, nanti kita pulang ke rumah orang tua kamu." Raffasya menyetujui permintaan istrinya. " Ya sudah, kita makan siang dulu, kamu mau makan di sini atau di luar?" tanya Raffasya.
" Aku mau makan di suapin Kak Raffa," ucap Azkia manja.
" Kamu manja ya sekarang, hemm?"
" Hmmm, anak Papa ini yang manja, ya?" Raffasya mengusap perut Azkia. " Dedek bayi mau makan apa?"
" Mau makan yang enak-enak, Pa." Azkia terkikik meniru gaya bicara anak kecil.
" Yang enak itu makan Papa," celetuk Raffasya. " Eh, makan sama Papa ..." Raffasya mengkoreksi ucapannya saat melihat Azkia melotot ke arahnya.
***
" Assalamualaikum ..." Azkia memasuki rumah kedua orang tuanya seraya berangkulan dengan Raffasya.
" Waalaikumsalam, eh ... Non Kia sama Mas Raffa." Bi Jun yang melihat kedatangan Azkia langsung menyambut anak majikannya itu.
" Mama mana, Bi?" tanya Azkia.
" Mama Non Kia sedang di rumah Bu Rara." Bi Jun memberitahukan.
" Tolong panggil dong, Bi." Azkia meminta Bi Jun untuk memanggil Natasha yang sedang berada di rumah Azzahra.
" Baik, Non." sahut Bi Jun kemudian berjalan ke luar rumah menuju tempat tinggal Azzahra. Sementara Azkia sendiri lalu duduk di sofa ruang tamu.
" Kamu mau mandi sekarang, May?" Raffasya melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.
" Sebentar lagi deh, Kak. Aku mau selonjor dulu." Azkia meluruskan kakinya yang terasa pegal. " Kali aku rasanya pada ngilu," keluhnya.
" Mau aku pijat?" tanya Raffasya menawarkan diri untuk memijat kaki istrinya.
" Nanti saja kalau di kamar, Kak." sahut Azkia tanpa maksud lain
" Hehe, kamu ngerti saja minta pijatnya di kamar, May. Biar nggak ada yang lihat, kan?" Raffasya terkekeh menanggapi pernyataan Azkia.
" Sssttt ... Kak Raffa, iiihh ... jangan ngomong kayak gitu di sini. Nanti Mama atau Papa dengar." Azkia berbisik seraya menempelkan jari telunjuknya ke dekat bibirnya.
" Papa Mama kamu juga pasti sudah ahli May urusan seperti itu." Raffasya tersenyum nakal.
" Di sini banyak adik-adikku, Kak. Mereka masih polos-polos." Azkia kembali melebarkan bola matanya karena suaminya itu terlihat tidak perduli dengan tegurannya.
" Kia, Raffa, kalian mau ke sini kok nggak bilang-bilang dulu, sih?" Suara Natasha terdengar dari arah pintu utama ruang tamu rumah milik Yoga.
" Masa mau ke rumah orang tua sendiri mesti ijin sih, Ma?" Azkia kemudian bangkit dan mencium punggung tangan Mamanya.
" Perut kamu sudah terlihat mengerucut lho, Kia. Bener cucu Mama ini laki-laki, deh." Natasha menyentuh perut Azkia.
" Tante Dessy juga sudah bilang anak Kia ini baby boy kok, Ma." ujar Azkia.
" Oh ya, kalian mau menginap di sini?" tanya Natasha seraya menerima uluran tangan Raffasya yang juga mencium punggung tangan Mama mertuanya itu.
" Iya, Ma. Boleh 'kan, Ma?"
" Boleh dong, Nak." Natasha merangkul pundak Azkia. " Kamu mau makan apa? Nanti Mama masak menu makan malam untuk kamu."
" Apa saja deh, Ma." sahut Azkia.
" Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Sekalian nanti nunggu Papa kamu pulang, sholat Maghrib terus kita makan malam." Natasha menyuruh Azkia untuk segera ke kamar putrinya itu untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
" Iya, Ma." Azkia lalu mengulurkan tangan kepada suaminya. " Yuk, Kak." Azkia mengajak suaminya itu untuk ke kamarnya yang langsung dituruti oleh suaminya itu.
Natasha menatap punggung anak dan menantunya itu yang berjalan sambil berangkulan menaiki anak tangga. Sebuah senyuman terukir di sudut bibir wanita yang berusia setengah baya itu.
" Alhamdulillah, Kia sekarang sudah merasakan kebahagian berumah tangga. Semoga mereka selalu dijauhkan dari masalah rumah tangga yang pelik," ucap Natasha mengharapkan kebahagiaan akan terus menyertai rumah tangga putrinya yang paling besar itu.
***
" Pa, Ma, awal bulan depan aku dan Kak Raffa mau pergi babymoon ke Labuan Bajo." Azkia mengatakan rencananya bersama suaminya saat mereka berbincang selepas makan malam dan menanti waktu Isya tiba.
" Oh ya?" Natasha nampak berbinar mendengar kabar yang disampaikan oleh putrinya tersebut. Dia memang tidak bisa menutupi rasa bahagianya melihat rumah tangga Azkia dan Raffasya yang mulai menampakkan kemajuan yang sangat pesat.
" Iya, Ma. Kia juga awalnya nggak tahu. Itu Kak Raffa yang menyiapkan kejutan untuk Kia." Aura wajah Azkia pun nampak bahagia seraya melirik suaminya yang tersenyum ke arahnya.
" Ciee, sudah saling jatuh cinta ya sekarang? Nggak ingat dulu ogah-ogahan dikawinin?" sindir Abhi yang ikut bergabung dengan kedua orang tuanya juga Azkia dan Raffasya. Sementara Aulia dan Aliza sudah kembali ke kamarnya karena harus mengerjakan tugas dari sekolahnya.
" Dulu 'kan aku belum tahu kalau Kak Raffa itu ternyata baik dan sweet banget ..." Azkia memeluk tubuh suaminya yang duduk di sampingnya.
Sementara Yoga dan Natasha saling berpandangan dan tersenyum melihat tingkah putrinya itu.
" Kakakmu ini persis Mama kamu kalau sudah tergila-gila sama suaminya," celetuk Yoga menimpali.
" Apalagi cemburunya, Pa. Ampun, deh. Semua pegawai di cafe sama di butik dicemburuin." Kali ini Raffasya ikut menyindir istrinya. Raffasya sudah merasakan kehangatan sebuah keluarga bersama keluarga Azkia, hingga akhirnya dia pun bisa ikut bercanda bersama keluarga mertuanya itu. Raffasya bersyukur, sekarang ini dia benar-benar merasakan kebahagiaan yang pernah hilang dari hidupnya dulu.
" Persis Mamanya dulu, sampai pernah berkelahi saling tarik-tarik rambut dan guling -guling di tanah." Yoga terkekeh menyindir istrinya saat baru awal-awal menikah dengannya.
" Mas, iihhh ... ngapain buka-buka kartu, sih??" Natasha langsung mendelik ke arah suaminya yang menceritakan masa mudanya dulu.
" Berarti sekarang Kak Kia titisan Mama dong, Pa?" Abhi tertawa kencang mendengar cerita Papanya tentang masa muda Mamanya dulu.
" Istri itu harus galak terhadap setiap wanita yang mencoba mendekati suami-suami kami kalau nggak ingin suami kami direbut sama para pelakor." Natasha dengan lantang melakukan pembelaan terhadap tindakanya dulu.
" Benar itu, Ma. Kia setuju! Kalau ada cewek yang bakal jadi bibit-bibit pelakor harus ditumpas sampai tuntas biar rumah tangga aman." Azkia menambahkan perkataan Mamanya. Tentu saja dia sangat setuju dengan pendapat Mamanya itu. Karena dia harus banyak belajar dari Mamanya bagaimana cara menghadapi penggemar-penggemar Papanya yang sampai saat ini masih saja ada yang berusaha mencoba menarik perhatian Pak dosen berwajah tampan itu walaupun sudah tidak berusia muda lagi.
Sementara Raffasya tersenyum melihat istrinya dan Mama mertuanya saling kompak satu sama lain. Dia lalu menoleh ke Abhinaya, dia sebenarnya iri melihat sosok pria muda itu sangat dekat dengan kedua orang tuanya, sesuatu yang tidak bisa dia dapatkan dari kedua orang tuanya sejak kecil.
" Kak ...."
Raffasya mengerjapkan matanya saat mendengar suara Azkia dan sebuah genggaman tangan Azkia di tangannya terasa memberikan rasa nyaman di hatinya.
" Ini keluarga Kak Raffa juga sekarang, jadi Kak Raffa jangan canggung-canggung terhadap orang tua dan saudara aku." Azkia yang menyadari suaminya itu sedang melamun langsung mengucapkan kalimat yang mampu menentramkan hati suaminya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Yang baru bergabung di karyaku ini dan ingin tau cerita kisah asmara Yoga dan Natasha, silahkan mampir di MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Happy Reading❤️