MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Kemarahan Azkia



Azkia sedang berbaring santai sambil membaca majalah Ibu dan Anak ketika tiba-tiba Naufal terbangun.


" Lho, kok bangun, Nak? Tidurnya sebentar sekali sih, Sayang?" Azkia mencoba menidurkan kembali anaknya dengan menyu suinya, namun sepertinya Naufal sudah tidak ingin tertidur lagi.


" Naufal mau mamam? Mamam buah saja, yuk. Ayo kita cari Bi Neng." Azkia kemudian menggendong Naufal ke luar dari kamarnya mencari keberadaan Bi Neng.


" Bi Neng ... Naufal mau mamam buah, Bi Neng." Azkia ke arah dapur namun dia tidak mendapati Bi Neng di sana. Azkia mendengar suara air kran mengalir dari arah tempat pencucian membuat dirinya melangkah mendekat ke sana karena dia berpikir mungkin saja Bi Neng yang sedang menyalakan air kran itu.


Namun bola mata Azkia terbelalak lebar saat dia mendapati Ratih terlihat sedang memeluk dan mencium pakaian kotor milik Raffasya, sontak saja hal itu membuat darahnya mendidih. Rasa tidak sukanya kepada ART barunya itu semakin menjadi melihat tindakan lancang yang sudah dibuat oleh Ratih di hadapan matanya. Dan dengan penuh emosi Azkia berkata dengan nada menyentak seraya menarik pakaian kotor milik suaminya itu.


" Ngapain kamu cium-cium pakaian suami saya?!"


Tentu saja kehadiran Azkia yang tiba-tiba membuat Ratih tersentak kaget apalagi saat dia melihat saat ini Azkia menatap tajam ke arahnya dengan penuh kebencian.


" I-ibu?" Wajah Ratih langsung memucat ketakutan saat Azkia memergokinya sedang mencium pakaian milik Raffasya.


" Maksud kamu apa cium pakaian suami saya?! Jangan karena suami saya kasih ijin kamu bekerja di sini lantas kamu bisa bertindak bebas di rumah ini, ya! Saya nggak akan diam saja kalau ada seseorang yang berniat mengganggu rumah tangga saya!" geram Azkia.


" M-maafkan saya, Bu." Ratih mengucapkan permintaan maafnya.


" Sekarang juga kamu bereskan pakaian kamu, dan tinggalkan rumah ini!" Azkia yang sudah terburu emosi langsung bertindak dengan mengusir Ratih, dia bahkan tidak memberi kesempatan Ratih untuk melakukan pembelaan, karena menurutnya apa yang dilakukan Ratih di depan matanya tadi sudah tidak bisa ditolerir. Tidak mungkin tidak ada maksud terselebung dari tindakan yang dilakukan Ratih yang telah dengan berani memeluk dan mencium pakaian kotor milik Raffasya.


" Uni ...! Uni ...!!" Azkia kembali ke luar dari dapur sambil berteriak memanggil nama Uni.


" Bi Neng ...!" Azkia juga memanggil nama Bi Neng.


" Ada apa, Mbak Kia? Uni sedang ke pasar, Mbak." Bi Neng keluar dari kamar Nenek Mutia.


" Bi Neng, tolong suruh temannya Uni itu pergi dari sini! Aku nggak mau melihat muka dia lagi di rumah ini!" ucap Azkia dengan penuh emosi.


" Kenapa memangnya, Mbak? Ada apa?" tanya Bi Neng bingung.


" Aku nggak suka ada bibit-bibit pelakor bebas berkeliaran di rumah ini!" ketus Azkia.


Bi Neng membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Azkia tentang pelakor.


" Sekarang Bi Neng cepat bantu dia mengemas pakaian agar dia cepat pergi dari sini! Kia mau ambilkan uang gaji terakhir dia." Setelah memberikan perintah, Azkia lalu meninggalkan Bi Neng kembali ke kamarnya untuk menyiapkan gaji terakhir untuk Ratih.


***


Raffasya sedang menelepon seseorang yang akan menyewa La Grande untuk acara brithday party nya saat Azkia meneleponnya. Raffasya memilih menyelesaikan terlebih dahulu obrolan dengan kliennya sebelum menerima panggilan masuk dari Azkia.


Setelah selesai berbincang dengan kliennya, Raffasya segera menghubungi Azkia yang tadi meneleponnya.


" Assalamualaikum, tadi aku sedang terima telepon dari klien. Ada apa, Ma?" tanya Raffasya saat panggilannya terhubung dengan nomer ponsel istrinya.


" Waalaikumsalam, aku cuma kasih tahu Papa, kalau aku sudah pecat ART baru itu." Azkia menyampaikan apa yang ingin dia katakan saat menelepon suaminya tadi.


" Lho, memangnya kenapa?" tanya Raffasya bingung.


" Dia berani sekali peluk sama cium baju kotor punya Papa. Keterlaluan banget, kan? Maksudnya apa coba?" Masih dengan rasa jengkel Azkia menceritakan sikap Ratih kepada suaminya.


" Kok dia bisa cium pakaianku, Ma?" Raffasya terkesiap mendengar laporan dari istrinya itu.


" Aku pikir dia itu naksir sama Papa. Ini gara-gara Papa terlalu lembek sama cewek, cuma ke aku saja dulu Papa jutek banget!" gerutu Azkia memprotes sikap suaminya.


Raffasya tersenyum mendengar keluhan istrinya. " Jadi sekarang Mama sudah pecat dia?"


" Ya iyalah! Aku nggak mau memelihara sesuatu yang mengusik keutuhan rumah tangga kita. Dia itu sudah berkelakuan nggak baik! Lancang banget berani peluk dan cium pakaian Papa, pasti dia berkhayal ingin memiliki Papa," setiap kalimat Azkia terlontar dari mulut Azkia keluar dengan nada berapi-api.


" Kalau kita ingin menambah ART lagi, biar nanti aku minta sama Mama, biar ART di rumah Mamaku dipindahkan ke sini. Aku sudah kenal sama mereka, jadi mereka nggak akan macam-macam kayak temannya si Uni itu." Azkia berniat memindahkan ART di rumahnya dulu untuk pindah ke rumah Raffasya. ART di rumahnya dulu sangat paham karakter Azkia jadi dia yakin mereka tidak akan bertindak yang aneh-aneh terhadap keluarganya.


***


" Uni minta maaf ya, Mbak. Uni jadi nggak enak karena Uni yang membawa Ratih kemari." Sepulang dari pasar, Uni yang mendengar cerita dari Bi Neng tentang Ratih yang dipecat oleh Azkia segera menghadap ke majikannya. Sudah pasti rasa bersalah menggelayuti hati Uni karena kelakuan dari temannya itu.


" Mbak Uni nggak salah, kok! Tapi teman Mbak Uni itu yang nggak tahu diri!" ucap Azkia.


" Uni jadi nggak enak, Mbak. Uni juga sudah mengingatkan Ratih supaya bersikap yang baik dan tidak bersikap yang macam di sini, tapi ternyata perkataan Uni nggak didengar sama dia." Uni menjelaskan jika dia juga sudah mencoba menasehati temannya agar bersikap baik di rumah milik majikannya itu.


" Kia nggak marah sama Mbak Uni, kok! Mbak Uni nggak usah merasa bersalah seperti itu. Untuk mengganti teman Mbak Uni itu, nanti Kia akan ambil Mbak-Mbak yang kerja di rumah Mamaku saja. Aku sudah kenal dia baik jadi biar nggak ada lagi orang yang akan mengganggu keluarga aku dan suamiku." Azkia berusaha membuat Uni tenang dan tidak terlalu merasa bersalah dengan sikap Ratih.


Azkia memberikan Naufal kepada Uni, karena dia ingin menghubungi Natasha untuk menceritakan soal Ratih.


Setelah Uni mengambil Naufal darinya, dia lalu mengambil ponselnya dan mencari nomer ponsel Mamanya itu.


" Assalmaualaikum, Ma." Azkia menyapa Mamanya saat hubungan teleponnya itu tersambung.


" Waalaikumsalam, Kia. Cucu Mama sedang apa?" sahut Natasha dari seberang.


" Naufal sedang sama Uni, Ma. Ma, aku mau bawa Bi Jun atau Mbak Atun buat kerja di sini boleh nggak, Ma? Kemarin ada ART baru di sini sudah Kia pecat karena gelagatnya dia naksir sama suamiku, Ma. Masa dia berani cium-cium pakaian Papanya Naufal?" Azkia mengadu kepada Natasha.


" Hahh?? Berani sekali dia cium-cium baju Raffa! Itu nggak benar, Kia! Orang seperti itu memang harus segera disingkirkan dari rumah kalian. Dia itu virus yang bisa mengusik rumah tangga kamu. Bagus sekali kamu pecat dia, Mama setuju dengan keputusan kamu itu, Nak." Natasha tentu mendukung langkah yang diambil oleh anaknya itu. Sebagai seorang wanita, istri dan ibu, dia tidak ingin ada kehadiran wanita pengganggu di dalam rumah tangganya.


" Iya, Ma. Kia juga sudah langsung pecat tanpa minta persetujuan Papanya Naufal dulu."


" Ya sudah, nanti Mama suruh Atun saja yang ke sana. Biar nanti Mama suruh keponakan Bi Jun bekerja di sini, kemarin Bi Jun memang bilang ke Mama kalau keponakannya itu berminat bekerja di sini." Natasha menjelaskan.


" Ya nggak apa-apa, Ma. Makasih ya, Ma."


" Iya, Nak. Kamu harus selektif memilih pegawai, jangan asal terima-terima saja." Natasha menasehati.


" Papanya Naufal yang terima dia kerja, Ma. Gara-gara wanita itu pernah ketabrak mobil Papanya Naufal." ujar Azkia menceritakan.


" Nggak bisa gitu dong, Kia. Belum tentu dia itu orang baik, dan ternyata terbukti 'kan sekarang? Dia berani bertindak nggak sopan di belakang kamu. Mama nggak yakin deh, ini bukan pertama kalinya dia melakukan hal itu. Pasti dia sudah sering mencuri-curi kesempatan tanpa sepengetahuan kamu. rumah Raffa nggak pakai CCTV, kan?" Natasha mengendus jika perbuatan Ratih yang tidak wajar itu bukan pertama kalinya terjadi.


" Pasang hanya depan rumah saja sih, Ma "


" Nah, kan. Coba kalau pasang di setiap ruangan, jadi kalian bisa tahu apa saja yang telah dilakukan wanita itu tanpa sepengetahuanmu, Nak."


" Iya, Ma. Ya sudah deh, Ma. Nanti aku bilang ke suamiku supaya pasang CCTV di rumah."


" CCTV itu penting juga, Kia. Jadi kita bisa melihat jika ada sesuatu hal yang terjadi di dalam rumah."


" Iya, Ma. Oh ya, kapan Mbak Atun bisa ke sini, Ma?"


" Besok pagi saja Mama suruh Pak Mamat antar Atun ke sana. Nggak apa-apa, kan?"


" Nggak apa-apa kok, Ma. Makasih ya, Ma. Kia tutup teleponnya dulu ya, Ma. Naufal kayaknya lagi rewel itu sama Mbak Uni. Assalamualaikum ..." Azkia berpamitan kepada Natasha untuk mengakhiri percakapan via teleponnya.


" Waalaikumsalam ..." Azkia menjawab salam yang diucapkan oleh putrinya itu.


***


Azkia memeluk tubuh Raffasya dengan erat. Rasanya dia tidak terima jika suaminya itu dikagumi oleh wanita lain.


" Papa bisa bayangankan marahnya Mama seperti apa saat melihat apa yang dilakukan Ratih dengan bajuku, Ma." Raffasya terkekeh membayangkan kemarahan Azkia kepada Ratih.


" Biarkan saja, Pa. Orang seperti itu memang pantas aku semprot. Untung saja tadi aku. sedang gendong Naufal, kalau nggak gendong Naufal, sudah aku tonjok muka dia biar babak belur." geram Azkia.


" Itulah makanya dari awal aku kurang setuju waktu Papa mau terima dia sebagai ART di sini. Hasilnya seperti itu, kan? Untung cepat ketahuan ... kalau nggak, bisa-bisa bukan hanya pakaiannya saja yang dipeluk, tapi orangnya juga bisa dipeluk sama wanita ulat bulu itu." Azkia mengedikkan bahunya tidak ingin membayangkan hal paling menyeramkan jika ada wanita lain yang berani berbuat nekat kepada suaminya.


" Iya, Papa minta maaf atas keteledoran Papa yang hampir membuat petaka bagi rumah tangga kita, Ma." Raffasya memeluk erat istrinya itu dan memberi kecupan di pucuk kepala sang istri.


" Semoga ini yang terakhir ya, Pa!? Dan nggak ada lagi orang yang berani mengusik kebahagiaan rumah tangga kita," ucap Azkia penuh harap


" Aamiin, Papa harap juga begitu, Ma. Semoga keluarga kecil kita ini selalu dalam lindungan Allah SWT." sambung Raffasya.


" Aamiin Ya Rabbal Alamin ...."


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️