
" Mbak Wan, barang yang akan dikirim buat ke Yogya sudah disiapkan?" tanya Azkia kepada Wanda yang sedang menulis slip setoran bank siang ini, ketika Azkia baru saja tiba di butik.
" Panggilnya jangan Mbak Wan dong, Mbak Kia! Berasa gorengan saya ini." Wanda memprotes panggilan Azkia yang baru saja didengarnya.
" Lho, memang namanya Mbak Wanda, kan? Biar lebih hemat panggilnya, Mbak." Azkia terkekeh mendengar komplain dari assistennya itu. " Jadi sudah disiapkan belum barangnya?" Azkia kembali bertanya.
" Sudah dikemas, kok. Tinggal dikirim saja." Wanda menyahuti.
" Ya sudah suruh supir saja antar itu secepatnya, Mbak. Di sana banyak display yang kosong." perintah Azkia kemudian.
" Oke, Mbak Kia."
Ddrrtt ddrrtt
Azkia mengambil ponsel dari dalam tasnya saat benda pipih itu berbunyi. Dan dia mendengus kasar saat mendapati bahwa Lusiana lah yang menghubunginya saat ini.
" Ada apa lagi Tante Lusiana menghubungi aku?" Azkia bertanya-tanya. Namun akhirnya dia tetap mengangkat panggilan telepon tersebut.
" Assalamualaikum, Tan. Ada apa, Tante?" tanya Azkia saat dia mengangkat panggilan telepon dari Lusiana.
" Waalaikumsalam. Kia, Tante bisa minta beberapa contoh party gown yang ada di butik kamu?"
" Bisa, Tante. Mau Kia kirim gambar atau gimana, Tan?" tanya Azkia.
" Tante mau lihat barangnya langsung. Kia bisa antar ke sini? Nanti Tante kirim alamatnya ke kamu."
" Oh, bisa Tante. Tante mau yang model apa? Nanti Kia pilihkan beberapa pilihan terbaik di sini," ujar Azkia.
" Oke, Tante minta gaun yang warna grey, simple tapi elegan." Lusiana menyebutkan ciri-ciri gaun yang diinginkannya.
" Bisa, Tante. Nanti Kia pilihkan. Tante kirim saja alamatnya, nanti Kia antar ke sana, Tan."
" Oke, Tante kirimkan alamatnya, ya."
" Iya, Tante. Kia tutup dulu teleponnya ya, Tan. Assalamualaikum ..." Azkia mengakhiri pembicaraan teleponnya.
" Waalaikumsalam ...."
Setelah sambungan telepon terputus, Azkia pun meminta pegawainya untuk memilih beberapa gaun yang diinginkan oleh Lusiana sebelum akhirnya dia mengantar pesanan Lusiana.
***
Azkia memperhatikan rumah di hadapannya sebelum masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Dia melihat nomer rumah di depannya itu. Dia kembali melihat alamat yang dikirim oleh Lusiana di ponselnya.
" Benar ini alamatnya?" Walaupun alamatnya sesuai dengan yang dikirimkan oleh Lusiana, tapi Azkia merasa ragu. Dia pikir jika tempat yang akan dikunjungi adalah kantor dari Lusiana. Ternyata alamat yang ditemukannya adalah sebuah rumah berlantai dua dengan pepohonan rindang dan beberapa tanaman hias yang mendominasi pekarangan rumah itu.
Azkia kemudian memasuki pekarangan rumah itu. Dia turun dari mobilnya dan membawa empat gaun pesta yang diinginkan Lusiana.
" Assalamualaikum ..." Azkia mengucapkan salam dan menekan bel yang terpasang di dekat pintu rumah.
" Waalaikumsalam ..." Tak berapa lama pintu rumah pun terbuka dengan kemunculan seorang wanita membalas ucapan salam Azkia.
" Permisi, Bu. Apa benar ini rumahnya Tante Lusiana?" tanya Azkia kepada wanita itu.
" Hmmm, maaf, Mbak. Ibu Lusiana siapa maksud Mbak ini? Apa Ibu Lusiana Kusumadewi yang Mbak maksud?" tanya Ibu yang Azkia pikir adalah ART di rumah itu.
" Saya nggak tahu nama lengkapnya, Bu. Tapi kalau nggak salah Tante Lusiana itu Dirut perusahaan leasing gitu, Bu." Azkia tidak tahu apa Lusiana yang dia maksud adalah Lusiana yang sama seperti yang Ibu ART itu sebutkan.
" Oh, Ibu Lusiana sudah tidak tinggal di sini, Mbak."
" Tidak tinggal di sini?" Azkia terkejut saat Ibu ART mengatakan jika Lusiana sudah tidak tinggal di rumah itu.
" Iya, Mbak. Sekarang yang tinggal di sini hanya anaknya dan mantan Ibu mertuanya.
" Anaknya? Kak Raffa?" Yang pernah Azkia dengar dari Raditya, kalau Raffasya memang tidak tinggal serumah dengan kedua orang tuanya. Namun dia tidak tahu di mana Raffasya tinggal, dan dia tidak menyangka jika rumah yang dia kunjungi saat ini ternyata adalah rumah yang ditempati Raffasya.
" Mbak kenal sama Mas Raffa juga?"
" Iya, Bu."
" Siapa yang datang, Neng?" Dari dalam rumah terdengar suara wanita bertanya kepada Bi Neng yang tadi membukakan pintu untuk Azkia.
" Oh ini, Bu. Ada yang mencari Mamanya Mas Raffa." Bi Neng menjelaskan kepada Nenek Mutia.
" Mencari Lusi? Siapa memangnya?" tanya Nenek Mutia mendekat ke arah Azkia.
" Mbak ini, Bu."
" Permisi, Nek." Azkia menyapa Nenek Mutia seraya membungkukkan tubuhnya.
" Kamu mencari Lusi? Ada keperluan apa ya, Nak?" tanya Nenek Mutia ramah.
" Hmmm, begini, Nek. Saya Azkia dari Alexa boutique. Saya diminta Tante Lusiana untuk mengantar beberapa gaun ke sini, Nek." Azkia menjelaskan tujuannya datang ke rumah itu.
" Lusi menyuruh kamu kemari?" Kulit keriput di kening Nenek Mutia semakin berkerut mendengar jawaban Azkia.
" Iya, Nek."
" Ayo kamu masuk dulu, Nak." Nenek Mutia meminta Azkia untuk masuk ke dalam rumah.
" Iya, Nek." Azkia pun masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa gaun dalam dekapannya..
" Neng, tolong buatkan minuman." Nenek Mutia menyuruh Bi Neng untuk menyajikan minuman untuk Azkia.
" Nggak usah repot-repot, Nek."
" Tidak apa-apa, kok. Hanya sekedar minuman."
" Makasih, Nek."
" Benar, Nek. Tante Lusiana mengirim alamatnya sesuai dengan alamat ini, Nek."
" Sebenarnya Lusi sudah lama tidak pernah datang kemari, makanya Nenek terkejut saat kamu bilang disuruh antar pesanan Lusi kemari."
Azkia mengerutkan keningnya mendengar cerita Nenek Mutia. Kalau memang Tante Lusiana tidak tinggal di rumah itu, lalu kenapa Tante Lusiana menyuruhnya datang kemari?
" Apa Tante Lusiana mengerjaiku?" gumam Azkia. Azkia langsung mengambil ponsel di dalam tas nya.
" Maaf ya, Nek. Saya mau telepon Tante Lusiana dulu." Azkia meminta ijin kepada Nenek Mutia.
" Iya, silahkan ..." Nenek Mutia memberikan ijin.
Setelah mendapat ijin dari Nenek Mutia, Azkia pun kemudian menghubungi ponsel Lusiana.
" Assalamualaikum, Tante. Ini Kia sudah sampai di alamat yang Tante kirim. Tapi katanya ...."
" Waalaikumsalam ... Oh, kamu sudah sampai, ya? Ya sudah nanti Tante ke sana. Kamu tunggu sebentar, ya! Assalamualaikum ..." Lusiana memotong ucapan Azkia dan langsung menutup sambungan telepon Azkia.
" Waalaikumsalam ..." Azkia menjawab dengan nada bingung.
" Bagaimana, Nak? Lusi bicara apa?"
" Hmmm, Tante Lusiana menyuruh saya tunggu di sini, Nek." ucap Azkia.
" Oh ya sudah, nggak apa-apa. Tunggu saja di sini, nanti Nenek temani kamu berbincang sambil menunggu Lusi."
" Terima kasih ya, Nek."
" Siapa namamu tadi, Nak?" tanya Nenek Mutia kemudian, Nenek Mutia tadi hanya sepintas mendengar nama yang disebut Azkia
" Saya Azkia. Panggil saja Kia, Nek." Azkia memperkenalkan dirinya
" Silahkan diminum, Mbak." Bi Neng yang membawa segelas orange juice dan beberapa cake menawarkan kepada Azkia.
" Makasih, Bu. Saya jadi merepotkan." Azkia merasa tidak enak hati karena dia diperlakukan sangat baik oleh Nenek Mutia dan juga ART nya.
" Hanya sekedar minuman saja, nggak merepotkan, kok." sahut Nenek Mutia.
" Hmmm, Nenek ini Ibunya Om Raditya, ya?" tanya Azkia kemudian setelah Bi Neng meninggalkan mereka berdua.
" Kalau Raditya itu adiknya Lusiana. Sedangkan Nenek itu ibu dari mantan suami Lusiana." Nenek Mutia menjelaskan. " Kia kenal sama Raditya juga, ya?" Nenek Mutia nampak terkejut saat Azkia menyebut nama Raditya.
" Iya, Nek. Soalnya istri Om Radit itu Tantenya Kia, Nek." Azkia menerangkan hubungan dia dengan Raditya.
" Oh, Kia keponakan istrinya Radit." Kening Nenek Mutia tiba-tiba kembali berkerut menatap Azkia. Nenek Mutia seolah mengingat sesuatu.
" Kia keponakan istrinya Radit, ya? Apa jangan-jangan Kia ini yang sering bertengkar dengan cucu Nenek?"
Azkia membulatkan matanya saat Nenek Mutia menyinggung soal cucunya, yang tidak lain adalah Raffasya.
" Maksud Nenek itu Kak Raffa?"
" Ah, benar. Kia kenal sama Raffa? Pasti Kia ini orang yang sering berdebat dengan Raffa, kan?"
Azkia menggigit bibirnya karena merasa malu ketahuan oleh Nenek Mutia sering bersitegang dengan cucu dari Nenek Mutia. Dia berpikir kalau Nenek Mutia akan menyudutkannya dan membela cucunya.
" Hmmm, N-nenek tahu dari mana?" tanya Azkia sedikit gugup.
" Dulu Raffa sendiri yang cerita sama Nenek. Waktu itu, sekitar beberapa tahun lalu, Radit datang kemari dan mencari Raffa, katanya Raffa bikin masalah lagi dengan keponakan istrinya."
Azkia menyipitkan matanya. Wanita dihadapannya sudah termasuk sepuh namun Nenek Mutia masih mengingat kejadian lampau.
" Nenek masih ingat apa yang diceritakan di masa lalu, ya?"
" Tentu saja ingat, apalagi soal Raffasya. Terutama soal wanita yang diceritakan oleh Raffa. Karena memang Raffa jarang sekali menceritakan soal wanita ke Nenek, makanya Nenek ingat." Nenek Mutia bercerita.
" Oh gitu ya, Nek." Azkia menyeringai seraya menggaruk tengkuknya, karena merasa dia termasuk wanita yang diceritakan Raffa kepada Neneknya, walaupun bukan hal yang baik-baik yang pasti diceritakan Raffasya kepada Neneknya.
" Iya, Kia. Selama yang Nenek ingat, Raffa itu hanya dua kali bercerita tentang wanita, yaitu kamu dan satu wanita lagi yang disukai sama Raffa. Ah ... Nenek lupa siapa namanya, tapi anaknya pernah diajak Raffa kemari berkenalan dengan Nenek. Anaknya cantik, santun, kalem, memakai hijab juga." Nenek Mutia menjelaskan tentang sosok Rayya yang pernah dikenalkan Raffasya kepadanya.
Azkia terperanjat saat mendengar ciri-ciri yang disebutkan oleh Nenek Mutia soal wanita yang disukai oleh Raffasya sepintas sangat mirip dengan sepupunya itu. Tapi Azkia cepat-cepat menampik anggapan itu, karena dia rasa tidak mungkin Rayya akan datang kemari diajak oleh Raffasya. Bahkan Azkia menganggap itu adalah kejadian langka yang mustahil akan terjadi.
" Nenek lupa siapa namanya, ya?" tanya Azkia kemudian.
" Iya, Nenek lupa. Karena anak itu cuma datang sekali kemari dan nggak pernah datang-datang lagi. Nenek juga nggak tahu kenapa dia nggak pernah datang lagi ke sini."
" Hmmm, apa teman wanita yang dibawa Kak Raffa itu namanya Rayya, Nek?" Azkia memberanikan diri bertanya.
" Rayya? Oh, iya sepertinya itu. Namanya memang mirip-mirip seperti Raffa, Raffa-Rayya. Waktu itu anaknya masih sekolah SMA. Cantik, pakai hijab. Kia kenal juga sama Rayya?" tanya Nenek Mutia.
" Rayya itu sepupu Kia, Nek."
" Oh, benar-benar. Raffa juga pernah bilang kalau dia suka sama sepupu kamu. Dulu Nenek pikir dia itu suka sama Kia karena selalu bikin masalah sama kamu, tapi dia mengaku justru dia sukanya sama sepupu kamu."
Azkia kembali terperanjat saat mengetahui jika wanita yang dimaksud Nenek Mutia memang benar Rayya.
" Rayya pernah main ke sini? Kapan? Kok Kia nggak tahu, ya?" gumam Azkia yang merasa kecolongan, bagaimana mungkin Raffasya bisa membawa Rayya sampai rumah ini? pikir Azkia.
*
*
*
Bersambung ...
Bersambung❤️