MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Gara-Gara Kak Raffa



" Aaakkkhhh, Ma ... sakit, Ma." Azkia merasakan kontraksi yang sangat hebat sampai dia mencengkram kencang lengan Natasha, bahkan melukai kulit mulus Mamanya itu.


" Iya, iya, Kia sabar ya, Nak." Natasha terus menenangkan putrinya.


" Pak, buruan jalannya!" Natasha menegur Pak Mamat yang justru melambatkan laju mobil yang dikendarainya.


" Macet, Bu." sahut Pak Mamat.


" Berhenti sebentar, Pak!" Abhinaya kemudian menyuruh Pak Mamat menghentikan mobilnya.


" Kamu mau apa, Abhi?" tanya Natasha saat melihat putranya itu turun dari mobil.


" Cari jalan, Ma!" ujar Abhinaya sebelum menutup pintu. Setelah itu anak laki-laki kedua pasangan Yoga dan Natasha itu mencoba menahan pengendara lain agar menahan laju kenadaraamnya dan memberi jalan kepada mobil yang dikendarai Pak Mamat.


" Mohon maaf semuanya, di mobil saya ini Kakak saya sedang kontraksi ingin melahirkan, mohon agar memberi kesempatan kepada kami untuk jalan lebih dahulu, terima kasih." Abhinaya berseru hingga menarik perhatian berapa pengendara lainnya.


Abhinaya kemudian berlari meminta agar mobil di hadapannya memberi jalan terlebih dahulu kepada mobil milik Natasha untuk lewat, sementara Pak Mamat mengikuti di belakang Abhinaya sambil mengemudikan mobilnya.


Sekitar dua ratus meter Abhinaya terus berlari hingga mereka terbebas dari kemacetan dan dia pun segera kembali naik ke dalam mobil Mamanya.


Natasha menatap punggung putranya, seketika dia teringat momen ketika dulu suaminya menggendongnya saat dia hamil anak pertama dan menyebabkan keguguran. Saat itu Yoga yang kalap langsung turun dari mobil Dirga menggendong Natasha yang merasakan kesakitan akibat terjatuh dari anak tangga.


Natasha tersenyum bahagia mengingat sikap suaminya itu kini menular ke putranya. Sekitar lima menit kemudian mobil yang dibawa oleh Pak Mamat sampai di rumah sakit. Dan ketika sampai di lobby rumah sakit, Abhinaya langsung turun membawa Azkia dengan kedua lengannya dan meminta pegawai rumah sakit untuk segera menyediakan brankar untuk membawa Azkia ke ruang persalinan.


Tak perlu menunggu lama, Azkia sudah ditanggani oleh Dessy sebagai dokter yang akan membantu Azkia melahirkan.


" Bagaimana, Des? Apa ketubannya sudah pecah?" tanya Natasha kepada Dessy setelah memeriksa Azkia dan mengganti pakaian Azkia.


" Sekarang ini Kia baru masuk pembukaan tiga. Ketubannya belum pecah, kok. Tadi itu Azkia mungkin tidak tahan menahan urine nya untuk tidak keluar." Dessy menjelaskan.


" Syukurlah kalau begitu." Natasha bernafas lega.


" Raffa nya mana?" Dessy menanyakan keberadaan Raffasya.


" Raffa sedang menuju kemari, Des," sahut Natasha.


" Sssshhh ... Ya Allah, sakit banget, Ma." Azkia kembali meringis kesakitan dengan tangan menggenggam tangan Natasha.


" Kia harus tenang. Kalau Kia kuat, kamu bisa berjalan untuk membantu mempercepat proses pembukaan." Dessy menganjurkan Azkia untuk bergerak agar mempercepat proses melahirkan.


" Tapi sakit, Tan. Minta ampun sakitnya, hiks ... " Azkia kembali menangis karena rasa sakitnya yang benar-benar terasa nikmat.


" Istighfar, Kia." Natasha mengusap punggung bagian bawah Azkia. Dia pernah beberapa kali melahirkan jadi dia bisa mengerti sakit yang dirasakan Azkia seperti apa.


Sementara itu di tempat lain ....


Beberapa orang yang berada di sekitar lokasi mobil Raffasya ditabrak terlihat berkumpul karena mobil yang dikendarai Raffasya tersebut akhirnya menabrak pohon.


" Jon, cepat keluarin dulu orangnya, masih sadar dia." Seorang pria menyuruh teman-temannya mengeluarkan Raffasya yang terhimpit mobilnya.


Beberapa orang membantu mengeluarkan Raffasya dari dalam mobil yang masih dalam keadaan setengah sadar.


" Raffa, lu kenapa?" Sementara suara Dimas masih terdengar dari ponsel milik Raffasya.


Pria yang berkata kepada temannya tadi melihat ponsel Raffasya yang masih terdengar bersuara. Dia lalu mengambil ponsel milik Raffasya.


" Raf, Raffa ...!" Kembali suara Dimas terdengar.


" Halo ..." Pria yang membantu menolong Raffasya itu akhirnya mendekatkan ponsel Raffasya ke telinganya menyahuti Dimas.


" Halo, ini siapa? Mana Raffa, orang yang punya HP ini?" tanya Dimas yang merasa asing dengan suara pria itu.


" Nama gue Diding, apa lu temannya yang punya HP ini?" tanya Diding.


" Iya, saya Dimas. Raffa itu teman saya, kenapa dia?" tanya Dimas penasaran dan khawatir.


" Teman lu kecelakaan, mobilnya nabrak pohon." Diding memberitahu Dimas tentang kecelakaan yang dialami oleh Raffasya.


" Astaghfirullahal adzim, lalu bagaimana kondisi teman saya itu?" Dimas khawatir Raffasya mengalami cidera parah.


" Kepalanya cidera, dia setengah sadar," sahut Diding.


" Maaf, Bang. Sekarang ini posisinya di mana? Bisa tolong bawa ke rumah sakit terdekat? Nanti kita ketemu di sana." Dimas meminta bantuan Diding untuk membawa Raffasya ke rumah sakit terdekat dari posisi Raffasya kecelakaan.


" Tapi siapa yang akan bertanggung jawab di rumah sakit?" tanya Diding.


" Nanti saya yang urus, tolong daftarkan saja teman saya atas nama Ananda Raffasya, Saya ke sana segera."


" Oke, gue bawa ke rumah sakit." Diding menyetujui permintaan Dimas kepadanya.


" Oke, makasih atas bantuannya, Bang." Setelah Dimas mematikan panggilan teleponnya, Diding pun kemudian membawa Raffasya ke rumah sakit terdekat.


***


Di ruang persalinan, Azkia sedang berjuang melahirkan darah dagingnya dengan menahan serbuan rasa sakit yang benar-benar luar biasa. Sementara Natasha terus mendampingi putrinya itu melewati pembukaan demi pembukaan mulut rahim yang akan menjadi jalan untuk kelahiran sang cucu pertamanya.


" Ma, Kak Raffa mana, Ma? Kok nggak datang-datang?" Azkia menanyakan di mana keberadaan suaminya karena Raffasya memang tidak juga muncul di sana.


" Raffa sedang kemari, Nak. Sebentar lagi juga datang." Natasha mencoba menenangkan Azkia yang sudah terlihat gelisah.


" Kia mau ngomong sama Kak Raffa, Ma." Azkia merengek ingin bicara dengan suaminya itu.


" Kia, Raffa sedang berkendaraan ke sini, kalau dia ditelepon, Mama takut itu akan mengganggu konsentrasi dia dalam mengemudi, kamu tunggulah sebentar."


" Tapi Kia mau bicara sama Kak Raffa, Ma. Kia sakit begini gara-gara Kak Raffa, Ma. Kak Raffa harus tanggung jawab, jangan maunya enak sendiri saja, hiks ..." Azkia meracau mengumpat suaminya.


" Iya, Nak. Nanti kalau Raffa datang Mama marahi dia, ya!?"


" Jangan, Ma. Jangan marahi Kak Raffa, kasihan kalau Kak Raffa dimarahi oleh Mama ...."


Natasha mengeryitkan keningnya saat mendapatkan protes dari putrinya itu.


* Iya, iya, Mama nggak akan memarahi Raffa," sahut Natasha.


" Ma, cepat telepon Kak Raffa, Ma. Sakit ini, Ma ..." Azkia terus saja meminta Natasha menghubungi Raffasya.


" Iya, Nak. Nanti Mama suruh Abhi telepon suamimu."


" Sekarang, Ma. Jangan nanti!" pinta Azkia bernada memerintah.


" Iya, iya ini Mama mau suruh Abhi telepon Raffa." Natasha berniat meninggalkan ruangan persalinan untuk menemui Abhinaya.


" Mama mau ke mana? Jangan jauh-jauh dari Kia dong, Ma!" Azkia memprotes Natasha yang hendak meninggalkannya.


" Lho, tadi Kia bilang suruh telepon Raffa, kan?" Natasha dibuat bingung dengan permintaan Azkia.


" Tapi Mama jangan ke mana-mana! Abhi nya saja yang disuruh ke sini." Azkia tetap tidak mengijinkan Natasha meninggalkannya.


" Abhi nggak boleh masuk ke ruangan ini, Kia."


" Mama saja yang telepon Kak Raffa, Ma."


" Kia, kamu tahu tadi kita berangkat buru-buru, Mama nggak sempat bawa tas dan ponsel, Nak." Natasha memang tidak kepikiran untuk membawa tas nya karena dia terburu-buru saat tahu Azkia mengalami kontraksi.


" Ya sudah, jangan lama-lama tapinya, Ma. Kia sakit banget, Ma. Aduuuuuhhhh ..." Azkia kembali merintih.


" Iya, Mama sebentar, kok." sahut Natasha. " Sus, saya titip anak saya sebentar ya, Sus!?" Natasha meminta bantuan perawat yang menemani Azkia di ruang persalinan.


" Jangan lama-lama, Ma. Nanti bayinya keluar duluan. Sudah kerasa mau keluar ini, Ma." teriak Azkia.


" Iya ..." Natasha menyahuti dan berjalan ke luar ruang persalinan.


" Abhi, Raffa masih belum datang?" tanya Natasha pada Abhinaya yang menunggu di luar ruang persalinan.


" Belum, Ma. Mungkin Kak Raffa kena macet."


" Coba kamu hubungi lagi, Abhi. Kakakmu nyariin terus." Natasha menyuruh Abhinaya untuk mencoba menghubungi Raffasya kembali.


" Iya, Ma."


Setelah memberikan perintah kepada Abhinaya, Natasha pun kemudian kembali masuk ke dalam ruangan, sementara Abhinaya langsung menghubungi nomer telepon kakak iparnya itu.


Abhinaya harus menunggu beberapa saat sebelum akhirnya panggilan telepon ke nomer kakak iparnya itu tersambung.


" Assalamualaikum, Kak Raffa sudah sampai mana? Kak Kia dari tadi cari Kak Raffa terus, sebentar lagi mau melahirkan," ujar Abhinaya saat panggilan telepon dia terhubung dengan nomer ponsel Raffasya.


" Sorry, orang yang lu maksud mengalami kecelakaan, gue sedang membawa orang yang bernama Raffa ini ke rumah sakit." Diding yang membawa Raffasya ke rumah sakit mengangkat panggilan telepon dari Abhinaya.


" Asataghfirullahal adzim, Kak Raffa kecelakaan? Di mana? Lalu kondisinya bagaimana sekarang?" Abhinaya tersentak kaget saat mendapat kabar dari Diding perihal kecelakaan yang dialami oleh Raffasya.


" Korban mengalami luka di kepala, tadi waktu kejadian korban masih dalam keadaan sadar, tapi sekarang korban tidak sadarkan diri." Diding menjelaskan kondisi Raffasya saat ini.


" Maaf, Bapak ini akan membawa kakak ipar saya ke rumah sakit mana, ya?" tanya Abhinaya.


" Rumah sakit terdekat dari tempat kejadian." Diding lalu menyebutkan rumah sakit yang akan ditujunya.


" Maaf, Pak, Apa Bapak bisa bawa kakak ipar saya itu ke Rumah Sakit Poetra Laksmana saja? Tidak terlalu jauh dari rumah sakit yang Bapak tuju, saya ada di rumah sakit itu. Nanti saya tunggu Bapak di lobby ruang IGD." Abhinaya meminta Diding untuk mengurungkan niatnya membawa ke rumah sakit tujuan Diding dan mengarahkan untuk membawa Raffasya ke rumah sakit yang sama dengan Azkia yang sedang menjalani proses persalinan.


" Tapi tadi gue sudah janjian sama teman korban untuk membawa ke rumah sakit itu." Diding menjelaskan jika dia sudah mempunyai kesepakan dengan Dimas soal rumah sakit untuk Raffasya dirawat.


" Temannya siapa, Pak? Biar nanti saya hubungi dia. Istri Kak Raffa sekarang ini sedang menunggu persalinan dan menunggu kehadiran Kak Raffa. Kalau Kak Raffa ada di rumah sakit yang sama, kami jadi bisa sama-sama menjaga mereka berdua, Pak." Abhinaya menjelaskan alasan meminta Diding membawa Raffasya ke rumah sakit milik keluarga Dirgantara itu.


" Oke, kalau itu yang lu mau, gue langsung ke sana sekarang." Akhirnya Diding pun menyetujui permintaan Abhinaya.


" Terima kasih ya, Pa. Nanti saya hubungi Bapak lagi. Assalamualaikum ..." Abhinaya segera mematikan panggilan ponselnya setelah mendapat kepastian jika Raffasya akan dibawa Diding ke rumah sakit tempat dia berada sekarang.


" Abhi, apa cucu Tante sudah lahir?" Tiba-tiba suara Lusiana terdengar sesaat setelah Abhinaya menutup panggilan teleponnya ke nomer Raffasya.


" Belum, Tan."


" Sekarang masih di ruang persalinan?" tanya Lusiana kembali.


" I-iya, Tan." Abhinaya terlihat canggung bicara dengan Lusiana, dia di antara ingin memberitahu atau tidak soal kecelakaan yang menimpa Raffasya kepada Mama dari Raffasya itu.


" Ya sudah, Tante mau masuk ke dalam." Lusiana langsung masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan Abhinaya yang terlihat kebingungan.


" Kia, Sayang ... gimana kamu sekarang? Sakit, ya?" Lusiana langsung menghampiri Azkia yang sedang menangis di pelukan Natasha karena dia merasakan tulang-tulangnya terasa remuk redam.


" Ma, Kak Raffa mana, Ma?" Azkia yang melihat kehadiran Mama mertuanya langsung menanyakan keberadaan suaminya itu kepada Lusiana.


" Raffa belum datang? Memang anak itu ke mana? Kok nggak menemani istrinya sendiri melahirkan?" Lusiana yang menyadari tidak ada Raffasya di ruang itu langsung mengomel.


" Nanti Mama omelin dia, Sayang. Kamu tenang saja, Kia." Lusiana mengusap perut Azkia.


" Astaghfirullahal adzim, ini sakit banget ... sudah pembukaan berapa ini, Ma? Berapa pembukaan lagi, sih? Lama bangeeeettt ..." Azkia terus mengeluhkan rasa sakit disekitar pinggang dan panggulnya.


Tok tok tok


Natasha dan Lusiana mengarahkan pandangannya ke arah pintu saat terdengar suara ketukan.


" Ma, bisa bicara sebentar?" Ternyata Abhinaya yang menyembulkan kepalanya di pintu ruangan memanggil Natasha.


" Ada apa, Abhi?" tanya Natasha heran.


Abhinaya hanya menggerakkan tangannya meminta Natasha untuk mendekat.


" Mbak, saya titip Kia dulu ..." Natasha meminta Lusiana untuk menemani Azkia terlebih dahulu.


" Ma, jangan kemana-mana!" Namun Azkia kembali melarang Mamanya meninggalkannya.


" Sebentar kok, Kia. Lagipula di sini ada Mama Lusi, kan?" Natasha mengusap kening Azkia lalu meninggalkan Azkia untuk menghampiri Abhinaya setelah mendapat persetujuan dari Azkia.


" Ada apa, Abhi? Sudah telepon Raffa?" tanya Natasha.


" Kak Raffa kecelakaan, Ma."


" Astaghfirullahal adzim !! Kamu tahu dari mana, Abhi?" Natasha terperanjat mendengar kabar yang disampaikan Abhinaya.


" Tadi Abhi telepon Kak Raffa, ternyata yang jawab orang lain, dan orang itu bilang sedang membawa Kak Raffa ke rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian, tapi Abhi sudah suruh orang itu bawa Kak Raffa kemari. Abhi sekarang mau menunggu di IGD, Ma."


" Ya Allah, kenapa jadi begini? Kia sudah menunggu suaminya sejak tadi. Kakak kamu itu pasti akan syok kalau tahu Raffa kecelakaan." Natasha menggigit jari kukunya karena cemas.


" Kak Kia jangan sampai tahu masalah ini dulu sebelum Abhi mendapat kepastian soal kondisi Kak Raffa, Ma." Abhinaya meminta Natasha untuk menutupi soal kecelakaan Raffasya dari Azkia sementara waktu.


" Mama juga nggak tega kasih tahu, Abhi." Natasha terlihat sedih.


" Mama yang sabar, berdoa untuk Kak Kia dan Kak Raffa." Abhinaya merengkuh tubuh Mamanya itu beberapa saat untuk menenangkannya. " Sekarang Abhi mau ke ruang IGD, Ma." Abhinaya berpamitan kepada Natasha karena dia akan menunggu kedatangan Diding yang membawa Raffasya.


" Ya sudah, Papa kamu sudah dikabari soal Raffa?" tanya Natasha kemudian.


" Belum, Ma."


" Tolong kamu kabari, Papa. Mama nggak bawa HP."


" Iya, Ma."


Abhinaya lalu menghubungi Papanya untuk mengabari peristiwa kecelakaan yang dialami oleh Raffasya seraya berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang IGD.


" Assalamualikum, Pa."


" Waalaikumsalam, Bhi. Apa kakak kamu sudah melahirkan, Abhi?" Yoga menduga Abhi menghubunginya untuk memberi kabar jika Azkia sudah melahirkan.


" Kak Kia masih belum melahirkan, Pa." sahut Abhinaya." Ini soal Kak Raffa., Kak Raffa kecelakaan, Pa. saat ini Kak Raffa sedang dibawa kemari oleh orang yang menolongnya," lanjut Abhinaya menyampaikan kabar yang memang kurang enak didengar itu.


" Astaghfirullahal adzim, lalu kakak ipar kamu gimana keadaannya, Abhi?" Tak beda jauh dengan Abhinaya dan juga Natasha, Yoga pun cukup kaget mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpa Raffasya.


" Saat ini Kak Raffa sedang dalam perjalanan ke rumah sakit tapi kata yang menolongnya saat ini Kak Raffa tidak sadarkan diri karena kepalanya mengalami luka."


" Ya Allah, ya sudah ... Papa ke sana sekarang, ya! Assalamualaikum ..." Yoga memutuskan mengakhiri pembicaraan telepon karena ingin segera ke rumah sakit


" Waalaikumsalam, hati-hati, Pa." Sebelum menutup panggilan, Abhinaya sempat menasehati Papanya agar mengendarai mobilnya dengan hati-hati karena dia tidak ingin Papanya menjadi senewen dan berakibat fatal karena Papanya itu akan mengendarai mobilnya sendiri sementara pikirannya sedang tidak tenang.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading❤️