
Raffasya segera bangun dari tidurnya saat dia mendengar Naufal merengek tengah malam. Raffasya tidak ingin tangisan Naufal sampai membangunkan istrinya yang tertidur. Dia tidak ingin Azkia kelelahan karena saat ini istrinya itu sedang mengandung anak kedua mereka.
" Kenapa, Nak?" Raffasya segera mengangkat Naufal terlebih dahulu agar Naufal berhenti menangis. " Pampersnya sudah penuh, ya? Papa ganti dulu pampersnya, ya? Terus nanti Papa siapkan su sunya untuk Naufal." Raffasya menyiapkan diapers untuk mengganti diapers yang sudah basah. Setelah itu dia menyiapkan ASI untuk Naufal dengan satu tangan karena tangan kirinya menggendong anaknya itu agar tidak mengganggu tidur Azkia.
" Nih, su sunya sudah jadi ..." Raffasya menyerahkan botol berisi ASI kepada Naufal lalu dia mengambil gendongan kain untuk membuat Naufal tertidur dalam gendongannya layaknya seorang Ibu saat mencoba menidurkan anak dengan menggendongnya. " Nah, sekarang Naufal bobo lagi, ya!?" Raffasya mulai mengayun tubuh Naufal dengan menepuk pan tat Naufal dan menyanyikannya lagu pengantar tidur agar anaknya itu tertidur kembali.
Perlu waktu sekitar setengah jam untuk Raffasya menggendong Naufal sampai anaknya itu kembali terlelap. Raffasya lalu menaruh tubuh Naufal kembali ke tempat tidur secara perlahan agar tidak membuat anaknya terbangun kembali.
Setelah menyelimuti Naufal, Raffasya memandang Azkia yang masih tertidur. Raffasya mendekat ke wajah Azkia dan memberikan kecupan di kening istrinya itu. Sebelum akhirnya dia pun bergabung ikut tertidur dengan istri dan juga anaknya.
Pagi harinya Raffasya terbangun saat mendengar suara gelak tawa Naufal. Dia membuka matanya dan mencari asal suara anaknya itu. Pandangannya kini mendapati sosok Azkia yang sedang menggendong Naufal dan menggelitik tubuh Naufal hingga bocah itu kegelian dan menggeliat.
Raffasya sontak berjingkat turun dari tempat tidur dan bergegas menghampiri Azkia untuk mengambil tubuh Naufal dari tangan istrinya itu.
" Ma, jangan gendong Naufal. Naufal 'kan berat, kamu nggak boleh kecapean, lho! Kamu sedang hamil lagi sekarang. Ingat apa yang dokter bilang? Ibu hamil yang masih menyu sui cenderung akan mengalami cepat lelah. Jadi kamu jangan aktivitas yang berat-berat, Ma." Raffasya langsung menasehati istrinya agar Azkia tidak melakukan aktivitas yang akan membuat Azkia cepat merasa lelah.
" Hanya menggendong saja nggak apa-apa kok, Pa. Lagian nggak dua puluh empat jam aku menggendong Naufal. Kasihan kalau aku nggak gendong Naufal." Azkia mengelus tangan Naufal yang kini sudah berada di tangan Raffasya. Bayi itu kini justru mengulurkan tangannya kembali ke arah Azkia seolah meminta untuk digendong kembali oleh Mamanya.
" Tuh, Naufal juga kepingin digendong Mama, kan? Sini, Nak!" Azkia kembali merebut Naufal dari tangan suaminya. Dia lalu berjalan ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana.
" Masa Mama nggak boleh gendong Naufal? Papa nakal ya, Nak?" Azkia menyindir seraya melirik ke arah suaminya yang mengikutinya duduk di sebelahnya.
" Aku hanya khawatir, Ma. Bukan bermaksud menjauhkan kamu sama Naufal." Raffasya beralasan.
" Papa nggak usah khawatir, aku pasti baik-baik saja, kok! Aku 'kan punya Mama mertua yang selalu perhatian sama aku, nggak mungkin aku akan kelelahan karena aku nggak kekurangan gizi selama hamil dulu, begitu juga dengan kehamilanku sekarang ini." Azkia terkekeh mengingat kebaikan Mama mertuanya yang begitu memperhatikan kehamilan dirinya sejak mengandung Naufal.
" Oma 'kan sayang sama Mama ya, Nak?" Azkia kini menciumi pipi anaknya itu dengan gemas.
" Ma ..." Raffasya kini duduk berlutut di hadapan Azkia duduk hingga membuat Azkia terkesiap melihat tindakan suaminya yang tiba-tiba berpindah posisi dan turun ke bawah duduk di hadapannya.
" Kenapa, Pa?" Azkia mengeryitkan keningnya.
" Makasih ya, kamu sudah mau mengandung anak-anakku. Makasih kamu sudah mau menjadi ibu dari anak-anakku," ucap Raffasya memegang lutut Azkia.
" Ya ampun, Pa. Aku pikir kenapa? Nggak usah gitulah, Pa. Aku juga senang bisa melahirkan anak untuk Papa. Apalagi anaknya lucu kayak Naufal gini, bikin Mama gemas banget sama kamu, Nak." Azkia kembali mencium tubuh Naufal hingga membuat Naufal tergelak.
Raffasya menatap anak dan istrinya yang terlihat sangat bahagia. Tidak ada kebahagiaan lain yang Raffasya rasakan selain melihat kedua orang yang sangat dicintainya itu terlihat sangat bahagia.
***
" Assalamualaikum, Opa ...."
Raffasya yang sedang menonton pertandingan bola langsung melirik ke arah Azkia yang sedang melakukan panggilan telepon dengan Fariz bersama Naufal.
" Waalaikumsalam, cucu Opa ... sedang apa, Naufal? Belum tidur ya anak Sholeh?" Fariz menjawab sapaan Azkia.
" Belum, Opa. Naufal kangen sama Opa ..." Azkia mengarahkan layar monitor ke wajah Naufal hingga wajah Fariz terlihat jelas di layar ponsel Azkia.
" Papapapapaaaa ..." Naufal berceloteh memanggil Opanya.
" Opa, ini Opa, Nak. Bukan Papa." Azkia mencoba membetulkan panggilan Azkia kepada Opanya.
Fariz terkekeh mendengar celotehan cucunya yang masih belum bisa membedakan panggilan Papa dan Opa.
" Ada apa, Naufal? Naufal kangen sama Opa, ya?" tanya Fariz kemudian bertanya.
" Iya, Opa. Opa kapan main lagi ke Jakarta? Naufal mau punya adik lho, Opa." Azkia mengabari Papa mertuanya itu tentang kehamilannya.
" Kamu hamil lagi, Kia?" Fariz terkesiap mendengar pengakuan dari Azkia soal kehamilan menantunya itu.
" Iya, Pa." sahut Azkia tersenyum.
" Wah, Opa mau punya cucu lagi, nih. Selamat ya, Nak. Sudah dapat berapa bulan kehamilanmu itu?" tanya Fariz kemudian.
" Lima Minggu, Pa."
" Selamat ya, Kia. Semoga calon cucu Papa kedua sehat selalu. Kamu harus banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi agar kamu dan janin di perut kamu itu sehat selalu." Fariz menasehati.
" Iya, Pa. Mama Lusi juga hampir tiap hari kirim makanan sehat untuk Kia konsumsi kok, Pa. Kia senang banget punya Mama mertua dan Papa mertua seperti Mama Lusi dan Papa Fariz. Papa dan Mama itu mertua idaman banget buat Kia, Pa. Nggak nyesel Kia jadi menantu Papa dan Mama." Bukan hanya sekedar kata-kata saja pujian yang diungkapkan Azkia untuk kedua mertuanya itu. Tapi memang dia merasakan sendiri betapa senangnya mempunyai kedua orang mertua yang sangat mendukung dan begitu memperhatikannya.
" Papa pindah ke Jakarta saja dong, Pa. Oca juga bilang kepingin kuliah di Jakarta. Jadi ini momen yang tepat buat Papa pindah ke sini dan dekat sama anak cucu Papa di sini." Azkia memang pantang menyerah untuk menyatukan Papa dan Mama mertuanya itu.
" Nanti Papa pertimbangkan lagi, Kia. Apa yang bisa Papa kerjakan di Jakarta jika Papa benar pindah ke sana," sahut Fariz.
" Pasti ada, Pa. Kia yakin Papa bisa berkarir di sini." Azkia menyemangati.
" Kamu semangat sekali ingin Papa pindah ke Jakarta, Kia." Fariz tertawa kecil melihat Azkia yang sangat berantusias membujuknya untuk pindah ke Jakarta.
" Semangat dong, Pa. Biar Naufal bisa sering bertemu dengan Opanya. Kalau Papa ada di Jakarta, Papa 'kan bisa tinggal di sini sama kami. Oca juga bisa tinggal di sini juga, Pa. Biar Kia ada teman mengobrol."
Raffasya mengeryitkan keningnya mendengar Azkia yang mengajak Fariz dan Rosa tinggal bersama mereka. Tentu saja itu hanya keinginan Azkia semata. Sebenarnya dia tidak mempermasalahkan jika Papanya ikut tinggal bersamanya, karena bagaimanapun juga rumah dia sekarang ini adalah milik Fariz yang diberikan untuk Raffasya. Tapi jika harus Rosa juga ikut tinggal bersama mereka, Raffasya memilih menyerahkan kembali rumah itu ke Papanya dan dia akan mencari rumah baru yang akan dia tempati bersama Azkia dan anak-anak mereka.
Bukan karena Raffasya tidak ingin adik dari beda ibu nya itu tinggal di rumah yang sedang dia tempati sekarang ini. Namun dia hanya menjaga agar tidak ada gesekan antara Azkia dan Rosa dikemudian hari yang akan bisa memicu masalah. Karena setelah berumah tangga, Raffasya memang tidak ingin tinggal serumah dengan orang tua atau dengan mertuanya. Selain untuk menghindari perselisihan juga untuk menjaga privasi rumah tangga mereka.
Namun saat ini Raffasya tidak ingin terlalu menentang keinginan Azkia, karena kondisi Azkia yang sedang hamil pastinya akan sangat sensitif dan dia menghindari perdebatan.
***
" Pa ...."
" Hemmm ...?"
Azkia dan Raffasya sedang menonton film di televisi dengan Azkia yang bersandar di dada sang suami. Sementara Naufal sudah tertidur di tempat tidurnya sendiri.
" Perasaan sudah lama deh, nggak dengar Papa nyanyi buat aku," ucap Azkia tiba-tiba.
" Kayaknya waktu resepsi pernikahan kita deh,"
" Lama banget, ya?"
" Iyalah, dari Naufal usia dua bulan di perutku ini," ucap Azkia.
" Apa sekarang dedek bayinya kepingin dinyanyiin sama Papanya?" Raffasya mengelus perut Azkia.
" Kayaknya iya deh, Pa. Lagipula buat apa piano di ruang keluarga itu kalau nggak dipakai? Buat pajangan saja?"
Raffasya terkekeh, dia menduga jika apa yang diinginkan Azkia itu karena pengaruh dari kehamilannya.
" Ayo dong, Pa. Nyayiin buat aku. mumpung Naufal sudah bobo, tuh." Azkia merayu suaminya.
" Ya sudah, kita panggil Uni atau Bi Neng dulu untuk menemani Naufal di sini." Raffasya kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi ART nya itu.
" Halo, Uni. Bisa ke atas dulu, tolong temani Naufal sebentar." Setelah sambungan ponselnya terhubung, Raffasya langsung memberi perintah kepada Uni untuk ke kamarnya segera.
Tak lama Uni datang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar pasangan suami istri itu.
" Mas Raffa sama Mbak Kia mau pergi?" tanya Uni karena mereka menitipkan anak mereka kepadanya.
" Mamanya Naufal minta dinyayiin pakai piano sama suaminya, Ni." ledek Raffasya terkekeh.
" Oh ... ngidam minta dinyanyiin ya, dedek bayinya?" Uni ikut tertawa.
" Ya gitulah, Ni. Ayo, Ma." Raffasya segera menggenggam Azkia untuk meninggalkan kamar mereka.
" Mbak Uni, tolong jaga Naufal dulu, ya!?" Azkia masih sempat meminta Uni menjaga Naufal.
" Siap, Mbak Kia." Uni pun menyahuti dan membiarkan pasangan suami istri itu menikmati momen romantis mereka.
" Kamu ingin dinyanyiin lagu apa, Ma? Barat? Indo? Asal jangan Korea saja, Papa nggak bisa ..." Raffasya terkekeh dan duduk di depan piano berdampingan dengan sang istri. Karena dia tahu jika sekarang ini banyak wanita yang sangat mengidolakan musim K-Pop.
" Masa penyanyi nggak bisa lagu K-Pop, sih?" sindir Azkia.
" Aku bukan penyanyi cafe ya, Ma! Jadi nggak harus menguasai banyak lagu." Raffasya berkelit. Sementara jarinya sudah mulai memainkan sebuah intro lagu milik Fire House.
" Pernah dengar lagu ini?" tanya Raffasya.
Azkia mengedikkan bahunya seraya menggelengkan kepalanya.
" Dengarkan saja syairnya baik-baik, ya!?" pinta Raffasya sembari mengulum senyuman sebelum mulai menyanyikan lagu yang siap untuk dia nyanyikan.
...I guess the time was right for us to say ......
...We'd take our time and live our lives together day by day ......
...We'll make a wish and send it on a prayer ......
...We know our dreams can all come true with love that we can share ......
Raffasya menyempatkan diri mengecup pipi Azkia sebelum meneruskan lirik lagu berikutnya.
...With you I never wonder ......
...Will you be there for me?...
...With you I never wonder ......
...You're the right one for me ......
Azkia tersenyum menatap suami yang sedang menyenandungkan sebuah lagu dengan suara merdunya itu.
" Mau ikut nyanyi?" tanya Raffasya kembali.
" Papa saja," sahut Azkia
.
...I finally found the love of a lifetime ......
...A love to last my whole life through ......
...I finally found the love of a lifetime ......
...Forever in my heart ......
...I finally found the love of a lifetime ......
Raffasya benar-benar menghayati lagu yang sangat cocok menggambarkan perasaannya kepada istri tercintanya saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️