MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Merasakan Kebahagian Yang Berlipat-lipat



" Duduklah, Raffa!" Selepas makan malam, Yoga mengajak bicara Raffasya di dalam ruangan kerjanya. Yoga ingin membicarakan seputar masalah Gladys dan Nicko kepada menantunya itu.


" Ada apa, Pa?" tanya Raffasya setelah duduk di hadapan Yoga.


" Soal orang di balik insiden kecalakaan yang menimpa kamu, Raffa. Anak buah Om Rizal sudah berhasil mendapatkan mereka, dan sudah membawa mereka ke kantor polisi. Papa sudah membuat laporan atas dugaan kejahatan mereka yang ingin mencelakai kamu dan juga Azkia saat di Bandung dulu. Papa harap mereka akan menjadi jera dengan perbuatan mereka dengan proses hukum yang berjalan. Papa juga berharap agar mereka tidak berani macam-macam lagi dengan keluarga kita." Yoga menjelaskan hasil kerja yang sudah dijalankan oleh anak buah Rizal.


" Syukurlah kalau mereka memang sudah berhasil ditangkap, Pa." Raffasya bernafas lega saat mengetahui jika Gladys dan orang yang membantunya itu berhasil diringkuk.


" Ke depannya kamu harus lebih hati-hati lagi, Raffa." Yoga mengingatkan agar Raffasya lebih waspada.


" Iya, Pa."


" Oh ya, bagaimana progres renovasi La Grande? Kalau kamu butuh dana lagi kamu bilang saja sama Papa, nanti Papa akan bantu." Yoga berniat memberikan suntikan dana untuk merenovasi bangunan La Grande milik menantunya itu yang terbakar.


" Sudah jalan lima puluh persen, Pa. Sementara ini belum perlu dulu, Pa. Uang Almayra juga belum Raffa pakai kok, Pa." sahut Raffasya, dia memang tidak ingin merepotkan orang lain, walaupun itu adalah papa mertuanya sendiri.


" Kamu jangan sungkan terhadap Papa, Raffa. Kamu adalah suami Kia, ayah dari cucu Papa, artinya kamu adalah bagian dari keluarga ini. Apa yang terjadi pada kamu adalah tanggung jawab kami juga. Begitu juga sebaliknya, jika sesuatu terjadi dengan keluarga ini, kamu juga patut ikut membela nama baik keluarga ini."


" Iya, Pa. Raffa juga berterima kasih kepada Papa dan Mama yang sudah menerima Raffa sebagai menantu walaupun diawali dengan peristiwa yang tidak enak." Sejujurnya Raffasya merasa bahagia bisa mempunyai mertua yang sangat bijaksana seperti Yoga dan menjadi anggota keluarga dari dosen senior itu.


" Sebenarnya Papa sudah merasakan kalau kamu sebenarnya pria yang baik dan bertanggung jawab, sejak Papa tahu kamu beberapa kali menolong Kia saat Kia sedang dalam posisi sulit," ujar Yoga. " Kia itu sangat berharap bisa seperti Mamanya yang mempunyai suami seperti Papa, karena dulu pun pertemuan Papa dana Mama mertua kamu ini memang bukanlah disengaja. Banyak peristiwa yang kami lalui, beberapa kali Papa secara kebetulan ada di saat yang tepat ketika Mama mertuamu membutuhkan pertolongan. Sama seperti yang kalian alami sekarang ini. Dan juga ..." Yoga menjeda ceritanya, dia teringat suatu kejadian saat pertama kali dia dan Natasha pernah bersitegang bahkan pernah kena tampar oleh Natasha.


" Mama mertua kamu itu sama galaknya seperti Kia, bedanya dia tidak menguasai bela diri. Tapi kalau urusan bar-bar? Jangan ditanya, Papa ini salah satu korbannya ..." Yoga tertawa kecil mengingat kemiripan sifat dan sikap istri dan anak perempuannya itu.


" Dan sekarang keinginan Kia terwujud, dia mendapatkan suami yang menyayangi dan bisa melindungi dia. Papa titipkan Kia ke kamu, Raffa. Papa yakin kamu dan Kia akan menjadi keluarga yang bahagia."


" Aamiin, Pa. Makasih. Tapi Raffa mohon, soal Raffa kecelakaan ini jangan sampai Almayra tahu jika itu kecelakaan yang memang disengaja. Raffa nggak ingin Almayra khawatir, Pa." Raffasya memang tidak ingin Azkia menjadi senewen jika tahu ternyata ada orang yang sengaja ingin mencelakinya.


" Baiklah, Papa juga tidak ingin Kia menjadi cemas. Dia baru saja melahirkan, jangan sampai dia dipusingkan dengan hal-hal yang membuatnya khawatir untuk sementara ini. Karena mungkin nanti Kia juga akan tahu, masalahnya kita akan memproses pelaku ke jalur hukum. Kia pasti akan dimintai keterangan soal peristiwa di Bandung. Nanti Papa akan bantu jelaskan perlahan ke Kia agar dia tidak kaget dan khawatir." Yoga pun sudah pasti mementingkan kesehatan Azkia yang sedang dalam proses pemulihan setelah melahirkan. Sementara kepada Natasha, Yoga sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan kecelakaan yang menimpa Raffasya dan meminta istrinya itu untuk menyembunyikan masalah ini dari Azkia sementara waktu.


" Ya sudah, kamu boleh kembali ke kamarmu, nanti Kia bisa curiga kalau tahu kita berbincang serius di ruang kerja Papa." Yoga memilih mengakhiri percakapannya dengan Raffasya sebelum Azkia menaruh curiga.


" Iya, Pa. Raffa kembali ke kamar dulu." Raffasya pun bangkit dan berpamitan untuk meninggalkan ruang kerja Papa mertuanya itu.


***


" Kak Raffa habis bicara apa sama Papa?" tanya Azkia saat melihat suaminya itu kembali ke dalam kamar.


" Biasalah, obrolan sesama laki-laki." Raffasya menyahuti pertanyaan Azkia sambil menghampiri istrinya yang sedang menyu sui Naufal.


" Ada masalah penting, ya?" Azkia merasa penasaran karena suaminya tidak menceritakan secara gamblang apa yang dibicarakan dengan Papanya itu.


" Papa menawarkan dana untuk renovasi cafe." Raffasya menggunakan alasan itu agar Azkia tidak khawatir, karena memang Papa mertuanya menawarkan bantuan kepadanya, jadi dia tidak sepenuhnya berbohong.


" Lalu?"


" Aku bilang untuk saat ini aku masih belum perlu, karena uang punyamu juga belum aku pakai," sahut Raffasya beralasan.


" Lalu bicara apa lagi?" tanya Azkia penasaran.


" Papa menasehati agar aku jangan ugal-ugalan di jalan, harus ingat sekarang sudah ada istri sama anak." Raffasya menyeringai.


" Nah, aku setuju sama Papa. Kak Raffa harus ingat kalau ada istri yang cantik dan bayi yang ganteng ini nungguin Kak Raffa di rumah." Azkia ikut tertawa sambil menaruh Naufal ke atas tempat tidur.


" Aawww ..." Azkia merintih kesakitan saat dia menggerakkan tangannya saat menaruh Naufal.


" Kenapa, May?" tanya Raffasya melihat Azkia merintih kesakitan.


" Sejak melahirkan pergelangan tanganku sakit banget, Kak. Buat angkat Naufal saja sakit ngilu banget rasanya." Azkia mengeluhkan apa yang dirasakannya.


" Kita periksa ke dokter, ya?" Raffasya langsung mengambil tangan istrinya itu.


" Nggak usah deh, Kak. Kata Mama memang kadang suka begini kalau habis melahirkan, nanti juga akan hilang dengan sendirinya." Azkia mengatakan jika dia baik-baik saja.


" Aku pijat, ya? Biar sakitnya cepat hilang. Biasanya sentuhan dari suami itu akan menghilangkan rasa sakit." Raffasya terkekeh seraya mengusap tangan Azkia.


" Suamiku ini perhatian banget, deh. Makin sayang aku sama Kak Raffa." Azkia meladeni candaan yang dilemparkan oleh Raffasya.


" Kalau makin sayang, kasih yang bikin puas suami dong, May." sahut Raffasya mulai berbicara ke arah yang sudah dapat ditebak Azkia akan menuju ke mana.


" Memang selama ini aku nggak bikin puas Kak Raffa, gitu?" Azkia mendelik.


" Bikin puas, sih. Makanya aku ketagihan mau lagi dan lagi." Raffasya kembali menyeringai.


" Nantilah, Kak. Kalau masa nifas aku sudah selesai juga Kak Raffa bisa puas-puasin, Kak. Soalnya aku juga pasti kepingin soalnya sama-sama puasa ..." Azkia terkikik.


" Iyalah, orang sentuhan Kak Raffa itu memabukkan dan bikin nikmat, kok." ucap Azkia dengan nada manja.


" Aaaakkkhh, May. Kamu ini ya, bikin aku nggak tahan." Raffasya langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Azkia dan memberikan sentuhan bibir ke bibir istrinya penuh kelembutan yang semakin lama meningkat dengan gerak yang lebih bersemangat hingga menimbulkan suara decapan di dalam kamar milik Azkia.


" Kak, jangan dilanjut ... nantinya jadi kepingin yang lainnya." Azkia mencoba menghentikan aksi Raffasya yang sudah mulai meraba pahanya.


Raffasya kemudian bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Dia lalu melepas boxernya hingga memperlihatkan alat tempurnya yang sudah menegang.


" Kamu harus tanggung jawab ini, May!"


" Iiihhh, Kak Raffa! Kak Raffa yang mulai, kok aku yang disalahin?" Azkia tertawa seraya menutup matanya.


" Ngapain pakai ditutup segala? Kayak nggak pernah lihat saja." protes Raffasya.


" Ada Naufal, malu tahu, Kak!"


" Naufal 'kan masih belum tahu, May. Buruan dong, May!" Raffasya meminta agar Azkia menuntaskan tugas memuaskan dirinya.


" Astaga! Naufal, lihat ini kelakuan Papamu, Nak. Maksa banget, deh!" Azkia tergelak melihat tindakan Raffasya yang memintanya untuk dipuaskan. Namun demi menyenangkan hati suaminya, Azkia pun akhirnya mau menuruti permintaan Raffasya hingga suaminya itu dapat mendapatkan kepuasaan walaupun memakai cara lain dengan kelincahan gerakan Azkia memainkan tangan dan juga mulutnya.


***


Azkia memperhatikan mobil yang terparkir di halaman rumah orang tuanya saat dia sedang menggendong Naufal di ruangan tamu.


" Assalamualikum ..." Seorang wanita muda terlihat berdiri di depan pintu rumah Yoga.


" Waalaikumsalam ... Hai, Tik. Ya ampun, lu kok nggak bilang-bilang mau kemari?" Azkia nampak gembira melihat kedatangan Atika di rumah orang tuanya itu.


" Hai, Az. Selamat atas kelahiran baby nya yang ganteng ini." Atika langsung memeluk tubuh Azkia. " Siapa namanya baby ganteng?" Atika menciumi pipi Naufal yang sedang menyu sui.


" Athaya Naufal Pramudya, Auntie." Azkia menyebutkan nama anaknya dengan nada seperti anak kecil berbicara.


" Namanya cakep, sama seperti wajahnya. Kalau besar kayaknya akan jadi idola cewek-cewek nih, Az." Atika terlihat gemas menciumi pipi Naufal.


" Asal jangan jadi playboy saja, deh." Azkia menimpali.


" Gemas banget deh, lihat Naufal, jadi kepingin punya baby juga." Atika terkikik dengan menutup mulutnya.


" Makanya buruan menikah, biar lu bisa punya anak sendiri, Tik."


" Hahaha, masih jauhlah, Az. Cowok saja belum punya," sahut Atika tertawa.


" Lu kebanyakan milih, sih. Buruan cari yang ngena di hari terus nikah. Lu bakal merasakan nikmatnya punya suami dan punya anak, Tik." Azkia menasehati Atika agar segera berumah tangga.


" Nantilah, May. Santai saja ... gue masih muda ini, masih ingin menikmati masa muda gue ini dengan bekerja, cari duit sampai mapan. Mungkin tiga atau empat tahun lagi gue akan mikir ke arah sana," sahut Atika memberikan alasan kenapa tidak ingin cepat-cepat berumah tangga. " Lu juga kalau nggak ada kejadian sama Kak Raffa belum tentu sekarang ini sudah menikah juga, kan?"


" Siapa bilang? Sebenarnya gue kepingin nikah muda juga, walaupun bukan dengan Kak Raffa." Azkia menyeringai.


" Lu bahagia dengan pernikahan lu ini, May?" tanya Atika penasaran.


" Bahagialah ...!! Lu nggak lihat wajah gue berseri-seri begini?" Azkia memutar bola matanya.


" Hahaha, syukurlah ... gue pikir rumah tangga lu sama Kak Raffa akan seperti perang dunia tiap hari ribut terus, perabotan pada hancur lebur." Atika menyindir.


" Ya itu awal-awalnya doang, ibarat pepatah ... tak kenal maka tak sayang. Dulu gue nggak kenal dekat sama Kak Raffa, tahunya dia itu cuma biang onar, tukang bikin masalah. Tapi setelah kenal dan hidup bersama, gue jadi paham sifat Kak Raffa itu sebenarnya bagaimana? Dia itu sosok suami idaman banget, Tik. Nggak nyesel sih, gue nikah sama Kak Raffa." Bahkan di hadapan Atika, Azkia pun tak segan memuji suaminya itu.


" Kalau lu bicara seperti ini, gue jadi kasihan sama Kak Gibran deh, Az."


Azkia menoleh ke arah sahabat kuliahnya dulu. Boleh dibilang, Atika adalah saksi bagaimana saat Azkia masih berpacaran dengan mantan kekasihnya dulu.


" Dulu lu bucin banget 'kan sama Kak Gibran?"


Azkia menarik nafas perlahan, dia memang ingat kalau dulu dia sangat mencintai dan berharap akan merajut mahligai rumah tangga dengan Gibran. Namun peristiwa yang dia alami di Bandung bersama Raffasya memang menghancurkan harapannya itu. Namun kini dia tidak menyesali pernikahannya dengan Raffasya, karena dia merasakan kebahagiaan yang berlipat-lipat bersama suaminya ity. Walaupun akhirnya hal itu mungkin menyakitkan untuk mantan kekasihnya dulu. Tapi itu semua ini terjadi bukan karena kesalahannya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️