
Waktu sudah hampir jam satu dini hari namun Raffasya tidak juga bisa terlelap walaupun beberapa kali dia menguap. Namun nyatanya rasa kantuk tidak juga bisa membuat matanya cepat terpejam.
Sementara suasana di luar semakin hening, hanya suara ombak yang terdengar karena semua wisatawan pun sudah terlelap dengan mimpinya masing-masing.
Raffasya memperhatikan Azkia yang tertidur menghadap ke arahnya. Raffasya membelai wajah Azkia dengan punggung jari tangannya. Raffasya bisa merasakan jika Azkia begitu sangat bahagia dengan perjalanan Babymoon mereka kaki ini. Bahkan senyum di bibir Azkia yang terukir walaupun dalam posisi terlelap semakin menegaskan jika wanita di sampingnya itu sedang merasakan kenyamanan dan ketentraman melewati liburan mereka berdua.
" Aku akan membuatmu dan anak kita bahagia, May. Semoga usahaku semakin lancar agar aku bisa menyenangkan dan menuruti ke manapun kamu ingin kita pergi," janji Raffasya dalam hati.
Setelah beberapa saat, Raffasya pun bisa terlelap dan tertidur pulas setelah matanya menyerah dan tak kuasa untuk terus terbuka.
Beberapa jam kemudian, suara dering telepon terdengar dari ponsel Raffasya membuat pria itu meraih ponselnya. Raffasya melihat jam di ponsel baru menunjukkan pukul empat pagi. Sebenarnya dia merasa terganggu, namun saat dia melihat nama Fero di layar ponselnya, dia merasa pasti ada hal penting yang akan disampaikan Fero hingga membuat pegawainya itu sampai menghubunginya saat ini. Apalagi perbedaan waktu tempat dia berada sekarang lebih cepat sekitar satu jam dengan Jakarta, semakin meyakinkannya jika apa yang akan disampaikan Fero adalah hal yang sangat mendesak.
" Halo, ada apa?" tanya Raffasya dengan suara parau.
" Raf, s-sorry gu-gue ganggu lu pagi-pagi begini." Nada suara Fero nampak sedikit gugup.
" Ada apa, Fer? Ada masalah dengan La Grande?" Seketika perasaan Raffasya mendadak tidak tenang mendengar kegugupan Fero
" I-iya, Raf. Ada musibah ... La Grande, La Grande kebakaran." Fero menyampaikan kabar yang membuat Raffasya tercengang.
" Apa?? Lu nggak bercanda, kan?" Tentu saja Raffasya yakin, jika Fero meneleponnya pagi dini hari sudah pasti orang kepercayaannya di La Grande itu tidak mungkin akan bercanda. " Kapan kejadiannya?" Wajah Raffasya seketika menegang mendengar kabar berita yang disampaikan Fero.
" Sekitar setengah jam setelah cafe tutup."
Raffasya menghela nafas yang seketika berat untuk dihirupnya. Kabar yang diterima dari Fero benar-benar suatu pukulan untuk dirinya.
" Bagaimana kondisi La Grande sekarang? Apa ada korban jiwa karena kebakaran itu?"
" Api baru saja berhasil dipadamkan. Bagian atas cafe ludes terbakar. Sekarang gue masih di lokasi, tapi nggak ada korban jiwa. Gue dari tadi coba hubungin lu, tapi nomer lu susah dihubungi." Fero menjelaskan.
" Iya, di sini sinyalnya putus-putus. Oke, Fer. Pagi ini juga gue balik ke Jakarta." Raffasya segera memutuskan sambungan telepon dengan Fero dan meletakkan ponselnya kembali di meja kecil di tepi tempat tidur.
Raffasya menoleh ke arah Azkia yang masih terlelap di sampingnya. Raffasya mendengus kasar. Baru saja dia berharap usaha yang dia kelola semakin maju tapi justru musibah yang dihadapinya saat ini.
Raffasya segera bangkit. Dia lalu membereskan barang-barang ke dalam koper. Karena kemungkinan dia tidak akan ikut dengan kapal pesiarnya pulang ke Labuan Bajo bersama peserta tour lainnya Dia harus menyewa speedboat untuk kembali ke Labuan Bajo terlebih dahulu karena harus kembali ke Jakarta lebih awal.
" May, bangun ..." Raffasya membangunkan Azkia setelah selesai memasukan kembali barang-barang ke dalam koper.
" Dingin banget, Kak." Azkia justru merapatkan tubuhnya dengan memeluk Raffasya. Posisi resort yang berada di tepi laut belum lagi hanya tertutup tirai membuat cuaca dingin memang nyaman untuk pasangan suami istri yang sedang berbulan madu.
" May, bangun ... kita harus kembali ke Jakarta pagi ini."
Azkia membuka matanya saat Raffasya mengatakan mereka akan kembali ke Jakarta pagi ini.
" Pulang ke Jakarta? Kak Raffa bilang kita akan seminggu di sini. Ini baru masuk hari ke empat 'kan, Kak?"
" Ada masalah di Jakarta kita harus kembali ke Jakarta secepatnya," ucap Raffasya.
" Masalah apa, Kak?" tanya Azkia, dia melihat wajah Raffasya yang terlihat serius membuatnya penasaran, apa yang membuat suaminya itu mempersingkat liburannya.
" Ada kebakaran di La Grande."
Bola mata Azkia terbelalak hingga dia bangkit dari tidurnya " Astaghfirullahal adzim ...."
" Maaf, May. Liburannya harus berakhir tidak sesuai harapan." Raffasya menyampaikan penyesalannya karena merasa dia tidak bisa mengakhiri liburan mereka dengan kebahagiaan.
" Kak Raffa jangan bicara seperti itu." Azkia langsung beringsut memeluk tubuh suaminya.
" Kak Raffa sudah memberikan liburan yang sangat berkesan buat aku. Aku yang minta maaf karena Kak Raffa mengajak liburan, cafe Kak Raffa jadi kebakaran." Azkia yang justru terisak.
" Ini musibah, May. Mau aku di sini atau di Jakarta, kalau memang harus musibah ini terjadi, ya pasti akan terjadi." Raffasya mengelus kepala Azkia menjelaskan.
" Lalu kita akan pulang naik apa, Kak? Nggak mungkin ikut rombongan, kan?"
" Iya, nanti lepas Shubuh aku coba cari info bagaimana sewa speedboat untuk ke airport."
" Bagaimana kondisi La Grande sendiri, Kak?"
" Menurut Fero bangunan lantai dua ludes."
" Apa orang di sana saat kejadian, Kak?"
" Kejadiannya setengah jam setelah cafe tutup, syukurnya tidak sampai terjadi korban jiwa."
" Aku ikut prihatin ya, Kak." Azkia bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan Raffasya dengan musibah yang menimpa tempat usahanya.
" Jangan dulu kasih tahu Nenek soal kebakaran ini, May." pinta Raffasya.
Azkia mengeryitkan keningnya, namun dia mengerti kenapa Raffasya tidak ingin Nenek Mutia tahu, mungkin Nenek Mutia akan kepikiran dengan musibah yang menerpa cucunya.
" La Grande itu hadiah dari Nenek. Bangunan itu punya Kakek yang diberikan Nenek untukku karena aku memang ingin mempunyai tempat usaha. Aku membangun cafe kecil hingga bisa seperti sekarang, bahkan bisa menjadi tempat resepsi pernikahan kita." Ada nada kecewa dari kalimat yang diucapkan Raffasya. Dan Azkia hanya mampu memperdalam pelukannya kepada laki-laki yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta itu.
***
Setelah sampai di Jakarta, Raffasya mengantar Azkia lebih dahulu ke rumah sebelum menuju lokasi TKP. Sebenarnya Azkia menginginkan melihat ke lokasi terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah namun Raffasya menolak, tidak mengijinkan istrinya itu melihat ke sana.
Setelah Raffasya berpamitan pergi ke La Grande, Azkia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Sejak dalam perjalanan keluar dari Pulau Sabolo, Azkia tidak pernah menyentuh ponselnya. Dia lebih memilih terus memeluk suaminya dari pada memegang ponselnya.
Azkia melihat beberapa panggilan masuk, dan yang paling menarik perhatiannya adalah panggilan dari Papanya. Panggilan itu terjadi pukul delapan lebih. Azkia memperkirakan panggilan dari Yoga menyangkut masalah yang terjadi di La Grande. Azkia mencoba menghubungi balik nomer telepon Papanya itu, namun panggilannya tidak juga diangkat. Kemungkinan saat ini Papanya itu sedang mengajar hingga tidak mengangkat panggilan teleponnya.
Azkia lalu mencoba menghubungi Natasha, dia merasa Mamanya pun sudah tahu tentang kebakaran di La Grande.
" Assalamualikum, Ma." sapa Azkia saat panggilannya terhubung dengan Mamanya
" Waalaikumsalam, Kia. Wah ... gimana kabarnya yang habis babymoon? Sampai nggak ada kabar-kabarnya, saking asyik menikmati liburan, ya? Sekarang kamu ada di mana, Kia? Terakhir kali kamu update status, adik-adikmu m langsung minta liburan ke sana, nih." Natasha terkekeh. Sepertinya Mama dari Azkia itu belum mengetahui kejadian yang menimpa tempat usaha Raffasya dan menduga jika Azkia dan Raffasya masih berada di Labuan Bajo.
" Kia sudah pulang ke Jakarta kok, Ma." Dengan nada kurang bergairah Azkia memberitahukan keberadaannya saat ini.
" Sudah pulang ke Jakarta? Lho, katanya kalian seminggu berlibur di sana, Kia?"
" Astaghfirullahal adzim!" Pekik Natasha, " Kapan kebakarannya, Kia?" Natasha yang baru saja mendengar kabar itu merasa sangat terkejut.
" Dini hari tadi, Ma."
" Lalu bagaimana kondisi di sana? Apa parah? Ada korban jiwa?"
" Bangunan lantai atas ludes tapi untungnya nggak sampai menimbulkan korban jiwa."
" Ya Allah, ada saja musibah ..." Natasha menyayangkan kejadian yang menimpa cafe milik Raffasya.
" Kia bingung harus bagaimana, Ma? Kak Raffa tadi saja dalam perjalanan pulang lebih banyak diam ..." keluh Azkia, dia tidak menyalahkan sikap suaminya itu.
" Kamu harus bisa menenangkan Raffasya. Harta benda yang kita miliki itu hanya bersifat sementara, jangan biarkan Raffa terlalu berlarut dengan kesedihannya." Natasha menasehati Azkia agar bisa membantu Raffasya dalam musibah ini. Sudah pasti suport Azkia sebagai seorang istri sangat dibutuhkan oleh Raffasya saat ini.
***
Dengan tangan berkacak pinggang Raffasya menatap bangunan cafe yang kini terpasang police line. Lebih dari delapan tahun dia membangun cafe di hadapannya itu. Mulai dari tempat nongkrong anak-anak muda biasa saja hingga akhirnya menjelma menjadi cafe yang tidak jarang dijadikan tempat beberapa pelanggannya mengadakan event pesta pernikahan dan lainnya.
Hasil dari penyelidikan, korsleting listrik dari mini bar di lantai atas lah yang menjadi penyebabnya cafe itu terbakar.
" Sorry, Raf. Gue benar-benar nggak sangka akan ada musibah seperti ini." sesal Fero.
" Kita tidak akan pernah tahu musibah yang akan menimpa kita, Fer. Coba lu mulai kalkulasi berapa kerugian yang kita alami, agar kita bisa mengajukan klaim ke asuransi. Kita harus segera mengajukan klaim secepatnya agar prosesnya tidak sulit dan berlarut-larut." Raffasya ingin secepatnya mengurus klaim asuransi kebakaran dari cafe miliknya itu.
Hari ini Raffasya dan Fero benar-benar sangat sibuk mengurus persiapan untuk klaim asuransi. Mereka bahkan meminta bantuan Dimas untuk memperhitungkan beberapa kerugian yang mereka alami. Mereka pun harus mendatangi kantor asuransi untuk menanyakan bagaimana cara pengajuan klaim asuransi tersebut.
***
Waktu sudah beranjak malam, hingga kini menunjukkan pukul sepuluh malam. Raffasya masih belum sampai ke rumahnya dan tentu saja hal tersebut membuat Azkia gelisah. Walaupun Raffasya sendiri sudah mengabari Azkia dan meminta Azkia untuk tidak menunggunya pulang, namun Azkia tetap tidak bisa tenang sebelum melihat suaminya itu kembali ke rumah.
" Mbak Kia belum tidur?" tanya Bi Neng yang melihat Azkia masih nampak gelisah dan tak tenang duduk menunggu Raffasya di ruang tamu.
" Aku tunggu Kak Raffa pulang, Bi Neng." ucap Azkia.
" Memang Mas Raffa ke mana, Mbak? Baru pulang dari perjalanan jauh kok bukannya istrirahat malah pergi lagi?" tanya Bi Neng.
" Hmmm, iya, Bi. Ada masalah yang sedang dihadapi Kak Raffa," ucap Azkia.
" Masalah apa, Kia? Apa ada masalah serius?" Nenek Mutia yang mendengar suara di ruang tamu langsung keluar dari kamarnya. " Kenapa Raffa sudah malam seperti ini belum pulang juga? Ke mana dia?" Nenek Mutia berjalan me dekat ke arah Azkia duduk.
" Hmmm, Kak Raffa tadi bilang sama Kia kalau ada hal yang sedang diurus, Nek." Azkia yang tidak menduga akan kehadiran Nenek Mutia langsung terkesiap hingga dia bingung memberi alasan tentang kepergian Raffasya.
" Mengurus masalah apa? Apa tidak bisa esok hari saja? Kalian baru saja kembali dari liburan? Kenapa harus pulang larut malam?" Nenek Mutia nampak kesal dan memprotes sikap cucunya itu.
" Nek, hmmm ... masalah yang dihadapi oleh Kak Raffa ini sangat serius, jadi mungkin harus secepatnya diselesaikan." Azkia mencoba menjelaskan kenapa Raffasya harus pulang telat.
" Ada masalah apa sebenarnya, Kia? Masalah serius apa? Kamu nggak mau memberitahu Nenek masalah apa yang sedang dihadapi Raffa?" selidik Nenek Mutia. " Apa ada yang disembunyikan oleh kalian dari Nenek?" Nenek Mutia sepertinya mencium sesuatu yang disembunyikan oleh cucu dan istri cucunya itu.
" Hmmm ..." Azkia mengusap tengkuknya. Suaminya sudah meminta agar dia tidak menceritakan masalah kebakaran kepada Nenek Mutia, namun saat ini Nenek Mutia seakan sedang mengintimidasinya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Cerita sama Nenek, Kia. Nenek tahu ada yang sedang kalian sembunyikan dari Nenek." Kali ini sorot mata tua Nenek Mutia menatap tajam ke arah Azkia.
" Sebenarnya ... hmmm, sebenarnya ..." Azkia ragu untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi.
" Sebenarnya kenapa?" tanya Nenek Mutia tidak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
" Tapi Nenek harus tenang, ya." Azkia segera menghampiri Nenek Mutia seraya merangkulkan tangannya di punggung Nenek Mutia, memeluk Nenek dari suaminya itu.
" Ada apa, Kia?" Nenek Mutia semakin penasaran.
" Ada masalah dengan La Grande, Nek." Azkia menggigit bibirnya.
" Masalah apa? Dari tadi kamu bilang ada masalah tapi tidak menjelaskan kepada Nenek ada masalahnya?" Nenek Mutia sampai gemas sendiri karena menganggap Azkia hanya berputar-putar tidak segera menceritakan inti masalahnya.
" Ada kebakaran di La Grande, Nek. Itulah yang membuat kami langsung pulang dari liburan kami." Azkia terpaksa memberitahukan musibah yang menimpa cafe milik Raffasya.
" Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun ...."
" Astaghfirullahal adzim ...."
Nenek Mutia dan Bi Neng terperanjat mendengar pengakuan Azkia tentang musibah kebakaran di La Grande Caffee.
" Apa yang menjadi korban dalam kebakaran itu, Mbak?" tanya Bi Neng, sementara Nenek Mutia nampak terdiam seraya memegangi dadanya.
" Untungnya nggak sampai jatuh korban jiwa, Bi." jawab Azkia seraya melirik ke arah Nenek Mutia yang berada di sampingnya. Dia tahu jika Nenek Mutia pun sangat terpukul dengan musibah itu.
" Nek, Nenek nggak apa-apa, kan?" Azkia merasa khawatir jika sampai terjadi sesuatu dengan Nenek dari suaminya itu.
" Nenek nggak apa-apa ... Sebaiknya kamu istirahat saja di kamar, Kia. Nenek juga ingin masuk ke kamar." Nenek Mutia meminta Azkia untuk beristirahat di kamar dan tidak menunggu Raffasya di ruangan tamu.
" Nenek yakin nggak apa-apa?" tanya Azkia.
Nenek Mutia menganggukkan kepalanya." Itu suatu musibah, tidak ada yang bisa menolak jika Allah sudah memberikan kita cobaan," sahut Nenek Mutia seraya berjalan ke dalam kamarnya.
Azkia menghela nafas panjang, dia tidak tahu apakah dia salah memberitahukan Nenek Mutia? Nenek Mutia menekannya untuk bercerita tentang masalah yang di hadapi Raffasya sedangkan Raffasya sendiri tidak mengijinkan dia memberitahu Neneknya itu.
.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️