MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Family Time



Raffasya turun dari mobilnya setelah dia memarkirkan mobilnya itu di pekarangan rumah siang ini. Dia melihat ke arah teras depan rumahnya, dia mendapati Naufal yang sedang digendong dengan gendongan kain batik oleh Atun, ART di rumah Natasha yang dipindahkan ke rumah Raffasya.


" Assalamualaikum, Naufal sedang apa, Nak?" Raffasya menyapa anaknya itu yang sedang disuapi makanan oleh Atun.


" Waalaikumsalam, Naufal sedang makan, Pa. Disuapin sama Mbak Atun." Atun menjawab mewakili Naufal yang menjawab pertanyaan Papanya.


" Apapapapaaa ..." Naufal seakan memanggil Papanya, apalagi bayi lucu itu kini mengulurkan kedua tangannya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Raffasya meminta untuk digendong oleh Papanya itu.


" Naufal mau gendong Papa, ya?" Raffasya meminta Atun memberikan Naufal kepadanya.


Naufal pun diserahkan kepada Raffasya setelah Atun membersihkan mulut Naufal dari makanan yang masih belepotan di dekat mulutnya. Dia lalu menciumi anak yang dia buat tanpa didasari rasa cinta bersama Azkia namun dirawat dan akan dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang oleh dia juga istrinya itu.


" Almayra mana, Mbak Atun?" tanya Raffasya karena dia tidak melihat keberadaan Azkia bersama anaknya saat ini.


" Mbak Kia sedang tidur, Mas." sahut Atun.


" Tidur?" Raffasya mengeryitkan keningnya saat Atun mengatakan istrinya itu sedang tertidur. Tidak biasanya Azkia tertidur siang hari saat Naufal terbangun.


" Iya, Mas. Tadi sih Mbak Kia tidur sama Naufal, tapi waktu Naufal bangun, katanya Mbak Kia masih mengantuk. Malah Naufal suruh dikasihkan ke Bi Neng, Mas." Atun menceritakan apa yang terjadi pada Azkia.


" Tumben Mama tidurnya lama, Nak. Kita lihat ke kamar, yuk!" Raffasya membawa Naufal ke kamarnya untuk membangunkan Azkia.


Sesampainya di kamar, Raffasya memang mendapati istrinya itu sedang bergelung selimut di tempat tidur dengan suhu udara di kamar yang sangat sejuk dari pendingin ruangannya. Raffasya lalu mendudukkan Naufal di dekat Azkia tertidur.


" Ayo, Naufal gangguin Mama bobo, suruh bangun Mamanya, Nak."


Seperti mengerti apa yang diperintahkan oleh Papanya, bayi lucu itu kini berusaha berdiri dengan berpegangan ke tubuh Azkia yang tertidur dengan posisi miring.


" Mama bangun, Mama ..." Raffasya terus menyuruh anaknya itu mengganggu Azkia yang tertidur pulas. " Cium Mamanya, Nak." Raffasya juga memerintah anaknya untuk mencium wajah Azkia.


Naufal menjatuhkan tubuhnya tepat di depan wajah Azkia dan menggigit wajah Mamanya itu dengan beberapa giginya yang sudah mulai tumbuh.


Azkia terbangun saat merasakan pipinya basah karena Naufal menggigit pipinya hingga meninggalkan air liurnya ke pipi Azkia.


" Naufal kok gigit Mama, sih?" Azkia yang gemas melihat anaknya baru saja menggigitnya langsung menghadiahi ciuman bertubi-tubi di di wajah dan dada Naufal hingga membuat Naufal tertawa geli.


" Mama bobonya lelap sekali, ya?" tanya Raffasya kemudian duduk di tepi tempat tidur.


" Lho, Papa sudah pulang? Astaga ... aku lama banget ya tidurnya?" Azkia langsung bangkit dari tempat tidur dengan tangan menggendong Naufal.


" Mau ke mana, Ma?" tanya Raffasya mencekal lengan Azkia hingga Azkia tidak bisa bergerak menjauh.


" Sudah sore, Pa. Aku mau mandiin Naufal dulu," ujar Azkia.


" Ini jam setengah satu, Ma." Raffasya menunjuk arah jam dinding.


" Setengah satu malam?"


" Setengah satu sianglah, Ma. Masa iya setengah satu malam suamimu ini masih berpakaian rapih begini?" Raffasya terkekeh mendapati istrinya yang belum penuh mendapatkan kesadarannya karena bangun dari tidur.


" Setengah satu siang? Kok Papa sudah pulang?" tanya Azkia heran.


" Karena tadi habis bertemu orang yang mau isi slot iklan di Raff FM. Kebetulan tempatnya dekat-dekat sini, jadi aku mampir sekalian makan siang saja di rumah." Raffasya menerangkan.


" Papa belum makan, ya? Mau makan sekarang? Aku mau siapkan dulu makanannya, ya?" Azkia ingin menyiapkan makan siang untuk suaminya.


" Aku mau sholat Dzuhur dulu, Ma." sahut Raffasya.


" Ya sudah, Papa sholat Dzuhur saja dulu, gantian sama Mama. Mama mau siapkan makanan di bawah." Azkia lalu berjalan ke luar dari kamarnya meninggalkan Raffasya yang langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum menunaikan ibadah empat rakaatnya.


" Bi Neng, tolong pegang Naufal, dong! Mbak Uni, tolong siapkan untuk makan aku sama suamiku, ya! Hari ini masak apa, Mbak?" Sesampainya di ruang makan, Azkia memanggil ART nya yang sedang menonton televisi di dapur.


" Hari ini masak rendang, sayur daun singkong sama sambal ijo, Mbak." Uni langsung menjawab dan menyiapkan menu yang sudah dia, Bi Neng dan Atun masak tadi.


" Oke, siapkan saja dulu, aku mau sholat Dzuhur dulu. Naufal sama Bi Neng dulu ya, Sayang." Azkia lalu menyerahkan Naufal ke anaknya. " Oh ya, Naufal tadi sudah diberi makan belum, Bi Neng?" tanya Azkia.


" Tadi sudah Atun kasih makan, Mbak." Atun yang ikut membantu Uni menyiapkan piring di meja makan menyahuti.


" Oke, oke ... " Azkia kemudian meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya untuk sholat Dzuhur sebelum mereka menyantap makan siang bersama.


***


" Naufal, lihat Mama sini, Nak!' Azkia berteriak memanggil nama anaknya yang terlihat sangat excited tertawa dan berteriak.


" Naufal ...!" Azkia kembali memanggil anaknya agar menoleh ke arahnya.


" Kia, kamu ada di sini juga?"


Azkia langsung menolehkan wajahnya saat mendengar seseorang menyapanya. Dan dia mendapati Rayya yang tadi berbicara dengannya.


" Oh hai, Ray. Kamu ke sini juga?" Azkia langsung bercipa-cipiki dengan sepupunya itu.


" Jakarta itu luas, mall juga banyak, kenapa harus bertemu dengan kamu lagi, sih?" Celetuk Ramadhan yang berjalan di belakang Rayya.


" Kenapa memangnya, Kak? Nggak suka ketemu aku atau ketemu suamiku?" sindir Azkia. " Halo keponakan Tante yang cantik, sini ikut Tante, yuk!" Azkia meminta Aisha dari tangan Ramadhan.


" Mana Naufal, Kia?" tanya Rayya kemudian.


" Itu sedang naik bom bom car sama Papanya." Azkia menunjuk ke arah Raffasya yang sedang bersama Naufal di arena permainan.


" Senang sekali Naufal kelihatannya." Rayya melihat anak dari Azkia beriak dan mengerakkan kali dan tangannya.


" Iya, sampai nggak melihat aku panggil-panggil," sahut Azkia. " Kalau Aisha mau naik apa ini?" Azkia menanyakan bayi dari Rayya itu.


" Sedang cari-cari permainan yang bisa Papanya naiki juga, Kia." Rayya terkekeh melirik ke arah Ramadhan.


" Aku nggak pandai menaiki permainan, aku hanya pandai menaikimu, Sayang " Ramadhan langsung melingkarkan tangannya di pundak Rayya dan mengecup pipi sang istri tanpa rasa canggung.


" Ya ampun, Mas. Ini di tempat umum, banyak anak-anak kecil, lho! Malu kalau sampai mereka lihat." Rayya memprotes sikap suaminya yang tanpa malu menciumnya di tempat terbuka dan bisa dilihat oleh banyak orang.


" Biarkan saja, Sayang. Aku ini 'kan suamimu, memang ada larangan suami cium istri?" Ramadhan merasa apa yang dilakukannya tadi adalah hal yang wajar.


" Nggak ada larangan tapi adat kita sebagai orang timur harus tetap dijaga, Mas. Kurang etis saja harus bermesraan di depan umum." Rayya tidak sependapat dengan suaminya.


" Sayang, coba kamu tanya pada sepupumu ini, apa suaminya itu pernah bersikap seperti aku ini di depan umum? Pasti sering, kan?" Ramadhan membandingkan dengan suami dari sepupu istrinya itu.


" Aku rasa semua pria sama saja." Azkia dengan cepat menyahuti.


" Wah, ada Aisha rupanya." Raffasya yang sudah menyelesaikan permainannya dengan Naufal langsung menghampiri Azkia yang ternyata berbincang dengan Rayya dan juga Ramadhan.


" Hai, Kak Raffa ... Hai, Naufal ..." Melihat Raffasya mendekati mereka, Rayya menyapa Raffasya dan juga Naufal.


" Hai, Rayya. Hai, Ram ..." Raffasya pun menyapa Rayya dan juga Ramadhan.


" Hai ..." Singkat kalimat yang diucapkan Ramadhan membalas sapaan Raffasya.


" Amamamamaaa ..." Naufal melihat Azkia menggendong Aisha langsung merajuk hingga dia menggeliat mencondongkan tubuhnya dengan berusaha menggapai Mamanya.


" Mama Kia nya buat Aisha saja, ya?" Melihat Naufal merajuk karena menggendong Aisah, Rayya justru merangkulkan tangannya di pundak Azkia dan menjauhkannya dari Naufal, membuat Naufal terlihat kesal bahkan minta diturunkan dari gendongan Raffasya.


" Sayang, kamu jangan menggoda Naufal. Kamu lupa kalau kedua orang tuanya itu mantan preman," sindir Ramadhan melihat istrinya justru meledek Naufal.


Buuugghh


" Aaawww ...!" Ramadhan meringis kesakitan saat tulang kering kakinya ditendang Azkia. Sontak pria yang berprofesi sebagai Asisten Dirgantara itu menoleh ke arah Azkia dengan pandangan tidak percaya. " Kenapa kamu menendangku, Kia?"


" Itu namanya tendangan sang mantan preman. " Azkia menyahuti tanpa rasa bersalah kemudian menyerahkan Aisha kepada Rayya dan mengambil Naufal untuk menenangkan putranya itu.


Sementara Rayya dan Raffasya terlihat menahan tawanya melihat Ramadhan yang masih mengusap kakinya, mereka berdua sama-sama tidak menyangka jika Azkia berani menendang Ramadhan seperti tadi.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️