
Dari arah mejanya Raffasya sesekali memperhatikan keakraban dua orang wanita dari dua generasi yang terlihat sedang berbincang dari sofa di depan meja kerjanya. Satu wanita paruh baya yang melahirkannya dan satu lagi wanita muda yang akan melahirkan anak darinya.
Raffasya bisa melihat wajah berbinar dari Lusiana saat berbincang dengan Azkia. Raffasya tahu jika Mamanya itu sebelumnya memang menginginkan Azkia sebagai menantunya. Hingga tidak aneh jika Lusiana nampak begitu antusias saat mengetahui jika Azkia sedang mengandung cucunya.
" Apa kamu sudah punya pilihan nama untuk baby boy di perutmu ini, Kia?" tanya Lusiana kepada Azkia.
" Hmmm ... belum, Ma. Kami belum menentukan nama untuk bayi ini," ucap Azkia.
" Nanti Mama akan carikan nama yang bagus untuk cucu Mama ini." Lusiana bersemangat ingin memberikan nama kepada cucu pertamanya itu.
" Biar Raffa saja yang menamakan anak Raffa, Ma."
Lusiana dan Azkia langsung menoleh ke arah Raffasya mendengar suara Raffasya yang ikut bergabung dengan pembicaraan mereka.
" Mama nggak usah repot-repot kasih nama buat anak Raffa, karena nanti kami sendiri yang memberi nama untuk anak kami," tegas Raffasya menolak pemberian nama dari Mamanya.
" Tapi ini cucu Mama, Raffa. Jadi Mama juga boleh kasih nama ke cucu Mama ini, dong!" Lusiana keberatan dirinya tidak dianggap penting dalam mengambil keputusan memberi nama kepada calon anak Azkia juga Raffasya.
" Kalau kami memberikan nama pemberian Mama, lalu bagaimana kalau Papa Yoga dan Mama Tata juga ingin memberikan nama kepada bayi ini? Apa nggak jadi berebut ingin memberi nama? Jadi lebih baik kamilah yang akan memberi nama anak kami sendiri." Raffasya memang ingin memberi nama calon anak laki-lakinya itu sendiri.
" Ya kamu tinggal sambungkan saja jadi satu rekomendasi nama-mana pemberian kami. Kalau kami ingin memberikan nama untuk anak kalian itu sebagai bukti kalau kami itu sangat menyanyangi calon cucu kami." Lusiana masih ngotot ingin ikut andil memberi nama kepada cucunya.
" Hmmm, memangnya Mama sudah punya nama untuk bayi Kia ini, Ma?" tanya Azkia ingin mengakhiri perdebatan antara suami dan Mama mertuanya itu.
" Ada sih, nanti Mama pilih-pilih lagi nama yang bagus untuk cucu Mama."
" Ya sudah nanti Kia sama Kak Raffa pertimbangkan lagi nama yang Mama beri untuk calon bayi aku, Ma." Azkia mengambil jalan tengah agar kedua orang di hadapannya itu tidak terus berselisih paham.
" Mama senang punya menantu seperti kamu, Kia. Kamu begitu mengerti Mama." Lusiana memeluk Azkia menyindir putranya yang selalu menentangnya.
Azkia melirik ke arah Raffasya yang langsung memutar bola matanya. Azkia sebenarnya ingin membuat Raffasya dan Mama mertuanya itu akur selayaknya seorang ibu dan anak, tidak selalu berdebat dan saling menyindir seperti sekarang ini.
" Oh ya, apa cucu Mama ini masih rewel dan membuat repot Mamanya?" Lusiana mengusap kembali perut Azkia.
" Bukan dedek bayinya yang rewel tapi Mamanya dedek bayi yang rewel." Kali ini Raffasya justru menyindir istrinya, membuat Azkia mendelik disebut rewel oleh suaminya.
" Namanya juga ibu hamil, itu wajar, dong!" Lusiana justru membela Azkia. " Memangnya hamil itu nggak berat? Memangnya kamu yang hanya enak tinggal bikinnya saja?? Kia harus mengalami morning sickness, tubuh cepat lelah, segala gerak harus terbatasi. Belum lagi nanti kalau melahirkan, mengalami kontraksi, berjuang antara hidup dan mati. Makanya seorang anak itu harus berbakti kepada orang tua terutama kepada ibunya, karena perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya itu nyawa taruhannya." Lusiana kembali menyindir Raffasya yang selama ini bersikap keras kepadanya.
Raffasya seketika diam tak membantah perkataan Lusiana, dan hal itu tertangkap mata Azkia. Azkia menghela nafas sesaat, baru saja dia berhasil mengeluarkan Lusiana dan juga Raffasya dari perdebatan soal nama, kini atmosfir ketegangan mulai terasa kembali di antara Lusiana dengan putranya.
" Hmmm, Ma. Tadi Mama bilang mau lihat model terbaru koleksi dari Alexa Boutique, kan? Kalau Mama mau nanti Kia suruh orang untuk antar ke tempat Mama, gimana?" Azkia buru-buru mengalihkan pembicaraan agar suami dan Mama mertuanya tidak memperuncing ketegangan.
" Boleh, nanti diantar ke rumah Mama saja kalau begitu," Lusiana menyahuti tawaran Azkia.
" Mama lihat di web butik saja, Mama pilih yang mana yang Mama suka, nanti Kia suruh orang kirim aslinya." Azkia mengeluarkan notebook dari tasnya kemudian menunjukkan koleksi-koleksi terbaru dari butik milik Mamanya itu.
***
" Kak, kenapa Mama nggak menikah lagi setelah berpisah dengan Papa Fariz?" tanya Azkia yang sedang mengusap kepala Raffasya yang sedang menciumi perut dirinya.
Raffasya menghentikan aktivitasnya memberi sentuhan kepada perut istrinya saat Azkia membahas soal Lusiana. Raffasya lalu merubah posisinya hingga kini berbaring di samping Azkia hingga istrinya itu dengan cepat memiringkan posisi tubuhnya dengan tangan melingkar di dada Raffasya.
" Mama itu tidak membutuhkan keberadaan suami dalam hidupnya," sahut Raffasya. " Kamu jangan seperti Mama, ya?!" pinta Raffasya kini dia yang mengusap kepala Azkia.
Azkia mendongakkan kepala menatap ke arah suaminya, " Maksud Kak Raffa?"
" Sejak dulu Mama selalu mengutamakan karir ketimbang keluarganya. Hampir selalu nggak ada waktu untuk keluarganya. Hingga akhirnya Papa pun mulai jenuh di rumah dan mulai mengikuti sikap seperti Mama, alhasil tidak ada kenyamanan di rumah ini lagi. Apalagi saat Papa dan Mama memutuskan untuk berpisah. Untung masih ada Nenek yang perduli terhadapku." Dengan nada berat Raffasya menceritakan masa lalunya. Ini pertama kalinya Raffasya bercerita kepada Azkia. Karena sejujurnya Azkia sendiri tidak berani untuk menyinggung cerita masa kecil Raffasya, karena suaminya itu sangat sensitif jika menyinggung soal kedua orang tuanya. Walaupun sebelumnya Azkia sendiri sempat mendengar kisah Raffasya dari Nenek Mutia dan juga Raditya.
" Kak, Papa dan Mama Kak Raffa juga tetap perduli dengan Kak Raffa meskipun cara mereka menyampaikannya berbeda. Om Radit juga sangat perduli sama Kak Raffa. Kak Raffa jangan menutup mata terhadap mereka. Mereka sayang sama Kak Raffa. Bahkan waktu pernikahan kita, Papa Fariz menyempatkan diri datang dari luar pulau, kan?" Azkia mencoba menentramkan hati suaminya yang masih belum bisa berdamai dengan masa kecilnya.
" Kak Raffa bisa menghormati Papa dan Mama aku, semestinya Kak Raffa juga menghormati Papa Mama Kak Raffa, terlepas dari kesalahan mereka di masa lalu yang Kak Raffa anggap tidak memberikan kasih sayang yang seutuhnya kepada Kak Raffa. Aku ingin melihat Kak Raffa dan Mama akur dan bisa berkomunikasi dengan baik, seperti Kak Raffa berkomunikasi kepada Mamaku." Azkia melambungkan harapannya.
" Karena bagaimanapun juga Mama Lusi adalah wanita yang sudah melahirkan Kak Raffa." Azkia mengusap rahang keras suaminya. " Kak Raffa ingat saat pertama kali aku hamil? Aku mengalami morning sickness seperti apa? Seperti itulah yang dialami Mama Lusi saat mengandung Kak Raffa. Perjuangan Mama saat mengandung dan melahirkan Kak Raffa tidak bisa tergantikan. Kita hanya bisa berbakti kepada orang tua kita untuk membalas jasa mereka saat mereka mengandung, melahirkan dan membesarkan kita." Entah dari mana kekuatan Azkia yang berani menasehati suaminya itu agar bersikap hormat kepada orang tuanya sendiri.
Raffasya menatap istrinya yang tiba-tiba saja memberikan nasehat bijak kepadanya.
" Kalau kamu selalu seperti ini, lama-lama aku bisa jatuh cinta sama kamu, May." ucap Raffasya tersenyum bahagia.
Azkia langsung menatap mata suaminya, " Memang sekarang ini Kak Raffa belum jatuh cinta sama aku, gitu?" tanyanya bernada ketus.
" Hmmm, sedikit, sih ... paling cuma nol koma nol nol nol satu persen." Raffasya mulai meledek Azkia.
" Kalau cuma nol koma ngapain senangnya nempel-nempel terus sama aku?" Azkia langsung sewot mendengar jawaban suaminya.
" Yang nempel itu kamu atau aku? Coba lihat ..." Raffasya terkekeh karena saat ini justru istrinya yang tadi sengaja merapatkan tubuh pada dirinya. Namun Raffasya, langsung mengeratkan pelukan kepada istrinya sebelum istrinya itu merajuk lebih dahulu.
" Aku hanya bercanda, May. Aku sayang sama kamu, kok. Masa kamu nggak merasa kalau aku ini menyayangi kamu, sih?"
Kalimat selanjutnya dari Raffasya membuat hati Azkia serasa berbunga-bunga. Rasa permusuhan yang telah menumpuk bertahun-tahun perlahan-lahan mengikis begitu saja seiring berjalannya waktu perjalanan pernikahan mereka yang sudah berjalan setengah tahun.
" Kak, Kak Raffa sudah cari nama untuk bayi kita?" Azkia teringat akan perbincangan soal nama bayi mereka dengan Lusiana siang tadi di ruang kerja Raffasya.
" Iya aku sedang mencari-cari nama yang pas untuk nama anak kita. Kamu punya nama yang ingin kamu berikan?" tanya Raffasya meminta pendapat istrinya.
" Ada sih, beberapa nama yang aku siapkan. Keenan, Athaya, Naufal ..." Azkia menyebutkan beberapa nama.
" Naufal??" Raffasya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja dia teringat akan mimpinya beberapa bulan lalu saat dia belum menikah dengan Azkia.
" Kenapa, Kak? Kak Raffa suka nama itu?" tanya Azkia saat suaminya itu menyebut nama Naufal.
" Itu nama di mimpi aku, May." jawab Raffasya.
Azkia mengeryitkan keningnya mendengar suaminya itu menyebut soal mimpi.
" Aku pernah bermimpi kita punya anak, dan mimpi itu terjadi sebelum aku tahu kamu hamil. Aku bermimpi tiba-tiba saja di kamarku ini ada kamu dan seorang bayi laki-laki. Di mimpi itu kamu adalah istriku dan bayi laki-laki yang kamu panggil Naufal itu adalah anak kita." Raffasya akhirnya menceritakan tentang mimpinya dulu.
" Oh ya? Aku juga dulu pernah bermimpi kita menikah lho, Kak. Waktu itu aku mimpi menikah dengan Kak Gibran, tapi saat masuk kamar ternyata yang jadi suami aku itu Kak Raffa bukan Kak Gibran." Azkia pun menceritakan jika dia juga pernah bermimpi tentang Raffasya. " Dan waktu itu aku merasa kalau mimpi itu adalah mimpi paling menyeramkan yang pernah aku alami."
" Jadi kamu menganggap menikah denganku ini adalah mimpi buruk, hemm?" Raffasya mencubit cuping hidung istrinya mereaksi perkataan Azkia.
" Dulu itu kita 'kan selalu berantem, Kak. Nggak pernah akur. Siapa sangka kalau sekarang kita malah seranjang seperti ini." Azkia terkekeh menanggapi protes suaminya.
" Sekarang apa kamu menyesal menikah denganku?" Kini tangan Raffasya berganti membelai wajah cantik istrinya.
" Yang aku rasakan sekarang ini, ternyata Kak Raffa itu mempunyai sifat penyayang yang selama ini selalu Kak Raffa sembunyikan di balik sikap keras Kak Raffa." Azkia mengatakan yang sejujurnya tentang sikap suaminya selama beberapa bulan tinggal serumah dengan suaminya itu.
" Jadi apa itu sudah membuat kamu jatuh cinta sama aku?" tanya Raffasya menanti jawaban jujur istrinya.
" Kak Raffa cinta aku, nggak?" Azkia masih belum mau langsung mengakui perasaannya.
" Masih ditanya lagi ..." Raffasya memutar bola matanya. " Kamu ini gengsi banget mengatakan perasaan kamu, May."
" Kak Raffa cinta aku, nggak?" Azkia mengulang pertanyaannya tak memperdulikan perkataan suaminya.
" Kamu maunya gimana?" Melihat Azkia tidak menggubris protesnya, Raffasya justru menggoda istrinya.
" Ya aku mau dengar dulu Kak Raffa bilang, aku cinta kamu, Almayra ..." Jemari Azkia kini mengusap bibir yang selalu memberikan sentuhan penuh kenikmatan tiada tara.
Melihat tindakan istrinya, Raffasya tak berniat membalas pertanyaan Azkia. Raffasya justru mendekatkan bibirnya dengan bibir Azkia dan memulai memberikan sentuhan yang selalu membuat Azkia terbuai.
" Kak Raffa curang, aku 'kan minta Kak Raffa bilang kata cinta ..." protes Azkia saat penyatuan bibir mereka terjeda.
" Bukannya aku dulu yang tanya sama kamu tapi kamu malah mengelak dengan membalikkan pertanyaan ke aku? Kalau begini siapa dong yang curang?" balas Raffasya.
" Aku mau Kak Raffa bilang duluan. Kalau aku cinta tapi Kak Raffa nya nggak cinta, 'kan sakitnya tuh di sini, Kak." Azkia menunjuk dadanya seraya terkekeh.
" Sakitnya di mana? Sini aku lihat. Nggak kelihatan kalau kamu tutupi pakai baju harus dibuka dulu." Raffasya terkekeh menanggapi ucapan istrinya.
" Itu sih maunya Kak Raffa ...."
" Memang itu mau aku ..." Tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Raffasya langsung membuka satu persatu kancing baju tidur Azkia.
Azkia pun tak ingin ketinggalan. Dia juga segera meloloskan kaos yang dikenakan suaminya dari kepala suaminya itu hingga kini memperlihatkan tubuh berotot Raffasya. Kali ini Azkia mengangkat tubuhnya hingga terduduk kemudian dia menjatuhkan tubuh suaminya di tempat tidur. Tak lama dia pun langsung duduk di atas tubuh suaminya. Tepatnya di bawah perut Raffasya.
" Wow ..." Raffasya nampak terkesiap melihat aksi Azkia yang sepertinya siap memimpin permainan. " Woman on top?" Raffasya menyeringai. Tentu saja Raffasya merasa senang dengan tindakan Azkia saat ini.
" Ini jawaban pertanyaan Kak Raffa tadi." Azkia lalu menyingkirkan bagian atas baju tidurnya hingga kini memperlihatkan kedua bukit indahnya yang nampak segar karena hormon kehamilannya.
" Aaarrgghh, May." Sudah pasti ga irah Raffasya seketika membara melihat keberanian istrinya saat ini. Tangan Raffasya langsung mencengkram dan melakukan pijatan dan memilin bagian puncak berwarna pink milik istrinya.
Raffasya mengangkat kepala dan punggungnya untuk menyentuh bibir Azkia dan memberikan ciuman pembangkit ga irah dan melakukan pemanasan sebelum mereka melakukan aktivitas pamungkas dalam percintaan mereka.
Raffasya mengecap dan melu mat bibir kenyal Azkia dan mengeksplor rongga mulut Azkia dengan permainan lidahnya hingga mereka saling mende sah dan bertukar saliva.
Tangan Raffasya lalu melepaskan pakaian bagian bawah istrinya hingga saat ini tak ada satu benang pun yang menutupi tubuh istrinya. Dan dibalas Azkia dengan melucuti boxer suaminya hingga alat tempur suaminya itu langsung menegang sempurna.
Azkia memegang alat tempur Raffasya dengan satu tangannya dan mengelusnya perlahan. Dia lalu melirik ke arah suaminya.
" Kak Raffa jangan ketawain aku, ya?"
Raffasya tersenyum mendengar permintaan istrinya, " Lakukanlah ..." ucapnya memberi ijin kepada istrinya untuk menguasai alat tempur miliknya.
Tak perlu waktu lama alat tempur Raffasya langsung dikuasai rongga mulut Azkia. Azkia menikmati milik suaminya layaknya sedang menilmati ice cream yang sering dia beli di mini market.
" Ssshhh ... Oouugghh, May." Raffasya merasakan sensasi yang luar biasa yang diberikan istrinya itu.
" Cepat duduk di atasnya, May!" perintah Raffasya dan Azkia menuruti apa yang diminta Raffasya. Namun Azkia tidak ingin buru-buru melakukan penyatuan terlebih dahulu. Bibir Azkia justru kini mengabsen wajah, leher, dada hingga terus turun ke bawah. Bahkan perut buncitnya seolah tak menghalangi Azkia melakukan hal itu.
" Lakukan sekarang, May!" Libi do Raffasya sepertinya sudah naik hingga ubun-ubun membuatnya ingin segera melakukan penyatuan dengan istrinya.
Akhirnya Azkia pun mengabulkan apa yang diminta oleh Raffasya karena dia sendiri pun sudah terbakar ga irah hingga ingin cepat merasakan kenikmatan penyatuan mereka.
" Aaakkhh ..." Azkia mende sah saat intinya dimasuki milik suaminya yang sudah mengeras.
Azkia bergerak perlahan karena dia tidak ingin menyakiti bayi dalam rahimnya.
" Oouugghh, May." Raffasya kini mengambil alih posisi setelah beberapa saat Azkia yang memimpin permainan. Raffasya membaringkan tubuh Azkia, dia menciumi perut Azkia terlebih dahulu, dan dia menguasai inti Azkia yang sudah lembab dengan bagian lidahnya beberapa saat. Sebelum akhirnya dia berbaring di samping Azkia dan memasuki inti Azkia dengan miliknya . Dia membawa istrinya itu terbang melayang dengan memberikan sentuhan penuh kenikmatan.
Setelah berjalan beberapa waktu ...
" Aaakkhh, Kak. Aku nggak tahan ...."
" Oouugghh, Almayra. I love you ..." bisik Raffasya saat pelepasan mereka dapatkan bersama. Raffasya lalu menghujani wajah Azkia dengan kecupan masih dengan alat tempur yang belum terlepas dari inti istrinya itu.
" I love you too, Kak." sahut Azkia dengan suara lemah karena nafas yang tersengal-sengal.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️