MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Cincin Dan Maskawin



Setelah keluar dari kamar, Azkia menemui dan membawa Atika untuk masuk dan mengobrol di dalam kamarnya.


" Az, serius lu mau nikah? Kok lu nggak cerita ke gue sebelumnya, sih? Kalau gue tadi nggak tanya sama bokap lu, gue nggak tahu kalau lusa lu akan menikah." Atika memang sempat bertanya kepada Yoga, dan Yoga yang mengenal Atika sebagai salah satu sahabat dekat Azkia menyampaikan kabar pernikahan Azkia itu kepada Atika selesai Yoga mengajar siang tadi di kampus.


" Papa gue bilang apa?" Azkia penasaran dengan apa yang disampaikan Papanya kepada Atika.


" Tadi siang gue tanya bokap lu, kenapa lu cuti kuliah, bokap lu bilang kalau lu mau nikah." Atika menyampaikan apa yang didengar dari Yoga. Atika lalu melingkarkan lengannya ke pundak Azkia. " Jangan-jangan lu sudah nggak sabar kepingin mempraktekan apa yang kita lihat di acaranya Chelsea kemarin, ya?" bisik Atika seraya terkikik.


" Apaan, sih??" Azkia menjauhkan tangan Atika dari pundaknya dan duduk di tepi tempat tidur, membuat Atika justru tertawa lebih kencang dari sekedar terkekeh.


" Tapi gue turut bahagia melihat lu sama Kak Gibran akhirnya menikah juga, Az. Semoga gue juga segera menyusul setelah pangeran gue nongol. Gue juga mau dapat cowok kayak Kak Gibran, Az. By the way, Kak Gibran masih punya saudara cowok lagi nggak?" Atika menyeringai.


" Gue bukan nikah sama Kak Gibran, Tik." lirih Azkia, sudah pasti hati kecilnya kecewa karena dia bukan menikah dengan pria yang dicintainya itu.


" Hahh?? Maksud lu, Az?" tanya Atika dengan nada setengah berteriak karena terkejut dengan ucapan Azkia tadi.


Azkia menghempas nafas panjang kemudian mengedikkan bahunya.


" Az, maksud lu apa bilang bukan menikah dengan Kak Gibran? Lu jangan bercanda, deh? Lu lagi ngeprank gue? April mop sudah lewat kali, Az." Atika justru menganggap Azkia bercanda.


" Gue serius, Tik." Azkia nampak tidak bersemangat.


" Terus lu nikah sama siapa, dong? Kalau bukan sama Kak Gibran?" Atika menyipitkan matanya, masih belum percaya dengan perkataan Azkia.


" Kalau lu mau tahu gue nikah sama siapa? Lusa lu datang saja kemari."


" Az, lu serius? T-tapi gimana ceritanya lu nikah bukan sama Kak Gibran? Ini mustahil banget tahu nggak, sih? Az, apa lu dijodohkan sama orang tua lu dengan cowok lain gara-gara orang tua lu terjerat hutang? Hahay ... pasti Tuan muda yang kaya raya dan ganteng, ya? Sampai lu rela pisah dari Gibran." Keseriusan Atika dengan pertanyaannya diakhiri dengan kelakar oleh wanita itu.


" Kebanyakan baca novel, lu! Di dunia nyata itu nggak ada Tuan muda yang mau nikah karena untuk pelunasan hutang. Yang ada Aki-aki rentenir yang punya banyak istri terus nikahin gadis-gadis belia." Azkia membantah anggapan Atika tentang pernikahan karena terjerat hutang.


Atika tertawa mendengar sanggahan Azkia.


" Eh, tapi ... kalau lu nggak jadi nikah dengan Kak Gibran, berarti Kak Gibran nganggur, dong? Boleh dong, diwaris buat gue ..." Atika kembali tertawa seperti bahagia mengetahui Gibran menjomblo, membuat Azkia langsung mendelik ke arahnya.


" Haha, 'kan lu mau nikah, Az. Nggak apa-apa dong, gue deketin Kak Gibran?" Atika menyeringai.


" Hari ini sudah dua kali gue dibikin syok sama lu, Az. Pertama dengar lu mau nikah, kedua lu bukan nikah sama Kak Gibran. Syukur gue sampai hattrick syok nya dan berharap lu nggak kasih kejutan lain yang bisa bikin gue jantungan." Atika memutar bola matanya.


Azkia menatap Atika, dia sudah bersahabat dengan Atika hampir empat tahun. Dan selama itu mereka berteman, mereka tidak pernah mengalami selisih paham apalagi saling bermusuhan.


" Memang ada satu hal lagi yang belum lu tahu, Tik." Azkia berniat bercerita kepada Atika.


Atika menatap serius ke arah Azkia. " Apa?"


" Gue hamil."


" Apa??" Atika terperanjat sampai menjauhkan tubuhnya dari Azkia yang sama-sama duduk di tepi tempat tidur Azkia. Dia lalu menatap perut Azkia. " Az, lu serius?" Kini tangan Atika menyentuh perut Azkia.


" Tunggu, tunggu ... kalau lu hamil, kenapa lu nggak nikah sama Kak Gibran? Bukannya Kak Gibran itu cowok lu? Atau ... apa Kak Gibran nggak mau tanggung jawab atas perbuatannya?" selidik Atika masih dalam keterkejutannya.


Azkia menggelengkan kepalanya menepis dugaan Atika yang mengatakan jika Gibran tidak mau bertanggung jawab.


" Ceritanya panjang, Tik." Azkia lalu menceritakan apa yang terjadi padanya di Bandung beberapa waktu lalu sampai akhirnya dia ketahuan hamil.


" Astaga, Azkia ..." Atika langsung memeluk Azkia setelah mendengar masalah yang sedang dihadapi Azkia saat ini.


" Gue nggak sangka lu mengalami peristiwa seperti itu. Kenapa lu nggak cerita ke gue dari awal, Az?" Atika menyesali sikap Azkia yang tidak terbuka terhadapnya.


" Gue nggak kepikiran kalau gue bisa sampai hamil, Tik. Makanya gue diam nggak menceritakan hal ini." Azkia beralasan dengan sikapnya.


" Tapi apa yang terjadi sama lu kemarin itu tindakan kriminal lho, Az! Coba kalau saat itu nggak ada yang tolong lu, nggak kebayang akan seperti apa lu sekarang ini. Mungkin lu hamil dari orang yang nggak jelas dan video lu tersebar luas ... hiiii ... gue sampai merinding membayangkannya, Az ..." Atika seketika mengedikkan bahunya.


Azkia memejamkan mata seraya menggelengkan kepalanya jika mengingat kemungkinan itu terjadi. Apalagi dirinya, Atika saja yang tidak merasakan bisa merinding diceritakan soal peristiwa kemarin..


" Apa Kak Gibran sudah tahu masalah ini? Respon dia gimana? Pasti kecewa banget, ya?"


Azkia menganggukkan kepalanya. " Dia malah bersedia menikahi gue, Az. Tapi gue tolak, karena gue ..." Azkia menjeda kalimatnya karena dia tidak tahan untuk membendung air matanya yang tiba-tiba menggenang di bola mata indahnya untuk menetes.


Atika kembali merangkulkan lengannya kemudian mengusap punggung Azkia.


" Gue merasa bersalah sama Kak Gibran, Tik. Gue merasa, kalau gue sudah mengkhianati dia."


" Semua itu bukan salah lu, Az! Ini musibah, nggak ada orang yang bisa menolak musibah jika itu datang secara tiba-tiba." Atika mencoba menguatkan Azkia.


" Bersyukur pria itu mau bertanggung jawab atas perbuatannya, Az. Duh, gue jadi penasaran cowok itu siapa? Pasti bukan orang sembarangan, kan? Nggak mungkin juga lu mau menikah dengan dia kalau dia orang biasa-biasa saja."


Ddrrtt ddrrtt


Tiba-tiba saja ponsel Azkia berbunyi di sela-sela obrolan Azkia dan Atika. Azkia lalu mengambil ponselnya dan melihat nomer tidak dikenal yang muncul di layar ponselnya. Dia lalu mengangkat panggilan masuk itu.


" Hallo, Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam, lu sudah bangun?"


Azkia langsung menjauhkan benda pipih itu dari telinganya dan melihat kembali nomer yang saat ini menghubunginya. Dia tidak ingat jika itu adalah nomer milik Raffasya karena dia tidak menyimpan nomer yang Raffasya berikan kemarin.


" Hallo ..." kembali suara Raffasya terdengar.


" Sudah ..." sahut Azkia singkat.


" Oh, ya sudah ... klik ... tut ... tut ... " Raffasya langsung mematikan panggilan ponselnya membuat Azkia mengeryitkan keningnya seraya menatap kembali layar ponselnya itu.


" Siapa yang telepon, Az?" tanya Atika terkesan ingin tahu.


" Cowok itu."


" Cowok yang nolongin lu? Mana sini gue lihat orangnya kayak gimana?" Atika langsung merebut ponsel milik Azkia karena dia merasa penasaran dengan sosok pria yang akan menikah dengan Azkia.


" Panggilan telepon biasa, nggak ada fotonya." Azkia menyahuti.


" Tapi nomer ini ada kontak WA nya, kan? Pasti ada fotonya." Atika mengesave nomer itu di ponsel Azkia dan memberi nama kontak My Hubby. Lalu dia membuka aplikasi sosial media chating itu dan mencari kontak yang tadi dia masukan dan menemukan foto profil orang yang membuatnya penasaran.



" Ah, kenapa pakai nengok kiri segala sih fotonya.? Jadi nggak kelihatan jelas wajahnya Tapi gini juga sudah kelihatan kayaknya ganteng orangnya. Hmmm, pantas saja lu nolak Gibran yang bersedia menikahi lu. Papanya calon baby ganteng gini. Gue juga mau kali disuruh nikah sama dia, sih." Atika terkekeh dan menyodorkan kembali ponsel milik Azkia itu.


" Tik, gue minta jangan sebarin kehamilan gue ini ke teman-teman yang lain, ya! Gue kasihan Papa gue." Azkia meminta Atika menjaga rahasia tentang kehamilannya.


" Lu bisa pegang janji gue, Az. Lagipula kehamilan ini bukan karena kesalahan lu, tapi karena lu apes kena jebakan orang."


" Lu yang sabar saja, Az." Atika merangkulkan kembali tangannya di pundak Azkia. " Gue pamit dulu, deh. Lusa gue pasti datang kemari buat jadi saksi akad nikah lu."


" Oke, Tik. Thanks ya ...."


" Calon baby sehat-sehat ya di perut Mommy." Atika kembali mengusap perut Azkia yang masih rata. " Gue pulang ya, Az. Assalamualaikum ..." Atika kemudian berpamitan.


" Waalaikumsalam ..." Setelah berpamitan, Azkia pun mengantar Atika sampai di pintu kamarnya karena Atika melarang Azkia ikut turun ke bawah.


***


Tok tok tok


" Masuk saja ..." Azkia menyuruh orang yang mengetuk pintunya itu masuk karena setelah pintu diketuk, pintu kamarnya tidak juga dibuka dari luar.


" Assalamualaikum, Kia ..." Seorang pria tampan terlihat saat pintu kamar Azkia terbuka.


" Kak Alden?" Azkia langsung berlari menyambut kakak sulungnya itu.



" Jangan lari, Kia!" Alden yang menghampiri Azkia saat dia melihat adiknya itu berlari ke arahnya.


" Kak ..." Azkia seketika menangis dalam pelukan kakak laki-lakinya itu.


" Maafkan Kakak ya, Kia. Kakak nggak ada saat kamu sedang dalam masalah besar." Alden memeluk erat Azkia dan mengecup pucuk kepala adiknya itu.


Azkia semakin terisak kencang saat Alden mengatakan hal itu. Dia seakan mengadu kepada sang kakak tentang apa yang dideritanya saat ini.


" Kamu yang sabar, Kia. Walaupun kehamilan ini bukan yang kamu inginkan, tapi Kia harus tetap menjaga dan menyanyangi bayi dalam perut kamu ini. Bayi ini tidak bersalah, jadi jangan membencinya, meskipun Kia nggak suka sama ayah dari bayi ini." Alden mencoba menasehati Azkia. Dia sangat mengenal karakter adiknya yang keras kepala dan dia juga tahu bagaimana hubungan Azkia dengan Raffasya, walaupun kini mereka mempunyai hubungan kekerabatan dengan menikahnya Tante mereka dengan Om dari Raffasya.


" Kia, apa Kia benar-benar tidak tahu mereka yang berniat jahat ke Kia? Ini sudah terencana, apa Kia punya musuh? Mungkin orang yang ingin balas dendam sama Kia." Alden mencoba menyelidik tentang peristiwa yang dihadapi oleh Azkia.


" Aku nggak tahu, Kak." Azkia masih menutupi soal orang-orang yang hampir mencelakakannya itu.


" Kak Alden tahu sendiri kalau selama ini musuh Kia cuma Kak Raffa doang."


" Tapi justru Raffa yang menolong kamu, kan? Bisa jadi dia yang merencanakan, tapi apa untungnya buat dia? Dia justru mau bertanggung jawab dengan perbuatannya itu." Alden dibuat pusing dengan masalah Azkia ini.


" Memang bukan Kak Raffa, Kak." Azkia memang yakin Raffasya tidak terlibat dengan kasus ini.


" Ya sudah, kamu istirahat saja. Besok mau acara pengajian. Jangan tidur terlalu malam. Kakak juga lelah sekali mau istirahat." Alden mengacak rambut Azkia.


" Iya, Kak."


Setelah menyuruh Azkia istirahat, Alden pun kemudian meninggalkan kamar Azkia untuk beristirahat karena dia baru saja sampai dari Australia.


***


Azkia mengenakan gamis dan scraf hijab warna putih, karena selepas Dzuhur akan diadakan pengajian dan siraman sebelum diadakan acara akad nikah yang akan dilaksanakan keesokan harinya.


Azkia dihias dengan rias wajah tipis namun tak menutupi kecantikan anak kedua dari pasangan Yoga dan Natasha itu.


" Masya Allah, cantik sekali cucu Mamih ini." Mamih Ellena memperhatikan Azkia yang sejak tadi dirias oleh salon langganan Natasha.


" Mamih nggak sangka cucu Mamih ini sebentar lagi mau menikah. Mamih masih ingat bagaimana hebohnya waktu Mama kamu mau melahirkan kamu, Kia. Sampai Kak Alden ketinggalan di rumah sendirian. Sekarang kamu sudah mau menikah dan punya anak." Mamih Ellena mengusap perut Azkia. " Kasihan kamu, Kia. Mamih sedih melihat nasib kamu sepeti ini." Mamih Ellena meneteskan air matanya.


" Eyang Mamih jangan nangis, dong! Nanti Kia ikutan nangis, nanti make up nya luntur lagi." Azkia menggenggam tangan orang tua dari Papanya itu.


" Dulu Papa dan Mama kamu juga menikah karena mendadak, sekarang nasib itu berulang ke Kia. Semoga ini yang terakhir, tidak ada lagi hal-hal yang membuat keluarga kita tertimpa musibah seperti ini lagi." Mamih Ellena berharap.


" Iya, Eyang. Aamiin ..." Azkia menyahuti.


" Mih, Kia, ayo ke depan. Acaranya sudah mau dimulai." Natasha memanggil Azkia dan Mamih mertuanya yang tadi dirias di kamar tamu.


" Ta, kamu harus lebih extra mengawasi anak-anak kamu, terutama Aulia sama Aliza. Jangan sampai kejadian yang menimpa kamu dan Kia terulang lagi." Mamih Ellena langsung menegur Natasha saat melihat kemunculan Natasha di sana.


" Iya, Mih." Natasha menyahuti kemudian membantu Mamih Ellena berjalan ke luar kamar menuju ruangan tamu bersama Azkia yang akan mengadakan acara pengajian.


***


Raffasya menyuruh beberapa orang untuk merapihkan kamarnya karena selayaknya pasangan suami istri, sudah pasti dia pun berkeinginan membawa Azkia untuk tinggal di rumah itu.


Dia mengubah tatanan perabotan yang ada di kamarnya agar terasa nyaman untuk Azkia karena mood ibu hamil pasti akan berubah-rubah.


" Mas Raffa, dipanggil Ibu Mutia." Bi Neng menyampaikan pesan dari Nenek dari Raffasya itu.


" Nenek ada di mana?" tanya Raffasya kepada Bi Neng.


" Ada di dapur, Mas." sahut Bi Neng.


" Oh, ya sudah. Nanti Raffa ke sana, Bi."


" Baik, Mas."


" Pak, nanti kursi ayunan ini taruh di balkon saja, ya!" Raffasya memang sengaja membeli kursi ayunan untuk Azkia agar Azkia bisa menikmati suasana di balkon kamarnya untuk bersantai.


" Baik, Mas." sahut pekerja itu.


Setelah mengatur pekerja yang sedang merapihkan ruangan kamarnya, Raffasya kemudian menemui neneknya di dapur.


" Nenek panggil Raffa?" tanya Raffasya kepada Nenek Mutia.


" Raffa, apa kamu sudah menyiapkan keperluan untuk acara akad nikah besok pagi? Cincin dan maskawinnya sudah kamu siapkan semua, kan? " tanya Nenek Mutia.


Raffasya membelalakkan mata saat Nenek Mutia menanyakan soal cincin dan maskawin untuk pernikahannya besok hari.


" Astaga, Nek. Raffa lupa beli cincinnya." Raffasya menepuk keningnya karena dia sama sekali tidak kepikiran soal hal itu.


*


*


"


Bersambung ..


Happy Reading❤️