MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Kenapa Nggak Sekalian Diumumkan Di Radio?



Wanda terkesiap mendengar jawaban Azkia. Awalnya dia mengira Azkia akan tersinggung dan marah dengan ucapannya. Namun Azkia justru membanggakan Gibran ketimbang suaminya sendiri.


Azkia kemudian masuk ke dalam ruangan kerjanya, diikuti Wanda di belakangnya


" Bagaimana keadaan butik selama aku nggak ke sini, Mbak?" tanya Azkia kepada Wanda.


" Omzet lumayan lancar, Mbak. Mama sama Tantenya Mbak Kia kadang bergantian kemari buat memantau kondisi ke sini." Wanda menjelaskan.


" Oh, oke Mbak."sahut Azkia kemudian duduk di kursi kerjanya.


" Mbak Kia nanti akan urus butik ini lagi atau nggak setelah menikah ini, Mbak?" tanya Wanda kemudian.


" Pasti dong, Mbak. Aku tetap akan urus butik ini," sahut Azkia. " Tapi sementara aku nggak tiap hari datang ke sini, Mbak. Paling aku memantau dari rumah saja," lanjutnya.


" Hmmm, Mbak. Suami Mbak Kia itu yang pernah datang ke sini, kan? Saya kaget lho, waktu tahu ternyata Mbak Kia menikah bukan sama Mas Gibran. Kok bisa sih, Mbak? Kasihan Mas Gibran dong, Mbak. Cuma kebagian jagain jodohnya orang doang." Wanda berkomentar.


" Nggak usah bahas itu deh, Mbak." Azkia meminta Wanda tidak membahas masalah pernikahannya.


" Oh, maaf, Mbak." sahut Wanda. " Kalau gitu saya permisi, Mbak." Wanda memilih keluar dari ruang kerja Azkia.


Selepas Wanda keluar dari ruangannya giliran Raffasya yang masuk ke dalam ruang kerja Azkia.


" Kita makan siang dulu," ujar Raffasya.


Azkia menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.


" Baru juga sampai di sini, nanti sajalah ..." Azkia menolak diajak makan siang oleh suaminya.


" Kamu mau makan apa? Nanti aku pesankan biar makan di sini saja." Raffasya memberikan saran.


" Nggak usah, aku belum lapar."


" Walaupun kamu nggak lapar, tapi bayi di perut kamu itu tetap butuh asupan makanan."


" Jangan terlalu mengatur aku deh, Kak! Aku nggak suka diatur harus begini harus begitu!" Azkia menentang Raffasya.


" Aku berhak mengatur kamu karena aku suami kamu! Meskipun kamu bilang pernikahan ini pura-pura, nggak akan melemahkan status aku sebagai suamimu. Kamu tetap wajib tunduk dan patuh dengan perintahku!" tegas Raffasya.


" Aaarrgghh ...! Kenapa sih, aku harus terjebak pernikahan dengan Kak Raffa?!" Azkia bangkit seraya menggebrak meja.


" Suka atau tidak suka, kamu harus menerima takdirmu ini!" Raffasya kemudian melangkah ke arah pintu. " Aku tunggu di mobil," sambung Raffasya sebelum meninggalkan ruang kerja Azkia.


***


Saat ini Raffasya mengendarai mobil menuju restoran untuk makan siang. Azkia memang tidak bisa banyak menentang permintaan Raffasya. Walau dengan bersungut-sungut dan wajah memberengut, akhirnya dia mengikuti juga apa yang diinginkan oleh Raffasya.


" Kita makan soto Semarang saja, ya?" Raffasya memarkirkan mobilnya di halaman sebuah restoran soto Semarang yang letaknya tidak terlalu jauh dari Alexa Boutique.


Azkia memilih diam tak menjawab pertanyaan Raffasya. Namun dia tetap ikut turun dari mobil saat Raffasya membukakan pintu mobil untuknya dan berjalan masuk menuju restoran soto Semarang itu.


Raffasya memilih meja di sebelah kanan bangunan restoran itu.


" Silahkan, Mas." Pelayan restoran itu menyodorkan menu kepada Raffasya dan juga Azkia.


" Saya pesan nasi putih, soto, sama sate kerang, minumnya air mineral. Kamu apa, May?" tanya Raffasya kepada Azkia yang masih melihat-lihat daftar menu makanan.


" Aku soto, dicampur saja nasinya ya, Mbak. sama perkedel, minumnya orange juice." Azkia menyebutkan pesanannya.


" Baik, Mbak. Ada tambahan lainnya?" tanya Pelayan restoran mencatat pesanan Raffasya dan Azkia.


" Saya minta kerupuk ya, Mbak." ucap Raffasya


" Baik, saya siapkan dulu pesanannya, permisi." Pelayan restoran mengambil buku menu dan meninggalkan mereka berdua.


" Mau ke mana?" tanya Raffasya saat melihat Azkia berdiri.


" Mau kabur ..." Azkia menjawab asal pertanyaan. Raffasya.


" May, aku serius!" Raffasya sampai ikut bangkit dari tempat duduk dan mencekal lengan Azkia yang akan meninggalkannya.


" Apaan sih, Kak?! Lebay banget ..." Azkia langsung menepis tangan Raffasya di lengannya. " Orang aku mau ke toilet, kok! Memangnya Kak Raffa mau mengintip aku pipis??"Azkia sampai berkacak pinggang.


" Kamu aku tanya baik-baik jawabnya seperti itu! Apa susahnya bilang mau ke toilet??"


Azkia memilih langsung meninggalkan Raffasya dan tak ingin melanjutkan perdebatan dengan. suaminya itu.


" Jangan lama-lama di toiletnya!"


Azkia masih sempat mendengar suara Raffasya yang menasehatinya agar jangan terlalu lama di toilet. Yang ditanggapi oleh Azkia dengan memutar bola matanya.


Raffasya memilih kembali duduk dan membiarkan istrinya itu menyelesaikan urusannya di toilet. Dan kini pandangannya menatap kepada sekelompok orang yang baru masuk ke dalam restoran. Dia bisa menebak kalau mereka adalah sebuah keluarga. Nampak sepasang pria dan wanita paruh baya mengenakan hijab syar'i lalu seorang wanita muda cantik berhijab dan seorang gadis remaja tanggung mengenakan hijab juga. Anggota keluarga itu kemudian memilih meja di depan Raffasya.


" Kita di sini saja ya, Abi." suara wanita muda cantik terdengar begitu lembut berkata kepada Abinya.


" Ya sudah tidak apa-apa," sahut pria yang disebut Abi oleh wanita cantik tadi.


Wanita cantik itu duduk berposisi menghadap ke arah Raffasya hingga Raffasya bisa melihat jelas kecantikan wanita yang mempunyai tutur kata santun mirip dengan Rayya itu.


Tanpa sadar mata Raffasya tak berkedip mengagumi kecantikan wanita berhijab itu, hingga wanita itu secara kebetulan menoleh ke arah Raffasya. Wanita itu hanya menarik tipis senyuman yang terlihat samar dan menurunkan pandangannya karena pandangan Raffasya yang lekat menatapnya.


" Eheemm ...." Azkia tiba-tiba duduk di depan Raffasya dan menghalangi pandangan Raffasya yang sedang menatap wanita cantik tadi.


" Mirip Rayya, ya?" tanya Azkia menyindir Raffasya yang sejak tadi terlihat asyik menatap wanita cantik itu.


Raffasya mengerjapkan matanya karena ketahuan asyik menatap wanita cantik berhijab di depannya, membuat Azkia tersenyum sinis.


" Silahkan ..." Pelayan restoran menaruh pesanan makanan yang dipesan oleh Raffasya dan Azkia.


Azkia kemudian menyantap semangkuk kecil soto ayam dengan lahapnya.


" Apa kenyang makan segitu?" tanya Raffasya kepada Azkia. " Tambah lagi ya makannya?"


" Nggak usah!" ketus Azkia. " Aku mau pulang ke rumah saja." Selesai menghabiskan semangkuk soto dan menengguk orange juice, Azkia langsung bangkit dari duduknya.


" Mau ke mana lagi?"


" Mau pulang."


" Tunggu sebentar aku belum selesai."


" Ya sudah, selesaikan saja makanannya! Lama-lamain sekalian, biar puas memandangnya," ketus Azkia kemudian melangkah ke luar restoran.


" May, tunggu!" Raffasya mengambil dompet di saku celana jeans nya. " Mbak, tolong ini untuk bayar pesanan saya di meja itu." Raffasya mengeluarkan uang dua ratus ribu rupiah kepada salah seorang pelayan yang dilintasinya. Membuat pelayan itu kebingungan karena Raffasya langsung berlalu pergi.


Sesampainya di tempat parkir Raffasya tidak mendapatkan Azkia di dekat mobilnya. Dia mengedar pandangan mencari keberadaan istrinya itu.


" May! Kamu di mana?" Raffasya mencari keberadaan istrinya.


" Di mana dia?" Raffasya kebingungan karena tidak juga nampak Azkia di hadapannya.


" Almayra!!" seru Raffasya terus mencari-cari.


" Bang, tadi lihat cewek cantik pakai baju warna biru muda keluar dari restoran, nggak?" tanya Raffasya kepada petugas parkir.


" Oh ya tadi memang ada, Mas. Tapi tadi jalan ke arah sana." Petugas parkir itu menunjuk ke arah sebelah barat.


" Makasih, Bang." Raffasya mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah memberinya informasi, kemudian menuju mobilnya untuk mengejar Azkia.


Raffasya mengedar pandangan ke arah trotoar mencari di mana Azkia berada, hingga dia melihat istrinya itu sedang duduk di halte bersama dengan dua orang pria yang duduk di samping kanan dan kirinya. Bahkan salah seorang pria yang ada di samping Azkia itu mengulurkan tangannya ke arah Azkia.


***


Begitu keluar dari restoran, Azkia mempercepat langkahnya meninggalkan restoran dan memesan aplikasi ojek online untuk mengantarnya pulang ke rumah suaminya. Dia berjalan menyusuri trotoar mencari tempat yang nyaman untuk menunggu mobil pesanannya itu datang hingga dia menemukan halte. Azkia kemudian duduk di kursi yang kosong di halte itu.


" Permisi ..." Azkia berkata kepada kedua pria muda di sampingnya. Jika dilihat dari penampilan kedua pria itu adalah mahasiswa seperti dirinya.


" Iya." jawab Azkia singkat.


" Bahaya lho Cewek cantik jalan sendiran saja." celetuk pria lain di sebelah kiri Azkia.


" Memang kenapa?" tanya Azkia santai.


" Bahaya kalau ketemu pria jahat."


" Kalian berdua nggak jahat, kan?" tanya Azkia kemudian.


" Sudah pasti kita pria baik, dong!"


" Kita baik, kok."


Kedua pria itu langsung menyahuti berbarengan.


" Berarti aku aman, kan?" sahut Azkia enteng.


" Iya, dong." jawab pria di samping Azkia. " Boleh kenalan, nggak? Gue Teddy ..." Pria di sebelah kanan Azkia mengulurkan tangannya.


" Dia itu sudah menikah, jadi jangan ganggu bini orang!" Raffasya yang turun dari mobilnya langsung keluar dari mobilnya dan mendekati Azkia.


Sontak Azkia dan kedua pria di samping Azkia langsung menoleh ke arah Raffasya.


" Ayo, pulang!" Raffasya langsung menarik lengan Azkia dan menyuruhnya mengikuti dirinya.


" Aku nggak mau ikut Kak Raffa!" Azkia menolak diajak oleh Raffasya.


" Bro, jangan kasar dong sama cewek!" tegur Teddy menahan tangan Raffasya yang menarik Azkia.


" Dia bini gue, lu mau apa??" tantang Raffasya membusungkan dadanya.


Azkia yang melihat Raffasya terlihat mulai terpancing emosi langsung menarik tangan suaminya itu untuk membawa Raffasya menjauh dari halte.


" Kak Raffa jangan cari ribut, dong! Malu-maluin saja!" Azkia mengomel karena sikap suaminya tadi yang berbicara kasar kepada pria di halte.


" Oh ... kamu senang didekati sama pria-pria tadi? Nggak kapok dijebak seperti dulu lagi?" Raffasya merasa kesal karena Azkia masih saja bersikap teledor.


Ddrrtt ddrrtt


Ponsel Azkia tiba-tiba berbunyi dan menampilkan aplikasi ojek online yang dipesannya di layar ponselnya. Azkia segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


" Halo, dengan Mbak Azkia? Saya dari G-Jek, posisinya di mana ya, Mbak? Saya sudah di depan halte sesuai titik." tanya diver mobil yang Azkia pesan.


" Oh iya sebentar ya, Pak. Saya di belakang mobil bapak, kok." Azkia menoleh ke arah mobil yang berhenti di dekat halte itu.


" Aku pulang pakai ojek online." Azkia hendak melangkah meninggalkan Raffasya namun Raffasya menahan langkah Azkia dengan melingkarkan tangannya di pinggang Azkia.


" Nggak usah macam-macam!" ancam Raffasya menatap dengan tajam ke mata Azkia.


" Lepaskan, Kak! Itu mobilnya sudah datang." Azkia menunjuk mobil pesanan yang menunggunya di depan halte.


Raffasya menoleh ke arah mobil yang ditunjuk Azkia kemudian melepaskan belitan tangannya di pinggang Azkia kemudian mendekati mobil itu.


Tok tok


Raffasya mengetuk kaca jendela pintu mobil ojek online itu.


" Pak, pesanan istri saya tadi sudah dibayar atau belum?" tanya Raffasya.


" Sudah dari aplikasi, Mas."


" Ya sudah, istri saya nggak jadi pakai mobil Bapak. Tapi Bapak jalankan saja sesuai orderannya, ya." Raffasya kemudian mengeluarkan uang seratus ribuan dan memberikannya kepada driver itu. " Ini uang tip nya."


" Wah, terima kasih, Mas."


" Sama-sama, Pak. Maaf ya, Pak." Setelah itu Raffasya membawa Azkia ke dalam mobilnya kembali.


" Kak Raffa kenapa buru-buru pergi dari restoran tadi? Sudah puas memandang cewek cantik tadi?" sindir Azkia kepada suaminya itu.


Raffasya melirik ke arah Azkia. " Kenapa memangnya? Kamu cemburu?" Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas.


" Nggak usah ge-er ... siapa juga yang cemburu?? Aku justru malah senang kalau Kak Raffa tertarik sama wanita lain. Jadi aku nanti punya alasan yang tepat kalau mengajukan perceraian setelah bayi ini lahir." ketus Azkia.


Raffasya mendengus kasar. Tiap kali Azkia berkata tentang perceraian setelah bayi mereka lahir, rasanya dia tidak bisa terima. Sejujurnya dia tidak ingin anaknya mengalami apa yang dia alami dulu.


***


" Siang, Mas Raffa ..." Para pegawai Raff cafe menyapa Raffasya yang siang itu menggenggam tangan Azkia masuk ke dalam cafe. Tentu saja kehadiran Azkia di cafe itu menyita perhatian karyawan dari cafe milik Raffasya itu.


" Siang ..." sahut Raffasya terus berjalan menaiki anak tangga dengan tangan menggenggam tangan Azkia. Sebentar Raffasya menggenggam tangan istrinya karena tidak ingin istrinya kabur lagi seperti tadi. Apalagi Azkia sendiri menolak di ajak ke cafe milik suaminya itu.


" Siang, Mas Raffa." sapa Ivy, penyiar yang berpapasan dengan Raffasya di atas tangga. " Jadi ini istrinya Mas Raffa, ya?" tanya Ivy saat mendapati Azkia di samping Raffasya.


" Hai, Mbak. Perkenalkan saya Ivy, penyiar di sini." Ivy langsung mengulurkan tangannya mengajak Azkia berkenalan.


" Kia ..." Azkia membalas uluran tangan Ivy.


" Ya ampun, Mas Raffa. Istrinya cantik gini, pantas saja nggak suka lirik-lirik cewek lain." Ivy berkelakar seraya terkikik. " Eh, maaf lho, Mbak Kia. Saya hanya bercanda." Ivy langsung minta maaf karena dia melihat Azkia tidak bereaksi apa-apa atas candaannya.


" Nggak apa-apa, Mbak." Azkia akhirnya menyahuti ucapan Ivy tadi.


" Oh ya, Vy. Adam mana?" tanya Raffasya kemudian.


" Mas Adam tadi kayaknya keluar deh, Mas."


" Oh ..." Raffasya hanya menjawab dengan kata 'Oh' saja. " Kamu makan apa, May?" tanya Raffasya kepada Azkia.


" Aku 'kan sudah makan tadi."


" Tapi tadi itu sedikit banget, mana kenyang makan semangkuk kecil itu."


" Siapa bilang nggak kenyang? Aku kenyang, kok!" tepis Azkia.


" Tapi makanan segitu nggak cukup untuk kamu dan juga bayi di perut kamu, May!"


Azkia terbelalak saat Raffasya menyinggung soal bayi di perutnya. Dia lalu melirik ke arah Ivy yang masih berdiri di dekat mereka. Dia pun melihat Ivy yang nampak terkejut dengan ucapan Raffasya tadi.


" Hmmm, Vy. Tolong suruh pegawai lain antar daftar menu makanan ke ruangan saya!" Raffasya yang menyadari jika dia telah kelepasan berbicara langsung memberi perintah kepada Ivy.


" B-baik, Mas." Ivy langsung mengiyakan perintah Raffasya.


" Dan masalah yang kamu dengar tadi, saya harap cukup kamu saja yang tahu." Nada bicara Raffasya penuh penekanan.


" B-baik, Mas." Ivy lalu meninggalkan Raffasya dan Azkia.


Sementara Azkia langsung menatap tajam suaminya itu.


" Kenapa nggak sekalian saja diumumkan di radio kalau aku ini sedang hamil anak Kak Raffa??" geram Azkia kemudian berjalan ingin masuk ke dalam ruang kerja Raffasya. Namun ternyata pintu ruangan kerja Raffasya masih terkunci membuat dia menoleh ke arah suaminya itu.


" Bukakan pintunya dong, Kak! Ngapain masih berdiri di sana saja?!" ketus Azkia mengomentari Raffasya yang tidak sigap mengikuti langkahnya.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading ❤️