MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Jangan Baper Lagi



Azkia berlari di koridor rumah sakit menunju ruang ICCU tempat di mana Dad David ditangani.


" Ma, Opa David kenapa?" tanya Azkia saat melihat Natasha mondar-mandir di koridor dengan ponsel di tangannya. Dia juga melihat mata Mamanya itu berair.


" Kia." Natasha langsung memeluk tubuh Azkia seraya terisak.


" Ma, ada apa? Kenapa Mama menangis? Apa yang terjadi dengan Opa David sih, Ma?" Azkia merasa penasaran karena Mamanya itu tiba-tiba terisak.


Tak jauh dari Azkia berdiri, dia melihat Oma Linda sedang terduduk lemas dengan Azzahra yang merangkulnya. Dia lalu melihat Gavin berbicara serius dengan dokter, seketika perasaan tak enak menghinggapi hatinya.


" Ma, ada apa? Opa David kenapa?" Azkia mengurai pelukan Mamanya.


" Opa David meninggal, Kia." Natasha kembali terisak. Sejak bertemu dengan Dad David, Natasha yang mempunyai sifat yang supel dan mudah berinteraksi dengan orang lain memang begitu akrab dengan Dad David. Dia sudah menganggap Dad David seperti Papanya sendiri, seperti menganggap Gavin seperti kakak kandungnya sendiri.


" Innalillahi wainnaillaihi rojiuun. Opa meninggal karena apa, Ma?" tanya Azkia yang kaget mendengar kabar meninggalnya kakek dari Rayya.


" Tadi Oma Linda menemukan Opa David terjatuh di ruang kerjanya. Dokter bilang karena gagal jantung." Natasha menceritakan apa yang menjadi penyebab Dad David meninggal dunia.


" Ya Allah, Ma. Opa selama ini kelihatan sehat-sehat saja."


" Yank, bagaimana?" Tiba-tiba suara Yoga terdengar di dekat mereka. Pria yang berprofesi sebagai dosen itu memang dikabari oleh Natasha tentang Dad David saat Yoga masih berada di kampus.


" Mas ..." Natasha kini memeluk suaminya lalu kembali menangis di pelukan suaminya itu.


Azkia kemudian berjalan mendekati Tante Linda dan Azzahra.


" Auntie ..." Azkia sedikit ragu mendekat ke arah Azzahra.


" Kia ..." Azzahra menggenggam tangan Azkia.


" Oma, Oma yang sabar, ya. Opa pasti akan mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Kia juga ikut sedih, Kia juga sayang sama Opa David." Azkia yang akhirnya duduk di samping Tante Linda langsung merangkul tubuh wanita itu dan menyandarkan kepalanya di pundak Tante Linda yang nampak berduka karena kehilangan suaminya.


***


Rumah megah Dad David nampak ramai dengan para tamu yang bertakziah ke rumah pengusaha yang memiliki hotel bintang lima di beberapa kota besar di Indonesia itu. Suasana duka menggelayuti setiap penghuni rumah Dad David, tak terkecuali Azkia.


" Ma, apa Rayya sudah diberitahu kalau Grandpa nya meninggal?" tanya Azkia kepada Natasha yang selesai membacakan Yasin di depan jenazah Dad David.


" Jangan beri tahu Rayya dulu, Kia. Biar Daddy sama Mommy nya saja yang memberitahu Rayya soal berita ini. Posisi Rayya sekarang ini sedang diluar negeri, kita mesti hati-hati jika ingin menyampaikan berita duka." Yoga yang mendengar anaknya bertanya langsung menjawab dengan kalimat yang sangat bijak.


" Kamu jangan bikin status apa-apa dulu, Kia." Natasha menambahkan.


" Iya, Ma." Azkia pun akhirnya menganggukkan tanda setuju dengan permintaan Mamanya.


***


Acara pemakaman Dad David diwarnai dengan aura kesedihan di wajah-wajah sanak dan keluarga David Richard.


Azkia menoleh ke arah Rayya yang masih saja terisak seraya memegang batu nisan Dad David.


" Ray, sudah jangan menangis terus. Ayo kita pulang ..." Azkia menepuk pundak Rayya namun tubuh Rayya tiba-tiba terkulai jatuh menimpa tubuh Azkia hingga membuat Azkia memekik. " Astaghfirullahal adzim, Rayya pingsan ...!" Azkia yang berada tepat di samping Rayya mencoba menahan tubuh Rayya yang menimpa tubuhnya.


Dan saat dia berteriak soal Rayya, tiba-tiba saja dia melihat Ramadhan mendekat dan langsung mengangkat tubuh Rayya yang terkulai lemas.


Azkia langsung mengerjapkan matanya seakan tak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi di depannya.


" Kamu nggak apa-apa, Kia?" tanya Yoga yang mengulurkan tangannya kepada putrinya itu.


" Biar Gibran saja yang bantu Kia, Om." Gibran langung membantu Azkia hingga bangkit dan membersihkan baju Azkia yang terkenal tanah.


" Ya sudah, nanti kamu tolong antar Kia pulang ke rumah ya, Gibran! Om, Tante dan anak-anak pakai mobil sendiri ke rumah Om David lagi."


***


" Kok melamun?"


Suara Gibran membuat Azkia tersentak dan tersadar dari lamunannya.


" Hmmm, apa Kak?" Azkia menoleh ke arah Gibran yang sedang mengendarai mobil di sebelahnya.


" Kenapa melamun? Melamunkan apa? Masih sedih karena kepergian Opa David, ya?" Gibran mengusap kepala Azkia dengan penuh kasih sayang.


" Sedih sih sudah pasti, Kak. Rasanya kehilangan banget." Azkia mendesah. " Tapi semua itu sudah takdir, kita nggak akan tahu kapan kita akan kembali kepada-Nya." Azkia berusaha seikhlas mungkin menerima kenyataan.


" Makin pinter pacar aku ini." Gibran kini mengusap wajah cantik Azkia.


Azkia menarik satu sudut bibirnya ke atas. Jika tidak sedang dalam suasana berkabung mungkin dia akan antusias menanggapi ucapan kekasihnya itu.


" Kak, tadi Kak Gibran lihat waktu Kak Rama lari dan menggendong Rayya?"


" Iya, kenapa memangnya? Kamu ingin digendong juga?' tanya Gibran terkekeh. Namun Azkia tidak membalas candaannya.


" Aku nggak tahu gimana reaksi Rayya kalau tahu Kak Rama yang menolongnya tadi," ucap Azkia.


" Memang kenapa?" tanya Gibran kembali.


" Kak Gibran lupa kalau Rayya itu suka sama Kak Rama? Terus perjodohan mereka itu gagal dan akhirnya bikin Rayya memilih kuliah di luar negeri?" Azkia memang menceritakan kepada Gibran soal kisah Rayya.


" Iya, Kakak ingat, kok! Tapi itu 'kan sudah lama. Memangnya Rayya masih mengharapkan Rama? Kalau dengar cerita kamu tentang Rayya selama di Italia, sepertinya dia sudah move on dari Rama. Apalagi kamu bilang ada teman pria dia yang baik di sana, yang dapat lampu hijau dari Om Gavin untuk berteman dengan Rayya, siapa itu namanya?"


" Simon ...."


" Ah, iya Simone ...."


" Simon dong sebutnya bukan Simone!" protes Azkia.


" Lah, memang namanya Simone, kan?"


" Iya, tapi kalo Inggris itu sebutnya Simon, dibacanya saymen."


" Tapi dia itu orang Italia bukan orang Inggris Dan dibacanya sesuai tulisan Si mo ne bukan saymen." Gibran merevisi pengucapan nama yang salah diucapkan olah Azkia.


" Sudah ah, kenapa juga ribet urusan nama orang!" Azkia meminta Gibran menghentikan pembahasan nama Simone membuat Gibran terkekeh.


" Tapi kalau sama Simone itu, kayaknya hanya sebatas teman saja deh, Kak. Soalnya ada perbedaan di antara mereka." Azkia berpendapat.


" Tapi setidaknya ada kemajuan untuk Rayya bisa bersahabat dengan pria, kan? Mungkin sekarang ini dengan Simone, siapa tahu besok-besok lagi akan ada pria lain yang bisa dekat dengan Rayya dan Rayya akan bisa membuka hatinya untuk pria lain selain Rama."


" Dan Kakak minta, sebaiknya kamu jangan ceritakan kejadian Rama yang menggendong Rayya hingga ke mobil kepada Rayya. Takutnya dia jadi baper lagi dengan perasaannya terhadap Rama. Kalaupun dia harus tahu jika Rama yang menggendongnya, asal jangan kamu yang menceritakan hal itu." Gibran menasehati Azkia agar menjaga lisannya agar tidak membuat Rayya jadi salah tingkah lagi terhadap Ramadhan.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️