MARRY YOU, MY ENEMY

MARRY YOU, MY ENEMY
Raffa Siap Bertanggung Jawab



Azkia sedang membaca artikel seputar ibu hamil di laptopnya. Dia sedang mencari informasi bagaimana mengatasi morning sickness yang setiap hari dia alami. Sesuatu yang dirasa sangat menyiksanya beberapa hari ini.


" Kia ...."


Azkia langsung menolehkan wajahnya ke arah pintu saat dia mendengar suara Neneknya dari balik pintu kamarnya.


" Iya, Nek!" teriak Azkia menjawab panggilan Neneknya itu.


" Kia sedang apa?" tanya Mama Nabilla saat membuka pintu kamar Azkia.


" Lagi cari informasi cara mengatasi mual-mual, Nek." sahut Azkia.


" Itu adalah hal yang wajar dialami oleh wanita hamil. Nanti juga akan bilang dengan sendirinya seiring usia kehamilan kamu bertambah." Mama Nabilla menjelaskan. " Oh ya, ada teman Kia di luar, Nak."


Kening Azkia berkerut mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Neneknya tentang teman yang mencarinya.


" Teman Kia? Siapa, Nek?" Azkia merasa bingung, siapa teman yang dimaksud Mama Nabilla itu? Dia memang memberitahu Atika jika sementara ini dia akan cuti kuliah, namun dia tidak mengatakan jika saat ini dirinya sedang berada di Bandung.


" Sebaiknya Kia temui dulu orangnya," ucap Mama Nabilla.


" Iiihhh, Nenek kok pakai acara main tebak-tebakan segala, sih?" Namun Azkia akhirnya bangkit dari kursi kemudian berjalan ke luar kamarnya karena dia sendiri merasa penasaran dengan sosok teman yang dimaksud oleh Neneknya itu.


Azkia bergegas menuju ruang tamu di rumah Mama Nabilla, dan matanya langsung membulat sempurna saat melihat kehadiran Raffasya di ruang tamu rumah Neneknya itu, hingga membuatnya berputar arah ingin kembali ke kamar.


" Asataghfirullahal adzim ...!"


Azkia yang tidak menyadari jika Mama Nabilla mengikuti langkahnya di belakang membuatnya menabrak tubuh Mama Nabilla saat dia berputar arah ingin kabur.


Suara Mama Nabilla membuat Raffasya yang awalnya tidak menyadari kehadiran Azkia di sana langsung menoleh ke arah suara Mama Nabilla.


" Kia mau ke mana? Kenapa tidak kamu ditemui teman Kia itu." Mama Nabilla menunjuk ke arah Raffasya.


" Nek, Kia nggak mau ketemu sama orang itu!" Azkia ingin kembali ke kamarnya namun tangan Mama Nabilla mencengkram lengan Azkia agar tidak pergi.


" Memangnya kenapa, Kia?" tanya Mama Nabilla heran.


" Nek, sebaiknya Nenek usir saja orang itu! Kia nggak mau ketemu!" Azkia bersikukuh tak ingin menemui Raffasya.


" Lho, kenapa diusir? Dia itu 'kan keponakan Om Raditya." Mama Nabilla dibuat semakin bingung dengan tingkah cucunya itu.


" May ..." Raffasya yang melihat Azkia ingin menghindar darinya segera mendekati Azkia dan Mama Nabilla. " May, kita harus bicara sekarang!" tegas Raffasya.


" Nggak ada yang perlu dibicarakan! Lagipula ngapain sih Kak Raffa datang-datang ke sini? Ini tuh rumah Nenek aku, Kak Raffa sebaiknya pergi dari sini!" usir Azkia seraya menunjuk jari telunjuknya ke arah pintu.


" Kia ...! Jangan seperti itu. Dia ini keponakan Tante kamu juga, Nak." Mama Nabilla menegur Azkia yang dianggapnya tidak sopan terhadap Raffasya.


" Dia itu orang jahat, Nek! Dari kecil dia itu selalu mengganggu Kia, Nek! Kalau Nenek nggak percaya tanya saja sama Tante Mara, orang ini selalu bikin masalah!" Azkia menuding ke arah Raffasya, membuat Mama Nabilla benar-benar kebingungan dengan sikap putri dari anak pertamanya itu.


" May, tolong lu jangan keras kepala seperti ini! Yang lu hadapi sekarang ini hal serius." Raffasya pun tidak ingin menyerah begitu saja, karena saat ini di dalam perut Azkia sudah ada janin dari benih yang dia tanamkan di rahim Azkia.


" Kak Raffa itu jangan sok tahu, ya! Aku itu nggak punya masalah apa-apa!" tepis Azkia menyangkal kalau dirinya memang sedang berada dalam masalah.


" Lu nggak bisa menutupinya sekarang, May! Gue tahu saat ini lu sedang hamil."


Azkia membulatkan kembali bola matanya saat Raffasya mengetahui jika dirinya memang sedang berbadan dua saat ini.


" Nggak usah ngaco deh, Kak!" hardik Azkia tetap menepis.


" Nek, bisa saya bicara dengan Nenek sebentar?" Raffasya yang mendapati sikap keras Azkia memilih untuk berbicara dengan Mama Nabilla.


" Jangan, Nek! Jangan dengar dia, Nek!" Azkia langsung menghalangi Raffasya yang ingin berbicara kepada Neneknya dengan merentangkan tangannya.


" Kia kamu ini apa-apaan? Biarkan Raffasya bicara sama Nenek." Mama Nabilla melarang Azkia yang menghalangi Raffasya yang ingin berbicara dengannya.


" Nenek nggak usah dengar dia, Nek! Nggak penting juga dengar dia ngomong!" Azkia menatap sinis ke arah Raffasya karena dia merasa khawatir jika Raffasya akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada Neneknya.


" Belum tentu apa yang ingin Raffasya sampaikan ke Nenek itu tidak penting, Kia." Nenek meminta Azkia menurunkankan tangannya yang membentang seolah menghalangi. " Raffasya mau bicara apa dengan Nenek?" tanya Mama Nabilla kepada Raffasya.


" Apa yang ingin dia katakan itu nggak penting, Nek! Kenapa Nenek mau dengar dia daripada cucu Nenek sendiri, sih?" Azkia langsung menarik tangan Raffasya menyeret pria itu agar keluar dari rumah Mama Nabilla.


" Kak Raffa pergi sana!" Azkia mendorong tubuh Raffasya agar meninggalkan rumah Neneknya.


" Gue nggak akan pergi sebelum kita bicarakan soal kehamilan lu, May!" tegas Raffasya yang menolak pergi dari rumah mertua dari Om nya itu.


" Ini sebenarnya ada apa sih, Kia? Kenapa Kia mengusir Raffasya seperti itu?" Mama Nabilla mengikuti langkah Azkia dan Raffasya.


" Nek, saya kemari karena saya hhmmpptt ..." ucapan Raffasya terhenti karena telapak tangan Azkia sudah menyumpal mulut Raffasya terlebih dahulu hingga dia tidak dapat mengakhiri kalimatnya.


" Astaghfirullahal adzim, Azkia! Kenapa Kia kasar seperti ini?" Mama nabilla dibuat pusing oleh tingkah cucu keduanya itu.


" Sebenarnya ada apa kalian berdua ini? Nenek jadi curiga dengan tingkah kalian." Mama merasakan ada yang aneh dengan tingkah Azkia dan Raffasya.


" Kia, biarkan Raffasya duduk dan bicara dengan Nenek!" Kini Mama Nabilla bicara dengan tegas dan serius kepada Azkia membuat Azkia melepaskan tangannya dari mulut Raffasya.


" Awas saja kalau berani bicara macam-macam!" bisik Azkia bernada mengancam dengan mata melotot ke arah Raffasya kemudian berjalan mendekati Neneknya.


" Memangnya apa yang ingin Raffasya sampaikan kepada Nenek?" tanya Mama Nabilla setelah mempersilahkan Raffasya kembali duduk. Sementara Azkia yang duduk di samping Nenek Nabilla terus menatap tajam ke arah Raffasya seolah menebar ancaman ' coba saja berani mengatakan kepada Nenek, aku bu nuh kamu sekarang juga'


" Saya minta maaf, Nek. Kalau yang ingin saya katakan ini ..." Raffasya melirik ke arah Azkia yang sedang menatapnya dengan sorot mata seakan ingin menerkamnya.


" Raffa ingin mengatakan apa?" tanya Mama Nabilla kembali.


" Nek, sebaiknya Nenek pikirkan kesehatan Nenek. Jangan dengarkan kabar yang nggak baik yang bisa mengganggu kesehatan Nenek." Azkia mengusap lengan Neneknya. Dia sengaja menyinggung soal kesehatan Mama Nabilla agar Raffasya tidak mengatakan apa-apa.


" Kesehatan Nenek baik-baik saja, Kia." Mama Nabilla menegaskan jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kesehatannya. " Jadi apa yang ingin Raffasya katakan?" tanya Mama Nabilla kembali. " Dan Kia, jangan memotong perkataan orang!" Mama Nabilla memperingatkan Azkia agar tidak menghentikan apa yang akan dikatakan Raffasya kepadanya.


" Sebenarnya ..." Raffasya memikirkan perkataan Azkia soal kesehatan Mama Nabilla. Dia pun mempunyai Nenek yang usianya mungkin seumuran dengan Mama Nabilla. Dia memikirkan mungkin apa yang akan dikatakannya akan mempengaruhi kesehatan Mama Nabilla.


" Sebenarnya Raffa diminta bantuan Om Radit untuk membujuk Almayra agar mau kembali ke Jakarta, Nek." Raffasya terpaksa harus berbohong soal masalah yang sebenarnya kepada Nenek dari Azkia. Mungkin lebih baik dia bicara langsung kepada orang tua Azkia, daripada beresiko buruk jika memberitahukan Mama Nabilla jika dialah ayah dari bayi yang dikandung oleh Azkia.


" Oh masalah itu, Nenek kira ada apa ..." sahut Mama Nabilla.


Sementara Azkia sendiri langsung menarik nafas lega karena Raffasya tidak membuka rahasianya.


" Iya, Nek. Jadi apa saya boleh bicara dengan Almayra sebentar, Nek?" tanya Raffasya memohon.


Mama Nabilla menghela nafas sejenak seraya memperhatikan Raffasya dan Azkia bergantian.


" Baiklah, silahkan kalian berbicara, Nenek tinggal dulu tapi jangan sampai bertengkar seperti tadi." Mama Nabilla lalu berdiri kemudian berjalan meninggalkan Raffasya juga Azkia.


" Kenapa sih, Kak Raffa ke sini segala?" ketus Azkia setelah Neneknya menghilang dari pandangannya.


" Gue akan bertanggung jawab atas kehamilan lu, May." ucap Raffasya.


" Dengar ya, Kak! Aku nggak perlu tanggung jawab dari Kak Raffa! Jadi jangan pernah sekalipun menceritakan tentang kejadian itu ke seluruh anggota keluargaku, termasuk juga kepada Om Radit! Karena aku nggak akan mau menerima pertanggung jawaban Kak Raffa dalam bentuk apapun! Aku rasa semua itu sudah jelas, jadi jangan pernah cari aku lagi!" Azkia kemudian bangkit ingin meninggalkan Raffasya namun tangan Raffasya mencekal lengannya.


" Tapi, May ...."


" Lepasin!" Azkia menepis tangan Raffasya kemudian pergi meninggalkan pria itu sendirian di ruang tamu Mama Nabilla.


***


Raffasya memutuskan segera kembali ke Jakarta saat itu juga setelah dia kesulitan bicara baik-baik dengan Azkia. Raffasya berniat akan memberikan pengakuan langsung kepada kedua orang tua Azkia.


Lewat dari jam delapan malam Raffasya sampai ke rumah Yoga, dia sampai melupakan kedua adik sepupunya yang dititipkan Raditya kepadanya karena dia harus menyelesaikan masalah Azkia secepatnya.


Setelah beberapa saat menatap bangunan rumah kedua orang tua Azkia, Raffasya akhirnya turun dari dalam mobilnya. Ini adalah kali ke dua dia datang ke rumah itu. Pertama kali dia menginjakkan kaki di rumah milik Yoga adalah saat dia disuruh oleh Om nya untuk minta maaf kepada Azkia saat dia pernah menakuti Azkia dengan melempar hamster ke toilet sekolah ketika Azkia sedang berada di dalam toilet ketika dia SD dulu.


Raffasya menekan bel di pintu rumah Yoga. Dia menunggu hampir lima menit sebelum akhirnya pintu rumah itu terbuka.


" Permisi, Bu. Om Yoga sama Tante Tata ada?" tanya Raffasya kepada Bi Jun yang membukakan pintu.


" Mas ini siapa, ya?" tanya Bi Jun yang tidak mengenali Raffasya.


" Saya Raffa keponakannya Om Radit, Bu." Raffasya memperkenalkan dirinya.


" Kak Raffa?" Abhi yang turun dari anak tangga hendak mengambil makanan di dapur menyapa Raffasya saat melihat Raffasya berbicara dengan Bi Jun di depan pintu.


" Hai, Bhi." Raffasya menyapa balik Abhi.


" Tumben Kak Raffa datang ke sini." Abhi menyeringai, tentu saja dia tahu jika keponakan dari suami Tantenya itu terkenal badung dan selalu berseteru dengan Azkia.


" Gue mau bicara sama Om Yoga sama Tante Tata," ucap Raffasya menarik satu sudut bibirnya ke atas karena sudah pasti kedatangannya ke rumah Yoga akan menimbulkan tanda tanya orang-orang di rumah Yoga.


" Bi, tolong panggilkan Papa sama Mama!" Abhi menyuruh Bi Jun untuk memanggilkan kedua orang tuanya.


" Silahkan duduk, Kak. Kak Raffa dari mana? Sengaja kemari?" tanya Abhi setelah mempersilahkan Raffasya masuk dan duduk di sofa tamu.


" Iya, gue sengaja kemari." Raffasya menyahuti pertanyaan Abhi.


" Sibuk apa saja sekarang ini, Kak?" tanya Abhi berbasa-basi.


" Masih urus cafe saja," jawab Raffasya kemudian.


" Bisnis cafenya lancar ya, Kak? Kalau gue lewat cafe yang ada stasiun radionya itu kelihatannya rame terus pengunjungnya."


" Ya lumayanlah ...."


" Raffa ..." Yoga dan Natasha yang sudah tiba di ruang tamu langsung menyapa Raffasya. " Ada apa malam-malam begini ingin ketemu sama Om dan Tante?" tanya Yoga kemudian.


" Gue tinggal dulu ya, Kak." Abhi yang melihat Papa dan Mamanya langsung berpamitan meninggalkan Raffasya.


Raffasya yang melihat kehadiran Yoga dan Natasha di ruang tamu langsung berdiri dan menyalami kedua orang tua Azkia itu.


" Silahkan duduk." Yoga mempersilahkan Raffasya untuk duduk kembali begitu juga dengan dirinya yang juga ikut duduk di samping Natasha.


Raffasya menatap bergantian ke arah Yoga dan Natasha, dia bisa melihat wajah sedih kedua orang tua Azkia terutama Natasha yang matanya terlihat sembab, karena terus saja menangis memikirkan Azkia. Jantung Raffasya berdetak lebih kencang. Dia sudah siap dengan resiko yang akan dia hadapi atas pengakuannya sekarang ini.


" Begini, Om, Tante. Sebelumnya Raffa ingin minta maaf kepada Om dan Tante soal Almayra."


Yoga dan Natasha saling berpandangan saat Raffasya menyinggung soal Azkia.


" Raffa sudah mendengar dari Om Radit soal kehamilan Almayra. Raffa ingin bilang kepada Om dan Tante, sebenarnya Raffa lah yang sudah menyebabkan Almayra hamil, Om, Tante."


Deg


Yoga dan Natasha sama-sama terperanjat mendengar pengakuan dari Raffasya yang mengatakan jika dialah yang menyebabkan Azkia kini berbadan dua.


" Astaghfirullahal adzim, apa yang kamu katakan Raffa?" tanya Yoga masih dalam keterkejutannya.


" Raffa yang saat itu menolong Almayra dari orang-orang yang berniat jahat kepada Almayra, Om. Dan akhirnya terjadilah hal itu," lirih Raffasya seraya menundukkan kepalanya.


" Astaghfirullahal adzim, Raffa! Kamu kok tega sih berbuat hal itu pada Kia!!" Natasha langsung menyalahkan Raffasya atas perbuatan keponakan dari adik iparnya itu. " Kia itu keponakan dari istrinya Om kamu, mestinya kamu melindungi dia bukan malah mencelakai Kia seperti ini!" Natasha sudah tidak kuasa membendung rasa kecewanya hingga dia kembali menangis.


" Yank, tenang dulu." Yoga mengusap punggung istrinya. Yoga lebih tenang dalam bersikap dibanding istrinya. " Kita bicarakan ini di ruang kerja Om saja." Yoga mengajak Raffasya berbicara di ruangan yang lebih privacy untuk membicarakan hal tentang kehamilan Azkia.


" Bhi, Abhi ..." Yoga memanggil putranya terlebih dahulu.


" Ya, Pa?" Tak lama Abhi datang menghadiri Yoga, dan dia terkesiap saat melihat Mamanya menangis namun dia memilih tidak bertanya apa-apa.


" Tolong bawa Mama kamu ke kamar." Yoga menyuruh putranya untuk membawa Natasha kembali ke kamarnya.


" Aku nggak mau, Mas! Aku belum puas memarahi dia!" sahut Natasha penuh emosi dan menolak diminta untuk kembali ke kamarnya.


" Yank, biar aku yang urus, kamu masuk saja dulu ke kamar."


" Tapi, Mas ...."


" Bhi, tolong bawa Mama kamu!" Yoga kembali memerintahkan putranya itu untuk segera membawa Natasha pergi.


" Ayo, Ma." Abhi merangkulkan lengannya di pundak Natasha dan membawa Mamanya itu kembali ke dalam kamar.


Sementara Yoga langsung membawa Raffasya ke dalam ruangan kerjanya.


Buuuggghhh


Sebuah tinju langsung melayang ke wajah tampan Raffasya saat dia baru saja memasuki ruang kerja dari Yoga.


" Om rasa pukulan itu tidak seberapa jika dibandingkan kekecewaan kami terhadap kamu, Raffa!" geram Yoga dengan gigi mengerat dan memperlihatkan rahang tegasnya karena menahan emosi.


" Raffa terima, Om. Apapun yang akan Om lakukan terhadap Raffa, Raffa akan terima," sahut Raffasya sambil mengusap rahangnya yang terasa sakit karena menerima bogem mentah dari Yoga.


" Duduklah dan ceritakan apa yang terjadi sebenarnya!" perintah Yoga dengan nada ketus seraya melipat kedua tangan di dadanya.


" Raffa tahu apa yang Raffa perbuat sudah mengecewakan Om. Tapi Raffa bersumpah, Raffa nggak berniat melakukan hal itu sebelumnya terhadap Almayra, Om. Semua terjadi begitu saja. Raffa melihat mobil Almayra terparkir di dekat cafe. Saat itu kebetulan Raffa juga sedang di Bandung ingin bertemu dengan teman yang ingin membangun cafe seperti milik Raffa. Lalu Raffa melihat Almayra bersama orang-orang yang mencurigakan, karena itu Raffa mengikuti mereka hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah, dan ada dua orang pria di dalamnya yang siap melakukan pele cehan terhadap Almayra." Raffasya menceritakan bagaimana dia melihat Azkia saat di Bandung hingga dia menyelamatkan Azkia dari orang-orang yang berniat jahat kepada Azkia.


" Raffa saat itu membawa Azkia ke sebuah penginapan karena Raffa nggak punya pilihan, Om."


" Kenapa kamu tidak menghubungi Om atau Tante saat itu?" tanya Yoga masih belum bisa menerima alasan Raffasya.


" Saat itu Raffa memang buntu nggak bisa berpikiran apa-apa lagi, Om. Apalagi di dalam mobil Almayra sudah melepas bajunya."


Yoga memejamkan matanya, rasanya perih jika harus membayangkan apa yang terjadi kepada anak gadis saat itu. Dan sebagai orang tua dia merasa gagal melindungi putrinya saat itu.


" Demi Tuhan, Raffa sama sekali nggak kepikiran untuk melakukan hal itu terhadap Almayra, Om. Semuanya terjadi begitu saja." Ada nada penyesalan dalam kalimat yang diucapkan oleh Raffasya.


" Kenapa kamu tidak mengatakan kejadian itu kepada kami secepatnya? Kenapa kamu menyembunyikan hal ini kepada kami? Kalau Kia tidak hamil, kami tidak akan pernah tahu jika kalian berdua sudah pernah melakukan hubungan yang tidak sepantasnya kalian lakukan!" Yoga masih menyanyangkan sikap diam Raffasya selama ini karena tidak memberitahukan kepadanya.


" Setelah kejadian itu Raffa berusaha bicara baik-baik pada Almayra, Om. Termasuk kemungkinan jika Almayra hamil, tapi Almayra selalu menolak, dia tidak ingin membahas soal ini dan melarang Raffa mengatakan hal ini kepada siapapun termasuk kapada Om dan Tante." Raffasya mengatakan yang sebenarnya terjadi.


Yoga menarik nafasnya dalam-dalam.


" Sekarang ini Kia sudah hamil karena perbuatan kalian saat itu. Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Yoga menatap dengan sorot mata tajam ke arah Raffasya.


" Raffa siap bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah Raffa lakukan terhadap Almayra, Om." tegas Raffasya.


" Bertanggung jawab seperti apa yang kamu maksud?" tanya Yoga mencoba memancing jawaban dari Raffasya, dia ingin tahu sejauh mana rasa tanggung jawab Raffasya terhadap putrinya.


" Raffa siap jika diminta menikahi Almayra, Om."


" Jika diminta? Berarti jika kami tidak meminta pertanggung jawaban dari kamu, kamu akan lepas tangan begitu saja?" tanya Yoga menjebak.


" Nggak, Om! Bukan seperti itu!" Raffasya menampik anggapan Yoga terhadapnya. " Raffa siap bertanggung jawab. Dari awal pun Raffa sudah katakan kepada Almayra kalau Raffa akan bertanggung jawab atas perbuatan Raffa, tapi Almayra selalu menolak, Om." Raffasya menegaskan sekali lagi soal keseriusannya untuk bertanggung jawab.


Yoga mendengus kasar mengingat sikap keras putrinya itu. Dia lalu berpikir, pantas saja Azkia selalu menolak saat ditanya siapa orang yang telah menghamili Azkia, ternyata Raffasya lah orangnya.


" Baiklah, kalau kamu serius dengan niat kamu bertanggung jawab, Om akan secepatnya mengurus pernikahan kalian," ucap Yoga tanpa pikir panjang lagi langsung mengambil keputusan untuk menikahkan putrinya dengan ayah dari bayi dan dikandung oleh Azkia. Walaupun dia tahu Raffasya selalu bermasalah dengan Azkia namun dia tidak bisa menampik jika beberapa waktu belakangan sosok Raffasya selalu menjadi penyelamat putrinya saat putrinya itu sedang mendapatkan masalah, terutama masalah yang terakhir. Yoga benar-benar tidak bisa membayangkan jika saat itu Raffasya tidak ada, putrinya pasti akan digilir oleh pria-pria yang tidak dikenalnya. Bahkan membayangkannya saja membuat bulu kuduk Yoga merinding.


" Oh ya, mengenai orang-orang yang menjebak Azkia, apa kamu mengenali orang-orang itu, Raffa?" tanya Yoga kemudian.


" Nggak, Om. Raffa nggak terlalu ingat siapa saja orang-orang itu. Raffa hanya ingat ada tiga orang wanita dan dua orang pria di sana." Raffasya tentu tidak ingin mengatakan jika dia mengenal salah satu pelaku, dia takut jika Yoga justru mencurigai dirinya terlibat kalau Yoga tahu salah seorang pelaku adalah wanita yang selama ini selalu mengejar dirinya.


" Ya sudah, yang penting sekarang sudah jelas siapa ayah dari bayi yang dikandung oleh Kia. Sekarang ini Kia sedang berada di rumah Neneknya di Bandung, besok kita jemput Kia di sana. Dia pasti akan kaget dengan kedatangan kamu di sana."


" Raffa tadi sudah menemui Kia di Bandung, Om."


" Kamu sudah bertemu Kia?" Yoga terperanjat mendengar pengakuan Raffasya kembali.


" Iya, Om. Dua hari ini Raffa di Bandung karena urusan proyek pembangunan cafe yang Raffa ceritakan tadi. Awalnya Raffa ditelepon Om Radit yang mengatakan ingin menjemput Almayra, dari sana Raffa mengetahui kabar jika Almayra hamil. Karena itu Raffa minta alamat rumah Nenek Nabilla di Bandung dan menemui Almayra di sana."


" Lalu bagaimana? Apa reaksi Kia?" Yoga sangat penasaran dengan cerita Raffasya yang ternyata sudah menemui putrinya terlebih dahulu sebelum menemuinya.


" Almayra melarang Raffa cerita kepada siapapun juga termasuk kepada Om dan Tante mengenai kejadian di Bandung. Dan Almayra masih menolak tanggung jawab yang ingin Raffa berikan atas bayi yang dikandung Almayra, Om." Raffasya merasa sudah saatnya dia meminta bantuan Yoga untuk meluluhkan sikap keras kepala Azkia itu.


" Dia memang keras kepala." Yoga menggelengkan kepala seraya mengusap rahangnya.


" Ya sudah untuk hal itu biar Om yang urus, sekarang kamu persiapkan saja apa yang dibutuhkan untuk mengurus pernikahan kalian."


" Baik, Om." Raffasya merasa lega karena akhirnya dia mendapatkan ijin untuk bertanggung jawab oleh Yoga. Selama ini dia memang mendengar sosok Prayoga Atmajaya adalah sosok yang bijaksana dan dia sudah membuktikan hal itu malam ini.


" Mana orangnya?! Berani sekali sudah melecehkan dan membuat keponakanku hamil!" Suara Gavin yang menggelegar terdengar saat pintu ruang kerja Yoga yang tidak terkunci terbuka.


Buugghh


" Dasar breng sek!! Masih berani saja kau mengganggu keponakanku!!" Sebuah tinju disertai kata-kata umpatan kasar langsung diterima oleh Raffasya setelah kemunculan Gavin di ruang kerja Yoga.


*


*


*


Bersambung ...


Duuhhh kacian amat wajah ganteng gini kena bogem mentah Papa Yoga sama Uncle Gavin. Tinggal tunggu bogem dari Gibran nih😁



Happy Reading❤️