
Raffasya memarkirkan mobilnya di halaman Raff caffe. Beberapa hari ini dia tidak datang ke tempat itu karena disibukan dengan pernikahannya yang mendadak.
" Siang, Mas Raffa." sapa Adam saat melihat kehadiran Raffasya di Caffe itu.
" Siang," sahut Raffasya. " Apa ada yang cari gue selama gue nggak kesini kemarin, Dam?" tanya Raffasya.
" Hanya Bang Dimas saja dua hari lalu mampir ke sini, Mas." jawab Adam.
" Bang Dimas ada titip pesan apa?" tanya Raffasya membuka pintu ruangan kerjanya.
" Nggak ada pesan, Mas. Cuma kebetulan mampir saja sama istrinya." Adam mengikuti langkah Raffasya ke dalam ruangan bosnya.
" Oh, oke ..." Raffasya kemudian mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerjanya.
" Mas Raffa habis bertunangan, ya? Beberapa hari nggak datang kemari." Adam melihat sebuah cincin melingkar di jari tangan Raffasya.
Raffasya melirik ke arah Adam saat mendengar pegawainya itu mengatakan jika dia bertunangan. Dan Raffasya langsung mengalihkan pandangan ke jari tangannya kerena dia mendapati Adam sedang memandang ke arah tangan Raffasya seraya tersenyum.
" Gue habis ijab qobul, Dam."
Mata Adam langsung terbelalak saat mendengar pengakuan Raffasya yang membuatnya terperanjat.
" S-serius, Mas? Kok Mas Raffa nggak kasih tahu kami kalau kemarin nikah?" Adam hampir tidak percaya pendengarannya karena dia tahu selama ini Raffasya tidak pernah terlihat dekat dengan wanita.
" Iya, Dam. Weekend kemarin."
" Selamat ya, Mas. Semoga samawa pernikahannya." Adam spontan mengulurkan tangannya memberikan selamat kepada Raffasya.
" Aamiin, thanks, Dam."
" Kenapa istrinya Mas Raffa nggak dikenalkan kepada kami, Mas. Saya penasaran sama wanita yang sudah berhasil menaklukkan hati Mas Raffa." Adam terkekeh, karena dia tahu walaupun selalu ada wanita yang mencari Raffasya, tapi Raffasya selama ini tidak pernah meladeni wanita itu.
" Nanti kalau sudah saatnya juga lu akan tahu, Dam." ucap Raffasya kemudian.
" Oke, Mas. Sekali lagi selamat, Mas Raffa."
Raffasya hanya tersenyum seraya menganggukkan kepala.
" Ya sudah, saya mau kembali kerja lagi, Mas Raffa."
" Oke, Dam. Silahkan ...."
" Oh ya, Mas. Apa anak-anak boleh tahu kalau Mas Raffa baru saja menikah?" tanya Adam kepada Raffasya sebelum meninggalkan ruangan Raffasya.
" Oke, nggak apa-apa."
" Baik, Mas. Permisi ...." Adam pun kemudian keluar dari ruangan Raffasya.
Beberapa menit kemudian saat Raffasya sedang mengecek omzet Raff Caffe satu bulan terakhir.
" Selamat siang, sobat muda Raff FM di mana saja berada. Yang ada di rumah, di kantor, yang sedang menikmati lunch atau masih dalam perjalanan. Perjalanan ke mana, Evy? Perjalanan menuju hidup baru mungkin ... cieee. Seperti halnya yang sedang dirasakan oleh big bos kami di sini, Mas Raffasya yang baru saja melepas masa lajangnya. Happy wedding, Mas Raffa dan istri tercinta. semoga samawa, bahagia selalu till Jannah. Diberikan anak-anak yang sholeh dan sholehah. Untuk pasangan pengantin baru ini kayaknya cocok nih, kalau Evy memutarkan lagu Akad dari Payung Teduh. Bila nanti saatnya telah tiba ... kuingin kau menjadi istriku ... ahaaayyy ... Sekali lagi Happy wedding Mas Raffa ...."
Raffasya mengerutkan keningnya mendengar seorang penyiarnya mengucapkan selamat pernikahan kepadanya dan memutar lagu milik Payung Teduh. Dia menduga jika Adam telah memberitahukan kepada pegawai yang lain. Namun dia tidak menyangka jika hal itu akan diumumkan di radionya.
***
" Assalamualaikum, Kia ...!" Lusiana yang baru sampai di rumah Raffasya langsung berteriak memanggil nama Azkia saat kakinya melangkah ke dalam rumah itu.
" Waalaiakumsalam ... eh, Ibu ..." Bi Neng yang keluar menyambut kedatangan Lusiana.
" Bi Neng, menantu saya ada di mana? Dia sudah pindah ke sini, kan?" tanya Lusiana kepada Bi Neng.
" Mbak Kia sedang di kamar Mas Raffa, Bu." Bi Neng menjawab pertanyaan Lusiana.
" Raffa nya ada?" tanya Lusiana kemudian.
" Mas Raffa pergi kerja, Bu."
" Oh ya sudah, Bi Neng tolong taruh ini di mangkuk lalu bawa ke kamar Raffa, ya! Lusiana menyodorkan bungkusan plastik sup buah kepada Bi Neng.
" Baik, Bu." Bi Neng menerima bungkusan plastik itu dari Lusiana.
" Lusi?" Nenek Mutia yang baru keluar dari kamarnya menyapa Lusiana.
" Ma ..." Lusiana menghampiri dan mencium punggung tangan Nenek Mutia.
" Lusi ingin bertemu menantuku, Ma." Lusiana menyampaikan alasannya datang ke rumah Raffasya.
" Kia baru saja masuk kamarnya, tadi habis ngobrol sama Mama di kamar," sahut Nenek Mutia.
" Ya sudah, Lusi temui Kia dulu ya, Ma." pamit Lusiana kepada Nenek Mutia.
" Ya sudah ..." sahut Nenek Mutia.
Lusiana kemudian melangkah menghampiri kamar dari Raffasya.
" Kia, Sayang ..." Lusiana membuka pintu kamar Raffasya dan memanggil nama Azkia.
" Kia ..." Lusiana tidak menemukan Azkia di kamar putranya itu, namun dia melihat pintu balkon terbuka, dan dia pun kemudian melangkah ke arah balkon.
Di teras balkon dia melihat Azkia sedang duduk di ayunan rotan dengan memegang buku tentang ekonomi dan handsfree yang menempel di telinganya.
" Kia, kamu sedang apa, Sayang?" Lusiana lalu duduk di samping Azkia membuat Azkia terperanjat dan menoleh ke arah Lusiana.
" Kok panggil Tante? Mama ini 'kan sudah jadi Mama kamu sekarang."
" Oh iya, Ma."
" Kamu sedang baca apa?" tanya Lusiana.
" Buku soal ekonomi." Azkia menunjukkan cover buku itu.
" Oh, kamu masih kuliah?" tanya Lusiana.
" Iya, mungkin Minggu depan Kia mau kuliah lagi, Ma." Azkia menyampaikan rencananya.
" Apa kamu nggak istirahat dulu, Kia? Kamu sedang hamil muda, pasti nanti akan repot kalau harus kuliah terus mengalami keluhan dengan kehamilan kamu." Lusiana merasa khawatir menantunya itu akan mengalami keluhan dalam kehamilannya itu.
" Kia nggak apa-apa kok, Ma." Azkia menepis kekhawatiran Lusiana.
" Permisi, Bu. ini sup buahnya." Bi Neng menyodorkan nampan berupa dua mangkuk sup buah kepada Lusiana.
" Oh, makasih Bu Neng." Lusiana menerima satu buah mangkuk sup buah yang disodorkan oleh Bi Neng. " Punya saya untuk Bi Neng saja, saya masih kenyang, Bi."
" Baik, Bu. Terima kasih." Bi Neng kemudian melangkah ke luar kamar Raffasya.
" Kia, ini Mama belikan sup buah untuk kamu. Coba kamu makan ini." Lusiana lalu menyodorkan mangkuk itu kepada Azkia.
" Kia sudah makan tadi, Ma. Masih kenyang perutnya." Azkia menolak dengan halus apa yang diberikan oleh Lusiana.
" Makan sedikit saja, ini buah-buahan segar, biar sehat kandunganmu. Apa mau Mama suapin?"
Azkia langsung terkesiap saat Mama mertuanya itu hendak berniat menyuapkan sup buah itu ke mulutnya. Dia pun segera mengambil mangkuk itu dari Lusiana dan memakan sup buah yang dibelikan oleh Lusiana.
" Nanti setelah ini kamu ikut Mama, Kia. Kita mau fitting kebaya untuk acara resepsi bulan depan," ucap Lusiana kemudian.
Azkia membulatkan matanya saat Lusiana mengatakan akan mengadakan acara pesta resepsi pernikahan.
" Memang mau pakai resepsi segala, Ma?" Azkia nampak keberatan dengan rencana resepsi pernikahan yang akan diadakan untuknya juga Raffasya.
" Iya tentu saja. Biar orang-orang lain tahu jika kalian itu sudah menikah. Jadi kalau ada perempuan-perempuan genit yang mau mendekati Raffa, mereka tahu diri. Dan kalau ada laki-laki yang ingin tebar pesona sama kamu, akan mundur setelah tahu kamu sudah bersuami." Lusiana menerangkan.
" Mama kamu juga pebisnis, Papa kamu dosen, jadi Mama rasa resepsi kalian itu perlu diadakan. Mama sudah diskusikan hal ini sama Mama kamu, dan Mama kamu juga sudah setuju untuk mengadakan acara itu."
Azkia mendesah, sebenarnya dia tidak ingin pernikahan dia dengan Raffasya itu terlalu diketahui banyak orang, karena dia sendiri tidak berharap banyak dengan pernikahannya itu. Sementara dia sendiri mempunyai niat akan menyudahi pernikahannya dengan Raffasya setelah anak itu lahir.
***
Selepas Maghrib Raffasya memilih pulang dari cafe nya. Dia sudah berjanji kepada Nenek Mutia untuk tidak pulang terlalu malam. Dan sebelum menuju rumahnya dia mampir terlebih dahulu ke supermarket karena dia ingin membelikan susu hamil untuk Azkia.
Raffasya segera memarkirkan mobilnya di sebuah mall yang menyediakan bahan kebutuhan sehari-hari. Namun langkah Raffasya melambat saat dia mulai memasuki bagian dalam mall itu. Raffasya melihat Gibran yang berjalan berlawanan arah dengannya bersama seorang wanita.
Gibran juga terlihat terkejut saat melihat pria yang telah merebut kekasihnya itu. Wajahnya langsung menegang dan terlihat geram saat melihat kehadiran Raffasya di depannya, apalagi saat Raffasya justru terlihat tertarik memperhatikan wanita yang sedang bersamanya.
Sedangkan wanita yang bersama Gibran pun tak kalah kaget seperti Gibran dan juga Raffasya, bahkan dia langsung melingkarkan tangannya di lengan Gibran, dan menyembunyikan tubuhnya sedikit ke belakangan Gibran. Dan tingkah wanita yang bersama Gibran itu semakin membuat Raffasya semakin curiga.
" Begini kelakuanmu? Sudah menghamili wanita masih saja melirik wanita lain? Dasar breng sek!" Gibran bahkan hampir menghantamkan sebuah tinju ke arah wajah Raffasya namun tangan Raffasya terlebih dahulu menepisnya.
Tindakan yang dilakukan oleh Gibran tentu membuat pengunjung yang berada di mall itu langsung mengarahkan pandangan ke arah mereka.
" Gue bukan orang yang mudah tertarik dengan wanita apalagi kalau wanita itu adalah wanita yang licik," sindir Raffasya menatap sinis ke arah wanita yang tak lain adalah Shendy.
Raffasya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Gibran.
" Apa wanita ini teman lu?" tanya Raffasya kepada Gibran. Dia pun mulai penasaran bagaimana Gibran mengenal Shendy, yang merupakan salah satu dari tiga wanita yang menjebak Azkia.
" Siapapun dia bukan urusanmu!" ketus Gibran masih terlihat emosi karena tidak berhasil memukul Raffasya.
Raffasya menarik tipis sudut bibirnya ke atas seraya menoleh kembali ke arah Shendy.
" Apa karena lu suka sama dia lalu berusaha menjebak Almayra?" Raffasya langsung mengintimidasi Shendy membuat Shendy terlihat ketakutan.
Mendengar ucapan bernada tuduhan yang dilayangkan oleh Raffasya, Gibran langsung mengeryitkan keningnya mendengar nama Azkia yang dipanggil dengan nama Almayra oleh Raffasya. Dan kata menjebak membuat dia akhirnya menoleh ke arah Shendy.
" Apa maksud ucapanmu itu?" selidik Gibran penuh curiga.
" Dia termasuk salah satu orang yang menjebak Almayra," ucap Raffasya menunjuk dengan telunjuknya.
Gibran semakin terkesiap dengan peryataan dari Raffasya tadi. Dia lalu menoleh ke arah Shendy dengan emosi yang semakin terbakar.
" N-nggak, Gibran! Kamu jangan dengarkan dia! Aku nggak menjebak Kia. Aku juga nggak tahu dia siapa?" tepis Shendy mengelak tuduhan yang dilancarkan Gibran juga Raffasya.
" Lu bilang nggak menjebak Kia? Padahal gue nggak sebut nama Kia tadi." Raffasya tersenyum sinis melihat Shendy yang terlihat gugup karena memang merasa melakukan apa yang dituduhkan Raffasya tadi.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️