
Pagi biasa di mansion Eliazar, Koki yang sudah terbiasa melihat Nyonyanya ada di dapur untuk menyeduh kopi suaminya tersenyum saat sang Nyonya meletakkan kopi di tatakan dan nampan. Nyonya muda cantik itu tersenyum pada koki dan berlalu ke dalam mansion.
"Mike! Turunlah.....Kopimu sudah siap....!" Reggie berteriak, membuat Leigh yang tengah menuruni tangga tersenyum ke arahnya.
"Tuan sudah turun dari tadi Nyonya." Ucapnya geli.
"Benarkah?" Reggie menatap berkeliling, tapi tidak ada sosok Mike di ruangan itu.
"Tuan tengah menerima telpon. Saya melihatnya berjalan ke arah depan." Ucap Leigh lagi. Reggie mengangguk dan segera pergi ke arah depan.
Ia bertemu Mike yang baru saja kembali, suaminya itu sudah berpakaian rapi dan memegang ponsel ditangannya.
"Kau meminta Lucius menemanimu hari ini?" Mike mengerutkan dahi ke arah Regina.
"Kenapa kau tidak bilang padaku jika kau ingin ditemani mengantar ayah therapi? Aku bisa mengantarmu." Mike memandang Regina dengan alis terangkat.
"Aku menelponnya karena ayah ingin sesekali Lucius ikut, Mike. Jadi hari ini aku memintanya menemaniku, Ia sengaja tidak ke kantor hari ini. Aku menyuruhnya menelponmu untuk memberitahukan bahwa dia dan ayah yang akan datang menjemputku. " Regina tersenyum sayang pada suaminya.
"Ayo minum kopimu....dan hilangkan kerutan di dahimu. Lucius sudah bersedia menemaniku dan ayah. Kau harus bekerja." Reggie berjinjit dan mengecup bibir Mike. Ia bermaksud pergi untuk bersiap-siap. Tapi lengannya di tarik dan tubuhnya tiba-tiba sudah berada dalam rengkuhan lengan suaminya.
"Hanya kecupan kecil itu saja? Aku tidak mau, cium aku dengan benar." Mike menundukkan kepalanya dan menatap Regina yang tertawa geli, namun tak urung istrinya itu menyatukan bibirnya dan mereka berciuman lama dan mengundang senyum dari Leigh yang masih berdiri tak jauh dari sana.
Beberapa saat kemudian Mike akhirnya pergi. Reggie menarik nafas lega. Ia memang meminta Lucius menemaninya hari ini. Bukan saja karena alasan ayahnya ingin agar sesekali Lucius ikut, tapi ada keperluan khusus yang ingin Reggie lakukan dan ia tidak ingin Mike yang menemaninya.
Saat mobil Lucius tiba, Regina melihat kakaknya itu mengendarai sendiri mobilnya tanpa Lance. Ayah mereka sudah duduk di kursi belakang. Regina segera berpamitan pada Leigh dan masuk ke mobil di samping Lucius.
"Kau sudah membuat janji bukan?" Lucius menyambut adiknya dengan pertanyaan.
"Sudah....Tapi kita pergi setelah ayah selesai saja "Ucap Regina sambil tersenyum ke arah belakang dimana ayahnya terlihat mulai menggeleng.
"Tidak...tidak...Kalian pergilah kesana setelah mengantarku untuk therapi. Aku akan baik-baik saja." Eloy Sanchez berusaha meyakinkan putrinya.
"Benar tidak apa-apa Ayah?" Reggie tersenyum setelah melihat ayahnya mengangguk yakin.
"Kami tidak akan lama.....Kami akan segera kembali setelah selesai."
Eloy Sanchez tersenyum menenangkan." Jangan fikirkan aku. Kau sendiri sedang gelisah kan....Jadi pergilah kesana dan pastikan semuanya baik-baik saja."
Reggie mengangguk dan melirik Lucius yang hanya diam dan mengendarai mobil dengan tenang. Setelah menurunkan sang ayah dan menyerahkannya ke tangan therapis yang menanganinya, kedua kakak beradik itu segera pergi menuju sebuah rumah sakit tempat Reggie sudah membuat janji temu dengan seorang dokter kandungan.
"Kau terlihat gelisah. Menurutku kau berlebihan." Cetus Lucius ketika mereka turun dan mulai melangkah menuju tempat praktik sang dokter.
"Aku ingin memeriksakan diriku. Hanya ingin tahu apakah ini normal." Reggie menyimpan rasa gelisahnya sendiri saat melihat perut Amy yang mulai terlihat membesar. Amy sudah mengandung anak keduanya, sedangkan ia belum ada tanda-tanda kalau ia akan hamil. Reggie mengalami gangguan siklus sejak dulu, ia biasa terlambat haid sejak sebelum menikah. Setelah menikah ia pernah haid satu kali, lalu tidak haid lagi sampai sekarang. Sudah dua bulan, Reggie membuat janji temu untuk mengetahui apakah dirinya baik-baik saja.
Setelah bertemu perawat dan menunggu lebih kurang lima menit, Reggie akhirnya dibawa masuk ke ruangan dokter. Dengan gugup ia bersalaman dan duduk di depan dokter spesialis kandungan yang tersenyum menyambutnya. Luciuspun menyalami sang dokter dan duduk di sebelah Reggie.
"Saya Lucette....Anda bisa panggil saya Lucy." Sang dokter kembali tersenyum, mencoba mencairkan kegugupan Regina.
"Anda kemari ingin mengetahui apakah ada masalah di rahim anda, untuk itukah anda membuat janji temu Nyonya? "
Reggie tersenyum kaku dan mengangguk. "Ummm.....Saya sudah menikah selama 3 bulan lebih dokter. Sampai saat ini saya belum juga hamil. Saya pernah mendengar, jika wanita yang siklus haidnya tidak teratur lebih sulit untuk hamil."
Dokter Lucette tersenyum." Sulit bukan berarti tidak bisa Nyonya.....Lagipula, jika anda ingin mengetahui kenapa anda belum juga hamil sampai saat ini, seharusnya anda datang kemari bersama suami anda Nyonya. Diperlukan dua orang untuk membuat bayi, masalah belum tentu ada pada anda, mungkin saja pada suami anda....." Dokter Lucette terlihat tersenyum lebar melihat dua orang di hadapannya saling berpandangan setelah mendengar ucapannya.
Lucius menaikkan alisnya memandang dokter Lucette. " Katakan darimana anda tahu saya bukan suaminya dokter?"
"Itu mudah sekali, Tuan. Anda berdua sangat mirip. Wajah Nyonya Regina adalah wajah anda di versi perempuan." Ucap dokter itu.
Lucius langsung mengusap wajahnya berulang-ulang. Regina jadi terkikik geli.
"Oh...Tenang saja kakakku, Kau adalah versi tampan dan maskulin dari wajahku ini. Sama sekali tidak ada kesan feminin." Lalu Regina tertawa bersama dokter Lucette. Lucius tersenyum ketika menyadari dokter Lucette secara tidak langsung sudah menghilangkan kegugupan Regina.
"Sekarang bisakah anda menceritakan kapan terakhir kali anda haid?"
"Saya ingat saya haid satu kali sejak saya menikah dokter. Setelahnya sampai sekarang sudah tidak lagi."
"Apakah anda ingat tanggalnya? Anda boleh memanggilku Lucy saja." Ujar Lucette santai.
"Ummm....karena tanggal haid saya sejak dulu tidak teratur, saya tidak ingat lagi tanggal pastinya.....Maaf Lucy....."
Dokter Lucette tersenyum. " Berapa banyak darah haidnya? Apakah pembalutmu sampai basah?"
Reggie memandang malu pada Lucius yang hanya memandang datar tanpa ekspresi.
Lucy mengangguk puas. " Bisakah anda naik ke tempat tidur? Aku akan melakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk melihat keadaan rahim anda."
Reggie mengangguk dan segera berbaring ke atas tempat tidur. Dokter Lucette menaikkan blus Reggie di bagian perut dan sedikit menurunkan celana panjangnya.
"Santai saja Nyonya...." Lucette lalu mulai memberikan semacam jelly agar alat USG yang ia pakai bisa ia jalankan dengan lancar di perut bagian bawah Regina.
Setelah beberapa saat sang dokter tersenyum lebar. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus memutar alat USG itu di perut bawah Regina berulang kali.
"Kekhawatiran anda berlebihan Nyonya.....Saya harus mengucapkan selamat pada anda. Anda hamil....."
Regina tersentak terkejut. Lucius bahkan sampai tegak dari sandaran kursinya mendengar perkataan Lucette.
"Sudah hampir 3 bulan.....Mungkin sekitar 10 atau 11 minggu." Ucap Lucette lagi.
"Tap ...Tapi itu tidak mungkin Aku masih menstruasi setelah...,. setelah aku menikah. kalaupun aku hamil sesudahnya, umur janinku paling 8 minggu Lucy...."
"Kau lihat yang bergerak dan berdenyut ini Nyonya Regina? Ini detak jantung bayimu...."
Reggie memandang takjub pada satu titik yang bergerak dan berdenyut di layar monitor. Seketika tangisnya pecah hingga Lucette harus mengulurkan tissu untuknya.
Lucette tersenyum. Setelah mencetak beberapa gambar, Ia menyarankan Regina turun dari tempat tidur dan merapikan peralatannya.
Ketika Regina sudah tenang dan duduk kembali, Lucette mulai menerangkan." Ketika terjadi pembuahan, sel telur yang sudah dibuahi tadi akan menanamkan diri ke dinding rahim, hal ini akan menimbulkan perdarahan ringan, sehingga akan muncul flek untuk beberapa hari. Biasanya hal ini terjadi sebelum kehamilan diketahui, Jadi sering disalah artikan sebagai menstruasi." Jelas Lucette panjang lebar.
Reggie kembali menangis. Lucius segera mendekapnya." Astaga Gina. Kau harusnya tersenyum bahagia mendengar kabar ini. Bukannya menangis."
Regina makin terisak-isak hingga Lucius hanya bisa terus memeluknya. Ia mengambil tisu yang diulurkan oleh Lucette dan mulai menghapus airmata di pipi adiknya.
"Sebagian besar ibu yang mengalami flek saat kehamilan trimester pertama menjalani kehamilannya dengan lancar Nyonya Regina. Jadi anda tidak perlu terlalu khawatir...." Ucap Lucette tersenyum.
"Aku .....Aku....Aku benar-benar hamil Lucy?" Ucap Reggie terbata.
Lucette mengangguk. "Saranku adalah anda banyak beristirahat. Jangan melakukan aktifitas berjalan atau berdiri terlalu lama, kurangi aktifitas fisik yang membuat anda lelah, pastikan anda makan dengan asupan bergizi lalu hindari mengangkat barang yang berat." Lanjut Lucette lagi. Lucius mencatat seluruh saran Lucette dalam hatinya.
Reggie mengangguk berulang kali." Tapi Lucy...Aku tidak mual dan muntah seperti ibu-ibu hamil lainnya .."
"Mual dan muntah hanya tanda tidak pasti kehamilan, Nyonya Regina. Salah satu cara memastikan kehamilan adalah dengan melakukan pemeriksaan Ultrasonografi seperti yang barusan kita lakukan. Anda lihat jantung bayi anda berdetak teratur dalam rahim anda bukan. Anda sudah dipastikan hamil. Tidak semua ibu-ibu mengalami mual dan muntah. Ada juga yang tidak, Nyonya. Anda salah satunya."
Reggie kembali terisak dalam pelukan Lucius." Astaga...Berhentilah menangis!! Kau jadi emosional!" Seru Lucius sambil kembali mengambil tisu yang diulurkan Lucette.
"Oh...Jangan memarahiku!!" Regina kembali menangis dan merengut, membuat dokter Lucette tertawa geli melihat kedua kakak beradik itu.
"Bawalah ini pada suami anda. Katakan padanya bayi kalian sudah hadir ..." Lucette mengulurkan lembaran gambar USG pada Regina. Karena Regina hanya memandang diam dan masih shock dengan berita gembira itu, Lucius mengulurkan tangannya mengambil lembaran yang Lucette berikan.
"Lalu ambillah resep ini.....Hanya vitamin untuk menjaga tubuh anda dan bayi di kandungan anda...."
Kembali Lucius mengambil kertas resep itu. Setelah sekali lagi bersalaman dan berpamitan, Lucius menghela adiknya keluar dari ruangan Lucette sambil mendekap bahu Reggie yang masih terdiam.
Mereka masuk ke dalam mobil lalu mulai melaju ke arah tempat therapi Eloy Sanchez. Setelah sampai dan berjalan memasuki ruangan, Reggie yang melihat ayahnya tengah duduk di kursi panjang segera mendatanginya lalu memeluknya dan mulai menangis. Lucius terkekeh ketika melihat ayahnya jadi khawatir sambil menepuk-nepuk punggung putrinya.
"Oh ..Jangan khawatir padanya Ayah. Dia hanya sedang emosional karena ternyata tengah mengandung cucumu!"
Pernyataan Lucius membuat Reggie semakin kencang menangis. Eloy yang sempat terkejut mendengar berita itu mendorong bahu putrinya.
"Benarkah itu?" Tanyanya. Reggie mengangguk.
"Lalu kenapa kau menangis?" Tanya Eloy lagi dengan heran.
"Karena aku sangat bahagia ayah......Kukira ada masalah pada siklus haidku....Tapi ternyata....."
Eloy tersenyum lebar. Ia memeluk Regina yang terus menangis di pelukannya. Lalu tangannya terulur di balik punggung Regina ke arah Lucius yang masih berdiri. Mengajak putranya itu duduk di sampingnya. Lucius menurut, Ia duduk disamping ayahnya, Lalu tidak sanggup menahan keinginan untuk memeluk ayah dan adiknya yang tengah berpelukan. Cairan bening mengalir di sudut mata Eloy Sanchez tanpa dapat ia tahan. Ia menangis sambil memeluk putrinya dan dipeluk oleh putranya.
*********
**From Author,
Jangan lupa like, vote, komentar, fav, bintang limanya ya readers...Untuk vitamin penyemangat author.
Terimakasih semua....
Salam DIANAZ**.