
Enrico berjalan menyambut seorang pria yang melangkah dengan senyum lebar di wajahnya. Pria itu baru saja turun dari pesawat. Tidak jauh di belakang pria itu, serombongan orang tampak sibuk dengan dua orang bocah. Salah satu bocah memilih melangkah turun sendiri, tidak mau dipegang dan beradu mulut dengan siapapun yang masih menyentuhnya.
"Apakah itu Erlandmu?" tanya Enrico.
Derek menyipitkan matanya pada Enrico. Tangannya yang sudah terulur tidak disambut oleh temannya itu. Mata pria itu malah fokus memandang ke arah belakangnya.
"Halo, Enrico. Senang bertemu denganmu lagi. Kau kelihatan sehat, gagah, tampan dan juga kaya." sindir Derek sambil menggoyangkan tangannya seolah bersalaman dengan seseorang.
Enrico terbahak, " Terima kasih, Langton. Kau juga. Makin tampan, rupawan dan juga sangat mapan. Sayangnya kau makin bertambah tua ..." Enrico menyalami Derek. Tangan Derek yang bebas terkepal dan melayang ke arah Rico.
Enrico membentang telapak tangannya lalu menangkap tinju itu. Segera salaman mereka terlepas dan balik Enrico yang mengepalkan tangan dan melayangkan tinju. Derek pun menahan dengan telapak tangannya yang membentang dan menangkap tinju Rico. Adegan itu terjadi berulang dan berganti-ganti, makin lama makin cepat hingga keduanya tidak menyadari Amy, Erland, Cecilia, dan dua orang Nanny yang salah satunya menggendong Arthur yang tertidur sudah berdiri mengelilingi mereka.
Frederic yang berdiri beberapa langkah di belakang Enrico memutuskan berdeham dan mengingatkan tuannya yang tengah terbahak bersama tamunya itu.
"Tuan ...," panggil Frederik. Seketika dua pria itu berhenti, lalu Enrico mendorong bahu Derek.
"Kau mulai gemuk," ejek Enrico.
"Kau mengada-ada... bilang saja kau iri padaku, kau makin tua dan belum menemukan istri." Derek balik mengejek. Keduanya kembali terbahak.
"Uhuk!" Amy pura-pura batuk untuk mendapatkan perhatian kedua pria itu. Enrico langsung memiringkan kepalanya, mengintip ke belakang bahu Derek.
"Cara? Kau kah itu, Mungil? Amy Sayang, aku rindu sekali padamu." Rico membentangkan tangannya seolah-olah berniat memeluk Amy. Tangan Derek langsung menepis lengan Rico.
"Jangan coba-coba," desis Derek.
Enrico tertawa, ia mengulurkan tangan meminta tangan Amy. Amy segera mengulurkan tangannya dan Enrico menyambut, lalu mencium punggung tangannya dengan manis.
"Kau selalu menjadi kesayanganku," ucap Enrico sambil mengedipkan mata. Derek terdengar mendengus, membuat Amy terkikik geli. Ia tahu Enrico sengaja berbuat begitu untuk memancing Derek.
"Sayang sekali kau lebih memilih menikah dengannya," ujar Enrico lagi.
Amy tertawa, ia tidak punya kesempatan memilih. Derek melihatnya dan memutuskan menjadikan Amy miliknya, ia tidak bisa lari kemanapun dan bersyukur memiliki Derek yang mencintainya sepenuh hati.
Enrico berpindah pada bocah yang bersedekap dan memandangnya dengan tajam. Tidak suka melihat Enrico mencium punggung tangan ibunya.
"Halo, Erland," sapa Enrico.
Erland mengerutkan keningnya mendengar sapaan itu.
"Aku belum mengizinkanmu memanggil nama depanku," ucapnya tegas .
"Kau memanggil Erland lagi! Namaku Erland Sky Langton. Kau seharusnya memanggilku Langton kecil," ujarnya.
"Baiklah ... Halo, Tuan Langton kecil. Aku Enrico Costra. Senang bertemu denganmu."
"Halo juga Enrico. Aku Erland Sky Langton. Sekarang aku mengizinkan kau memanggilku Erland. senang bertemu denganmu juga," ucap Erland sambil mengangguk-angguk berwibawa. Semua orang tersenyum geli melihat gerak-geriknya.
"Senangnya hatiku, Erland. Terimakasih ... tetapi ... namaku Enrico Costra, Aku belum mengizinkanmu memanggilku Enrico." Enrico menyeringai lebar, sengaja menjahili Erland. Bocah itu langsung cemberut, tarikan otot pipinya mengingatkan Rico pada Derek ketika sedang kesal.
"Aha! Ini pasti Arthur Sky Langton ... rambutmu pirang?" ucap Enrico dengan kening berkerut melihat bocah yang tengah tertidur di gendongan Nanny itu.
"Ayahku berambut pirang. Arthur mirip kakeknya." Amy menjawab pertanyaan Rico.
"Well ... Syukurlah tidak mirip Ayahnya. Dia tampan," canda Rico.
Amy hanya menanggapinya dengan tertawa. Lalu mata Enrico singgah pada gadis berkacamata hitam yang berdiri tak jauh dari sana dengan jaket yang hanya setengah terpasang. Tank top rajut berwarna coklat yang menggantung di perut memperlihatkan pusar gadis itu ketika sedang tidak terhalang oleh tangannya. Gadis itu memiringkan kepala, balik menatapnya dari balik kacamata hitam yang terpasang di wajah. Angin yang berhembus membelai rambut gadis itu hingga melayang.
"Dan siapa dirimu, gadis manis yang cantik? Kau membuat mataku terpaku dan tidak bisa beralih. Sungguh ciptaan terindah, mahakarya yang sempurna," Enrico menatap dengan mata berkilat ke arah Cecilia.
Ucapannya disambut dengusan oleh Derek, tawa terkikik geli dari Amy, pandangan heran dari Erland dan tawa malu dari dua Nanny yang langsung menunduk menyembunyikan senyum.
Cecilia mengangkat kedua alisnya. Ia memperhatikan pria tampan yang menyambut keluarga Langton itu dengan sinar tertarik dari tadi. Seketika senyum lebar menghias bibir Cecilia.
Ah, akhirnya ada hal menarik dan menghibur. Keputusan tepat dengan ikut liburan dengan keluarga Langton....
**********
From Author,
Nantikan lanjutannya ya, harap sabar jika harus menunggu dulu ... Authornya gak hiatus ko, jadi pasti up lagi.
Biar makin semangat authornya, yuk kasih like, vote dan komentar, bintang lima dan juga favorite.
Author ucapin makasihhh banyakkkk
Salam, DIANAZ.