
"Apa yang kau pikirkan?"
Mike menoleh ketika mendengar suara Reggie di sebelahnya.
"Kapan kau datang? Aku tidak mendengarmu."
Reggie memandang langit yang tadi dipandangi Mike. Ia sudah lama berdiri di dekat sana, ia keluar ketika melihat Mike meninggalkan ruangan perawatan ayahnya. Menyusul dan melihat ketika Mike menarik napas panjang dan memandang langit, Sesuatu menggayuti pikiran laki-laki itu.
"Aku menirumu. Kau pandai mendatangi seseorang tanpa suara kan." Reggie tersenyum mengingat Mike yang sering tiba-tiba sudah berada di dekatnya ketika ia masih tinggal di apartemen laki-laki itu.
Mike tertawa dan melepaskan tangannya dari pagar pembatas balkon.
"Meniruku? Apalagi yang sudah pintar kau tiru?" Mike tersenyum dengan mata menyipit memandang Regina yang balas tersenyum.
"Aku tidak akan menjawabnya. Lagipula kau juga belum menjawab pertanyaanku tadi."
"Tidak ada yang kupikirkan, hanya sesuatu yang terlintas di pikiranku saat memandangmu dan Amy tadi," ujar Mike.
"Apa?" tanya Reggie penasaran.
"Pemikiran bahwa seorang bayi akan lahir, lalu akan ada bayi-bayi selanjutnya. Anak-anak ...."
Reggie tersenyum. "Amy akan jadi ibu yang hebat. Aku yakin itu."
"Ya ... kurasa kau juga bila nanti kau menikah dan punya anak."
Reggie menaikkan alisnya mendengar ucapan itu.
"Menikah? Mungkin saja. Bila nanti seseorang mencintaiku dan aku mencintainya," pancing Reggie.
"Sudah menemukannya?" tanya Mike datar.
Reggie hanya diam dan terlihat berpikir. Mike melindungi dan menjaganya dari awal. Tapi tidak lebih, Mike tidak pernah mengatakan menyukainya apalagi mencintainya.
"Untuk sekarang belum. Aku belum menemukannya. Tapi tentu saja aku akan menikah suatu hari nanti. Dengan orang yang mencintaiku dan juga menginginkanku."
Mike diam dan melipat tangannya di depan dada.
Tentu saja Reggie akan menikah, dengan seseorang yang akan memberikan cinta dan keluarga untuknya. Yang pasti orang itu bukanlah aku. Mike membatin dan tiba-tiba merasakan nyeri di lubuk hatinya ketika memikirkan itu.
"Kau tahu ... aku bisa minta Lucius mengenalkanku dengan para relasinya. Melihat Amy sudah akan melahirkan, aku merasa akan sangat bahagia bila aku juga menikah dan memiliki bayi."
Reggie memaki dirinya sendiri di dalam hati, Kenapa kata-kata itu terucap dari mulutnya, seolah ia ingin menguji reaksi Mike.
"Benar. Lucius punya banyak relasi bisnis. Salah satunya tidak akan menolak mengikat hubungan menjadi lebih erat lewat pernikahan." Mike mengoceh. Ia mengumpat dalam hati kenapa kata-kata itu terucap, seolah ia sengaja ingin menyakiti Reggie setelah hatinya sendiri tergores dan nyeri mendengar kata-kata Reggie yang ingin dikenalkan dengan relasi Lucius.
"Sebaiknya aku kembali." Reggie mulai berbalik dan akan melangkah meninggalkan Mike di balkon.
Langkah Reggie terhenti ketika Mike menarik lengannya dengan kasar dan meraup tubuhnya ke dalam pelukan. Mike menunduk dan ******* bibir Reggie dengan sangat kasar, seolah kemarahan ia salurkan lewat ciumannya. Reggie merasakan amarah, kepemilikan dan juga keputusasaan dalam setiap pagutann dan kecupan Mike.
Reggie berusaha menggeliat melepaskan diri dari kukungan lengan Mike di seluruh tubuhnya. Berusaha mendorong dada Mike yang menempel di dadanya.
Mike mengeratkan pelukannya dan memperdalam ciumannya ketika merasakan Reggie melawan. Ciuman itu terasa semakin kasar karena amarah yang Mike rasakan dari dalam hatinya.
Setelah merasa sesak dan kehabisan napas, Mike melepaskan Reggie dan memandang nanar ketika Reggie berlari meninggalkannya dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Ia berbalik kembali ke pagar pembatas balkon. Ingin sekali berteriak kencang ke arah langit kelam. Sekelam pikiran dan hatinya saat ini.
Tak jauh dari balkon itu, seseorang menyaksikan adegan yang merupakan pemaksaan lewat mata hitamnya yang berkilat. Setelah melihat Reggie berlari sambil menangis, ia perlahan meninggalkan tempatnya berdiri.
Jangan dekati Adikku jika kau tidak menginginkannya, Mike! Jangan harap aku akan membiarkanmu membuatnya menangis lagi!
Lucius mengetatkan gerahamnya menahan geram. Ia menyusul mencari Reggie yang sudah lama tidak kembali setelah menyusul Mike. Derek dan keluarganya akan berpamitan pulang. Namun ia tak sengaja mendengar percakapan singkat dan aksi unjuk kemarahan di balkon terbuka itu.
Reggie kembali dan semua orang yang sudah bersiap untuk pulang segera berdiri dan berpamitan. Mereka semua menahan mulutnya untuk bertanya ketika melihat mata Reggie yang sembab seperti habis menangis dan bibirnya yang bengkak, tak lama Reggie kembali Lucius muncul. Mereka semua ingin tahu dimana Mike, tapi berpura-pura dan menahan semua pertanyaan di hati mereka.
"Aku akan minta Lucius agar membawamu ke mansion untuk berkunjung. Aku akan segera melahirkan, tentu saja jika kau sedang punya waktu ketika tidak sedang merawat ayahmu." Amy memeluk Reggie dan mencium pipinya.
"Hei ... jangan menangis. Reggie yang kukenal selalu menang dan tegar menghadapi apapun, tidak ada yang bisa mengalahkan tekadnya, aku menyayangimu." Amy berbisik di telinga Reggie. Mereka sama-sama tersenyum dan berpelukan.
Reggie tahu kata-kata Amy untuk memberi semangat padanya.
Setelahnya Amy menyambut uluran tangan suaminya dan berpaling ke arah Lucius.
"Jangan kurung dia lagi! Biarkan dia pergi kemanapun dia mau! " perintahnya lantang. Lucius membungkukkan tubuhnya dengan tangan terlipat khidmat di depan dada. Memberi hormat dan mengangguk seolah pasangan raja dan ratu yang baru saja lewat di hadapannya.
Derek mendengus keras melihat perbuatan Lucius sambil berlalu dengan mendekap bahu istrinya meninggalkan ruang perawatan.
*********
From Author,
Haishhh ... mulai konflik hati yaaaa.ππ
Jgn lupa like dulu sebelum pindah chapter berikutnya ya guys. Komentar, favorite dan rating bintang limanya juga bagi yg belum klikπππ
Follow karya author dengan klik "ikuti" di profil author ya...Terimakasih semua.
Salam, DIANAZ.