Love Seduction

Love Seduction
Chapter 79. Broken heart



Amy didorong keluar dari kamar bersalin dan akan dipindahkan ke kamar perawatan. Reggie menghentikan perawat sebentar dan memeluk serta mencium Amy.


"Selamat, Amy sayang. Kau akan jadi ibu yang hebat."


Amy mengangguk dan melambaikan tangannya ketika perawat kembali mendorongnya menuju kamar perawatan.


Lucius yang telah kembali segera menyembunyikan dirinya yang berantakan, sampai perawat yang membawa Amy dan Derek yang mengikutinya menghilang di ujung lorong, barulah ia mendatangi Reggie yang berdiri di sana bersama Eve.


Mata keduanya terbelalak memandang Lucius. Reggie segera berlari menyambut kakaknya dengan raut cemas.


"Ya Tuhan ... kau kenapa? Siapa yang memukulmu!?" Lucius mengernyit ketika Reggie menyentuh sudut bibirnya.


"Maaf, maafkan aku! Apakah itu sakit?"


Lalu Lucius sengaja menarik pinggang Reggie dengan kuat. Membuat adiknya itu meringis kesakitan.


"Katakan padaku dimana saja memar di tubuhmu!? Ikut aku sekarang!" Lucius membentak sambil menghela Reggie dengan lembut, berkebalikan dengan nada suaranya yang lantang.


Eve terkekeh senang.


"Kuharap dokter menjahit bibirmu tanpa bius!" sahut Eve kejam.


Lucius melambaikan tangannya sambil melangkah mendekap bahu adiknya.


"Kuharap dia juga dijahit tanpa bius. Kurasa lukanya akan meninggalkan bekas!" Lucius berteriak, membuat wajah Eve akhirnya berubah cemas.


Mike dijahit? Ia terluka? Batin Eve bertanya-tanya.


Namun Eve tak perlu menunggu lama. Mike datang dengan pelipis yang robek dan darah mengalir di pipi. Mata laki-laki itu mulai terlihat bengkak.


"Mike!" Reggie terhenyak dan akan mendatangi Mike, namun Lucius menahannya dan segera menariknya ke arah lift.


"Oh, tidak, tidak ... tidak Regina! Kau ikut bersamaku! Aku harus membawamu ke Dokter Lawrence!" Lucius hampir saja akan menggendong Regina yang masih berkeras ingin mendatangi Mike. Untunglah pintu lift terbuka dan Lucius menyeret adiknya itu masuk.


"Astaga ... ternyata dia kuat juga." Eve tersenyum miring. Mike diam tidak menanggapi.


"Sayang sekali aku tidak merekam moment langka ini. Kami pasti bisa menontonnya berulang kali," ucap Eve lagi.


"Berhentilah mengoceh Evangeline! Aku butuh bertemu Dokter Barkley! Antarkan aku kepadanya sekarang!" sahut Mike dingin. Membuat Eve terkekeh lalu segera menggandeng tangan Mike meninggalkan lorong rumah sakit itu.


**********


Dua hari setelah itu Lucius terpaksa mengantarkan Regina ke Mansion Langton . Adiknya itu tak henti merengek padanya. Mengatakan ingin melihat bayi Amy. Ia belum sempat melihatnya ketika berada di rumah sakit. Dengan berat hati Lucius memenuhi keinginan itu. Kebetulan Amy mengundang Reggie agar datang saat makan malam.


Ayah mereka semakin membaik, Kondisinya pulih dengan cepat. Hanya saja bicara ayahnya pelo dan tidak jelas. Tapi pria tua itu tampak sangat bahagia dengan kehadiran kedua anaknya.


Lucius meninggalkan Lance untuk menjaga ayahnya dan mengikuti Amy yang mengenakan gaun hitam selutut. Adiknya itu tampak bersemangat seperti remaja berumur belasan padahal ia sudah pertengahan dua puluhan.


Mereka mendatangi Mansion Langton dan di sambut oleh Derek.


"Maaf Amy tidak menyambutmu. Ia sedang menidurkan Erland."


Reggie menaikkan alisnya mendengar nama bayi yang disebutkan Derek.


"Bolehkah aku menemuinya di sana?" tanya Reggie.


"Tentu saja. Pergilah," ujar Derek.


Setelah Reggie menaiki tangga dan hilang di lantai dua, Derek kembali menghadap Lucius dan tersenyum senang melihat sudut bibir Lucius yang dijahit dan sisa memar di rahangnya.


"Apakah itu sakit?" tanyanya geli.


"Tidak usah berbasa-basi, Langton!" Lucius bersungut-sungut.


Derek terkekeh dan mempersilakan tamunya masuk. Mereka menuju ke ruang santai yang berada di sebelah ruang makan. Eve dan Alex sudah duduk di sana dan tengah menertawai Mike.


"Jangan sombong, Lucius, atau kupukul lagi hingga bibirmu kembali pecah!"


Tawa membahana di ruangan itu dari mereka yang mendengar perdebatan Lucius dan Mike, lalu Amy yang datang bersama Reggie menghentikan semuanya. Mereka bergerak ke ruang makan dan memulai makan malam dalam suasana kekeluargaan yang kental.


Setelah makan malam usai, alunan musik mengiringi suasana santai di ruangan besar tempat keluarga Langton menjamu tamunya. Alex tampak berdansa dengan Eve, Amy, Derek, dan Lucius tampak mengobrol bertiga, Namun Reggie tidak melihat Mike.


Reggie berjalan ke arah pintu lebar menuju teras dan menuruni undakan tangga. Ia ingin duduk di kursi taman. Tetapi ia mengurungkan niatnya setelah melihat Mike telah duduk di sana sambil memandang langit. Reggie berbalik.


"Kenapa pergi?" Ucapan Mike membuat Reggie berhenti.


"Kau tahu?"


"Langkahmu masih menimbulkan suara ...."


Reggie kembali berbalik dan duduk di sebelah Mike.


"Mengapa kau menyendiri di sini?"


"Hanya butuh berpikir."


"Apakah pelipismu masih sakit?"


"Tidak. Bahumu? Lebam di tanganmu bagaimana?" Mike balik bertanya.


"Sudah diobati. Sudah tidak sakit lagi sekarang."


Kemudian mereka sama-sama terdiam. Reggie berpikir apalagi yang bisa ia bicarakan dengan Mike untuk mencairkan suasana yang terasa canggung.


"Kau tahu si mungil itu dinamai Erland ...." Mulai Reggie.


Mike tersenyum sambil menoleh.


"Ya. Erland Sky Langton. Aku memanggilnya My Knight ." Kebanggaan dalam suara Mike membuat Reggie balik tersenyum.


"Tidak berminat memiliki kesatriamu sendiri, Mike? Anak-anak yang akan memanggilmu Ayah. Bukan nya Paman ...."


Ucapan Reggie membuat Mike mengernyit ke arahnya. Reggie mengumpat dalam hati kenapa ia berani menanyakan hal itu.


"Ummmm ... aku tidak bermaksud apa-apa."


Mike menatap Reggie dengan wajah datar. Reggie tidak dapat menebak apa yang ada di dalam pikirannya.


"Itu tidak cocok untukku ... anak-anak berarti ada ibunya, ada ibunya berarti menikah. pernikahan berarti ada ikatan ... aku pria yang tidak bisa terikat. Tidak ada yang bisa kuberikan pada wanita itu nantinya."


Ucapan Lugas itu membuat Reggie terdiam. Hatinya sekali lagi merasa sakit dan kecewa. Ia tidak sedang menyatakan cintanya pada Mike, tapi seolah Mike sudah memasang garis pemisah agar siapa pun tidak mendekat. Reggie menelan ludah, menata ekspresinya dan mencoba tersenyum.


"Well ... syukurlah kau sudah punya Keluarga yang mencintaimu sebesar kau mencintainya."


Mike tampak melirik ke arah pintu mansion yang terbuka lebar, alunan musik dan suara tawa sampai ke tempat mereka.


"Ya ... kau benar."


Reggie tidak lagi sanggup duduk di sana dan menahan hatinya seolah tidak terjadi apapun. Ia berdiri dan pamit.


"Aku perlu ke toilet. Aku tinggal ya ...." Lalu ia melangkah meninggalkan Mike yang menyipit memandang punggungnya.


"Mau kemana?" Amy menghentikan Reggie yang melewati sofa mereka. Dengan terpaksa Reggie berhenti dan memasang senyum.


"Aku ingin ke toilet. Perutku sedikit sakit. " Lalu Reggie kembali berjalan dan melambaikan tangan.


Setelah terkunci di dalam toilet, Reggie menghidupkan kran sehingga suara air terdengar mengucur deras. Ia mulai menangis. Hatinya terasa sangat kecewa. Belum apa-apa Mike kembali menegaskan garis itu padanya, hatinya patah. Untuk kedua kalinya Reggie merasa dirinya ditolak oleh Mike.


**********