
Lance menghentikan mobil di depan kediaman mansion Eliazar, Lucius yang duduk di sebelahnya menatap dari balik kaca ke arah pintu rumah.
"Ayo, Lance. Kita turun," ujarnya sambil membuka pintu mobil. Lucius berderap ke arah pintu depan, belum lagi sampai kakinya menapak di teras, kepala pelayan, Leigh sudah membukakan pintu untuknya.
"Selamat pagi Tuan Lucius," ujar pria tua itu sambil tersenyum dan membungkuk sopan.
"Selamat pagi, Leigh. Dimana semua orang?" tanya Lucius sambil menatap aula yang sepi.
"Bergabunglah di meja makan ,Tuan. Semuanya sedang sarapan," ujar Leigh lagi.
"Ah, kebetulan sekali. Aku belum sarapan." Lucius menoleh ke belakang, mencari sosok Lance yang berjalan menuju mereka.
"Lance, ayo ikut aku. Kita sarapan." Lance hanya mengangguk sopan dan menyapa Leigh yang masih berdiri di dekat pintu. Pria tua itu balas menyapa.
"Silakan, Tuan-tuan ...." Leigh mengarahkan dua pria itu ke ruang makan.
"Kakak!" Regina segera bangkit ketika melihat Lucius, ia memeluk lalu mencium pipi kakaknya itu bergantian kiri dan kanan.
"Ada apa? pagi-pagi sekali kau berkunjung," ucap Reggie penasaran. Lalu ia menarik dua buah kursi, yang satu di samping ayahnya di sisi kanan meja dan yang satu lagi di sebelahnya di sisi kiri meja. Lucius segera mengambil tempat di sebelah Reggie sambil menyuruh Lance duduk di samping Eloy.
"Kau menculik ayah, sehingga aku harus sarapan hanya berdua dengan Lance. Itu terlalu sepi ...." ucap Lucius dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Mike yang duduk di kepala meja mendengus.
"Bergantian Lucius, kami juga ingin melihat ayah setiap hari, lagipula ayah senang di sini karena dapat melihat Marie kapanpun ayah mau. Bukan begitu ayah?"
"Kau benar sekali Mike, aku ingin melihat pertumbuhan Marie setiap hari. Aku tidak mau melewatkannya," ujar Eloy sambil mengangguk.
"Tidak bisa terus begitu Ayah, aku juga ingin melihatmu setiap hari, Menemaniku di mansion Sanchez. Kenapa kau harus selalu di mansion Eliazar, kau bisa datang kapanpun kau mau untuk menjenguk Marie." Mike menyadari suara iparnya yang bersungut-sungut dan tawanya terbit.
"Memangnya kenapa kalau Ayah mau terus menginap di sini? Regina dan Marie adalah teman menyenangkan untuk Ayah." Mike tertawa sambil kembali menggigit roti bakar sarapan paginya.
Lucius ikut menggigit rotinya sendiri yang telah diletakkan oleh pelayan di piringnya.
"Ayah tidak perlu berada di mansion Eliazar terus menerus. Sudah ada beruang besar ini yang menemani Regina. Sedangkan aku hanya sendirian ditemani Lance." ucapan Lucius hanya disambut dengusan oleh Mike. Ia tahu sebutan beruang besar tadi ditujukan Lucius untuk dirinya.
Regina dan Lance hanya mendengarkan perdebatan itu sambil terus mengunyah. Mereka berhenti tiba-tiba ketika mendengar kata-kata Eloy Sanchez setelahnya.
"Carilah istri dan menikahlah Lucius. Lalu berikan Ayah seorang cucu lagi. Mungkin Ayah akan pulang dan akan terus berada di mansion Sanchez setelahnya."
"Ah, itu benar ayah, jangan pulang sebelum ia menikah," ucap Mike sambil tertawa geli.
Reggie dan Lance menatap bergantian Mike yang tertawa geli dan Eloy Sanchez yang tersenyum penuh perhitungan. Lalu keduanya menatap Lucius yang hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Ayo makan ... sarapannya nanti dingin. Tidak enak!" ucapan Lucius membuat semua orang akhirnya terkekeh. laki-laki itu mengalihkan pembicaraan tiba-tiba agar tidak perlu membahas kata-kata ayahnya tentang menikah. Akhir-akhir ini, sejak Marie lahir, ayahnya makin sering menanyakan pertanyaan itu padanya.
Kapan kau menikah Lucius? akupun bertanya-tanya apakah aku akhirnya bisa menemukan seseorang yang aku cintai dan aku inginkan. Seperti Derek yang akhirnya menemukan Amy dan Mike yang menemukan Regina ....Lucius berfikir sambil menatap berkeliling meja makan ,satu demi satu wajah anggota keluarganya, lalu berhenti pada satu kursi kosong, matanya berandai membayangkan seorang gadis yang tersenyum hangat ke arahnya. Seorang gadis yang akan duduk di sana jika saja ia menemukannya dan akhirnya menikah.
Lucius menyuap lagi, sampai saat ini tidak ada yang membuat hatiku merasakan getaran itu. Rasa yang manis dari cinta yang membuncah dan keinginan memiliki seseorang ,ingin orang itu selalu ada di sampingku, ingin selalu melindungi dan menjaga orang itu, memberinya cinta dan kasih sayang yang teramat besar dari dalam hatiku ... akankah dia datang?
**********
"Halo Marie ...." Lucius menatap ke arah box bayi, bayi mungil mengenakan jumper berwarna pink itu menggerak-gerakkan kaki dan tangannya dengan aktif.
"Kau sudah sarapan?" Lucius mencolek pipi bayi mungil itu.
"Paman sudah," ujarnya kemudian, seolah-olah Marie balik bertanya dan ia menjawab pertanyaan itu.
"Bisakah paman menggendongmu?"
"Tidak, Paman Lucius. Kau ditunggu kakek di bawah bersama Daddy." Regina menjawab pertanyaan kakaknya setelah masuk ke kamar bayi.
"Turunlah, temui ayah ...." ucap Reggie sambil tersenyum.
"Pasti itu lagi yang akan ia bicarakan," keluh Lucius sambil mengernyit.
"Menikah bukan hal yang rumit kok," ucap Reggie pasti.
"Tentu saja, karena kau mencintai suamimu! lihat saja apa yang terjadi ketika kau tidak mencintainya lalu tiba-tiba ia menculikmu dan memaksamu menikah. Aku yakin tidak akan semudah itu bagi Mike menikahimu, Gina. Kau akan melawan Mike sampai akhir."
Regina terdiam dan menatap kakaknya dengan sedikit kikuk. Kakaknya benar, ia menikahi Mike tanpa paksaan, walaupun laki-laki itu terpaksa menikahinya dengan cara menculik dan menjauhkannya dari keluarganya.
"Tentu saja aku mau menikah, tapi seseorang yang bisa mengisi hatiku belum datang, Gina. Kenalan perempuanku banyak, relasi bahkan rekan bisnis atau putri mereka yang dikenalkan padaku. Tapi aku tidak merasakannya ... kau tentu tahu ... desiran aneh itu ...."
"Aneh?" tanya Reggie dengan kening berkerut.
"Ya, aneh. Desiran aneh yang kau rasakan ketika melihat Mike. Desiran aneh itu sampai terpancar di kilau matamu Gina ...."
Reggie akhirnya tersenyum mengerti.
"Kuharap kau menemukannya kakak. Dan ia akhirnya datang padamu."
Lucius mengangguk, " Ya. Setelah melihat cinta antara dirimu dan Mike, aku berharap aku akan menemukan satu untuk diriku. Aku berharap tak kurang dari yang kalian rasakan satu sama lain."
"Oh, Kakak ... Aku mengerti. Aku berdoa semoga dia datang."
Lucius mengangguk, " Jadi kau mengerti kenapa aku tidak mau dijodoh-jodohkan bukan? "
Regina mengangguk, " Ya ... Aku sangat mengerti kakak ...."
"Jadi tolong beritahu Ayah, jangan terus bertanya tentang kapan menikah padaku ...." Lucius mengedipkan mata pada adiknya itu.
"Oh, itu harus kau tangani sendiri kakakku sayang," Reggie terkekeh sambil mendorong tubuh Lucius agar bergerak keluar dari kamar bayi.
"Kukira kau setuju dengan ucapanku tadi," sungut Lucius.
"Tentu saja aku setuju. Tapi kau tidak pernah berusaha mencarinya diantara ribuan orang di dunia ini kakak. Jadi kapan kau bisa menemukannya?"
Lucius berhenti di luar pintu kamar bayi.
"Apa harus bicara dengan ayah sekarang?" tanyanya lagi. Berharap Reggie membantunya agar tidak harus bicara dengan ayahnya.
"Ya, Ayah menyuruhku memanggilmu. Sekarang ia menunggu di teras samping dekat kolam renang. Pergilah, temui ayah. Mike dan Lance sudah bergabung sejak tadi."
"Suamimu akan mengejekku lagi bila ayah menyinggung masalah menikah kembali." Lucius menarik nafas seolah merasa tertekan di hadapan Regina. Namun adiknya itu malah tertawa geli.
"Kau juga sering mengejeknya, Kakak. Kalian melakukannya sejak dulu. Aku malah heran jika kalian duduk bersama dan tidak saling menyindir ... Ayo, sekarang pergilah," ucap Reggie sambil mendorong bahu kakaknya.
Tawa Reggie menggema di depan pintu kamar bayi ketika menyaksikan Lucius melangkahkan kaki dengan bersungut-sungut dan tampak jengkel, laki-laki itu akhirnya turun juga dan berjalan menuju teras tempat ayahnya sudah menunggu bersama Mike dan juga Lance.
**********
From Author,
Up tidak tentu ya my Readers πππ, bisa tengah malam, sarapan pagi, makan siang ataupun makan malam, atau juga jadi snack pagi menjelang siang or snack sore menjelang malamπππ kenapa author jadi malah ngomongin makanπππ
Jangan lupa komentar, like, vote, bintang lima and favorite ya my Readers. Jadi vitamin penyemangat buat authorπππ
Terimakasih semua...
Salam, DIANAZ.