
Lance mengambil gelas minuman dan menyesap, semuanya terasa menyenangkan dan berjalan normal. Hanya satu yang tidak normal, sejak tadi mata abu-abu Tuan Mike kerap singgah ke dirinya.
Tatapan itu terasa menggelisahkan bagi Lance. Seolah pria bertubuh besar itu tengah menyelami jiwanya.
Beberapa kali tatapan Cecilia Damario ia dapati juga singgah. Lance mendapati kilat yang sama melintas di mata bulat besar itu. kilasan rasa tidak suka saat melihat sosoknya. Lance tersenyum miring sesaat sebelum ia kembali menyesap minuman, sepertinya rasa antipati gadis itu makin menjadi ketika ia bersikap seolah-olah tidak tahu atas rasa geram atau apapun yang tengah gadis itu rasakan terhadapnya.
"Lance ...." Seseorang terdengar memanggilnya.
Panggilan itu membuat Lance berbalik. Ia segera mengangguk hormat.
"Ya, Tuan," jawabnya sopan pada Lucius yang mendatanginya dengan menggandeng nona Cecilia.
"Aku akan mengantar Cecilia pulang. Bisa kau beritahu Ayah? aku tidak dapat menemukannya diantara keramaian ini," ucap Lucius.
"Baik, Tuan. Saya akan sampaikan. Bolehkah saya tahu apakah anda akan kembali lagi kemari atau tidak setelah mengantar Nona Cecilia nanti?"
"Tidak, aku akan langsung pulang."
"Baiklah, Tuan."
Lucius mengangguk puas. Lalu menunduk menatap Cecilia yang ada di gandengan tangannya.
"Ayo Cecil ... aku akan mengantarmu pulang. Kau pikirkanlah apa yang tadi kita bicarakan," ucap Lucius.
"Oke ...." Cecilia mengangguk antusias, "aku akan memikirkannya."
"Bagus, itu baru gadisku," ujar Lucius sambil menyentil puncak hidung Cecilia dengan jari telunjuknya. Cecilia terkekeh dan berusaha menangkap jari itu, namun Lucius mengelak dan meliukkan jarinya. Keduanya lalu tertawa bersama.
Lance hanya diam dan menyaksikan, sepertinya perkembangan hubungan dua orang di hadapannya ini telah maju pesat.
"Kami pergi, Lance. Katakan kalau kami pulang lebih dulu jika ada yang bertanya," ucap Lucius sambil melambai dan menarik Cecilia agar mengikuti langkahnya. Lance membungkukkan tubuhnya mengiyakan ucapan Lucius.
Lance menatap sampai punggung tuannya tidak lagi terlihat. Ia sungguh berharap tuannya itu menemukan cinta sejatinya pada nona Cecilia Damario. Cinta yang sama seperti yang terlihat terjadi dan dirasakan oleh tuan Mike pada nona Reggie.
Ketika melihat para tetua Klan Langton di suatu sudut tengah seru mengobrol bersama Derek dan beberapa orang pria muda, Lance melangkahkan kakinya mendekat mencari Tuan Eloy diantara kerumunan itu dan perkiraannya benar. Tuan Eloy tengah duduk dengan santai, tubuhnya tertutupi oleh tubuh besar beberapa anak muda yang merupakan para pewaris dari keluarga-keluarga yang berada di klan Langton.
"Ah, Lance. Kemarilah," ajak Derek yang pertama kali melihatnya mendekat. Lance mendekat dan berdiri di belakang sofa yang diduduki oleh Frank Damario. ia membungkuk hormat dan mengucapkan salam.
"Apa kau melihat Lucius, Lance?" tanya Eloy.
"Tadi beliau mencari Anda, Tuan," ucap Lance.
"Mencariku? Ada apa?"
"Beliau pamit untuk pulang lebih dulu, setelah mengantar Nona Cecilia," ucap Lance lancar.
Frank Damario yang duduk di depan Lance berbalik menoleh dan mendongak menatap ke atas.
"Mengantar Cecil?" tanyanya pada Lance.
Lance mengangguk. "Benar Tuan. Nona Cecil ingin pulang, dan Tuan Lucius pergi mengantarnya."
"Ah, bukankah itu bagus? Lucius dan Cecil kita yang ceria. Aku suka melihat mereka bersama," Derek menatap ke arah Frank Damario. Menilai ekspresi pria itu, lalu melirik Eloy.
Keduanya tersenyum, tampak senang dengan kemungkinan dua orang itu menjadi pasangan.
"Aku akan sangat senang bila pria hebat yang begitu penyayang seperti Lucius menjadi menantuku, Derek. Kita tahu bagaimana ia begitu berani mempertaruhkan nyawanya untuk Reggie. Bayangkan jika ia menemukan seorang wanita yang ia cintai, aku yakin ia akan menyayangi dan melindunginya dengan seluruh jiwanya."
Eloy Sanchez tersenyum mendengar penuturan Frank tentang putranya. " Aku juga senang bila punya menantu seperti Cecilia, Frank. Sudah cantik, baik, dia juga selalu mampu memeriahkan dan menceriakan suasana hanya dengan kehadirannya."
"Nah, apa yang kalian tunggu? kenapa tidak segera membuat sebuah pesta pertunangan untuk mereka?" Derek menyeringai lebar ketika berbicara. Kemungkinan Lucius menikah membuatnya gembira dan jadi punya bahan untuk mengolok-olok pria itu. Seperti yang selalu ia lakukan dulu ketika ia sudah menikah dengan Amy.
Eloy dan Frank tertawa bersamaan, semua orang yang hadir di sana menatap penasaran pada dua pria tua itu, menunggu keputusan keduanya tentang putra putri mereka.
"Keinginanku adalah melihat putriku bahagia, Derek. Jika pilihanku adalah merupakan pilihannya juga, maka barulah pertunangan akan di adakan. Tidak akan terlaksana jika putriku belum mengatakan iya." Frank tersenyum, dan menatap mata Eloy yang tersenyum mafhum.
Frank Damario mengangguk. "Karena itu kita semua hanya bisa menggiring mereka, berharap perasaan mereka benar-benar berubah saling menyayangi dan mencintai setelah kebersamaan yang kerap mereka jalani."
Derek tersenyum, ia tahu kedua orang tua itu akan melakukan yang terbaik untuk Lucius dan Cecil. Namun, Derek sungguh tidak yakin jika keputusan diserahkan pada Lucius. Pria itu tidak akan mengambil langkah, keyakinan Derek setelah mengenal Lucius membuatnya menyimpulkan hal ini dengan cepat. Tidak akan ada pertunangan jika semuanya terserah pada Lucius.
Derek berharap Lucius bisa mencintai dan menerima Cecilia. Gadis ceria dan penyayang itu pasti akan membuat hidup pria itu jadi berwarna. Namun, paman Frank dan tuan Eloy benar, tidak benar memaksakan pertunangan itu pada keduanya jika keduanya tidak mau.
Lance hanya diam dan mendengarkan. Pikirannya sibuk dengan kemungkinan tentang pertunangan tuannya dengan nona Cecilia.
Gadis itu ceria dan penyayang, ia terlihat suka membantu siapapun di tiap acara yang ia hadiri, selalu mampu membuat setiap orang tertawa hanya dengan guyonan kecil dari bibirnya. Tuan Lucius akan sangat beruntung bila berpasangan dengan nona ini. Terlepas dari rasa tidak sukanya terhadap Lance, Cecilia merupakan pasangan yang cocok untuk tuan Lucius.
Namun Lance sangat pesimis tuannya akan mengambil langkah untuk menuju ke arah pertunangan. Tuannya itu memang tidak menolak ketika arahan dan beberapa kesempatan yang sengaja dibuat untuk mendekatkan keduanya dilakukan oleh keluarga klan Langton dan juga Sanchez. Laki-laki itu menurut saja, sama seperti nona Cecilia dan memang keduanya terlihat jadi lebih dekat karenanya. Namun, entah kenapa Lance merasa keduanya bersikap seperti itu karena tidak mau mengecewakan keluarga mereka, Lance tahu tuannya Lucius punya cinta yang besar dan berlimpah untuk keluarganya bahkan orang lain, hingga ia tidak sedikitpun membantah sang ayah. Sepertinya nona Cecilia juga begitu.
Lance menarik napas panjang, semoga ke depannya menjadi lebih baik. dengan keakraban yang terlihat saat ini, bisa tumbuh perasaan sayang bahkan mencintai di hati keduanya untuk satu sama lain. Lance sungguh berharap hal itu terjadi.
Jika ingin keduanya bertunangan, maka harus ada pemicu, sehingga keputusan itu akan diambil oleh keduanya dengan keputusan sendiri walaupun ada sedikit dorongan dari orang lain.
Apakah ia perlu melakukan sesuatu? Lance berpikir sampai keningnya berkerut.
"Jangan terlalu banyak berpikir Anak Muda ... carilah pasangan dansamu dan berdansalah. Kau terlihat tegang." Teguran halus itu membuat Lance mendongak dan menatap ke sumber suara. Pria tua dengan rambutnya yang hanya tinggal sedikit dan memutih, Tuan Noel yang tadi telah menegurnya.
Lance tersenyum sebelum kembali ke wajah datarnya.
"Terimakasih,Tuan. Tapi saya tidak terlalu suka berdansa," ujar Lance sopan.
"Sayang sekali ... padahal gadis-gadis Klan Langton telah menunggu ajakanmu untuk mengajak mereka ke lantai dansa," ujar Paman Noel.
"Benar Lance. Nikmati pestanya. Di sini tidak ada pekerjaan. Berdansalah ...." ujar Derek.
"Mulailah mencari calon istri, Lance. Kau dengar yang dikatakan Lucius kemarin bukan? kau dulu yang menikah, baru kemudian dia akan menikah ...." Suara Mike terdengar menimpali ucapan Derek. Pria itu sudah datang dan berdiri di belakang salah satu sofa.
"Benarkah Lucius bilang begitu?" tanya Paman Stefano dengan tertarik.
"Ya, karena umur Lance setahun lebih tua di atas Lucius, jadi menurut Lucius, Lance dulu yang menikah, baru dirinya akan menikah," ucap Mike sambil menyeringai. Ia sengaja memberi umpan.
Eloy Sanchez tertawa renyah. "Ya, aku juga akan mencarikan jodoh untuk Lance. Dia harus berhenti hanya memikirkan pekerjaan."
"Ah ... Putri Dunant sudah dalam usia layak menikah bukan?" tanya Frank Damario.
"No, uncle Frank ... gadis itu sebentar lagi akan bertunangan," ucap Derek.
"Bagaimana jika berkenalan dengan keponakanku, Lance?" ucap paman Stefano lagi.
"Ya, Lance. Sepupuku Leticia sangat cantik," seorang pria muda yang terlihat mirip dengan Tuan Stefano ikut menimpali. Lance yakin pria muda ini adalah pewaris Stefano.
Lance memijit keningnya. Tiba-tiba ia merasa sakit kepala dan mual.
"Saya berterimakasih, Tuan-tuan sangat perhatian pada saya. Tapi ini tidak perlu, sungguh ... tolong tidak usah melakukannya ... saya mohon maaf, saya undur diri, saya perlu ke belakang," ucap Lance cepat, lalu tanpa menunggu jawaban langsung berbalik dan pergi. Ia menahan langkah kakinya agar berjalan normal, padahal keinginannya adalah segera berlari dari tempat itu.
Tuan Mike ... Anda sengaja melakukannya , rutuk Lance di dalam hati.
**********
From Author,
Haiiii ...jangan lupa Like, love, komentar ,bintang lima and vote ya🙏🙏🙏
Ikuti kisah selanjutnya..kira kira siapa yang akan bertunangan
Terimakasih semua...
Salam, DIANAZ.