
Lucius mendengarkan penuturan Pabio dan juga Ester. Semua peristiwa yang terjadi sejak Lucius pergi meninggalkan rumah itu.
"Sekarang dimana pria buncit kurang ajar itu!?" tanya Lucius geram.
"Kami juga tidak tahu ... Tuan Rico yang menangani pria itu. Kurasa ... mungkin pria itu sudah mendekam dalam penjara," ujar Pabio.
"Dan sekarang Ally dan Alan tinggal di mansion Rico? Atas kehendaknya sendiri?" tanya Lucius geram.
"Ya, Tuan. Kami sudah mengajaknya pulang. Tapi tetap saja ia tidak mau," jawab Ester.
"Apa kalian yakin ini semua bukan sandiwara dari Tuan Costra? Ia mengatur semua ini ... Agar Ally secara sukarela ikut dengannya?" Lance memberikan pendapatnya. Membuat Lucius, Ester dan Pabio saling berpandangan.
"Ini hanya pendapatku saja," tambah Lance lagi.
"Entahlah Tuan ... Ketika tiba di rumah Ally, Ally sudah pingsan. pakaiannya robek oleh cambukan,kulitnya terluka dan tubuhnya penuh bercak darah. Alan juga terlempar dan pingsan. Saat itu Tuan Rico nampak sangat marah ... Dia menghukum Carloz dan membawa Ally dan Alan ke rumah sakit." jelas Pabio.
"Kurasa kita akan tahu jika sudah bertemu dengan pria ini. Kita tidak perlu membuat janji dulu bukan?" tanya Lance sambil menatap ke arah Lucius.
"Tidak perlu, Lance. Kita akan mendatanginya malam ini. Hubungi Alex. Minta ia mengirim orang-orang nya. Aku akan membawa Ally bagaimanapun caranya...."
**********
Asisten Enrico Costra memandang tamunya. Dua orang pria dengan tubuh gagah dan terlihat tampan. Ia dan Tuan Rico sudah memperkirakan akan kedatangan dua orang ini.
"Silakan duduk dulu, Tuan-tuan. Saya akan memanggil Tuan Rico," ucapnya sambil membungkuk, lalu berlalu meninggalkan para tamunya.
Lance segera duduk dan mengatur posisinya senyaman mungkin, sedangkan Lucius tampak gelisah. Ia berjalan mondar-mandir dengan tangan bersedekap dan kening berkerut.
Di lantai atas mansion, Rico menyerigai ketika Frederic, asisten dan tangan kanannya datang dan memberitahunya atas kedatangan dua tamu yang sudah ia tunggu-tunggu.
"Bagaimana rupa mereka?" tanyanya penasaran. Frederic tersenyum geli tapi hanya berani di dalam hati. Kenapa Tuannya itu tidak segera turun saja dan melihat sendiri. Kemudian ia menjawab pertanyaan Tuannya sesuai penilaian dari matanya.
"Mereka terlihat tampan. Tuan Lucius dengan rambut hitamnya yang hitam berkilat, rambut nya di ikat satu di belakang leher. Sebuah anting berlian tersemat di telinga kirinya, Matanya yang berwarna hitam tampak tajam dan wajahnya sedikit terlihat gelisah. Kurasa ia sudah tidak sabar untuk bertemu Ally. Tangan kanan Tuan Lucius terlihat lebih tenang. Tuan Lance yang tampan menampilkan wajah datar tanpa ekspresi yang terkesan sedikit dingin."
Rico menaikkan sebelah alisnya mendengar penuturan Frederic.
"Lebih tampan mana? Aku atau mereka?"
Pertanyaannya membuat Frederic terdiam. Ah, kenapa aku bilang mereka terlihat tampan? membuat rumit saja ... Frederic memarahi dirinya sendiri. Ia baru saja memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan ketika Rico tampak bangkit dan mengibaskan tangannya ke arah Frederic.
"Tidak usah jawab, Fred. Kau harus berfikir dulu sebelum menjawabnya, bukan menjawabnya secara spontan. Apapun jawabanmu akan membuat aku tidak percaya," ucap Rico sambil mencibir.
Frederic hanya diam, lalu mengikuti dari belakang langkah kaki tuannya yang pergi untuk menemui dua tamunya.
"Saya lupa bilang, Tuan. Mereka membawa serombongan penjaga ... Di luar tampak ramai," bisik Frederic.
Rico yang sudah berada di tangga bagian atas tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah asistennya dengan alis terangkat.
"Mereka membawa pasukan?" tanya Rico sambil menyerigai. Frederic menganggukkan kepalanya. Rico tetap menatap ke arah Frederic, sambil menyembunyikan senyum gelinya.
"Jangan melihat ke bawah, Tuan. Mereka memandangi anda, jangan tunjukkan wajah dengan senyum geli itu," bisik Frederic lagi. Rico segera saja berdehem dan mengatur ekspresi wajahnya. Wajah tegas, penuh kharisma dan juga berwibawa dengan tatapan mata setajam elang.
Lucius dan juga Lance menatap ke arah tangga bagian atas ketika mengengar suara langkah kaki. Mereka melihat seorang pria dengan tubuh besar dan gagah berdiri sambil menoleh ke belakang, ke arah seorang pria yang tadi menyambut mereka. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu. Wajah pria itu tidak jelas karena ia menoleh ke belakang. Tapi dari sosoknya yang gagah, Lucius tahu pria itu pastilah mempesona, apalagi di mata para wanita.
Rico melangkah turun dan mendatangi dua pria yang menjadi tamunya. Ia menebak pria yang berdiri dengan kaos turtleneck dan rambut panjang adalah Lucius, sedang yang duduk dan mengenakan kemeja santai adalah Lance. Lance kemudian berdiri ketika ia tiba, mengulurkan tangan dan memberikan senyuman.
Rico menyambut dengan ramah, lalu kembali mempersilakan kedua pria itu untuk duduk.
Lucius juga mengulurkan tangannya ketika Lance selesai menyalami Rico. Rico menyambutnya dengan ekspresi ramah, walaupun ekspresi Lucius terlihat tidak sabar dan mata hitam pria itu memandang berkeliling seperti mencari sesuatu atau seseorang , fikir Rico geli.
""Sudah lama kita membuat janji untuk bertemu, dan baru sekarang terlaksana," ucap Rico mengawali pembicaraan dengan tamunya.
"Ya ... Kau pasti sudah tahu apa keperluan kami kemari," ucap Lucius.
"Silakan, kau bisa memanggilku Lucius, dan panggil dia Lance,"
Rico mengangguk, masih dengan tersenyum ramah.
"Sebaiknya kalian mengatakannya, dengan jelas. Apa keperluan kalian kemari. Aku bisa menebaknya, tapi siapa tahu aku salah ... Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan penawaranku atas tanahmu bukan, Lucius."
"Tidak. Aku kemari mencari Alison Adair dan adiknya Alan Salvadore. Pabio dan Ester menemui mereka di mansion ini. Sekarang bisakah Aku menemui mereka?"
"Boleh aku tahu apa keperluanmu menemui mereka?" tanya Rico dengan nada lembut yang dibuat-buat.
Lucius dan Lance berpandangan.
"Boleh aku bertanya apa kapasitas Anda menanyakan itu, Tuan? Anda bukan kakak Alison, juga bukan walinya. Anda bukan keluarganya. Hanya kebetulan anda menolongnya dan membawanya kemari bukan?"
Rico terkekeh, " Sama seperti Tuanmu, Lance. Hanya kebetulan menolong Ally lalu membawanya ke rumah perkebunannya. Bukan begitu?"
Lance terdiam, Lucius menggeretakkan gerahamnya menahan emosinya yang mulai naik. Ia berharap Rico tidak akan mempersulitnya ketika ia datang kesini, ia sudah sangat rindu untuk melihat Ally. Tapi sepertinya harapannya tidak akan tercapai.
"Dimana dia? Katakan padanya aku yang datang dan ingin bertemu!" nada memerintah terdengar di kata-kata Lucius. Membuat Rico terkekeh.
"Itulah yang dikatakan Ester pada Ally. Bahwa kau akan datang dan menjemputnya. Tapi Ally punya keinginan sendiri. Dia tidak mau bertemu denganmu. Aku tidak menyembunyikannya atau melarangnya bertemu dengan siapapun. Termasuk dirimu. Tapi seperti yang tadi aku katakan, Ally sendiri yang tidak mau bertemu denganmu."
"Kau berbohong! Ally tidak mungkin melakukan itu!"
"Bohong? Kaulah yang telah berbohong padanya Tuan Sanchez! Aku tidak melakukan apa-apa padanya. Hanya membebaskannya dari Carloz. Soal dia yang tidak mau bertemu denganmu, sama sekali tidak ada hubungannya denganku," ucap Rico setengah mencibir pada Lucius yang sudah terlihat naik darah.
"Aku akan menemukannya, Enrico Costra! Jangan fikir kau bisa terus menyembunyikan Ally dan juga Alan!" ucap Lucius dengan nada marah.
Rico tersenyum, "silakan saja, Lucius. Sudah kukatakan aku tidak menyembunyikannya. Ally sendiri yang menolak untuk bertemu denganmu," ucap Rico.
Lance segera menengahi, ikut bicara dan memberikan sedikit ultimatum pada Rico.
"Kami berterimakasih atas informasi yang anda berikan Tuan Rico. Jika anda keberatan memberitahu dimana Nona Ally berada, maka tidak ada pilihan bagi kami selain mencarinya sendiri. Keluarga Sanchez akan melakukan apapun untuk menemukannya. Termasuk mengobrak-abrik seluruh perkebunan anda jika perlu," ucap Lance dengan nada suara yang dimanis maniskan.
Rico menaikkan kedua alisnya. Itu adalah ancaman untuknya.
Lucius bangkit dan mengajak Lance pulang.
"Kami pamit, Enrico Costra. Sampaikan pada Ally ... percuma saja jika dia bermaksud bersembunyi dariku. Aku akan menemukannya. Bagaimanapun caranya!"
Lalu Lucius berbalik, pergi meninggalkan aula tamu mansion itu. Di ikuti oleh Lance yang sebelumnya tetap membungkukkan badan memberi hormat pada tuan rumah mansion itu.
Rico tidak dapat menyembunyikan serigai yang segera muncul di bibirnya ketika melihat tamunya yang berlalu dengan rasa marah.
"Kau benar dengan bersembunyi dulu, Ally. Kau bisa menguji sampai mana ketulusan laki-laki itu. Sepertinya ia mencintaimu dengan sepenuh hatinya, dan menginginkanmu bagaimanapun caranya. Akan sangat menarik menyaksikan cara pria itu untuk kembali mengambil hati Alison, bukankah begitu, Fred?"
Frederic yang berdiri tak jauh dari tempat itu hanya mengangguk. Tuannya tidak berbohong sama sekali. Nona Ally telah pergi dengan membawa Alan. Gadis itu mengatakan tidak mau bertemu dengan Tuan Lucius Sanchez, baginya Lucius Sanchez yang dulu ia kenal sama sekali tidak pernah ada. Yang ada adalah Lucius Sanchez, putra dari Eloy Sanchez, pemilik tanah perkebunan yang sempat di tinggali dan disinggahi oleh Ally bersama Alan.
**********
From Author,
Ah, akhirnya 2 part hari ini, jika chapter ini lolos. Happy Reading ya semuanya๐๐๐๐๐๐
Jangan lupa tekan like, ketik komentar, bintang lima dan favorite....dan terakhir Vote ya sayangkuhhhh๐๐
Terima kasih semuanya...
Salam, DIANAZ.