
"Kenapa kau malah diam saja, Lucius?" Cecilia menatap dengan perasaan tidak menentu ke arah Lucius yang duduk di sofa di seberangnya.
"Apa yang harus kukatakan? Mereka tidak bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mereka hanya memberikan ultimatum. Apa yang harus aku lakukan dan kapan akan di selenggarakan. Kita akan segera bertunangan Cecil," Lucius menatap datar gadis yang tampak khawatir di hadapannya.
Cecilia mendatanginya ke gedung kantornya untuk pertama kali. Menanyakan apa yang dibicarakan oleh ayahnya dan ayah Lucius malam itu setelah kejadian mereka terpeleset. Ayahnya hanya menepuk bahunya dan mengatakan semua akan baik-baik saja ketika Cecil bertanya pada pria itu. Ibunyapun hanya menjawab dengan menyunggingkan senyum.
"Bertunangan?" tanya Cecilia.
"Ya ... Kenapa? kau tidak mau?" Lucius menaikkan kedua alisnya.
"Bukan masalah mau atau tidak mau ,Lucius. Ini terlalu cepat, perasaanku dan perasaanmu belum berkembang sampai ke sana. Kau berhak mendapatkan seorang gadis yang mencintaimu sebesar kau mencintainya ...."
Cecilia mengerutkan kening ketika Lucius terkekeh mendengar kata-katanya.
"Kenapa kau malah tertawa?" tanyanya heran.
"Apa yang lucu?" kejar Cecilia lagi karena Lucius tidak kunjung menjawab, malah tertawa makin geli.
"Kau menyakiti hatiku, Cecilia Damario. Secara tidak langsung kau memberitahuku, kalau kau tidak mencintaiku," ucap Lucius dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Wajah Cecilia memerah mendengar perkataan Lucius.
"Aku tidak bermaksud mengatakan itu. Tentu saja aku menyukaimu, Lucius. Tapi kau tahu perasaan antara kita tidak ada yang mengarah ke arah perasaan antar kekasih. Kita saling menyayangi sebagai dua orang teman. Hanya itu."
"Aku benar-benar kandidat suami yang tidak masuk hitungan ya? Kenapa Cecil? aku bukan tipemu?" tanya Lucius, wajah Cecilia yang tidak enak hati membuatnya ingin menjahili gadis itu.
"Tidak, bukan itu ... Tentu saja kau kandidat suami yang diincar oleh para gadis. Tapi aku ...."
"Tapi kau tidak menginginkanku. Ah, malangnya aku ....." Lucius bersandar ke sofa dengan wajah sedih.
"Oh, mengertilah, Lucius. Kita sepakat hanya berpura-pura agar mereka berhenti menjodohkan kita. Dan sekarang kau malah menuruti saja keputusan ini," Cecilia menatap ke arah Lucius, sekarang laki-laki itu malah tersenyum jahil ke arahnya.
"Katakan padaku Cecilia ... kau berkeras memintaku menolak keputusan para orang tua sekeras ini. Apa kau sudah punya orang yang kau sukai ? sehingga kau sangat keberatan dengan perjodohan kita?" Lucius menyelidik dengan matanya yang menatap tajam ke arah wajah gadis yang sekarang merona merah seolah telah tertangkap basah.
"Well ... well ... well, Cecilia Damario, tebakanku benar bukan?" tanya Lucius sambil menyerigai.
"Tidak!" seru Cecilia cepat.
"Jangan berbohong, Cecil. Kau tidak pandai melakukannya, katakan padaku siapa dia?" Lucius memajukan tubuh dan mengangsurkan telinganya ke arah Cecil.
"Oh, Lucius! Aku tidak tahu kau bisa begitu menyebalkan!" sungut Cecilia dengan bibir cemberut.
Lucius tertawa terbahak-bahak. Cecilia hanya menyipit memandangnya dengan sangat jengkel.
"Ah, Maafkan aku, Cecil. Menggodamu membuat hatiku jadi cerah," ujar Lucius kembali terkikik.
"Berhentilah tertawa! Aku serius! kau berhak mendapat seseorang yang mencintaimu, jadi jangan bertunangan denganku!" Cecilia mulai merasa tidak sabar karena Lucius sejak tadi hanya menanggapinya dengan main-main.
Lucius menarik nafas panjang dan menyunggingkan senyum teduh ke arah Cecil.
"Dan kau berhak mendapatkan seseorang yang juga mencintaimu, Cecilia. Aku mengerti, jangan terlalu khawatir. Aku akan mengurus semuanya. Lagipula tidak akan ada pertunangan dalam waktu dekat jika aku tidak ada di sini kan, aku akan beralasan akan pergi mengurus tanah perkebunan kami dan akan berlama-lama di sana,"
Wajah Cecilia kembali ceria, Lucius jadi geli. Sudah sangat jelas gadis itu tidak punya perasaan romantis sedikitpun terhadapnya.
"Sementara itu, bujuklah orang tuamu. Kenalkan kekasihmu itu pada mereka," ucap Lucius lagi.
"Dia belum jadi kekasihku," sanggah Cecilia, namun kemudian gadis itu cepat-cepat menutup mulutnya dengan satu tangan. Membuat tawa Lucius kembali meledak.
"Jadi benar kau sudah punya pujaan hatimu sendiri, Cecil. Aku penasaran siapa dia ...." goda Lucius. Cecilia kembali merengut ke arah Lucius.
"Berhentilah memancingku! aku akan memukulmu bila kau menggodaku lagi!" ucap gadis itu sambil mendelik.
"Apakah aku mengenal pria ini?" tanya Lucius.
Wajah Cecilia terkejut sepersekian detik sebelum gadis itu akhirnya menyunggingkan sebuah senyum.
"Kurasa tidak," jawabnya yakin.
Lucius tertawa makin geli, Cecilia Damario sama sekali tidak pintar berbohong. Jelas sekali jawabannya adalah kebalikan dari jawaban gadis itu. Ia mengenal laki-laki yang Cecilia sukai ini. Lucius jadi sangat penasaran.
"Ayo bisikkan padaku siapa dia, aku akan menjaga rahasia," Lucius masih mencoba membujuk. Sebuah bantalan kursi mendarat di dadanya. Cecilia melemparnya dengan wajah kesal.
"Ya Tuhan, matamu makin lebar ketika kau marah ... apa laki-laki yang kau sukai ini pernah melihat wajah jelekmu yang seperti ini?"
"Kali ini aku akan benar-benar memukulmu!" geram Cecilia.
Lucius tertawa terbahak-bahak. Tepat saat itu pintu terbuka, Lance mendapati pemandangan didepannya seperti sepasang kekasih yang saling menggoda dengan sangat akrab. Cecilia Damario tampak membungkuk ke arah Lucius yang memasangkan bantal di depan tubuhnya sambil terbahak.
"Ah, maaf ... apakah aku mengganggu?" tanya Lance sambil menunduk, manahan matanya agar tidak memandang pasangan itu.
"Masuklah Lance. Sekalian aku akan bicara tentang keberangkatanku ke perkebunan," ujar Lucius.
Cecilia kembali duduk di tempatnya semula. Lance masuk dan duduk di sofa di sisi kiri Lucius. Ia mengulurkan sebuah map file ke hadapan Lucius.
"Ini data yang anda minta," ujarnya pelan. Lucius mengangguk, Lalu keduanya terlibat obrolan tentang persiapan keberangkatan Lucius. Cecilia beringsut ke ujung sofa, bersandar miring ke arah Lance dan menatap pria itu dengan mata bulat besarnya. Ia mendengarkan dan menyimak dengan mata tak lepas dari sosok pria itu.
"Aku akan pergi sendiri, Lance. Tidak usah menyiapkan penjaga. Kabar apapun akan ku sampaikan padamu via ponsel."
"Baik, Tuan. Tapi saya tetap akan menyiapkan dua orang penjaga di sekitar anda. Mereka tidak akan terlihat. Mereka akan ada di sekitar anda dan memastikan keamanan anda. Anda tidak dapat membantah saya dalam hal ini," ujar Lance berkeras.
"Baiklah, baiklah ... terserah padamu kalau begitu," ucap Lucius mengalah.
Lance mengangguk puas, lalu tanpa sengaja ia melirik ke arah Cecilia. Mata bulat besar gadis itu tengah memandangnya tak berkedip, jantung Lance jadi berdetak tidak menentu.
"Hei! Cecil! kenapa kau melihat Lance seperti itu? ada yang aneh di wajahnya?" tanya Lucius ketika mengikuti arah pandangan Lance dan mendapati Cecilia tengah menatap Lance dengan bola matanya yang berkilau bulat dan besar.
Bibir Cecilia berkerut, " tidak ada, hanya merasa heran ... Apakah tangan kananmu ini tidak punya jas lain selain yang berwarna hitam? Hanya warna itu ia yang ia kenakan," ujar Cecilia.
Lucius dan Lance berpandangan.
"Aku tidak memperhatikan ... kau hanya punya jas hitam, Lance?" tanya Lucius.
"Jangan-jangan kau hanya punya dua, dan semuanya hitam ...." cibir Cecilia.
Lucius mengernyit, Cecilia tidak pernah bersikap menjengkelkan pada orang lain, itu bukan sifat gadis itu. Namun ....
"Saya punya selemari penuh, Nona Damario! dan semuanya memang berwarna hitam. Karena saya suka warna itu. Itu saja alasannya ...."
Cecilia mengendikkan bahunya mendengar jawaban Lance. Seolah tidak peduli dengan jawaban itu.
"Lagipula baru anda yang menyadari jika saya hanya mengenakan warna hitam. Anda perhatian sekali," ucap Lance lembut.
"Dia benar ... Hmmm ... Cecilia Damario," desis Lucius sambil memandang tajam gadis itu.
"Apa!?" Cecil menaikkan alisnya ke arah Lucius.
"Jangan bilang yang kita bicarakan tadi ada hubungannya dengan pria ini ...." Lucius mengendikkan dagunya ke arah Lance.
"Memangnya apa yang dia bicarakan?" tanya Lance menyela.
Cecilia mengatur wajahnya datar sekuat tenaga. Ia tidak boleh terpancing lagi oleh Lucius. Apalagi di hadapan Lance.
"Tidak ada hubungannya," ujar Cecilia tenang.
"Kau yakin? Lance kami bisa sangat mempesona, wajar saja bila banyak gadis yang tergila-gila padanya," pancing Lucius.
"Sebenarnya apa yang Anda bicarakan, Tuan?" Lance mengernyit ke arah Lucius.
Cecilia tertawa kering mendengar perkataan Lucius.
"Tidak mungkin ... pria sepertinya bukan tipeku," Cecilia menatap dua pasang mata yang menatap balik ke arahnya.
Mata Lucius yang berkilat dengan rasa geli dan penasaran, dan mata Lance yang tampak terkejut dengan sedikit rasa tersinggung. Sisi laki-laki di dirinya merasa sudah di hina oleh perkataan gadis Damario ini.
**********
From Author,
Nona Cecil, Anda membuat babang Lance tersinggung... terima akibatnya nanti!!! huahahahaha (ketawa jahat) πππππ
Tak bosan thor minta like,love, bintang lima, vote dan komentarnya ya... sungguh jadi vitamin penyemangat buat authorππ
Terimakasih banyak Readersku yang setia dan selalu ngikutin kisah LS....
Salam, DIANAZ.