
Reggie berdiri di samping ayahnya. Sudah beberapa hari ia menjaga dan merawat ayahnya. Ia tidak di izinkan pulang. Ia tidur, makan dan mandi di rumah sakit. Tidak sekali pun ia meninggalkan ruangan perawatan itu.Semua keperluannya sudah dipenuhi dan disediakan oleh Lance dan Madam.
Reggie mengambil tempat duduk dan mengaturnya di samping ranjang. Ia menggenggam jemari ayahnya, lalu mengecup punggung tangan yang masih tidak ada daya itu.
"Kapan kau akan bangun, Ayah? Kau tahu ... aku merasa bosan bicara sendiri. Kakak sama sekali tidak mau bicara padaku. Wajahnya dingin dan agak mengerikan untuk dilihat. Jadi aku sedikit takut untuk mengajaknya bicara." Reggie melepas genggaman di tangan ayahnya dan beralih mengelus lengan sang ayah.
Lucius yang datang dan telah membuka pintu kaca terhenti. Ia berdiri di tengah pintu dengan tangan menahan pintu agar jangan tertutup. Ia menunggu Regina yang tengah bicara dengan ayahnya kembali bercerita. Gadis itu duduk dengan wajah menghadap penuh ke arah ranjang ayahnya. Sehingga tidak menyadari seseorang datang dari arah pintu.
"Kakak mengatakan aku mirip denganmu kan. Dia berbohong. Aku sama sekali tidak mirip denganmu. Dia yang mirip ayah, tapi aku tidak. Kalau kau tidak percaya, bangunlah ... lihat saja sendiri. Aku mirip dengan Mom ...." Regina meletakkan pipinya ke kasur, tangannya ia letakkan di dada ayahnya.
"Mom tidak membencimu, Ayah. Ia hanya tidak bisa mengatasi rasa kecewanya. Hatinya patah dan ia ketakutan, teror dari ibu kakak tidak pernah lepas darinya dan aku menambah ketakutan yang Mom rasakan, ia takut ibu kakak menyakitiku juga. Jadi Mom memilih pergi." Reggie memejamkan matanya. Tangannya mengelus dada ayahnya dengan jari-jari, memberitahu keberadaannya lewat sentuhan.
"Kau tahu ... hadiah terakhir yang kuterima darimu masih kusimpan. Sudah jelek dan tidak bisa lagi dijepitkan ke rambut. Tapi aku menyimpannya dengan baik. Aku juga masih menyimpan beberapa stiker yang kita beli berdua waktu itu di pasar malam, kita belum sepakat menentukan tempat untuk menempelkannya, di pintu lemari es, mobil, ataukah di pintu kamarku ... aku masih menunggu keputusan Ayah ...."
Reggie merasakan kantuk menyerangnya. Matanya sudah terpejam, namun bibirnya masih belum mau berhenti bercerita.
"Aku juga masih menyimpan mainan kecil yang dulu diberikan oleh Kakak. Seekor Dinosaurus dan juga prajurit plastik. Tapi kulit T-rex nya sudah terkelupas ...." Suara Reggie makin pelan.
Lucius mencengkeram erat gagang pintu yang ia pegang. Teringat T-rex berwarna hijau dengan gigi tajam yang ia berikan pada Regina kecil.
"Lalu ada juga gelang mutiara hadiah Mom. Umm ... aku lupa memintanya dari Mike. Mike yang menyimpannya ...." Suara itu makin pelan dan akhirnya menghilang.
Dari tempatnya berdiri Lucius terbelalak ketika ia melihat gerakan dari jari-jari ayahnya. Jemari itu bergerak setelah suara Regina menghilang. Seolah protes karena keheningan yang hadir. Lucius menutup pintu pelan-pelan, lalu mendekat ke arah ranjang dari sisi seberang Regina.
Pantas saja suaranya berhenti. Regina sudah tertidur dengan satu sisi pipi menekan kasur. Lucius melihat jari ayahnya masih bergerak. Ia segera mengulurkan tangan dan menggenggam jemari itu. Akhirnya jari-jari itu diam dan Lucius sedikit terkejut karena jemari ayahnya membalas, sebuah genggaman lemah beberapa saat sebelum akhirnya kembali terkulai dalam genggaman Lucius.
Lucius menatap terpana ke jari-jari keriput dalam genggamannya. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata yang menganak sungai di sudut matanya mengalir, tanpa suara Lucius membebaskan satu beban hidup yang ia tanggung. Mempertemukan Ayahnya dengan Regina.
Berbulan-bulan ayahnya hidup tanpa respon. Hanya sedikit goyangan di jari ketika ia menyebutkan nama Regina. Sekarang ayahnya membalas genggaman tangannya. Ayahnya tahu, Lucius yakin ayahnya tahu putrinya sudah kembali dan sekarang ia pasti tengah berjuang menemukan jalan untuk bangun dari coma.
"Umm ... Mike ... gelangnya." Igauan Regina membuat Lucius berhenti dan memandang Regina. Mata itu masih terpejam rapat tanda kalau Gina masih tertidur.
Memimpikan Mike mu, Gina? Dia meneleponku berulang kali. Sampai aku terpaksa memblokirnya. Sebentar lagi dia pasti akan menyerang mansionku.
Lucius tersenyum miring dengan pikiran yang terlintas di otaknya. Ia meletakkan Regina pada satu sofabed yang disiapkan di sudut di dekat sofa panjang. Lucius memasangkan selimut sampai ke bagian dada Regina sebelum akhirnya kembali ke sisi ranjang ayahnya.
Ia kembali dari kantor dan meminta Lance langsung mengantarnya ke rumah sakit. Para dokter memberikan kabar baik kalau ayahnya mengalami kemajuan. Lucius tahu Regina lah yang memberikan efek dan semangat itu pada ayahnya.
Lucius kembali menggenggam tangan ayahnya, lalu mendekat ke arah telinga yah ya itu sebelum berbicara.
"Gina yang berbohong. Dia mirip denganmu. Seperti aku yang juga mirip denganmu. Dia tidak mirip Marinna sama sekali. Bangunlah, Ayah. Lihat saja sendiri." Lucius merasakan jari-jari ayahnya bergerak di genggaman tangannya.
"Dan tolong ... jika nanti kau memberitahu keputusanmu tentang tempat untuk menempelkan stiker jelek itu, aku mohon jangan lakukan di mobil-mobil kita." Lucius tersenyum, geli sendiri membayangkan stiker jelek Regina menempel di mobilnya. Namun rasa gelinya berganti rasa terkejut, kala ia merasakan tangan ayahnya bergerak membalas genggamannya. Kali ini tidak lemah seperti tadi, kali ini Lucius berani memastikan genggaman itu kuat. Lucius balas menggenggam.
"Ya ... ia sungguh ada di sini. Aku tidak berbohong. Bangunlah dan lihatlah sendiri, Ayah."
**********
Bantu like di tiap chapter ya pemirsahhhh, favorite, rating bintang5 juga komentarnya sekalian.😉
Kata Mimim manga ferforma novel thor masih kurang😖😖Jadi sedih. Bantu author ya biar bisa naik😢😢😢 jadi down banget sebenernyaðŸ˜ðŸ˜
Jadi curhat nih...he he
Terimakasih yg udah baca, trus nge like,koment, fav, rating dan juga VOTE.... Sekali lagi terimakasih.
Salam ,DIANAZ.