Love Seduction

Love Seduction
Chapter 105. Sunrise



"Nak ...." Eloy Sanchez terisak keras di samping tempat tidur, "akhirnya kau bangun ... akhirnya kau bangun Lucius ...."


Mike meremas bahu ayah mertuanya dengan satu tangan dan satu tangan lagi menyentuh tangan Lucius yang tergeletak di tempat tidur. " Lucius ...."


tidak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya. Ia hanya mampu menggenggam erat, menyampaikan kuatnya rasa syukur karena pria itu sudah membuka mata. Aliran air mata membekas di pipinya, ia ikut terisak pelan bersama Eloy Sanchez.


Lucius melirik , menggerakkan mata, dokter telah memeriksa dan mengatakan perkembangan yang bagus untuk Lucius, semua tanda vital dan kondisinya menunjukkan ke arah perbaikan. Mata hitam itu berkelana mencari-cari di sekeliling tempat tidurnya.


Mike tahu Lucius mencari sosok Regina, ia menyingkir dan mendorong kursi roda Tuan Eloy agar ruang antara tempat tidur Reggie dan Lucius tidak terhalangi.


"Lihat ke sebelahmu, Lucius ...." ujarnya pelan.


Perlahan kepala Lucius menoleh, pandangan matanya tertumbuk pada sosok Regina yang masih tertidur dengan semua peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Kilau mata Lucius seolah bertanya, membuat Mike akhirnya bersuara.


"Dia belum juga bangun Lucius ... kuharap ia segera bangun setelah mendengar suaramu." suara serak Mike membuat Lucius kembali mengalihkan pandangan matanya ke arah suami adiknya itu.


"Aku sudah membangunkannya berkali-kali, dia tidak mau mendengarkanku ... bangunkan dia Lucius, dia akan mendengarkanmu ...." suara Mike makin serak, aliran airmatanya makin deras. Lucius menatap ke arah Mike yang menangis, lalu meirik kembali ke arah tempat tidur Regina. Lama ia menatap ke arah perut Regina.


Mike melihat arah pandangan Lucius dan tahu Lucius ingin tahu tentang bayinya, " Putriku selamat Lucius, kau sudah jadi Paman ... cepatlah pulih, aku ...." Mike mengusap airmata yang menetes di pipinya dengan lengan. "Aku ingin kau segera melihatnya, Aku juga ingin kau yang memberinya nama ...." Mike terisak, bahunya terguncang pelan.


"Keduanya tidak akan tertolong jika kau tidak ada di sana, maafkan aku ... aku terlambat ...."


Lucius mengangkat tangannya ke udara, Mike yang melihatnya segera menangkap dan kembali menggenggam tangan itu. Sedetik kemudian mata hitam itu kembali menutup, namun nafas teratur dari gerak dada Lucius memberitahu Mike bahwa laki-laki itu sepenuhnya telah kembali pada mereka.


**********


Beberapa hari sudah berlalu sejak Lucius terbangun, pria itupun sudah dipindahkan di ruang perawatan biasa, ia bahkan sudah bisa bergerak dan melatih tubuhnya turun dari tempat tidur. Namun keadaan Regina yang sudah membaik tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia akan membuka mata. Lucius berusaha sekuat tenaga agar ia di izinkan untuk datang melihat adiknya kembali.


Setelah berdebat dengan perawat yang tetap tidak memberikan izin padanya untuk pergi, Lucius akhirnya memohon, matanya berkaca-kaca dan suaranya serak , kondisi itu malah membuat sang perawat menarik nafas panjang sambil berlalu meninggalkannya. Lucius sudah bertekad akan pergi sendiri dan baru saja akan menurunkan kakinya dari ranjang ,ketika perawat itu kembali dengan sebuah kursi roda.


"Ayo Tuan. Aku akan mengantar anda ke sana. Hanya lima belas menit! setelahnya Anda harus kembali!" perintahnya"


Dengan senyum lebar Lucius mengangguk.


"Terimakasih ...." ujarnya pelan.


Setelah naik ke kursi roda, Lucius di dorong ke lantai tempat ruang perawatan Regina berada. Mike yang berada di luar kamar perawatan segera berdiri ketika melihat ia sampai.


"Lucius? Kenapa kemari ... apa kau sudah merasa lebih baik?"


Lucius mengangguk, lalu menunjuk ke arah pintu kamar. Mike segera mengerti kalau kakak iparnya itu mau melihat istrinya.


"Biarkan aku menemaninya, Suster ...." pinta Mike pada perawat yang mendorong Lucius.


"Lima belas menit, Sir!" ucap perawat itu pada Mike dan Lucius. Keduanya mengangguk mengiyakan.


Lucius menatap adiknya yang masih terpejam, ia mendekat dan mengelus pelan punggung tangan Regina yang masih diam tidak bergerak.


Hanya keheningan yang menjawab pertanyaan Lucius.


"Buka matamu Regina, Aku ingin bicara dan kau harus mendengarkan aku ...."


Mike berdiri di belakang kursi roda Lucius sambil memandang wajah Regina.


"Kurasa suamimu tidak makan dengan benar, juga tidak tidur dengan baik. Kau harus melihat lingkaran hitam di bawah matanya. Dia bertambah jelek ...." Lucius berbisik di telinga adiknya, namun tentu saja Mike mendengar kata-kata itu.


"Kalau kau tidak juga bangun, bisa-bisa dia kehilangan bobot tubuhnya ...." bisik Lucius lagi.


Lucius menggenggam tangan Regina, berharap setidaknya adiknya itu membalas genggaman itu. Namun tangan itu masih lemas dan tidak bergerak. Kembali ia mendekatkan mulutnya ke telinga Regina.


"Jika kau bangun, aku berjanji akan memotong rambutku Gina. Well ... kau mau melihat rambutku pendek kan, Aku akan memotongnya,tapi kau bangun dulu ...."


Suara pintu yang terbuka perlahan membuat Mike dan Lucius menoleh, Amy telah berdiri di ambang pintu dengan wajah kusut dan air mata meleleh.


"Reggie ...." istri Derek itu melangkah mendekat, di luar sana terlihat Derek bicara dengan seorang perawat yang tampak kesal sambil menunjuk nunjuk ke arah pintu masuk. Mike menarik Amy dan membawanya ke sisi tempat tidur. ia berdiri di sampir kursi roda Lucius.


Amy menduduki pinggir ranjang, lalu merebahkan kepalanya di atas tubuh Reggie. ia terisak.


"Tidak ada yang merasa perlu untuk memberitahuku Reggie. Kau di sini, terbaring dan tidak membuka matamu berhari-hari ... dan para pria ini tidak ada yang memberitahuku. Aku kembali harus mencari tahu sendiri kau dimana, kenapa kau tidak datang untuk melihat Arthurku yang baru lahir. Maafkan aku Reggie, aku sungguh tidak berguna. Belasan tahun kau menjagaku ... tapi sedikitpun aku tidak bisa membalasnya ... tidak ada apapun yang bisa aku lakukan untukmu, aku sungguh tidak berguna ..." Amy sesenggukan ,menahan agar isakan dan guncangan tubuhnya tidak mengganggu tubuh Reggie, Dadanya terasa sakit, ia marah besar pada Derek yang menyimpan kabar ini darinya.


"Bangunlah Reggie ... putrimu menangis, kau harus mendiamkannya ...." tangis Amy lagi.


"Bangunlah ... aku mohon ... apa yang harus kukatakan pada Bibi Marinna, pada Mamma ... kau berjanji tidak akan meninggalkan aku!"


Amy meratap, air matanya membasahi baju pasien yang Reggie kenakan. Lucius menunduk dengan tangan masih menggenggam tangan adiknya. Sedang Mike menutup kedua matanya dengan satu tangan, menahan lelehan airmata yang seolah tiada akhir menuruni lereng pipinya.


Mike membersit hidung dan menghapus airmatanya yang meleleh di pipi, saat menatap ke arah wajah istrinya, Mike seketika terpana. Ia terdiam kaku, dua matanya nanar seolah tidak percaya. Dua bintik hitam mata itu telah terbuka, berkilau dengan rasa lelah yang seolah datang dari dalam tubuh Reggie. Namun kilau redup itu bagaikan cahaya matahari yang berkilau terbit di mata Mike, bersinar dengan suatu harapan yang membuncah di hatinya.


"Honey ... Regina ...." Mike memanggil dengan suara serak, dan airmata berlinang,"Sayang ... akhirnya kau bangun ...."


Mendengar kata-kata Mike, Lucius segera mendongak, Amy menegakkan tubuhnya. Mereka menatap ke arah wajah yang telah membuka mata di atas ranjang, lalu tangis kembali meledak, berderai dengan sedikit kelegaan ketika kilau mata hitam itu bergerak melirik satu demi satu orang-orang yang sangat dicintainya yang telah berdiri di samping tempat tidurnya itu.


********


From Author,


Setelah jelong jelong dan segelas kopi hitam dan gorengan, wkwkkwkw...part ini bisa author upload. mdh2 an lolos review dan bisa dinikmati saat makan siang ini ya..🙏🙏🙏


jangan lupa like, love, komentar, bintang5 dan vote ya my readers ....


Terimakasih semua ....


Salam, DIANAZ.