
Lucius tiba di restoran Madam Gavany, ia celingukan mencari sosok Alison dan Alan. Ia masuk ke dalam Restoran yang sudah dipasang tanda tutup di bagian pintu.
"Maaf, Tuan ... Kami sudah tutup," ucap seorang wanita yang masih duduk di belakang meja kasir.
"Aku mencari Ally ... Alison ... juga Alan," ucap Lucius.
"Kau siapa?" wanita paruh baya dengan tubuh gemuk itu bertanya.
"Dia temanku, Madam." suara Ally menjawab pertanyaan Madam Gavany.
"Teman?" ucapnya membeo sambil menatap Lucius dari atas hingga ke bawah.
Lucius meletakkan satu tangannya di dada, lalu sedikit membungkuk memberi hormat.
"Perkenalkan, Madam. Namaku Lucius ... Lucius Sanchez," ucapnya.
Madam Gavany tersenyum lebar, "Manis sekali ...Lucius Sanchez, kuharap kau murni berniat berteman dengan Allyku yang cantik, kau tidak jatuh cinta padanyakan," goda Madam Gavany pada Lucius yang terdiam, mata hitamnya langsung melirik ke arah Alison.
"Madam! kami berteman ... jangan mengatakan yang tidak tidak," ucap Alison dengan wajah merona malu.
Madam terkekeh lalu mengedipkan mata pada Ally.
"Kenapa tidak? Dia pria yang tampan bukan? kalau dia bersikap baik, apa salahnya kau mulai berkencan ...."
Wajah Ally makin memerah, Lucius ingin sekali menjawab jika ia tidak keberatan, ia mau saja pergi berkencan dan mengenal Ally, Namun Ally pasti makin malu dan mulai akan menghindarinya jika ia mengatakan yang tidak tidak.
Lucius bergerak ke arah Ally, ingin mengambil Alan yang tertidur dari gendongan Ally.
"Ally ... ?" Madam Gavany menatap gadis itu dengan serius. Tidak ada lagi ekspresi menggoda di wajahnya.
"Ya madam?" Ally menjawab sambil melepaskan Alan untuk di gendong oleh Lucius.
"Seorang pria dengan satu tahi lalat di dekat matanya tadi sore mencarimu, ia mencari seorang gadis dengan deskripsi ciri-ciri yang mirip denganmu Ally. Tapi aku mengatakan tidak ada pegawaiku yang punya ciri-ciri seperti yang ia sebutkan karena sesuatu di wajah pria itu membuat aku berfikir kalau ia punya niat jahat. Berhati-hatilah Ally. Kau melakukan hal yang benar dengan pulang dijemput pria temanmu ini."
Lucius langsung menoleh ke arah Ally, melihat gadis itu bergidik, lalu Ally mulai menggosok lengannya sendiri.
"Kurasa tempat mu tinggal tidak lagi aman, Alison Sayang ...." ucap Madam lagi.
Ally menjadi pucat dan gadis itu terlihat ketakutan. Madam Gavany keluar dari balik mejanya dan membawa Ally ke sebuah kursi.
"Kau baik-baik saja ,Nak?"
Ally menelan ludah dan menganggukkan kepalanya.
" Tadi siang aku melihat seseorang yang mirip dengan seseeorang yang aku kenal, Madam. Aku berterimakasih kau berbohong dengan mengatakan tidak ada pegawaimu yang mirip dengan ciri-ciri yang pria itu sebutkan."
Madam Gavany tahu kalau Ally melarikan diri dari ayah tirinya. Keberadaan seorang gadis dan anak kecil tanpa keluarga membuatnya bertanya pada Ally kemana orang tua gadis itu. Dan Ally lalu menceritakan perihal ayah dan ibunya yang telah tiada dan ayah tirinya yang seorang bajing**.
"Kau harus berhati-hati, Nak. Tidak aman lagi bagimu berada di sini jika ayah tirimu itu atau orang suruhannya sudah mengetahui keberadaanmu."
Lucius melihat kedua tangan Ally gemetar, gadis itu ketakutan. Jadi ini penyebab Ally menelponnya dan minta ia menjemput ....
"Dan kau ... jika kau memang teman Ally, maka antarkan dan jaga gadis ini sampai ke pintu kamarnya. Kau lihat dia ketakutan bukan?" Madam Gavany menunjuk ke arah Lucius.
"Tentu ... Tentu Madam , aku akan menjaganya," ucap Lucius lagi.
Ally lalu berdiri dari duduknya, berusaha menguatkan kakinya yang terasa lemas.
"Ayo Ally, kita pulang dulu. Kau pasti sangat lelah."
Mereka berjalan keluar Restoran di iringi oleh Madam yang melihat kepergian mereka sampai beberapa saat baru kemudian wanita itu masuk kembali dan menutup pintu.
Mereka berjalan dalam diam, Ally larut dalam kegelisahannya, sehingga tidak menyadari jika mereka di ikuti. Lucius menyadarinya sejak pertama mereka keluar dari restoran.
Lucius melirik ke arah mobil hitam di pinggir jalan dengan kaca yang terlihat gelap. Ia menatap lama ke kaca depan mobil itu, lalu mengendikkan dagu ke arah belakang. Brad ataupun Santoz pasti melihat tanda yang ia berikan dan menyadari ada pria yang mengikuti mereka.
Setengah perjalanan, mereka tiba di bagian jalan yang sedikit gelap, seorang pria memanggil nama Ally dari arah belakang mereka.
"Alison!"
"Carloz!" teriak Ally. Ally langsung berdiri di depan Lucius dan Alan. Gadis itu seolah memasang dirinya menjadi pelindung antara Lucius dan Alan dengan dua orang pria yang tampak jahat di depan sana.
"Mau apa kau Carloz!!" balas Ally lantang.
"Mau apa? kau melarikan putraku, Gadis bodoh!" Pria besar dengan perut buncit di depan sana berdecih dan menghardik.
Ally merentangkan kedua tangannya. Lucius menaikkan alis. Apa yang gadis itu lakukan? bersikap seperti seorang ksatria yang tengah melindungi Lucius dan Alan. Tidakkah Ally tahu Lucius lebih besar dan kuat dibanding dirinya yang kurus dan lemah.
Lucius menatap punggung gadis itu dengan perasaan tidak menentu. Seumur hidupnya, dia telah menggunakan dirinya untuk melindungi orang lain, bukan dilindungi. Regina adiknya dan Marinna ibu Reggie, ia bebaskan dengan bayaran penderitaan untuk tubuh dan jiwanya, luka dan kepedihan di seluruh tubuh. Lalu keponakannya Marie yang saat itu masih di dalam kandungan bersama Regina yang kembali dihadapkan pada maut di tangan ibunya yang gila ... kembali Lucius datang dan melindungi keduanya bahkan dengan hampir mengorbankan nyawanya sendiri.
Lucius tidak takut akan kematian, hal yang sudah ditakdirkan dan digariskan akan terjadi pada makhluk bernama manusia. Namun gadis di depannya ini, merentangkan tangannya yang kurus, berusaha melindungi Lucius dan Alan. Perasaan Lucius melembut dengan rasa kasih dan sayang untuk gadis di hadapannya itu.
Jika kemarin ia terbangun dan jatuh cinta pada Ally dengan wajah polos dan matanya yang cantik, maka hari ini Lucius benar benar sudah jatuh hati, hatinya tercuri, dadanya meluap dengan perasan lembut untuk Allynya. Ya ... Allynya, Lucius bertekad menjadikan Alison miliknya.
"Kau bisa menurut dan kembali bersamaku baik-baik Alison, atau aku akan mulai bersikap kasar dan mengikatmu untuk membawamu kembali."
"Kau bisa mencoba ,Carloz! Aku tidak akan diam saja!"
Laki-laki yang datang bersama Carloz hanya diam dengan tatapan tajam ke arah Lucius. Pria itu punya tahi lalat di dekat mata. Pria inilah yang tadi diceritakan Madam menanyakan tentang keberadaan Ally. Lucius balik menatap laki laki itu dengan mata berkilat.
lucius berjalan ke samping Ally, ia mengulurkan Alan yang masih tertidur kepada Ally.
"Ally, gantikan aku memegang Alan."
Ally menyambut Adiknya ketika Lucius tiba tiba mengulurkan tubuh Alan.
Lucius lalu maju ke depan Ally. Menutup pandangan dua pria di hadapannya ke arah gadis itu.
"Siapa kau! Jangan ikut campur urusan kami!" hardik Carloz.
Pria bertahi lalat teman Carloz maju dan terlihat menyerigai. Pria itu memegang sebuah pisau yang tampak berkilat tajam ditangan kanannya. Ally yang mengintip di balik tubuh Lucius terdengar terkesiap pelan.
Di belakang kedua pria itu, Brad dan Santoz sudah mendekat. Lucius tidak perlu melakukan apa apa, karena beberapa saat kemudian dua pria itu sudah terlibat perkelahian. Pria yang memegang pisau menyebatkan senjatanya ke arah Brad dan juga Santoz.
Carloz melihat keadaan sudah tidak menguntungkan baginya beberapa saat kemudian, Dua pria itu terlihat handal dan profesional, Carloz berbalik dan berlari menjauh. Meninggalkan temannya menghadapi Brad dan Santoz sendirian. Tidak perlu waktu lama bagi dua pengawal Lucius itu untuk meringkus pria bertahi lalat tersebut.
Ally menatap semuanya dengan perasaan terkejut, heran namun juga lega. Carloz akhirnya pergi untuk saat ini. Ia akan memikirkan tindakan selanjutnya nanti saja. Yang penting mereka selamat hari ini.
Brad mendatangi Lucius dan Ally, lalu membungkuk seolah memberi salam.
"Apakah anda berdua baik baik saja?" tanyanya
Lucius dan Ally mengangguk. Lalu Brad berpamitan dengan alasan akan membawa pria yang telah diringkus itu ke kantor polisi. Tanpa menjelaskan siapa mereka sebenarnya.
"Kami pergi, anda berdua berhati-hatilah," ujar Brad sebelum berbalik dan mengikuti Santoz yang sudah melangkah lebih dulu ke mobil mereka.
"Siapa mereka?" tanya Ally heran.
"Bukannya itu ayah tirimu?" ucap Lucius pura pura tidak tahu siapa 'mereka' yang Ally tanyakan.
"Bukan itu ... mereka yang menolong kita ...." ucap Ally.
"Mungkin saja mereka polisi yang menyamar. Mereka memang sering berkeliaran di malam hari untuk menangkap penjahat bukan ...." Lucius hanya mengatakan alasan yang terfikir oleh otaknya saat ini, Ally tidak boleh tahu jika dua orang itu adalah pengawalnya.
"Ayo pulang, Ally. Tidak aman di luar sini," Lucius mendekap bahu Ally yang menggendong Alan. Ally menurut ketika Lucius mengarahkannya melangkah kembali menuju gedung kumuh kamar sewaannya dengan lengan Lucius masih merengkuh bahunya sepanjang sisa perjalanan.
**********
From Author,
Selamat babang ... akhirnya kamu jatuh cinta πππ
Jangan lupa klik like, komentar ,favorite, bintang lima dan Vote ya pembaca semuanyaππ
Terimakasih ...
Salam, DIANAZ.