Love Seduction

Love Seduction
Chapter 57. Family dinner



Makan malam di udara terbuka yang berlangsung akrab dan penuh canda tawa di belakang mansion Costra berjalan penuh keakraban dan kegembiraan.


"Jadi kapan tepatnya kau akan mengajaknya menikah?" tanya Enrico pada Lucius yang duduk di seberangnya.


"Rico ... " Ally yang duduk di sebelah Enrico menggamit lengan pria itu, Enrico menoleh, menatap Ally yang tampak malu.


"Kenapa? Kau berubah fikiran?" godanya pada Ally. Gadis itu langsung mengerucutkan bibirnya. Membuat Rico terkekeh.


"Aku bisa mengajukan izin khusus ... tentu saja aku akan menikahinya secepatnya, lalu membawanya pulang ke mansion Sanchez," ucap Lucius sambil mengedip pada Ally yang memandangnya dengan mata berbinar.


"Yeah, kau sudah tidak sabar bukan. Jika aku tidak juga memberi izin, maka kau akan menculiknya lagi dan membawanya menikah tanpa restuku sekalipun." Enrico mencibir ke arah Lucius.


Lucius menaikkan kedua alisnya, lalu melirik Mike yang menyuapkan makanan pada Regina, adiknya itu tengah memangku Marie yang meliuk-liukkan badan ingin turun dari pelukan ibunya.


"Mungkin saja. Lagipula aku sudah pernah melihat kalau cara bar-bar seperti para viking dari abad pertengahan itu bisa berhasil. Culik, nikahi, lalu baru pengantinnya dibawa pulang ...." ucap Lucius dengan nada suara agak kencang sehingga terdengar oleh orang-orang yang mengelilingi meja. Sontak tawa geli terdengar. Lucius melirik Mike yang seperti tidak peduli. Regina sendiri sudah tertawa lebar lalu mengarahkan dagunya ke arah Lucius sambil menatap suaminya.


"Ada yang mengatakan mau menculik pengantinnya," ucap Reggie dengan menirukan gaya seperti tengah berbisik, namun bisa terdengar jelas oleh Lucius.


Mike mendengus, kembali menyendok makanan dan menyuapi Reggie.


"Dia hanya omong besar. Dia sudah mencoba sekali ...."


"Dan gagal." Reggie langsung melanjutkan ucapan Mike sambil tertawa. Mike hanya membalas dengan senyum lebar.


Kali ini giliran Lucius yang mendengus.


"Kami akan mengurus pernikahan mereka secepatnya, Rico. Apakah kau ada keinginan khusus? Tentu saja kami akan mengikuti saranmu bila ada sesuatu yang kau inginkan, Nak." Tuan Eloy menatap ke arah Enrico.


"Tentu, Paman. Aku ...." Rico berdehem, lalu menelan ludah untuk melancarkan tenggorokannya sebelum mulai bicara.


"Aku ingin pernikahan di adakan di gereja desa kami. Ally lahir dan tumbuh besar di desa itu. Aku akan menjamu semua orang di desa setelahnya, mereka semua kebanyakan adalah pekerjaku di perkebunan. Besoknya, kita semua akan berangkat ke hotel Eksplore. 3 jam perjalanan ke kota. Resepsi pernikahan akan di adakan lagi di hotel itu."


Enrico berhenti sejenak, lalu menatap Derek. "tempat kita menginap ketika kau tiba, Derek."


Enrico melihat Derek mengangguk, lalu kembali menatap tuan Eloy. " Dan satu lagi keinginanku ... Aku ingin menjadi orang yang mengantarkannya ke altar ...."


Ally tersenyum bahagia, menatap Rico lalu beralih menatap Lucius. Pria itu menatapnya dengan kilau cinta dan penuh janji, " kalau begitu sudah diputuskan ... Kau yang akan mengantarkannya padaku," ucap Lucius tanpa mengalihkan tatapannya dari Ally.


Tuan Eloy terdengar berdehem, lalu memanggil nama putranya agar mendapatkan perhatian. Mencoba mengalihkan mata Lucius dari Ally.


"Lucius ...."


Lucius menoleh, teralihkan dari menatap Ally yang sudah merona.


"Bagaimana dengan ucapanmu waktu itu di mansion Eliazar."


"Yang mana , Ayah?" tanya Lucius dengan kening berkerut.


"Soal menikah bila Lance menikah," goda Tuan Eloy.


"Astaga ... Kau benar, Ayah. Kalau begitu kau harus melamar gadis pujaanmu, Lance. Paling tidak, bila kau belum bisa mengurus pernikahan, kau harus segera bertunangan. Baru aku bisa menikah, bukan begitu ... Lance?" Lucius menoleh pada Lance yang duduk di sebelahnya, lalu menyadari Lance sama sekali tidak menyimak mereka. Mata pria itu terarah ke ujung lain meja. Lucius mengikuti arah itu dan mendapati Cecilia dan Amy tengah tersenyum di kursi mereka masing-masing, Cecilia mengajak Arthur yang dipeluk Amy bertepuk tangan. Amy memegang tangan montok putranya dan menirukan gerakan Cecilia. Arthur mengoceh dan sesekali tertawa senang. Alan dan Erland sudah berdiri di dekat mereka dan ikut menyemangati agar Arthur bertepuk tangan.


Enrico, Derek dan Tuan Eloy menyadari siapa yang dipandangi oleh Lance. Mereka menyunggingkan senyum.


"Kau sudah ada calon untuk dilamar, Lance?" tanya Enrico.


Lance berkedip, lalu menatap ke arah Enrico.


"Maaf, Tuan ... Anda menanyakan apa?" tanyanya bingung. Tawa geli seketika menggema di meja makan itu.


"Aku bisa melamarnya untukmu, Kita akan datang ke keluarganya seperti kita datang kemari untuk Ally," ucap Tuan Eloy.


Lucius menepuk bahu Lance, " Ayah mau melamarkan gadis pujaanmu. Ingatkan ... Aku menikah jika kau menikah ..."


"Itu tidak bisa dipaksakan Tuan Lucius. Bila Anda memaksakannya, maka Anda akan tersiksa, karena mungkin anda tidak akan bisa menikahi Nona Ally secepatnya. Jangan fikirkan soal jodoh saya. Anda menikah dan berbahagialah ...." ucap Lance sambil tersenyum dan memandang berkeliling, menyadari semua mata rupanya memandangnya dan mendengar ucapannya. Keheningan menguasai meja itu untuk sejenak, sebelum Derek akhirnya menghentikannya dengan mengangkat gelas.


"Ayo bersulang saja ... untuk kesejahteraan kita semua," ucapnya berusaha mencairkan suasana.


Para pria mengikuti dan mengangkat gelas. Mereka bersulang, lalu meminum minuman mereka masing-masing.


"Apa aula sampingmu sudah siap, Enrico? Karena aku ingin mengajak Amyku berdansa." ucap Derek.


"Tentu, Derek. Ayo kita masuk dan menikmati musik indah di dalam, tapi tunggu ..." Enrico berhenti, membuat para tamunya yang baru akan berdiri berhenti bergerak dan kembali fokus memandangnya.


"Satu hal lagi ... sebelum aku lupa mengatakannya. Aku akan menyerahkan Allyku di altar kepadamu kalau kau sudah memotong rambutmu itu, Lucius."


Semua orang terdiam, Lucius menatap Rico, lalu beralih menatap Ally agak lama. Hening ....


"Bukankah kau memang sudah berniat memotongnya, Kak? Ketika kau berjanji saat aku coma ... Kau akan memotong rambutmu jika aku membuka mataku kembali, " suara Reggie tiba-tiba menyela keheningan itu.


Lucius menoleh menatap Reggie, senyum cerah dan kilau di sepasang mata hitam yang sama dengannya, ia tidak tahu dari mana Reggie mengetahui janji yang ia ucapkan waktu itu. Lucius tidak melupakannya, ia hanya terus menundanya hingga sekarang. Kemudian senyum Lucius terbit, dengan hati ringan ia kembali menatap Ally. Sinar mata gadis itu bak permata di terpa kilau lampu yang memancar dari mansion.


"Tentu saja, Rico ... apa saja untuk Allyku. Memotong rambut hanyalah perkara kecil," ucapnya.


Lucius melangkah mendekati Ally, mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Ally yang diletakkan di telapak tangannya.


"Ayo berdansa denganku," ucapnya sambil membimbing Ally masuk ke dalam mansion. Suara musik telah mengalun sampai ke luar mansion, Frederik telah menyiapkan aula dansa dan mengatur meja di pinggir aula dengan makanan kecil dan minuman.


Tuan Eloy menyusul masuk bersama Alan di tangan kiri dan Erland di tangan kanan. Lalu Enrico melangkah mendekati Cecilia, mengulurkan tangannya dan tersenyum.


"Berikan aku kehormatan dengan berdansa pertama kali denganmu," ucap Enrico.


Cecilia tersenyum, "tentu," ucapnya sambil meletakkan tangan ke lengan Enrico. Keduanya melangkah masuk ke dalam mansion di iringi pandangan mata Lance yang tidak menyadari dua pasang suami istri yang masih berada di dekat meja, memandangnya dengan intens.


"Menurutku kau harus sedikit cepat jika memang menyukainya, Lance. Jika tidak, Aku mungkin akan merekomendasikan Enrico sebagai calon menantu pada Paman Damario."


Ucapan Derek seketika membuat Lance menoleh, sedikit perubahan terlihat di wajah tanpa ekspresi itu. Apakah itu rasa jengkel? Derek tidak tahu pasti.


"Anda merekomendasikan seorang playboy yang dengan sangat mudah berganti-ganti wanita? Yang telah mematahkan ratusan hati para gadis? Apa Anda akan merekomendasikan hati Nona Damario untuk jadi salah satu yang akan ia patahkan ...?" ucap Lance dengan nada datar.


Derek tertawa, lalu menyipit memandang Lance.


"Akan lain cerita jika Enrico benar-benar menyukai Cecil bukan? Bagaimana jika aku bisa membuat keduanya saling menyukai? Kau lupa ... Aku pemimpin klan Langton. Sejak dulu pekerjaanku hanyalah membuat orang-orang mengikuti semua kemauanku ... Termasuk Cecilia, jika aku ingin ia menyukai Enrico, maka bukan hanya Cecilia.... paman Damario dan Bibi Marlene pun akan ikut menyukainya. Soal Enrico yang playboy tidak akan menjadi masalah, karena ketika ia sudah bersama Cecilia, maka ia tidak akan berkhianat. Karena dia tahu, aku akan memecahkan kepalanya bila hal itu terjadi. Lagipula ... pengalaman membuktikan, playboy yang menikah, terbukti jadi suami yang sangat setia, bukan begitu, my Sweety." Derek mengedipkan mata pada Amy yang mencibirkan bibir. Namun wanita itu tersenyum ketika Derek menghela bahunya, mengajak ikut masuk ke dalam mansion sambil menggoda putranya yang berada di gendongan Amy.


"Apa yang memberatkanmu, Lance? Membicarakannya dengan keluargamu mungkin bisa memberimu solusi. Sudah saatnya kau mengandalkan mereka, bukan hanya mereka yang terus mengandalkanmu. Berikan kesempatan itu kepada mereka. Jadikan mereka keluargamu yang sesungguhnya ...." Mike berdiri dengan tangan memeluk bahu Reggie yang menggendong Marie.


"Mike benar. Sudah saatnya kau mengungkap kebenarannya bukan, Paman Lance ..." Reggie bicara sambil menggoyangkan tangan Marie ke arah Lance.


Lance menelan ludah, keanehan yang ia rasakan ketika Reggie mengatakan dua kakak ternyata bukan kesalahan. Ia tidak salah dengar. Suami istri ini sudah tahu perihal adopsi itu.


"Ayo masuk Lance ... kami menunggumu di dalam." setelah mengucapkannya, Mike dan Reggie masuk lebih dulu, meninggalkan Lance sendiri duduk di kursinya. Berfikir dan mengenang bagian demi bagian dari masa lalu yang tertinggal di memorinya. Lebih dari separuh hidup ia habiskan di keluarga Sanchez. Ia tidak mengenal keluarga lain, di dalam hati Lance, hanya keluarga Sanchezlah keluarganya.


**********


From Author,


Yuhuuu ... Author datang lagi nih, jangan bosen ya ... Mo ingetin jangan lupa tekan tombol like, tombol love, tombol bintang lima dan ketik komentar. Vote juga yahhhhh ... follow jugaaaa ... ajak temannya juga buat bacaaaa ... hahhahha


Terima kasih banyakkk dari Author retcheh yang banyak maunya.


Salam, DIANAZ.