Love Seduction

Love Seduction
Chapter 18. Ice cream



Lucius menatap ke kursi di sampingnya. Alison tertidur dengan Alan di pelukannya. Bocah itu juga terpejam.


Perjalanan mereka sudah hampir dua jam. Lucius merasakan tubuhnya sedikit pegal dan kaku. Di belakang sana, tak jauh dari mobil mereka, Lucius melihat mobil yang dikendarai Brad dan Santoz mengiringi dengan tetap menjaga jarak.


Mereka sampai di sebuah kota kecil. Lucius berhenti di depan sebuah cafe. ia ingin beristirahat sejenak, juga pergi ke toilet.


"Ally ...." Lucius membangunkan gadis itu, ia mengulurkan tangan dan mengelus pelan pipi Ally yang bersandar di kursi dengan kepala menghadap ke arahnya.


Mata biru pucat itu membuka dan menatap langsung ke mata Lucius. Ally bergerak sambil memegangi Alan.


"Kita sudah sampai? tanyanya.


"Belum ... Ayo turun, kita istirahat sebentar," Ajak Lucius.


Alan menggeliat dan akhirnya terbangun, mata biru bocah itu menatap kakaknya.


"Ally ... Aku haus," ujarnya.


Ally menoleh ke arah belakang mobil melihat tasnya. Ia membawa botol air minum di dalam tas itu.


"Tunggu ,Sayang. Aku akan ambil dulu." ucapnya.


"Tidak usah, Ally. Ayo turun Alan ... kau mau minum apa? kita cari es krim dulu dengan coklat?" ajak Lucius pada bocah itu. Alan mengangguk antusias.


Lucius segera turun, lalu berputar untuk membuka pintu mobil untuk Ally. Ia menunduk dan mengulurkan tangan mengambil Alan dan menggendongnya.


Ally segera turun dan ia mengangkat tangannya ke atas. Menggeliat sambil berputar memandangi sekitar wilayah itu. Ia mengerutkan kening, Dimanakah ini? kenapa sedikit familier di matanya.


"Ayo ...." Lucius mengajaknya memasuki cafe. Alan yang digendong oleh Lucius memandang antusias pada deretan cake yang disusun di dalam etalase. Kue-kue dengan coklat yang meleleh, keju, tiramisu dan berbagai toping lain tampak menggugah selera.


"Aku mau itu ...." tunjuk Alan pada sebuah kue dengan toping coklat dan stroberi.


"Baiklah ... dan minuman apa yang kau inginkan? kau haus bukan?" tanya Lucius.


Pesanan mereka segera di siapkan dan Lucius membawa Ally dan Alan ke sebuah meja dengan pemandangan ke arah luar.


"Ally ... Aku perlu ke toilet," ucap Alan.


Ally baru akan mengulurkan tangannya untuk mengambil Alan ketika Lucius menggeleng.


"Tidak, Aku yang akan membawanya. Sekalian aku juga ingin ke belakang. Kau jauh jauhlah dari toilet pria, mana boleh kau masuk ke sana walaupun untuk mengantar Alan." ucap Lucius dengan bercanda.


Ally merona mendengar candaan Lucius, ia mengangkat bahu dan menarik sebuah tempat duduk. Lucius sudah melangkah pergi meninggalkannya dengan masih menggendong Alan.


"Aku bisa sendili, Paman. Turunkan aku," ucap bocah itu. Lucius menurut, ia menurunkan Alan dan mereka masuk bersama ke toilet pria.


Beberapa saat menunggu, seorang pelayan datang dan mengatur pesanan di atas meja mereka. Berbagai macam potongan kue di sebuah piring besar, lalu tiga buah piring kecil dengan sendok dan garpu kecil, lalu tiga gelas besar jus buah, dan dua mangkuk es krim coklat yang membuat air liur Ally terbit.


"Silakan ,Nyonya . Panggil saya jika anda butuh sesuatu," ucap Pelayan itu.


" Terima kasih, " ucap Ally sambil tersenyum


"Anda beruntung sekali, Nyonya . Anak anda sangat tampan walaupun tidak mengambil ketampanan dari garis suami anda. Tentunya ketampanannya di dapat dari garis anda, Bukan?" ucap pelayan itu lagi. Ally hanya membalas dengan tersenyum serba salah.


Pelayan itu kemudian pamit dan berlalu. Namun Ally masih mendengar gadis pelayan itu mendesah, " Ah, keluarga kecil yang sempurna."


Ally memandang jus di hadapannya dengan senyum lebar. Pelayan itu salah mengira ....


Dia fikir kami keluarga kecil ,seorang ayah, ibu dan putra mereka ....


Ally jadi sedikit terkekeh.


"Apa yang lucu?" Suara Lucius membuat Ally berbalik dan menoleh dari kursinya. Lucius dan Alan sudah kembali dari toilet.


"Tidak ada ...." ucap Ally.


"Kau belbohong Ally ... tadi kau tertawa, pasti ada sebabnya," ucap Alan sambil memanjat ke arah tempat duduk. Lucius segera mengangkat bocah itu dan mendudukkannya di kursi.


"Kau benar Alan. Kakakmu berbohong," ucap Lucius.


Dua pasang mata itu menatap ke arah Ally. Wajahnya makin merona. Ia mengambil sendok dan mulai memakan es krim coklat di atas meja.


"Aku akan menghabiskannya jika kau tidak mulai makan, Alan." ancam Ally.


Alan segera teralihkan dari pertanyaannya. Bocah itu segera mengambil sendok dan menyuapkan es krim yang meleleh ke mulutnya. Es krim itu terasa lembut dan lumer di mulut, kedua kakak beradik itu terus menyuap.


"Kenapa punyamu ada walna merahnya ,Ally?" Alan mengintip ke mangkuknya dan mengaduk. Semua es krim di mangkuk bocah itu berwarna coklat dan putih.


"Ini rasa strawberry ... ayo, buka mulutmu," Ally menyendok es krimnya dan mengukurkan tangan ke seberang meja, ke mulut Alan yang segera saja membulat membuka.


Bocah itu mengemut eskrim dan melotot.


"Aku suka lasa yang ini," ujar Alan.


"Suapi kakakmu, dan ia akan memberikan es krimnya lagi padamu," ucap Lucius.


Alan menyendok es krim dan mengulurkannya ke arah Ally. Namun karena lengan bocah itu pendek, Ally terpaksa memajukan badannya ke depan agar mulutnya sampai ke sendok yang di ulurkan oleh Alan.


Ally melahap eskrim yang mulai mencair itu, tangan kecil adiknya goyang dan separuh es krim coklat itu menetes di dagu Ally. Membuatnya belepotan dengan coklat.


Alan tertawa geli melihat wajah kakaknya. Ally tanpa sadar menjilat lelehan es krim di seputar bibirnya dengan lidah, namun bagian es krim yang meleleh di dagu tetap tersisa.


Lucius otomatis mengulurkan tangan, menghapus sisa eskrim di dagu Ally dengan jari-jarinya. Sentuhan itu membuat Ally menatap wajah Lucius, ia merasa terkena sengatan listrik ketika tangan Lucius menyentuhnya.


Mereka berpandangan, kilat di mata hitam Lucius bertambah ketika lidah Ally kembali menjilat bibirnya. Jari jarinya masih menempel di dagu Ally, seolah berfikir apakah akan bergerak sedikit ke atas agar ia bisa menyentuh bibir ranum yan tadi belepotan coklat itu.


"Kalian tahu ... pelayan di sana tidak berkedip memandang kita ...." suara Alan mematahkan mantra antara Lucius dan Ally. Lucius berkedip lalu menurunkan tangannya dan menatap ke arah Alan.


"Kau bilang apa tadi, Alan?" tanya Lucius. Nada bicaranya terdengar biasa, tidak menyiratkan hatinya yang tengah penuh dengan gelembung gelembung yang seperti mau meledak karna gadis di depannya.


Ally cepat cepat menunduk, ia terpaku pada mangkuk es krimnya dan tangannya mengaduk aduk tanpa berniat menyuap lagi es krim itu ke mulutnya.


"Aku bilang ... pelayan di sana terus memandang ke arah kita," ulang Alan pada Lucius.


Lucius menatap ke arah tatapan Alan, Dua orang pelayan di belakang etalase memang tengah memandang ke arah mereka.


Lucius menoleh dan menyerigai ke arah bocah itu.


"Mereka menatapmu ... kau terlihat sangat tampan! Ayo kedipkan matamu ke arah mereka."


Alan tertawa geli. Ally merengut mendengar ucapan Lucius pada adiknya.


Lalu berbarengan, Lucius dan Alan menoleh kembali pada dua pelayan itu. Keduanya mengedipkan mata berbarengan dengan tersenyum manis.


Ally memalingkan wajahnya menatap dua orang gadis pelayan yang menangkupkan satu tangan ke dada mereka dengan ber ahhhhh panjang dan menatap dengan tatapan memuja pada dua laki laki genit yang menggoda di dekatnya itu.


"Kau membuat Alan jadi bersikap genit ...." sungut Ally.


"Astaga ... Kakakmu cemburu, Alan. Kita mengedipkan mata pada dua gadis itu tapi tidak kepadanya," goda Lucius.


Alan tertawa geli, membuat Ally tersenyum lalu mengancam akan menggelitikinya.


"Aku akan menggelitikimu tanpa ampun jika kau terus tertawa," Ally menyiapkan jari jarinya.


Alan langsung menutup mulut dengan kedua tangan, berusaha menekan suara tawanya yang masih saja lolos terdengar dari bibirnya.


Ally menatap sendu ... sudah lama sekali Alan tidak tertawa lepas. Dan hari ini ia mendengarnya dengan perasaan teramat sangat bahagia.


Ia menoleh, menatap Lucius dengan tatapan terima kasih. Lucius hanya balik memandang tanpa mengatakan apa-apa.


"Boleh aku makan kuenya?" tanya Alan kemudian.


"Tentu ... Sini, aku akan menyuapimu," Lucius memotong kue dengan garpu lalu menusuknya dan mengulurkannya ke mulut Alan.


Ally memandang keduanya dengan perasaan tak menentu.


Entah sampai kapan kebahagiaan ini akan kami rasakan, rasa aman dan terlindungi ketika berada di dekat pria ini ... Tuhan, Kau kirimkan pria ini pada kami ... berapapun waktu yang Engkau tetapkan untuk kami dapat bersamanya, Aku akan mensyukurinya sepenuh hati ....


**********


From Author,


Chapter kedua yang up hari ini jika lolos review ...nantikan terus kisah Lucius dan Alison ya🎉😘😘


Jangan lupa klik like, love, komentar, bintang lima, dan vote ya pembaca semua...


Terimakasih banyakkkk ....


Salam, DIANAZ.