
Suara aliran air dari sungai yang jernih itu terdengar menenangkan. Di bawah sebuah pohon terbentang sebuah alas lebar untuk duduk di tanah. Amy duduk dengan Arthur di pangkuannya. Reggie duduk di sebelah Amy dengan Marie dalam pelukan. Kedua ibu itu tengah menyuapi anak mereka dengan potongan buah.
"Kau lihat Cecilia, Amy?" Derek mendatangi dua wanita yang duduk di bawah pohon itu, mereka semua menikmati piknik di pinggir aliran sungai yang ada di wilayah perkebunan Costra Land. Namun Cecilia tidak tampak sejak tadi.
Derek dan Mike tadinya bermain air dengan Alan dan Erland serta Lucius. Para pria itu mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada, lalu masuk ke aliran air sungai berbatu yang jernih dan sejuk. Cecilia sejak tadi ada di dekat Amy dan Reggie.
Namun setelah beberapa saat, Derek menyadari gadis itu menghilang.
Amy menatap ke arah jalan setapak yang mengarah ke arah lahan kosong tempat mobil mereka terparkir.
"Kurasa tadi dia ke arah sana. Tadi ada suara mobil yang datang." ucap Amy.
Derek menyipit ke arah yang ditunjuk istrinya. Lalu mulai melangkah ke arah lahan parkir mobil-mobil mereka. Ia baru saja akan mendatangi sebuah mobil yang baru tiba di bagian ujung, ketika beberapa saat kemudian muncul Lance yang tampak tersenyum lebar keluar dari balik badan mobil .
Lance sedikit terkejut, tapi dengan cepat wajahnya kembali datar dan ia menganggukkan kepala sedikit ke arah Derek.
Di belakang Lance, Cecilia yang berjalan di belakangnya terpaksa berhenti tiba-tiba dan menabrak pria itu.
"Kenapa berhenti?" tanyanya.
"Kenapa kau ada di sini? Dan bersama Lance, Cecil?" tanya Derek penuh selidik.
Cecilia mengintip dari balik tubuh Lance. Seketika wajah gadis itu memerah.
"Saya pergi dulu, Tuan Derek Saya perlu menemui Lucius," ujar Lance kemudian melirik sebentar ke arah Cecilia yang masih merona. Seketika Lance tidak mampu mempertahankan wajah datarnya. Seringai kecil terbit di bibir pria itu, seolah tidak mampu menahan rasa geli.
Setelah satu anggukan lagi ke arah Derek, Lance berjalan dan melewati pria itu menuju ke arah sungai.
"Cecil ..." panggil Derek.
"Apa ?"
"Apa yang kau lakukan?"
Cecilia tersenyum lebar dengan wajah merah," tidak ada," jawabnya.
"Jangan bohong padaku, Nona Damario. Kau tahu Lance tiba dan mendatanginya kemari? Apa yang kalian lakukan di balik mobil tadi?"
Cecilia terkekeh, lalu mendekati Derek dan menggandeng sikunya. Gadis itu menarik lengan Derek, mengajaknya berjalan kembali ke arah tempat mereka piknik.
"Kau tahu, Derek. Kau harus punya anak perempuan. Jadi kau bisa berhenti mengawasi kami para gadis klan Langton. Kau bisa mengawasi putrimu sendiri dan menjadi penjaganya ... walaupun aku kasihan ketika nanti dia dewasa. " Cecilia terkekeh.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tanya apa yang kau lakukan dengan Lance di sana tadi?"
Cecilia akhirnya melepaskan gandengannya dari lengan Derek. Ia berjalan ke depan dan menoleh sambil tersenyum lebar.
" Itu rahasia ...." ucapnya geli, lalu berlari meninggalkan Derek yang mengerutkan kening tidak puas mendengar jawaban Cecil. Namun ia membiarkan gadis itu lari.
Lance tiba di pinggir sungai lalu berteriak memanggil Lucius yang tengah memegangi Alan.
"Lucius!"
Lucius menoleh, lalu menatap Lance yang berdiri di pinggir sungai. Ia menghembuskan nafasnya dengan sedikit gelisah.
"Si cerewet itu sudah tiba rupanya," bisik Lucius.
"Siapa, Paman?" tanya Alan.
Lucius menoleh ke arah Alan, " sudah kukatakan panggil Aku Kakak, Alan. Seperti kau memanggil Ally."
Alan tersenyum malu dan mengangguk. Menyebut nama Ally membuat Lucius teringat pada calon pengantinnya itu. Enrico tidak memperbolehkan gadis itu pergi kemanapun lagi sebelum pernikahan. Pria itu sibuk dengan gaun pengantin, dan seluruh pernak-pernik pernikahan, membuat Frederic asistennya berlari kesana-kemari dan juga sakit kepala.
"Ayo ... Aku akan pulang," ucap Lucius.
"Tapi aku masih mau main," rengek Alan.
"Baiklah ... Mike, Aku akan pulang lebih dulu, tolong awasi Alan ...."
Lucius berbicara pada Mike yang mengawasi Erland bermain air. Iparnya itu mengangguk.
Setelah tiba ke pinggir , Lucius dan Lance mendekat ke arah Reggie yang mengulurkan handuk. Lucius segera mengeringkan tubuhnya dan mengambil kaos nya yang terlipat di atas tas piknik.
"Angelo sudah datang?" tanya Reggie pada Lance.
"Ya. Dan dia mengomel karena tidak bertemu Lucius ketika tiba," ucap Lance.
"Pastinya ... Dia akan mengoceh panjang seperti rel kereta," ucap Lucius.
"Apa aku perlu ikut pulang?" Reggie menangkap mata kakaknya, ingin melihat masih adakah rasa enggan di mata hitam itu.
"Tidak perlu, lanjutkan pikniknya. Aku akan pulang bersama Lance. Angelo akan makin gusar jika aku belum menyambutnya."
Reggie tertawa, membayangkan pria teman kakaknya yang ahli dengan rambut dan pakaian itu.
Lance dan Lucius lalu meninggalkan tempat piknik, Amy menatap sampai keduanya menghilang lalu menoleh ke arah Reggie.
"Apa tidak apa-apa kau tidak ikut? Dia akan memotong habis rambut panjangnya itu kan? "
"Betul," jawab Reggie sambil tersenyum.
"Apakah dia masih takut dengan gunting? Bukankah lebih baik kau menemaninya?" tanya Amy lagi.
Reggie menggelengkan kepala.
"Tidak Amy. Lucius tidak akan mau kita melihat kelemahannya. Lagipula, kurasa kakakku sudah mengatasi hal itu ... Aku yakin, dan ada Lance yang membantunya ... dan dia berada di tangan profesional, Angel akan melakukan yang terbaik."
"Kuharap begitu. Aku ingin tahu bagaimana wajah tampan kakakmu itu dengan rambut pendek,"
"Hukh! Hukh!" suara batuk terdengar mendekat. Amy dan Reggie menoleh dan melihat Derek yang tengah berjalan menuju tempat mereka. Reggie tersenyum lebar, Derek pasti mendengar ucapan Amy barusan.
"Oh, kau membuat alasnya basah!" jerit Amy. Derek menatap masam istrinya itu.
"Astaga ... kau ini masih saja cemburuan. Aku sudah memberikan dua putra dan satu calon bayi lagi untukmu. Tandanya aku ini hanya milikmu, Derek Langton. Tentu saja bagiku kaulah yang paling tampan," ucap Amy dengan manis sambil mengedipkan mata pada suaminya.
Derek menatap istrinya terkejut." Sweety ... Apa maksudmu calon bayi?"
"Eh ... Aku belum bilang ya ... umm, Aku sudah terlambat dan ... Derek!!" Amy berteriak ketika tubuhnya diangkat dan diletakkan di pangkuan suaminya itu.
Reggie tertawa melihat Amy yang bersungut-sungut.
"Kau membuat kami terkejut!" Amy melepaskan Arthur yang meliuk ingin turun dari pelukannya. Merasa terjepit oleh tubuh ibunya yang dipeluk erat. Reggie segera menyambut Arthur yang berjalan tertatih ke arahnya.
"Kemarilah Arthur. Bermain sama Marie ...." ucap Reggie. Ia tersenyum lebar melihat Derek yang langsung mencium dan memeluk istrinya dengan erat.
"Oh, ayolah ... aku jadi sulit bernafas ... Derek, lepaskan aku." Amy meliuk sambil tersenyum malu ke arah Reggie.
"Tidak ... Kau memberiku kejutan yang paling indah, biarkan aku memelukmu dulu, Sweety," ucap Derek.
"Kita berdoa saja kali ini perempuan ... jadi kau bisa memberikan nama untuknya," ucap Amy.
"Bayi perempuan ... " Derek mendesah, lalu matanya menatap Marie yang tengah menarik rambut Arthur. Putra Derek itu hanya mengernyit dan mencoba menjauhkan kepalanya. Reggie berusaha melepaskan genggaman putrinya pada rambut Arthur. Tiba-tiba Derek ingat ucapan Cecilia tentang memiliki anak perempuan.
"Pasti menyenangkan sekali. Dia akan jadi tuan putri," ucap Derek.
"Oh, tentu menyenangkan Derek. Dia akan sangat merepotkanmu dan membuatmu selalu khawatir. Apalagi jika dia dewasa nanti. Sampai-sampai kau harus mengurungnya, bahkan menyekolahkannya ke sekolah khusus putri agar para pria menjauh dan tidak mendekatinya." Reggie menyeringai ke arah Amy.
"Ya ... tapi seorang putri selalu punya cara agar dapat bebas dan sedikit bersenang-senang. Kau akan terkejut ketika dia punya sejuta ide yang lebih hebat mengalahkan semua idemu." Amy menimpali ucapan Reggie. Lalu kedua wanita itu tertawa bersamaan, seolah mengenang masa lalu mereka saat tumbuh bersama di mansion Sky. Kediaman keluarga Amy kala itu.
Derek mengernyit dan mengerutkan bibirnya melihat kedua wanita itu,"kurasa itu pengalaman kalian sendiri, bukan?"
Amy dan Reggie saling menatap dan kembali tertawa. Membuat Derek mendengus lalu memeluk Amy lagi sambil mengecup puncak kepalanya.
"Ya , tertawa saja terus. Itu rahasia kalian berdua bukan," cetus Derek, membiarkan keduanya tertawa lepas.
**********
"Pejamkan saja matamu jika itu membuatmu lebih nyaman." Angelo memberikan instruksi pada Lucius. Mereka menata sebuah kursi yang sekarang di duduki Lucius di bawah sebuah pohon yang berada di belakang rumah perkebunan.
"Tidak . Aku sudah nyaman," ucap Lucius.
Lance dan Angelo saling berpandangan. Bulir keringat menuruni pelipis dan turun ke leher Lucius.
"Jubah ini terasa panas, Angelo. Cepatlah," ucap Lucius gusar.
"Hei ... tarik nafasmu dalam-dalam ... Ya, begitu. Hembuskan perlahan ... " ucap Lance.
Lucius mengikuti arahan Lance, ia melakukannya beberapa kali.
"Kau lihat hamparan tanah itu?" Lance menunjuk hamparan tanah mereka yang berbatasan dengan tanah Costra Land. Lucius mengikuti arah yang di tunjuk Lance. Tanpa sadar Angelo sudah memulai aksinya, memotong dan menggunting rambut panjang Lucius dan bermaksud menatanya dengan model simple undercut, potongan pendek yang diprediksi Angelo akan membuat Lucius makin terlihat tampan, apalagi dengan berlian berkilau di telinganya itu.
Lance terus mengajak Lucius bicara. Rencana pengembangan tanah Sanchez yang telah lama terbengkalai. Beberapa hal yang akan dilakukan pada tahap awal dan kemudian juga mencari rekan yang akan membantu mereka saat lahan itu kembali dibuka. Lucius mendengar dan menanggapi setiap ucapan Lance. Memberikan beberapa referensi yang ia dapat dari Enrico. Keduanya larut dalam obrolan, sampai rencana pengembangan lahan itu beralih pada rencana pemugaran rumah perkebunan. Membuat rumah itu lebih besar dengan beberapa penambahan sayap.
"Tidak mau membuatnya sebesar mansion Costra?" tanya Lance.
"Tidak. Tidak. Bentuk alaminya sebagai rumah perkebunan yang seperti sekarang harus dipertahankan, Lance. Hanya buat bangunan baru di bagian kanan dan kirinya. Buat ruangan-ruangannya menjadi lebih besar. Kita harus meminta profesional untuk membuat denah awalnya. Mencari Arsitek dan membawanya ke rumah itu, agar ia bisa melihat dan memperkirakan luas dan bentuk seperti apa yang bisa mengakomodir keinginan kita."
Lance mengangguk, tersenyum pada Angelo yang berkedip padanya dari belakang kepala Lucius. Pria itu sepenuhnya sudah berambut pendek.
"Kau tampak sangat tampan. Ally pasti akan sangat terkejut," ucap Lance.
"Apa?" tanya Lucius bingung.
Angelo mengambil cermin dan membawanya ke depan Lucius. Meletakkan cermin itu di depan dadanya.
"Tidak percuma aku terbang kemari dan menghabiskan waktuku untuk mengurus pernikahanmu, Lucius Sanchez. Kau memperlihatkan kalau tanganku sangat menakjubkan, kau akan jadi pengantin yang mempesona."
Angelo tertawa melihat wajah Lucius yang tak berkedip memandang cermin.
"Bereskan dia Angelo, dia kehilangan kata-kata," ucap Lance tertawa.
"Ya ... Sekarang buka jubahnya." Angelo membantu Lucius membuka jubah, lalu pria itu merapikan peralatannya.
"Sudah beres! Sekarang aku akan mengepas pakaianmu, Lucius. Aku tunggu di dalam. Sayang sekali aku tidak punya kesempatan mendandani pengantin wanitanya," Angelo mendesah lalu mengangkat kotak peralatannya dan melangkah berlalu.
"Thanks, Angel!" teriak Lucius. Angelo hanya mengangkat tangan dan menggoyangkannya tanpa berbalik. " Aku tunggu di dalam! " teriaknya.
Lucius berdiri dan menatap Lance .
"Semudah itu,"ucapnya dengan seringai lebar. Lance membalas dengan tertawa.
"Tentu saja ... kau tidak merasakan apa-apa bukan?" tanya Lance, ingin tahu apakah trauma Lucius masih membelit.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Berkat dirimu Lance ... terima kasih," ucap Lucius.
Lance tersenyum lalu menepuk bahu Lucius.
"Itulah gunanya saudara. Ayo! Aku tidak mau mendengar Angel mengomel lagi."
Keduanya lalu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke rumah, menemui Angelo yang sudah siap dengan Pernak-pernik pernikahan yang ia siapkan.
*********
Like jangan lupa ya, love juga, komentar, dan bintang lima. Yang punya poin vote dong LS. Maaf lama up ya my readersđŸ˜˜
Terima kasih.
Salam, DIANAZ