
Eloy mengernyit ketika menutup panggilan telpon dari putranya.
"Ada apa Ayah?" tanya Reggie setelah melihat kening sang ayah berkerut.
"Kakakmu menutup sambungan dengan cepat dan terburu buru. Ketika suara seorang gadis memanggilnya."
Reggie terkikik sambil menutup mulutnya,"Apakah itu suara Ester? atau putrinya?"
"Entahlah ... mungkin saja ... Tapi bagaimana jika bukan? putri Ester sudah pindah dari sana, sedang kan suara Ester ...." Eloy berhenti bicara, hanya memandang ke mata Reggie.
"Kau mau mengatakan apa sebenarnya Ayah?" Reggie kembali terkikik.
Eloy hanya terbahak," Tidak ada Regina ... hanya perasaan seorang ayah saja ... berharap besar kakakmu menemukan seorang gadis untuk dirinya, walaupun aku berharap Cecilia benar benar adalah gadis itu. Semuanya tetap adalah keputusan dari kakakmu."
Reggie tersenyum, ia mengangguk, sepenuh hati punya perasaan yang sama seperti ayahnya.
**********
Lucius turun dari mobil dan memandang berkeliling dari pinggiran jalan. Tepukan di bahunya membuatnya menoleh.
"Kita naik ke arah sana , akan lebih leluasa melihat tanahmu." Pabio mendahuluinya berjalan ke arah bukit.
"Lihatlah ...." Pabio mendesah, Tanah yang dulunya sangat subur, penuh dengan tanaman anggur yang menghasilkan.
"Apakah bangunan megah itu mansion Tuan Rico?" tanya Lucius ketika matanya memandang di kejauhan, pada sebuah Mansion yang terlihat besar dan megah dari kejauhan.
"Benar sekali, Lucius. Dan yang menghijau di sepanjang area sana, itu adalah perkebunan Tuan Rico. Sampai ke balik bukit itu menuju desa kecil di sana." Pabio menunjuk.
Lucius bersiul , lahan yang sangat luas. " Dia seperti pemilik dari sebuah bukit yang penuh ladang anggur,"
Pabio terkekeh," Bisa di bilang begitu." ucap Pabio.
Lalu mereka kembali berkendara, menemui tiga orang pekerja yang masih bekerja untuk ayahnya, menjaga di batas batas wilayah tanah mereka.
Sejauh ini, kesimpulan yang Lucius ambil, tanah itu belum sepenuhnya rusak. Jika ia memanggil profesional, maka akan bisa menyamai ladang anggur Tuan Rico walaupun mungkin luasnya tidak sebanding.
Setelah matahari semakin tinggi dan terik, Pabio mengajak Lucius pulang kembali. Laki-laki tua itu berkata penasaran dengan apa yang akan Ally masak untuk makan siang mereka.
Lucius mengernyit ketika teringat Ally. Gadis itu terlihat aneh, ada sesuatu yang berubah pagi ini. Seolah ia memasang jarak pada Lucius. Bersikap sopan dan formal. Membuat Lucius merasa sungkan untuk mendekati dan menggodanya.
Mereka tiba di rumah bertingkat dua itu dan disambut oleh Alan yang keluar dari pintu depan sambil berlari.
"Paman Lucius !" teriaknya.
"Pelan-pelan Alan!" Lucius balas berteriak. Ia berlari mengejar bocah yang menuruni undakan tangga tanpa mengurangi kecepatan sedikitpun itu.
"Paman ... " ucapnya terengah ketika berhenti di dekat kaki Lucius. Lucius terkekeh melihat bocah yang tampak bersemangat itu.
"Ada apa?" tanyanya sambil mengangkat Alan dan menggendongnya.
Alan mendekatkan bibirnya ke telinga Lucius, berbisik pelan memberitahunya sebuah rahasia.
Lucius mengernyit ,dan menjauhkan sedikit tubuh Alan agar ia bisa memandang wajah bocah itu.
"Benarkah?" tanya Lucius pada Alan yang langsung menganggukkan kepala.
"Aku memergokinya ...." lapor Alan lagi.
Pabio memandang Lucius yang kemudian menatapnya, Namun Lucius hanya tersenyum, pertanda pria itu tidak akan mengatakan apa yang tadi Alan bisikkan ke telinga Lucius.
"Ayo masuk, kita makan siang dulu," ajak Lucius pada Alan dan Pabio.
Mereka masuk dan langsung mencuci tangan di dapur. Ester dan Ally terlihat sibuk menata meja, menyiapkan makan siang untuk mereka.
"Bagaimana? Apa yang kau simpulkan setelah berkeliling?" tanya Ester pada Lucius, ketika ia duduk di kursi makan. Lucius tersenyum, ia melirik Ally yang sedikitpun tidak memandangnya dari mulai saat ia masuk ke dapur.
"Sepertinya aku harus mengundang ahli untuk melihat struktur tanahnya dulu, dan mungkin juga beberapa tenaga profesional lainnya jika memang lahan ini akan kita buka kembali," ujar Lucius.
Ally yang baru saja menarik kursi untuk Alan terlihat mengernyit. Cara Lucius membicarakan apa yang akan di lakukan pada tanah itu seperti ia adalah seorang pemilik, bukan pekerja. Bukankah keputusan berada di tangan Tuan Lance?
"Aku harap akan segera di lakukan, Lucius. Akan sangat berguna untuk membuka lapangan kerja bagi penduduk di sekitar lahan," ucap Pabio.
"Tentu ... Akan lebih cepat di lakukan andai saja Tuan Rico mau bekerja sama ...." Lucius kemudian menutup mulutnya ketika mendengar Ally terkesiap.
"Ally, Sayang, kau terlihat pucat ... Ada apa?" tanya Ester khawatir.
Ally menegakkan kepalanya, menatap mata Lucius.
"Katakan padaku ... Apa nama tempat ini ...." ucap Ally serak. Jantungnya berdebar keras, jangan-jangan tanpa sadar ia sudah kembali ke wilayah Tuan Rico.
Lucius menatap Ally. Ia tidak memberitahu kemana ia akan membawa Ally pergi bekerja, ia takut Ally ketakutan waktu itu. Ia juga beruntung, sepanjang perjalanan Ally tertidur. Tidak tahu kemana laju mobil yang dikendarai Lucius membawanya.
"Apakah tempat ini berada di wilayah perkebunan Anggur Costra Land? tanya Ally, suaranya mulai ketakutan.
Pabio baru saja akan membuka mulutnya ketika tangan Lucius terangkat. Membuat Pabio kembali menutup mulutnya dan diam.
"Alison ... kau mempercayaiku, bukan?" ucap Lucius dengan tatapan langsung ke mata biru gadis itu.
"Ya...." bisiknya pelan.
"Kalau begitu kau percaya aku tidak akan membuat sesuatupun terjadi padamu, aku akan melindungi kau dan Alan ... kau tahu itu kan?" tanya Lucius lagi.
Ally mengangguk, jantungnya makin berdebar. Perasaannya mengatakan dugaannya benar.
"Tempat ini berbatasan langsung dengan perkebunan Costra Land milik Tuan Rico, Ally ... Tapi kau tidak perlu merasa takut. Dia tidak bisa melakukan apapun padamu. Lagi pula dia tidak tahu kau berada di sini," ucap Lucius, mencoba menenangkan Ally.
Ally menelan ludah, rasa mual berputar di perutnya, ia merasa ingin muntah. Ally berdiri, mencoba tersenyum dengan wajah yang pucat.
"Aku merasa sedikit tidak enak badan. Kumohon, teruskanlah makan siangnya. Aku pamit, ke belakang ...." Ally setengah berlari ke arah belakang, ia mencapai pintu dan keluar menuju teras belakang yang juga di hiasi tanaman merambat yang menjuntai, ia melangkah ke arah rerumputan dan kemudian menunduk, memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi air sedari pagi. Ketakutannya kembali, membuat tubuhnya gemetar.
Lucius menangkap tubuh Ally dari arah belakang, " Kau tidak mempercayai ucapanku," bisiknya.
Ally berbalik dalam rengkuhan tangan Lucius.
"Kenapa kau tidak mengatakannya?" tanya Ally lemah, kepalanya sekarang mulai terasa pusing.
"Dan membuatmu membatalkan rencana untuk ikut denganku? Sudah kukatakan Alison. Serahkan semuanya padaku. Rico tidak akan dapat menyentuhmu seujung rambutpun! Kau harus mempercayaiku!" tegas Lucius.
Ally memejamkan mata, ia mengangkat tangannya dan berpegangan pada lengan Lucius.
Lucius melihat wajah Ally masih sangat pucat," Kau harus berbaring!" perintahnya tegas. Lucius mengangkat dan menggendong Ally. Ally memberikan protes lemah, Namun tidak digubris oleh Lucius.
Lucius membawa Ally ke lantai dua, mendorong pintu kamar Ally dengan kakinya lalu membaringkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur.
"Sekarang katakan apa yang membuatmu tidak sarapan, lalu menangis tadi pagi."
Ucapan Lucius membuat Ally membuka matanya, menatap mata hitam yang menatapnya sambil duduk di pinggir ranjang.
"Aku tidak akan pergi jika kau tidak mau bicara. Alan mengatakannya padaku! Kau mengatakan kau akan makan setelah kami pergi, tapi Alan bilang kau tidak makan! lalu ia memergokimu sedang menangis!"
Ally menarik nafas panjang, adiknya sudah menjadi mata-mata Lucius rupanya.
"Tidak ada ... Aku hanya sedikit gelisah berada di tempat baru. Itu saja ... lalu berita ini ... sungguh membuat aku ketakutan. Aku takut ia akan menemukan aku."
"Jika itu terjadipun, ia tidak akan dapat melakukan apa-apa. Aku sudah berjanji untuk melindungimu, Ally."
"Aku tahu ... Aku percaya, hanya saja kau tidak mengenalnya, Lucius. Dia terkenal karena kegigihannya. Karna itu perkebunannya bisa seluas sekarang. Ia gigih mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan tidak memberi ampun pada orang yang telah mengganggu miliknya. Begitulah yang dikatakan orang-orang tentang pria itu."
Lucius menarik nafas panjang. Percuma meyakinkan Ally sekarang. Saat yang ia tahu Lucius hanyalah seorang pekerja yang tidak mungkin dapat melakukan sesuatu jika Tuan tanah itu mulai bertindak.
"Berhenti membicarakan Tuan Rico! Rumah ini berada jauh dari perbatasan dengan tanahnya. Mansionnya lebih jauh lagi, ia tidak akan tahu kau dan Alan berada di sini ... Aku akan mengambil makan siangmu. Jangan bangun, aku akan membawanya kemari,"
Tidak usah! sungguh! aku tidak apa-apa...."
"Jangan membantahku, tunggu di sini, " Lucius membungkukkan badan, mencium pipi Ally yang terkejut menerima perlakuan itu. Lalu ia berdiri, melangkah menuju pintu. Sebelum ia berlalu dari sana, Ally mendengar kata-kata tegas Lucius sekali lagi.
"Kau bilang kau percaya ... Tapi kau masih ketakutan ketika aku bahkan ada di dekatmu, Ally ... Kau juga tidak mau berbagi apa yang ada di fikiranmu itu ... yang membuatmu menangis sendirian, gelisah dan ketakutan. Apa aku sungguh tidak dapat kau percayai?"
Ally menatap pintu yang ditutup oleh Lucius dari atas tempat tidurnya. Air matanya mengalir, kesedihan kembali menggayuti hatinya. Ia sudah tidak seperti dirinya yang dulu. Yang tegar, bahkan tidak mengeluarkan air mata setitikpun ketika ia dipukuli oleh Carloz. Hatinya begiti mudah merasa sedih, matanya begitu mudah berair ... ia menjadi cengeng ...
Dan itu semua karenamu ... Lucius ....
**********