
Lance masih duduk termenung sendirian di kursi luar mansion, tempat makan malam baru saja selesai. Semua orang sudah masuk menuju aula samping. Suara alunan musik membuat langkah kaki mereka segera mengarah ke aula dansa.
Lance perlahan berdiri, lalu melangkah ke jalan kerikil berbatu menuju taman. Perlahan ia menelusuri jalan menuru ke arah samping. Ia ingin menghirup udara malam dan meringankan hatinya yang entah kenapa terasa berat setelah melihat Cecilia menerima uluran tangan Enrico yang mengajaknya masuk.
Lance mencoba menenangkan perasaannya dengan terus berjalan. Sampai jendela-jendela lebar yang terbuka dan juga sepasang pintu yang mengarah ke aula samping mansion Costra terlihat olehnya. Semua orang sudah berada di sana. Mereka masuk lewat pintu depan dari arah dalam. Tidak ada yang menyadari kehadiran Lance yang berdiri di keremangan taman.
Lance menatap dan tersenyum, melihat Mike yang sudah berdansa dengan Reggie, Amy yang juga sudah berputar dalam pelukan Derek. Sesekali tawa keduanya menggema ketika mereka saling menggoda jika bertemu dalam putaran dansa.
Keindahan dan kebahagiaan yang terlukis di lantai dansa dengan dua pasangan itu akhirnya terhenti, Ketika musik akhirnya berakhir.
Lance mendengar Derek berbicara dengan suara kencang pada Enrico dari arah dalam.
"Tidak, Enrico! Kalaupun ia menari salsa, pasangannya bukanlah dirimu!"
"Oh, ayolah, Langton! Ini hanyalah salsa. Amymu sangat lincah dan energik ketika menarikannya. Dia cocok ... satu putaran lagu. Hanya satu. Bagaimana?"
"Tidak!"
Tawa Enrico juga Amy terdengar sampai ke tempat Lance berdiri. Lalu ia mendengar suara milik gadis yang selalu hadir dalam tidurnya.
"Kau berminat mencoba menarikannya denganku? Kau bisa menguji dulu aku layak atau tidak. Kudengar kau ahli dengan gerak tariannya."
Beberapa saat kemudian Lance tidak mendengar suara dari arah dalam, sampai hentakan musik yang berirama mulai mengalun sampai ke luar mansion dan membuat telinganya mendengar musik energik yang penuh semangat. Lance mengernyit ... tarian seperti apa dengan musik seperti ini? fikirnya penasaran. Lance melangkahkan kaki mendekat dan berdiri di teras. Memandang ke dalam dari jendela yang terbuka lebar.
Di tengah aula itu, Lance melihat Enrico memeluk erat pinggang Cecilia, lalu seirama alunan musik, gadis itu melentikkan pinggangnya ke belakang hingga kepalanya jatuh dan rambutnya menyentuh lantai. Pegangan tangan Rico pada pinggangnyalah yang membuat Cecil tidak terjatuh. Hanya hitungan detik Cecilia sudah ditarik kembali dan melangkah dalam hentakan kaki yang mengimbangi Enrico. Keduanya tersenyum lebar, memperlihatkan gerakan cepat dan energik.
Lalu makin lama gerakan keduanya makin terlihat sensual, Cecilia ditarik, berpelukan dengan Enrico sebelum gadis itu berputar, kemudian kembali berpisah dengan tangan tetap bertaut.
Rambut Cecilia terbang saat ia berputar, begitu juga dengan rok gaunnya. Lance mengernyit melihat kedua kaki jenjang itu terlihat jelas. Lalu tanpa diduga, Lucius dan Ally ikut bergabung di lantai dansa. Seolah tidak mau kalah keduanya menampilkan tarian yang energik dan sensual, Lucius bahkan mencium bibir Ally sebelum ia melepas kembali pasangannya untuk berputar.
Musik terus mengalun, sampai Lance bersumpah dalam hati, kenapa durasi musik yang ini sangatlah lama. Enrico memutar dan menyentuh pinggang Cecilia berulang kali, tertawa bersemangat, berpegangan tangan, dan di satu waktu mengangkat tubuh Cecilia keatas dengan kedua lengannya. Cecilia tertawa lebar, menumpukan kedua tangannya ke dada Enrico sambil menatap ke bawah, ke arah wajah Enrico. Lance menatap wajah ceria penuh tawa yang Cecilia berikan untuk Enrico, menyadari ia sama sekali tidak menyukai hal itu.
Lalu musik berhenti, Ally dan Lucius membungkuk memberi hormat, begitu juga dengan Cecilia dan Enrico. Semua orang bertepuk tangan.
Lucius kemudian menarik Ally dan menangkapnya dalam pelukan, sebuah ciuman di bibir ia hadiahkan dengan mata berbinar.
"Lucius!" Ally menepuk dada kekasihnya yang tertawa melihat wajahnya yang merona malu.
"Sebaiknya kau tahan sampai kau menikah, Sanchez!" Enrico berteriak.
Enrico lalu menatap satu tangannya yang masih berpegangan dengan tangan Cecil. Mereka berpegangan ketika menunduk memberi salam saat dansa berakhir tadi. Ia mengedipkan mata pada Cecilia yang menoleh menatapnya.
"Kau mau kucium juga? Aku tidak keberatan," godanya. Cecilia tertawa renyah, ia meninju dada Enrico dengan satu tangannya yang bebas.
"Kau pria sinting yang cab*l. Kasihan sekali gadis yang jatuh cinta padamu," ucap Cecilia. Enrico mengangkat kedua bahunya, lalu tersenyum sambil menarik Cecilia ke pinggir untuk mengambil minum.
Dengan cepat Lance berbalik, meninggalkan teras dan kembali menapak jalan berkerikil menuju taman. Punggungnya yang menjauh terlihat oleh Mike yang saat itu tengah menoleh ke arah luar. Mike mengikuti dengan matanya sampai sosok itu menghilang di bagian taman yang gelap.
Setelah puas menghilangkan hausnya, Cecilia mengedarkan pandangan dan menyadari Lance belum juga masuk. Ia mengambil satu gelas lagi lalu melirik situasi sambil mundur perlahan. Ia berniat kembali ke meja makan malam, melihat apakah Lance masih duduk sendirian di sana.
Cecilia melangkah mundur dan akhirnya sampai ke bingkai ruangan sebelah aula yang merupakan ruang santai. Ia baru saja akan berbalik dan menghilang ketika suara Derek terdengar di telinganya.
"Mau kemana, Cecil?" tanya Derek, ia menyesap dari gelasnya sambil menatap tajam Cecilia dari bibir gelas.
Cecilia tersenyum kecut dan bergerak-gerak gelisah.
"ummm ... Aku ..."
Derek menunggu, masih berdiri tegak dengan tangan memegang gelas. Matanya menatap tajam dan tegas.
Cecilia menghentakkan kakinya dengan kesal memandang ekspresi Derek. " Oh! Kau lebih parah dari ayahku!" serunya jengkel, ia berderap kembali ke arah aula. Melihat Reggie dan Mike yang berdiri di teras sambil mengawasi Alan dan Erland yang bermain dengan Marie yang berada dalam gendongan Reggie.
"Kemarilah, Cecil. Kenapa kau kesal?" tanya Reggie. Cecilia tidak menjawab.
"Kurasa di sana ada hal menarik ...." Mike menunjuk ke arah taman. " Lance sudah lebih dulu ke sana untuk melihatnya. Baru saja Lucius dan Ally juga menyusul."
Mendengar nama Lance, Cecilia menatap ke arah taman, lalu menoleh ke belakang. Mengawasi Derek yang telah duduk di sofa dan berbicara dengan Tuan Eloy serta Enrico. Secepat kilat gadis itu turun dari teras, melewati Reggie dan Mike. Pergi ke arah yang ditunjuk oleh Mike.
"Kau jahil sekali. Derek terlihat baru saja menghentikan Cecil untuk mencari Lance. Tapi kau malah menunjukkan padanya dimana bisa menemukan Lance." Reggie menatap geli ke arah suaminya.
"Aku tidak bilang begitu, Honey. Aku bilang ada yang menarik di taman itu. Karenanya Lance pergi ke sana. Lucius dan Ally juga ...."
Reggie terkekeh, " Sama saja Michael Eliazar ... Kau baru saja memberi petunjuk dimana menemukan sosok yang amat menarik bagi gadis itu ... Lance Luiz ...."
"Seorang Sanchez ...." Mike menyeringai, disambut anggukan gembira dari istrinya.
**********
From Author,
Haduh... Maaf baru up ya semua. udah pada nagih padahalkan. Sabar ya zeyeng ....Nih author up lagi.
Tungguin next nya ya. Jangan lupa klik like,love, bintang lima, vote and komentar.
Terima kasih ya,
Salam, DIANAZ.