Love Seduction

Love Seduction
Chapter 46. Shame



Lucius memeluk pinggang kecil Ally dan memangkunya di atas kedua kakinya. Gadis itu bergerak ingin duduk di kursi sebelah Lucius. Tapi kedua lengan Lucius menahannya.


"Biarkan aku turun, " ucap Ally.


"Tidak," jawab Lucius tegas.


"Kau hanya akan membuat Rico makin marah." Ally kembali menggeliat. Membuat Lucius makin mengeratkan pelukannya.


"Lucius! Aku bau! Lepaskan aku!" Ally mendorong dada Lucius dengan kedua tangannya.


"Kau tidak bau, Ally sayang ...." Lucius mengeratkan pelukan pada pinggang Ally dengan satu tangan. Lalu tangan satu lagi ia gunakan untuk memegang tengkuk belakang Ally. Ia menahan kepala Ally dan mulai mencium gadis itu.


Lance yang melihat dari kaca tidak berkomentar, ia kembali menatap jalanan dan berkonsentrasi menyetir.


Lama pasangan itu diam di kursi belakang mobil, lalu tawa geli Lucius terdengar ketika ia mengangkat kepalanya dan melihat Ally yang merona dengan bibir sedikit bengkak.


"Kenapa kau cemberut? Jangan katakan kau tidak merindukanku. Aku datang ingin menjemputmu dan Alan, kau malah tidak mau menemuiku, menurut sekali dengan Rico, bahkan mengikutinya jalan-jalan dan pergi memancing," ucap Lucius.


"Rico tidak bermaksud jahat, Lucius." Ally membela walinya, yang membuat Lucius berdecak.


"Ck, cukup membicarakan pria itu, hanya membuatku kesal."


Ally menutup mulutnya lalu dengan canggung ia menoleh ke arah depan, melirik Lance yang sedari tadi hanya diam saja.


"Tuan Lance?" tanya Ally.


"Ya, Nona Alison." jawab Lance.


"Oh, panggil saja aku Ally, Tuan."


"Kalau begitu kau juga harus memanggilku Lance,"


Ally tersenyum mendengar ucapan Lance.


"Bisakah Anda berhenti di sini, Lance? Aku harus pulang ke mansion Costra. Rico akan jadi sangat marah dan kesal," ucap Ally dengan suara lembut.


"Maaf, Ally. Tidak bisa. Itu adalah keputusan Tuan Lucius," jawab Lance dengan nada tak kalah lembut.


Lucius terkekeh. Ia menghela pipi Ally yang langsung menggembung setelah mendengar jawaban Lance agar gadis itu kembali menatapnya.


"Percuma saja. Lance tidak akan berhenti, kecuali kita sudah sampai ke rumah perkebunan." Lucius mengecup kecil pipi Ally setelah mengatakannya.


Setelahnya Ally hanya bisa pasrah. Mobil itu tidak akan berhenti kecuali sudah sampai ke tempat Ester. Jadi Ally mengatur posisinya senyaman mungkin di pangkuan Lucius, menyandarkan kepalanya ketika lengan Lucius menariknya ke arah dada pria itu.


Beberapa saat sebelum mereka memasuki halaman rumah perkebunan, Lance menyipit dan memelankan mobil. Ada dua mobil asing terparkir di sana. Tidak mungkin Rico mendahului mereka datang kesana, fikir Lance.


"Mobil siapa itu, Lance?"


Suara Lucius di kursi belakang membuat Lance tahu tuannya itu sudah tahu dan juga bersikap waspada. Lance memelan, lalu berhenti. Ia mengernyit memandang ke beranda, Pabio terlihat tengah berbicara dengan seseorang.


Lance turun dan menyipit, matanya melebar setelah mengenali bahwa itu adalah Tuan Eloy.


"Tuan Lucius!" panggil Lance, ia melirik ke bagian belakang mobil. Lucius tampaknya belum menyadari kehadiran ayahnya. Pria itu menurunkan Ally ke tempat duduk di sebelahnya lalu ia sendiri bergerak keluar.


"Itu!" Lance menunjuk ke arah beranda.


Lucius menatap, lalu matanya membulat, membelalak. Tidak menyangka akan melihat ayahnya. Pabio dan Eloy yang mendengar suara mobil mendekat langsung berdiri ketika melihat Lance turun dari mobil.


Kedua orang tua itu menuruni beranda sambil tertawa melihat keterkejutan di mata Lucius dan Lance.


"Lucius! Lance! Terkejut melihatku kan!" Eloy tertawa sambil merentangkan kedua tangannya.


Lucius dan Lance melangkah maju, Lucius menyambut pelukan lengan ayahnya dan balik memeluk.


"Ayah ... Kau ... bagaimana ...." ucap Lucius kebingungan.


Eloy terkekeh melihat putranya yang kehilangan kata-kata. Lalu pintu rumah terbuka dan keluarlah sosok Mike juga Reggie yang langsung menjerit dan berlari ke arah Lucius.


"Kakak! Kau sudah datang!" seru Reggie. Membuat Mike menggelengkan kepalanya, melihat istrinya yang berlari lalu melompat ke arah Lucius yang langsung menangkapnya sambil tertawa lebar.


"Kau juga ada di sini!" ucap Lucius.


Ally memutuskan untuk turun dari mobil ketika melihat kehebohan dan tawa yang menggema di halaman rumah. Ia mengerutkan kening ketika kakinya menyentuh kerikil di halaman berbatu dan menyadari ia sama sekali tidak mengenakan alas kaki.


Ally tetap turun dan menutup pintu mobil, ia maju selangkah dan menaikkan alis ketika seorang wanita cantik berlari dan langsung menubruk Lucius. Keduanya berpelukan sambil tertawa. Ally tersadar dan menatap ke arah rombongan itu dengan wajah memucat. Kakak ... wanita itu memanggil Lucius kakak. Berulang kali Ally menelan ludah, seorang wanita yang memanggil Lucius kakak, seorang pria bermata abu-abu, Lucius mengatakan Marie bermata abu-abu seperti ayahnya, pria itu bermata abu-abu. Apakah itu ayah Marie? Dan mata abu-abu itulah yang pertama kali menyadari kehadirannya. Menatap tak berkedip ke arah Ally, membuat ia tidak berani bergerak.


"Kenapa Kau dan Ayah tidak bilang kalau mau datang kemari!" seru Lucius kemudian.


Ally terhenyak, lalu mundur selangkah. Ayah? Lucius memanggil Ayah? Ally menatap nanar pada pria tua yang dipanggil ayah oleh Lucius.


Ya Tuhan ... Ini Ayah dan adik Lucius. Mereka datang kemari. Dan aku ... Aku ... mereka akan melihatku dalam keadaan seperti ini. Kaos longgar dengan celana pendek di atas lutut, tanpa alas kaki! rambut kusut, wajah berkeringat dan juga sangat bau! Aku bau ikan! Ya Tuhan! Bagaimana ini! Seharusnya aku memakai gaun terbaikku yang dibelikan Rico untuk bertemu mereka pertama kali.


Mike melihat gadis kecil yang datang bersama Lucius dan Lance tampak semakin pucat. Ia tidak mengalihkan matanya sedari tadi. Gadis itu memucat ketika memandang Regina. Lalu bertambah pucat ketika memandang ayah mertuanya. Sekarang gadis itu mundur selangkah, sangat perlahan seolah takut ada yang menyadari gerakannya.


Semua orang yang bergembira di halaman itu menoleh ke arah pintu rumah, ketika Ester keluar dan tergopoh-gopoh ikut turun dari beranda.


"Lucius! Lance! Kalian sudah kembali," ucapnya senang. Lalu matanya melihat sosok Ally. Wanita tua itu bertatapan dengan Ally dan senyumnya makin lebar. Tidak menyadari bahwa Ally sudah menggelengkan kepalanya sejak tadi dan memohon lewat sinar matanya agar Ester tidak memanggilnya.


"Astaga! Alison! Ally! Kau juga di sini! Kemarilah, Nak!" seru Ester. Sontak semua mata menoleh ke arah Ally. Ke sosok yang tampak seperti gadis remaja belasan tahun dengan rambut dikuncir ekor kuda dan anak rambut kusut mengitari wajah yang putih pucat dan mata biru pucat yang jernih dan tengah terbelalak lebar.


Ally menelan ludah, tangannya menggapai badan mobil untuk berpegangan, ujung-ujung jari kakinya yang tanpa alas langsung mengerut diatas kerikil halaman.


Ya Tuhan ... Rico, tolonglah aku .... Tanpa disadari, airmata Ally turun meleleh ke pipi ketika kepanikan tanpa ampun menyelubunginya.


**********


From Author,


Aduhhhh .... Malunya Ally gak ketulungan. Niat pakai gaun terbaik and dandan cantik pas ketemu keluarga Lucius, apa hendak dikata pas bau ikan ketemunya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚, untung saja dari sononya udah cantik๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜


Jangan lupa like, love ,bintang lima, komentar dan vote ya my readers๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Terima kasih semuanya,


Salam, DIANAZ.