
Mike menghentikan mobilnya di depan mansion keluarga Sanchez. Reggie masih tertidur si sebelahnya, nyenyak tanpa gangguan. Mike memutuskan tidak membangunkannya. Ia turun perlahan dan melangkah mendekati pintu utama mansion. Ia disambut seorang pelayan yang terbelalak ketika melihatnya. Dengan gugup pelayan itu mengajaknya masuk dan menyarankan ia menunggu di ruang santai dekat taman samping mansion.
Mike berdiri menunggu di teras samping ke arah taman ketika melihat pintu samping masih terbuka. Ia merasa gerah sendirian di ruang santai. Mike memasukkan kedua tangan ke dalam kantong dan berdiri memandang langit malam.
Suara langkah kaki yang datang kemudian berhenti, membuat Mike menoleh perlahan. Lucius sudah berdiri di ujung ruangan dengan rambut terikat dan mata berkilat seperti kilau berlian di telinganya. Ia mengenakan kaos lengan panjang turtleneck berwarna abu-abu terang yang tampak pas membalut tubuhnya.
"Dimana Regina?" Desis Lucius.
"Dimana Tuan Eloy?" Tanya Mike santai.
Lucius bersedekap, melangkah pelan sambil tetap melihat ke arah Mike. Kemeja hitam dan celana denim yang juga berwarna hitam membuat tampilan Mike tampak berbahaya. Mike berbalik dan memasuki ruangan dengan langkah yang juga sangat pelan. Dua pria itu saling mengitari ruangan dengan mata saling menatap.
"Kau menculik adikku!!"
"Ya....Dan aku tidak akan meminta maaf untuk itu!"
Lucius mengetatkan gerahamnya, keduanya masih melangkah dengan langkah pelan penuh perhitungan.
"Dimana dia? Apa yang kau lakukan padanya!!"
"Aku menikahinya." Jawab Mike santai.
"Apa!!"
"Kami sudah menikah Lucius! Aku kemari hanya ingin memberitahumu dan Tuan Eloy. "
Lucius berhenti melangkah, ia berdiri menghadap Mike dengan kaki mengangkang dan tangan bersedekap. "Menikah katamu....." Desisnya.
Mikepun berhenti, ia memandang Lucius tajam, menilai apa yang akan dilakukan oleh iparnya itu.
Sementara itu di luar mansion Sanchez, deretan mobil tiba berbarengan, satu demi satu pasangan maupun perorangan turun dan saling menyapa serta bersalaman.
Derek dan Amy tersenyum memandang keluarga besar Klan Langton yang ikut pergi bersama mereka ke mansion Sanchez.
"Kenapa sepi sekali, Derek. Kau bilang pengantin barunya sudah kembali." Alex menyipit memandang ke dalam mansion. Eve melenggang meninggalkan para pria itu sambil menggandeng Amy. Beberapa pasangan menyusul mereka.
Pelayan yang membukakan pintu tampak makin terbelalak, kali ini tamu dadakan dengan rombongan besar ini membuatnya sedikit ketakutan dan kebingungan. Ia berlari secepatnya memanggil Tuan besarnya Eloy Sanchez yang tengah berbicara dengan Lance di ruang kerjanya. Keduanya berpakaian santai, sehingga pelayan itu sangat bingung....para tamu di luar sana datang kemari dengan dandanan siap berpesta.
"Tu....Tuan.....Di....di luar...." Pelayan itu terbata dengan sangat bingung.
"Pelan-pelan......Katakan dengan jelas." Lance berusaha menenangkan pelayan itu. Setelah beberapa tarikan nafas, Pelayan itu baru bisa berbicara dengan lancar.
"Banyak tamu yang datang ke mansion ,Tuan. Mereka sudah masuk ke aula, sebagian bahkan sudah duduk dan mengobrol sambil menunggu Tuan, sebagian lagi masih mengobrol di luar mansion."
Lance dan Tuan Eloy mengernyit.
Mereka saling berpandangan.
"Pakailah kursi roda anda Tuan. Saya akan mendorong anda untuk bertemu mereka " Lance membantu Tuannya naik ke kursi roda ,Tuan Eloy masih belum terlalu lancar berjalan dan itupun harus dibantu dengan kruk.
Mereka berlalu menuju aula depan untuk melihat siapa tamu mereka.
"Tuan Eloy.....Kami datang untuk ikut bergembira bersama anda. Kami tahu pengantinnya sudah kembali. Dimana mereka? Aku ingin sekali bertemu...." Celoteh ramah dari Amy Langton yang langsung menggenggam tangan Eloy dan mencium pipinya layaknya seorang ayah, membuat Eloy Sanchez sempat terdiam, terkejut dan kebingungan.
"Pengantin? Maksud anda Nyonya?" Lance tidak dapat menahan rasa penasarannya.
BRAKKKKKK!!!!
Suara kencang yang terdengar seperti sesuatu yang terbanting berasal dari aula samping yang langsung terhubung dengan pintu taman. Derek menyerigai bersama Alex.
"Sudah di mulai rupanya..." Ucap Alex.
"Kami datang bersama keluarga besar klan Langton kemari Tuan Eloy. Kami ingin ikut bergembira bersama anda menyambut pengantin baru kita yang baru saja pulang...." Derek tersenyum pada Eloy Sanchez yang setelah beberapa detik mengerti dengan semua situasinya. Apalagi setelah serentetan makian dan teriakan dari Lucius dan Mike yang terdengar kencang dari arah aula samping. Lance juga menyadarinya dan merasa heran karena tidak satupun tamu mereka merasa terganggu dengan keributan itu.
"Mereka sudah kembali .....?" Tanya Eloy sambil tersenyum. Derek mengangguk sambil memandang mata hitam Eloy. Mencari penolakan atau ketidaksetujuan di mata tua itu. Namun ia tidak menemukannya.
"Bukankah kita harus berbagi kebahagiaan ini Tuan Eloy? Aku datang bersama keluarga besarku..."
Eloy Sanchez menahan dirinya agar tidak tertawa terbahak-bahak. Derek Langton membawa keluarga besarnya untuk memberitahu keluarga Sanchez bahwa mereka akan berdiri bersama Mike bila diperlukan untuk mempertahankan Regina. Eloy tahu itu......
Sebuah tepukan di bahunya membuat Eloy menoleh. Frank Damario tersenyum sembari berujar.
"Ayo kita bersantai dan sedikit mengobrol, Sanchez. Biarkan para anak muda ini bersenang-senang."
Eloy tersenyum lebar, ia menoleh saat beberapa pemuda membawa masuk makanan dan minuman dengan tertawa dan saling menggoda.
"Para penerus keluarga di bawah klan Langton......Kami akan meramaikan mansionmu malam ini." Frank Damario mengikuti ketika Lance mendorong Eloy ke kumpulan beberapa pria paruh baya yang sudah duduk dengan santai di sofa.
"Mari bergabung Eloy. Ah....Maaf, tak apa jika aku memanggil nama kan? " Paman Noel yang sebagian besar rambutnya sudah memutih menyambut Eloy di antara mereka. Eloy Sanchez tersenyum lebar.
Kembali teriakan dan suara sesuatu yang hancur terdengar dari aula samping. Derek dan Alex saling berpandangan dan bergerak seirama menuju tempat keributan. Derek segera menangkap tubuh Lucius yang tengah mengunci tubuh Mike di lantai mansion. Darah di pelipis laki-laki itu sudah membasahi kaos turtleneck yang dipakainya.
Setelah Derek menarik dan mengunci tubuh Lucius, Mike yang terbebas segera bangkit. Namun tubuhnya ditarik dan didorong oleh Alex yang menahan gerakannya untuk kembali meninju Lucius. Mike sendiri sudah tampak tidak karuan. Alex yakin besok pagi dua pria ini akan memiliki lebam membiru di seluruh wajahnya.
"Kalian mengganggu pesta kami. Jadi lanjutkan kegiatan kalian di luar sana....." Derek mendorong Lucius yang sudah terengah ke arah tanah kosong di taman samping. Alex juga mendorong Mike dengan kencang sehingga tersungkur di tanah kosong di dekat Lucius. Dua pria itu menggeram memandang Alex dan Derek yang sudah berkacak pinggang.
"Jangan ribut!! kalian sungguh mengganggu!!" Teriak Derek. Lalu keduanya ditinggalkan begitu saja di tanah kosong itu. Mike menghapus darah yang terasa menitik di dagunya. Bibirnya terasa sangat sakit begitupun bahu kanannya yang tadi dihantamkan Lucius ke dinding beton.
Lucius menarik rambut panjangnya yang sudah terlepas dari ikatan dan terasa lengket di wajah nya yang berdenyut dan kaos abu-abunya sudah ternoda warna merah darahnya sendiri dari luka robek di pelipisnya.
"Masih mau melanjutkan ini? Karena aku harus memindahkan Regina. Ia masih tertidur di dalam mobil." Mike menggosok rahangnya dan menggerakkan mulut dan lehernya berulang-ulang. Seolah mencoba menghilangkan rasa kaku dan nyeri di sana.
Seorang pria dengan sebuah gelas minuman mendatangi mereka dari arah pintu teras.
"Mike!! Lucius!! Masuklah!! Kalian akan kehabisan makan malamnya!! Para viking di dalam sudah makan lebih dulu!!"
Suara paman Damario mencapai telinga Mike. Ia terkekeh karena Viking yang dimaksud paman Damario pastilah para pemuda anak-anak penerus keluarga klan Langton. Mike bangkit dan membersihkan celananya dengan menepiskan kotoran yang menempel di pahanya. Lucius masih duduk di tanah dengan kedua lengan menempel di lututnya yang di tekuk.
"Kau mencintainya?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Mike berhenti.
"Ya....Amat sangat." Jawabnya yakin.
"Kau akan menjaganya?"
"Dengan nyawaku...."
Mike melirik ke arah Lucius yang mendongak menatapnya. Ia mengulurkan tangan, merasa ragu apakah Lucius akan menerimanya atau tidak.
Lucius menatap telapak tangan besar yang terulur itu beberapa saat sebelum ia menerimanya dan ditarik berdiri. Ia mulai menepis-nepiskan kotoran dari rumput yang menempel di celananya.
"Kau memberikan restumu?" Mike berdiri menunggu sampai Lucius selesai. Mata hitam yang sama dengan milik istrinya itu melirik lalu tersenyum geli sebelum berucap.
"Yang paling penting bagiku adalah Regina bahagia. Lagipula...... Memang kau fikir siapa yang membuatmu akhirnya mengakui perasaanmu itu? "
Mike mengernyit. " Maksudmu? Bagaimana pertunangannya dengan Adrian?"
"Oh....Adrian tetap akan bertunangan. Cincinnya akan melingkar di jari Margarita......Aku lupa bilang pada kalian waktu itu, yang dilamar oleh Adrian bukanlah Regina." Dengan santai Lucius meninggalkan Mike sendiri di taman samping. Ia masuk dan melihat kekacauan kecil yang dibuat oleh Klan Langton di mansionnya. Ayahnya sudah tertawa bersama para pria tua klan Langton yang tampak seumuran dengannya. Lance tampak sibuk mengurus para Nyonya dan ladies klan Langton yang ingin memutar musik, menata makanan, membuka minuman sampai kesibukan mencari peralatan makan yang diinginkan oleh para wanita itu.
Mike terdiam lama menekuri tanah di bawah kakinya. Adrian bukan melamar Reggie? .......Margarita? Lalu setelah beberapa saat ia akhirnya mengerti..... Mike tertawa geli sendirian di taman samping itu sambil tak henti menggelengkan kepalanya.
Lucius terkekeh melihat Amy yang mendatanginya dan menyuapkan sepotong kue ke mulutnya. Segera saja mulutnya membuka dan mengunyah kue yang disuapkan oleh Amy.
"Bagaimana? Ini resep baru yang kupelajari. Apakah enak?" Nyonya Langton itu menunggu dengan mata berbinar.
"Emmmmm...." Lucius hanya bergumam, ekor matanya menangkap Derek yang bergerak cepat mendatangi mereka.
"Sweety.....Yang mana kue buatanmu? Aku belum mencicipinya....."Bisiknya sambil memeluk pinggang Amy dari belakang. Lucius tersenyum geli ketika Derek menghela istrinya menjauh.
Di halaman mansion, Reggie yang telah terbangun, keluar dari mobil dan berputar memandang halaman mansion dengan bingung. mobil-mobil yang terparkir berjejer rapi di halaman. Siapa yang datang malam-malam begini ke mansion Sanchez? Tamu ayahnya kah? atau tamu Lucius?
Dengan langkah penasaran Reggie berjalan menuju arah pintu utama. Pemandangan keluarga besar Langton yang berlalu lalang dan tertawa membuatnya berdiri diam, terkejut dan kebingungan.
"Reggie!! Semuanya ......Pengantinnya datang!!" Suara teriakan Amy membuat semua mata akhirnya beralih memandangnya. Reggie merona menyadari mereka semua datang menyambutnya. Ia masih berdiri dan bingung apa yang harus dilakukan ketika Mike datang dari arah kirinya dengan wajah bengkak dan bibir robek.
"Mike!! Wajahmu!!" Reggie mendekat dan mencoba menyentuh wajah suaminya. Namun tangan Mike menangkap tangannya dan ia langsung di peluk dari belakang dengan wajah di hadapkan ke arah keluarga besar Langton yang terlihat mulai mengisi gelas mereka masing-masing.
"Semuanya.....Aku perkenalkan istri cantikku....!! Regina Eliazar!!" Seruan Mike disambut cuitan, teriakan dan tawa gembira dengan beberapa gelas yang terangkat bersulang atas status baru mereka sebagai pasangan suami istri.
"Cium istrimu Mike!!" Entah siapa yang telah berteriak, memancing seruan gembira dari yang lain.
Mike terkekeh, membalikkan Regina ke arahnya dan mulai menunduk.
"Kita pelan-pelan, Honey. Bibirku sakit." Ucap Mike sebelum akhinya mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya yang sudah merona malu. Lewat ekor matanya Mike melirik ke arah sudut. Pada sepasang mata hitam yang memandang ke arah mereka dengan senyum lebar dan mata berkilau seperti kilat berlian di telinga kiri pria yang sudah menjadi kakak iparnya itu.
**********
From Author.
**Jangan lupa Like, komentar, fav, bintanglima dan vote ya my readers.
Terimakasih banyak...🙏🙏🙏
Salam, DIANAZ**.