
Alison masuk ke kamarnya dan segera menidurkan Alan yang terlelap di atas karpet kecil di lantai kamar.
Hanya ada satu ranjang berukuran single di kamar itu, bila ia berniat membawa pria yang terluka itu masuk dan mengobati lukanya, maka ia dan Alan tidak akan tidur di kasur malam ini.
Alison mengambil selimut flanel satu-satunya yang ia punya dan menutupkannya ke tubuh Alan. Setelahnya, Alison kembali keluar dari kamar menuju pintu keluar gedung itu. Bersyukur ia dapat kamar di lantai dasar, apa jadinya jika kamarnya di atas dan ia harus menggotong pria itu sampai ke atas.
Alison tiba di luar pintu dan mendekati tubuh pria yang masih tidak bergerak itu. Ia memegang pipi pria itu dan langsung menarik tangannya kembali. Pipi itu teraba sedingin es. Sudah berapa lama pria ini terbaring tanpa baju di gang sempit itu hingga tubuhnya menjadi sedingin ini, fikir Ally.
Dengan sekuat tenaga, Ally menarik tubuh pria itu dan berusaha membuatnya duduk, lalu ia menarik tubuh itu dari belakang dengan mengelilingkan kedua lengannya ke bagian dada pria itu dari belakang.
Setengah perjalanan menuju kamar, nafas Ally sudah terengah-engah, ia sudah sangat lelah, dan sekarang pria ini menambah pekerjaan lagi untuknya. Alangkah baiknya ia tidak memedulikan dan menutup mata saja terhadap pemandangan di gang sempit itu tadi. Tapi pria itu bisa mati tanpa ada orang yang menolongnya, nurani Ally tidak tega melakukannya.
Penuh rasa syukur Ally melihat pintu kamarnya sudah dekat, ia menarik pria itu masuk ke dalam setelah sebelumnya mendorong pintu dengan kakinya dari belakang. Setelah sampai, Ally meletakkan tubuh pria itu begitu saja di lantai, ia lalu terduduk dengan nafas memburu.
"Kau berat sekali, Tuan," bisiknya di keheningan.
Setelah merasakan nafasnya kembali normal, Ally menutup pintu dan menguncinya. Ia menyeret dan mencoba mengangkat pria itu naik ke atas ranjang pendek di sudut kamarnya itu. Penuh perjuangan Ally akhirnya berhasil membaringkan tubuh itu di atas ranjang.
Setelah mencuci tangannya, Ally mengambil kotak obat dan mulai memeriksa kepala laki-laki itu. Dengan sebuah waslap yang telah dibasahi, Ally mengelap noda darah yang mengering di wajah pria itu dan juga rambutnya.
Setelahnya Ally membalikkan tubuh pria itu untuk mengobati luka di belakang kepalanya. Luka itulah yang tadi mengeluarkan darah. Sepertinya pria ini dipukul dari arah belakang.
Sebaiknya kau bukan penjahat, Sir. Atau aku akan sangat menyesal telah menolongmu.
Ally membersihkan luka itu, lalu mengambil perban dan memberikan larutan antiseptik, setelahnya, Ally membalut kepala pria itu dengan perban.
Setelah selesai, Ally kembali membaringkan pria itu, kepalanya diatur miring agar tidak menekan luka di belakang kepalanya. Ally menatap tertarik pada wajah yang terpejam itu.
Dia lumayan tampan ....
Mata Ally menelusuri dada dan tubuh pria itu di bagian bawah,
Bagaimana kau bisa mendapatkan luka sebanyak itu di tubuhmu, parut bekas luka yang mengerikan, apa yang telah kau lakukan sehingga pantas menerimanya ....
Ally mengernyit menyadari pria itu pasti merasa sangat nyeri saat luka-luka itu masih basah dan mengeluarkan darah.
Ally bangkit dari pinggir ranjang, ia mencuci tangannya kembali dan mencuci wajahnya. Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama longgar yang nyaman, Alison membaringkan tubuhnya di samping Alan di atas karpet di sudut lain kamar. Dengan cepat Alison terlelap, rasa lelah di tubuhnya membuatnya tertidur hanya dalam hitungan detik, tanpa selimut, tanpa bantal ataupun guling. Hanya beralaskan karpet dengan tangan memeluk Alan yang juga tertidur di sampingnya.
**********
Lucius mengerang, terbangun dengan kepala yang terasa berdenyut. Ia membuka mata lalu segera memejamkannya kembali setelah merasa sakit di kepalanya bertambah karena ia membuka mata.
Lucius mengerang lagi dan mengatur nafasnya untuk mengurangi rasa nyeri, lalu dengan sangat perlahan ia mencoba membuka matanya kembali.
Sepasang mata biru pucat yang bulat besar dan jernih tertangkap mata Lucius. rambut pirang kecoklatan dengan kulit putih, bocah kecil yang sangat tampan. Tangan kecil kurus terulur ke arah pipinya. Tanpa ragu dan takut, bocah laki-laki itu mengelus pipi Lucius.
"Kau siapa?" tanyanya sambil mendekat dan meneliti setiap sudut wajah Lucius. Bocah itu lalu memanjat ke atas ranjang di samping Lucius. ia menyentuh perban di kepala Lucius.
"Kau sakit?" tanyanya lagi.
Lucius mengangkat tangannya dan menangkap tangan kecil yang kembali akan menyentuh permukaan dadanya. Tidak ada ketakutan di wajah anak lelaki itu melihat parut-parut mengerikan di tubuh Lucius. Malah mata biru itu terlihat sangat heran.
"Kenapa kulitmu jadi sepelti itu?" tanyanya polos dengan aksen cadel yang masih sesekali terselip di antara kata yang ia ucapkan.
Lucius masih diam, ia mengernyit ketika nyeri di kepalanya terasa kembali berdenyut, ia memejamkan mata kembali, berusaha meredakan sakit di kepalanya.
"Kepalamu sakit lagi? aku akan membangunkan Ally ...."
Seketika Lucius membuka matanya, ia menahan lengan bocah kecil itu.
"Siapa Ally?" tanya Lucius dengan suara serak.
"Ally kakakku ...." ujar bocah itu lagi.
Lucius berfikir dan menduga Ally lah yang telah menolongnya dan membawanya masuk ke kamar yang kecil ini. Ia ingat para penjahat itu memukulnya dan ia sangat yakin bukan hanya ponselnya yang diambil, dompetnya juga pasti sudah raib. Lucius memandang berkeliling, tidak ada jaket parka hitam dan kaos yang kemarin ia pakai, apakah itu berarti, pakaiannyapun sudah di curi?
Lucius mengumpat dalam hati ... harusnya ia memberitahu Brad dan Santoz ... dua orang itu sekarang pasti kebingungan dan tengah mencarinya.
Seketika, Lucius teringat pada berlian di telinga kirinya. Ia meraba dan merasa heran karena berlian itu masih ada di telinganya. Mungkinkah para pencuri itu tidak menyadari ada sebuah berlian di telinganya saat itu. Atau mungkin rambut panjangnya yang telah menyembunyikan berlian itu dari pandangan para pencuri.
"Bisakah kau membantuku? " tanya Lucius pada anak kecil yang tampan itu. Kepala itu mengangguk, Kilau mata biru pucat yang terlihat indah di bawah penerangan redup lampu kamar itu membuat Lucius terpesona. Satu lagi mata yang membuatnya terpukau, mata abu-abu Marie seperti magnet bagi Lucius saat ia melihatnya pertama kali, makin besar bayi itu sekarang, maka mata itu semakin cantik, bercahaya seperti kilau perak di wajah mungil Marie. Tentu saja ia tidak pernah mengatakannya, karena itu akan membuat Mike besar kepala. Dan sekarang bocah kecil ini ...
Bocah kecil itu menunggu setelah ia mengangguk. Lucius memegang tangannya yang kecil dan menggenggamnya.
"Siapa namamu?" tanya Lucius.
"Alan ... Namaku Alan Salvadore, tapi kau bisa memanggilku Alan saja," ucap bocah itu.
"Alan ... bisakah kau membawakan aku air minum? aku sangat haus," bujuk Lucius.
Alan mengangguk dan segera melorotkan tubuhnya menuruni ranjang. Bocah itu berjalan ke salah satu sudut kamar, berjinjit ke atas meja pendek di sana lalu menuang air dari pitcher yang ada di atas meja kecil itu.
Suara-suara itu membangunkan Alison, ia bergerak dan menggeliat, lalu meraba ke samping. Ketika tangannya tidak menyentuh tubuh Alan, Alison seketika membuka mata dan berbisik,
"Alan ... ?"
Ally bangun dan duduk di atas karpet, tubuhnya terasa sakit dan pegal, ia menatap adiknya yang memegang sebuah cangkir di sudut kamar.
"Kau mau minum, Sayang? kenapa tidak membangunkan aku? aku bisa mengambilkannya untukmu," ucap Ally.
Adiknya itu menggeleng, "Bukan untukku, Ally. Tapi untuknya ...." Alan mengendikkan dagunya ke arah ranjang, membuat Ally tersadar ada orang asing yang ia bawa masuk tadi malam. Ally menoleh ke arah ranjang, pria itu sudah terbangun. Sekarang mata itu terbuka, memandangnya dengan bintik matanya yang hitam segelap malam. Pekat dan gelap, tapi tetap saja ada kilau yang berkilat, memandang tajam ke arahnya dengan seksama, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki Ally. Membuatnya merasa dirinya sedang di nilai oleh sepasang mata hitam yang menggelisahkan itu.
Lucius memandang takjub. Baru saja sepasang mata biru pucat yang bulat dan juga besar membuatnya terpesona. Sekarang ada lagi sepasang mata yang sama, bahkan membuatnya tertarik seperti magnet. Mata itu bersinar terkejut ketika melihat ia sudah terbangun, jika tadi ia terpesona pada mata yang ada di wajah seorang bocah laki-laki yang membuatnya merasa seperti melihat malaikat kecil, maka sekarang ia merasa tengah melihat seorang dewi, rambut halus berwarna hitam yang berantakan itu membingkai wajah putih yang menatap terkejut ke arahnya, bibir mungil berwarna merah dengan hidung yang mancung, Lucius berkedip ...
Sangat cantik ...
**********
Cast : Alison Adair or Ally
Cast : Alan Salvadore or Alan
**********
From Author
Ahhhhh ... falling in love at the first sight nih ceritanya babang Lucius 😍😍😘😘
Author akan menyertakan gambar setelah part ini lolos review, Visual cast untuk Alison dan Alan. Karena proses review dengan gambar agk lama, jadi thor up dl tanpa gambar biar bisa dibaca kisahnya hari ini ya...Nah, 3 atau 4 hari lagi, boleh intip lagi part ini, sapa tahu Si cantik Ally dan si imut Alan udah muncul😍😍
Jangan lupa klik like, vote komentar, favorite dan bintang limanya ya my Readers ....
Follow Author dengan klik 'ikuti' di kolom profil author yach ... Terimakasih semuanyaaa ....
Salam, DIANAZ.