
Mike menatap Regina yang tertidur di sampingnya, bibir istrinya itu sedikit terbuka dengan mata tertutup rapat. Regina pasti lelah. Mereka butuh dua jam lagi sebelum sampai ke perkebunan. Tuan Eloy juga nampak tertidur di kursi belakang. Di sebelahnya, Marie yang di peluk oleh Nanny tampak memanjat ke tubuh Nanny, meraih ke segala arah dengan tangan montoknya.
Mike menghela nafas, menatap ke spion, ia melihat satu mobil lagi berisi pengawalnya yang membawa koper mereka. Mike tidak menghubungi Lucius, ayah mertuanya memutuskan mereka akan tiba-tiba datang dan mengejutkan Lucius.
Mike tidak memungkiri rasa gembira yang mengisi hatinya ketika ia berangkat dengan anggota keluarga yang harus di urus seluruh kebutuhan dan keperluannya. Akan sangat meyenangkan jika Marie punya banyak adik. Kesibukan mengatur semuanya membuat Mike merasakan kepuasan tersendiri, menjadi seorang suami dan ayah yang selalu bisa diandalkan oleh keluarga besarnya.
Reggie bergerak dan kemudian perlahan membuka mata.
"Sayang ... apakah kita sudah dekat?" tanya Reggie sambil menguap dan menggeliat.
"Tidurlah kembali jika kau masih mengantuk. Aku akan membangunkanmu ketika kita sudah dekat."
"Apakah kau lelah? Aku bisa menggantikanmu menyetir," ucap Reggie sambil menatap perhatian pada suaminya.
"Tidak, Honey. Beristirahatlah. Aku yang akan menyetir."
"Baiklah." Reggie menoleh ke arah belakang. Putrinya sudah terangguk-angguk mengantuk di pelukan Nanny yang tersenyum ke arah Reggie sambil meletakkan jari telunjuk ke bibirnya. Reggie membalas senyum Nanny dan menyerigai melihat putrinya yang sepertinya mengantuk berat. Lalu ia melirik ke arah ayahnya yang masih lelap tertidur.
"Kuharap semuanya lancar ketika tiba nanti," ucap Reggie sambil kembali berbalik ke arah depan.
"Tentu, Honey. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Mike yakin.
*********
Pabio menatap pada dua mobil yang berhenti di halaman rumah perkebunan. Ia menyipit memandang orang-orang yang turun, Seorang pria bertubuh besar yang gagah dan tampan, lalu pria itu berputar, membuka pintu penumpang di sebelahnya. Seorang wanita cantik berambut hitam turun, wanita itu menggeliat sebentar sebelum bergerak membuka pintu penumpang bagian belakang. Kemudian seorang pria tua turun dengan berpegangan pada tangan wanita cantik tadi.
Pabio berteriak karena mengenali pria tua itu.
"Tuan Eloy! Ester! Ester! Kemarilah Ester! Lihat siapa yang datang!" Pabio berjalan cepat menuruni undakan tangga beranda. Ia setengah menangis ketika melihat Eloy merentangkan tangan menyambutnya.
Dua pria itu saling berpelukan. Pabio terlihat menangis haru sambil memeluk Eloy yang menepuk-nepuk punggungnya sambil tertawa.
"Oh, Pabio ... sudah lama sekali!" seru Eloy.
Lalu langkah tertatih seorang wanita tua terdengar menuruni undakan beranda, Ester juga sudah menangis ketika melihat Eloylah yang datang.
"Ya Tuhan ... kaukah itu, Tuan Eloy?" tanya Ester.
"Benar ... ini aku, Ester. Ah, kau ternyata juga bertambah tua."
Ester menepuk lengan Eloy sebelum akhirnya tenggelam dalam pelukan laki-laki tua itu.
"Sudah lama sekali. Aku merindukanmu," ucap Ester sambil menangis.
"Aku juga," Eloy tersenyum. Ia terharu karena masih diberikan umur untuk kembali bertemu dengan dua orang yang sudah seperti adik baginya itu.
Setelah saling melepas rindu, Eloy berpaling dan menuntun Ester juga Pabio kepada Mike dan Regina.
"Perkenalkan, Ester. Ini putriku Regina." Eloy memperkenalkan Reggie pada Ester.
"Halo, Bibi," sapa Reggie sambil tersenyum.
"Kau cantik sekali, Sayang. Kau mirip kakakmu," ucap Ester.
"Dan kakaknya mirip aku." Eloy menimpali dan di sambut tawa oleh semua orang.
Bergantian Ester dan Pabio menyalami semua orang. Mengagumi Marie yang masih tertidur dengan nyenyak tanpa terganggu sama sekali.
"Astaga, kenapa tidak memberitahu kalau kalian akan datang? Aku bisa meminta orang membantu di rumah ini selama kalian berada di sini," ucap Ester.
"Jangan repot, Bibi. Tenang saja. Aku bisa melakukan semuanya," Reggie tersenyum menenangkan.
Lalu Pabio mengajak seluruh tamunya masuk, sore mereka di isi dengan menyiapkan kamar dan mengatur barang-barang keluarga itu di kamar-kamar di lantai dua rumah itu. Ester dan Pabio mengambil nafas lega karena telah membersihkan semua kamar itu sebelum Lucius dan Lance datang waktu itu.
"Dimana Lucius, Pabio?" Eloy bertanya karena tidak melihat Lucius maupun Lance.
"Ah ... mereka pergi ke mansion Costra, Tuan Eloy,"
Eloy mengangguk-anggukkan kepala. Lalu mengajak Pabio berbincang di beranda depan, keduanya saling bercerita dan melepaskan rindu. Sebelum akhirnya Pabio menceritakan kabar terbaru dari perkembangan hubungan Lucius dan Ally.
**********
Lucius menunggu di tempat duduk mansion Costra dengan gelisah, Lance merasa Tuannya itu seperti menduduki tempat duduk yang penuh duri. Gelisah dan selalu bergerak-gerak tidak nyaman.
"Memangnya butuh berapa lama sampai ia memanggil Tuan Besar itu!" Lucius bersungut-sungut. Merasa ia sudah lama sekali menunggu, sejak asisten Rico mempersilakan mereka duduk dan mengatakan akan memanggil tuannya.
Lance diam saja, jika melihat waktunya, menurut Lance mereka belum lama menunggu. Tapi kegelisahan Lucius membuatnya uring-uringan.
Tak berapa lama kemudian, Enrico terlihat datang dari arah samping mansion. Pria itu mengenakan celana pendek dengan kaos tanpa lengan. Memperlihatkan otot lengannya dan tubuh atletisnya.
Di belakang pria itu, muncul Ally dan kemudian Alan yang tertawa dan langsung menyambut Lucius dengan memeluknya.
Lucius langsung menggendong bocah itu.
"Halo Alan. Kau dari mana?" tanya Lucius.
"Kami pergi memancing. Ally hebat! Ia mendapatkan ikan paling banyak," ucap Alan.
"Benarkah?" Lucius melirik ke arah Ally yang ternyata juga tengah memandangnya. Gadis itu berkedip dan langsung menunduk malu karena tertangkap basah memandangi Lucius.
Ally mengenakan celana pendek di atas lutut dengan kaos longgar, berdiri dengan kaki telanjang dan rambut di ikat ekor kuda, Lucius merasa seperti melihat seorang gadis kecil 15 tahun. Pipi gadis itu memerah, wajahnya cerah ... Lucius gembira Allynya tampak sehat.
"Ada keperluan apa kau kemari?" tanya Rico. Kepala pria itu menoleh ke sekitar ruangan, seolah mencari sosok lain selain Lucius dan Lance.
"Tentu saja untuk melihat Allyku," ucap Lucius.
"Sudah lihat, bukan? Sekarang pergilah!" usir Rico.
Lance mendengus. Membuat Rico menatapnya.
"Ada masalah, Lance?" tanyanya.
"Sedikit, Tuan. Kami datang bertamu dengan baik-baik. Tapi Anda mengusir kami. Jika Anda keberatan Ally bertemu Tuan Lucius, maka setidaknya Anda yang harus duduk di sini dan menerima kami. Banyak yang bisa kita bicarakan. Salah satunya adalah soal penawaran Anda atas tanah Tuan Eloy Sanchez."
"Apakah kalian akan menjualnya?" tanya Rico dengan tangan di pinggang.
"Tidak," jawab Lucius dan Lance berbarengan.
Rico menyeringai, "Kalau begitu tidak ada yang perlu dibicarakan. Tidak akan ada penawaran kerja sama. Tawaranku adalah membelinya. Titik," ucapnya tegas.
"Maaf, aku mau naik dan membersihkan diri. Kalian bisa pergi dan Frederic akan mengantar kalian," ucap Rico kemudian.
Ally merengut ketika melihat walinya itu melangkah menaiki tangga. Ia menatap Lucius yang juga menatapnya.
"Maaf, Aku harus naik," ucapnya pelan.
"Kemarilah, biarkan Aku memelukmu, sebentar saja," ucap Lucius.
"Aku bau ikan," ucap Ally.
Alan yang berdiri di dekat Lance melihat ke arah atas, Rico berhenti di tengah tangga, menatap tajam ke arah bawah.
"Ally ... Paman Rico melihatmu," bisik Alan.
Ally mendongak, menatap Rico yang menatapnya. Ia tertawa jengah sambil menunjuk ke arah lantai atas.
"Maafkan aku Lucius. Aku benar-benar bau. Aku akan naik dan mandi ...." Ally lalu melangkah pelan meninggalkan Lucius.
Rico tersenyum puas. Ia melangkah lagi naik ke lantai atas setelah yakin Ally mengikuti.
"Well ... Sepertinya aku harus pulang, Kau saja yang mengobrol denganku, Alan." Lucius mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Alan.
"Ceritakan padaku kemana saja kalian hari ini? Di mana kalian memancing?" tanya Lucius.
"Kami baru saja pulang dan berada di teras samping ketika Paman datang tadi. Namun kami harus menurunkan ikan dan juga peralatan memancing dulu." kemudian bibir bocah itu bercerita kemana dan apa saja kegiatan mereka hari itu.
Lucius berdiri di dekat mobilnya dan mendengarkan cerita Alan yang bersemangat.
"Memangnya orang itu tidak pergi bekerja?" tanya Lance, pertanyaan yang tidak ia tujukan pada siapapun.
"Kata Paman Rico, ia bisa bekerja dari rumah. Jadi bisa mengawasi aku dan Ally," ucap Alan dengan polos.
"Sial*n," maki Lucius yang segera mendapat tepukan di lengannya dari Lance.
"Tuan ... jangan mengumpat di depan anak kecil," tegur Lance mengingatkan.
"Maaf ... aku kelepasan," ucap Lucius.
Di lantai atas mansion Costra, di jendela kamarnya yang menghadap ke arah halaman, Rico menyeringai menatap sosok Lucius yang mengobrol dengan Alan.
"Ya ... kau harus puas hanya mengobrol dengan adiknya," ucap Rico dengan terkekeh.
Ketukan di pintu kamarnya kemudian membuatnya melangkah membuka pintu. Ally menjalin kedua tangannya dan merem*s gelisah.
"Aku ... aku, bolehkah aku menemuinya? Sebentar saja. Aku akan menjaga jarak. Tidak akan dekat dekat. Hanya ingin mengatakan hati-hati di jalan," ucap Ally.
Rico menatap seolah menyelidik.
"Berjanji tidak dekat-dekat? Laki-laki itu akan menangkapmu dan meluma*mu lagi bila kau mendekat. Percaya padaku," ucap Rico.
"Aku berjanji, lagipula aku bau ikan. Aku tidak akan mau dekat-dekat. Aku bau." Ally meyakinkan Rico. Ia tidak tahan mengintip di jendela dan melihat Alan tertawa dan dengan bebas bicara pada Lucius. Ia iri dengan adiknya itu, ia merindukan Lucius, ingin menemuinya dan bicara walaupun sebentar.
"Baik. Pergilah. Ingat Ally! Jangan dekat-dekat!" perintah Rico.
Ally mengangguk dengan bersemangat, ia segera berbalik dan setengah berlari meninggalkan Rico.
Rico menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ally. Lalu ia mulai membuka seluruh pakaiannya dan melemparkannya ke kamar mandi. Rico berniat mandi, namun urung dan ingin melihat lewat jendela pertemuan di bawah sana. Ia menarik handuk dan melilitkannya ke seputaran pinggang.
Rico kembali ke jendela dan menatap.
Ally berlari menuruni tangga dan sampai ke teras depan dengan terengah.
Ia menatap Lucius yang segera mendongak ke arah teras. Alan berbalik melihat kakaknya dan berteriak.
"Ally! Kemarilah! Paman akan pulang!" teriak Alan.
Ally berjalan perlahan. Ketika sepuluh langkah lagi akan sampai ke tempat Lucius, gadis itu berhenti.
Di lantai atas di balik jendela kamarnya, Rico menyeringai lebar, "Gadis pintar," pujinya puas.
"Ally? Kemarilah? Kenapa hanya berdiri di sana?" tanya Lucius. Tangannya sudah gatal ingin menangkap dan memeluk gadis itu.
"Umm ... Aku hanya ingin melihatmu, dan mengucapkan selamat jalan, hati-hati ...." ucap Ally.
Lance dan Lucius saling berpandangan. Mereka mendongak serentak ke atas mansion, merasa diawasi dari atas. Lalu keduanya berpandangan lagi. Kali ini seringai jahil terkembang di bibir keduanya. Seolah tanpa kata mereka sepakat atas sesuatu.
"Alan, maukah kau menutup matamu?" tanya Lucius.
"Kenapa?" tanya Alan.
Lucius hanya diam, Lalu Alan tertawa dan mengedipkan matanya.
"Ah, Aku tahu, Paman. Kau mau memberi ciuman selamat tinggal sebelum pulang pada Ally, kan?" tanya Alan.
Lucius menyeringai dan tertawa sambil mengangguk. Segera setelah Alan menutup matanya, dengan langkah lebar Lucius melangkah ke arah Ally. Lalu mengangkat tubuh gadis itu ke pundaknya.
Ally berteriak kencang karena terkejut.
"Ahhhhh! Lucius! Apa yang kau lakukan!" teriak Ally.
Lance tertawa kecil dan segera masuk ke belakang kemudi. Lucius memandang dan mengangkat satu tangan ke arah lantai atas mansion, ia memberikan jempolnya secara terbalik. Ia yakin Rico mengawasi dari atas sana. Kemudian ia memasukkan Ally dan dengan suara ban berdecit, mereka meninggalkan halaman mansion Costra.
"Brengs*k! Sial*n! Dasar bajing*n kurang ajar!" Rico memaki sambil keluar dan berlari menuruni tangga ke arah luar. Bermaksud mengejar sebelum Frederic menghentikannya dan berteriak
"Tuan! Anda hanya memakai handuk! Anda tidak berpakaian!" seru Frederic.
Rico berhenti, lalu memandang bagian bawah tubuhnya.
"Sancheeeeez!" teriakan menggelegar itu menggema seantero mansion Costra. Frederic yang malang sampai harus menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
*********
From Author,
Part ini agak panjang ya, semoga tidak membosankan🤗🤗🎉🎉
Jangan lupa like, love, vote, bintang lima dan komentar ya my readers😘😘
Terimakasih semuanya
Salam, DIANAZ.