
Brad dan Santoz berkeliaran di jalan sekitar gang sempit tempat Tuan Lucius terlihat berlari masuk terakhir kali. Entah bagaimana caranya Tuan Alex mendapatkan rekaman cctv di seputaran jalan itu dan mengirimkannya pada mereka, Namun hari sudah menjelang malam, matahari sebentar lagi akan beristirahat di peraduannya.
Jaringan Klan Langton lewat salah satu anggota mereka, Tuan Alex, sudah mengonfirmasi bahwa Lucius mengejar seorang bocah dan masuk ke dalam gang sempit yang ternyata buntu itu.
Brad melangkah dan memeriksa sekali lagi ke dalam gang ketika suara sebuah pintu berderit membuka dan menarik perhatiannya. Ia menunggu seseorang keluar dan terpana sejenak ketika melihat rambut panjang tergerai dari seorang pria yang tidak menggunakan baju.
"Tuan!" teriak Brad.
Lucius menoleh dan menyerigai, " Kalian hebat! Bagaimana kalian bisa menemukan aku secepat ini? Aku baru saja akan keluar dan mencari cara menghubungi kalian," ujar Lucius.
Lalu tiba-tiba tubuh Lucius yang masih berdiri di pintu gedung kumuh itu di dorong keluar dari arah dalam. Seorang pria gendut dengan rambut keriting berdecih dan berteriak marah padanya.
"Jangan berdiri di pintu, Bodoh! orang lain juga mau menggunakannya!"
Brad baru saja akan menangani lelaki itu, ketika tangan Lucius terangkat untuk menghentikannya. Dari arah luar gang, Santoz tampak berlari ke arah mereka.
"Kenapa Anda melarang saya, orang itu kurang ajar! seharusnya ia bisa saja permisi dan menegur anda, bukannya mendorong anda hingga terhuyung," ucap Brad geram.
Lucius tertawa, " Biarkan saja," ucapnya. Namun di dalam hati, ia sangat khawatir. Lingkungan ini tidak baik untuk Ally dan Alan. Tempat kumuh dengan penghuni pria kasar di sekitar Ally yang bertubuh kurus dan terlihat lemah bersama Alan yang hanya bocah kecil.
"Kepala Anda terluka?" tanya Santoz.
Lucius memegang perban kepalanya. Lalu memutuskan akan pergi ke rumah sakit dulu untuk memeriksakan kepalanya yang masih saja terasa pusing.
"Aku dirampok kemarin malam, dompet dan ponselku raib. Bisakah kalian menelpon Lance dan mengurus semuanya untukku ... Sementara itu antarkan aku ke rumah sakit, aku perlu memeriksakan kepalaku," ucap Lucius. Brad dan Santoz mengangguk. Santos langsung membuka jas nya dan memberikannya pada Lucius. Sedangkan Brad sudah mencari Taxi untuk membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Santoz segera menghubungi Lance dan juga Mike, mengabarkan perkembangan terbaru ini pada keduanya.
Setelah serangkaian pemeriksaan, Lucius mendapat kabar jika kepalanya hanya cidera kepala ringan, ia diperbolehkan pulang dengan catatan harus meminum obatnya hingga habis dan beristirahat hingga rasa pusingnya akan hilang dan tubuhnya pulih.
"Sekarang belikan aku beberapa kaos murahan atau kaos diskon, pakaian biasa, juga celana. Aku akan menunggu di restoran itu selagi kalian belanja. Dan ingat! hanya satu jam ... kalian harus kembali dan membawa seluruh pesanan ku. Oh ya ... jangan lupa satu buah ponsel baru." perintah Lucius.
Kedua pengawal itu saling berpandangan," Apa Tuan tidak akan pulang ke hotel dulu? koper Tuan masih di sana," ucap Brad.
"Tidak. Biarkan saja itu di sana. Aku masih akan tinggal beberapa hari lagi di gedung tadi. Jika kalian mau melakukan tugas kalian, jangan menampakkan diri, awasi saja aku dari jauh," ucap Lucius.
Permintaan aneh itu membuat kedua pengawal itu mengernyitkan dahi.
"Tapi Tuan ..." Santoz berhenti ketika ponselnya berbunyi. Ia menatap dan mendapati Lance yang menelponnya. Ia segera mengangkatnya.
"Ya, Tuan Lance,"
Santoz tidak sempat melanjutkan untuk bicara karena ponselnya sudah di rebut oleh Lucius.
"Hei Lance .... Aku baik-baik saja. Hanya sedikit insiden kecil, Santoz akan melaporkan semuanya untukmu. Aku butuh bantuanmu, Santoz akan memberitahu semua keperluanku saat ini. Bicaralah dengan Santoz. Tapi jangan lama-lama. Karena aku sedang butuh mereka untuk belanja ... Bicaralah lagi dengan Santoz saat ini, aku lapar. Aku hanya makan mi instan sejak tadi pagi. Aku akan pergi makan dulu."
Lucius menyerahkan ponsel kembali pada Santoz.
"Bicaralah padanya. Lalu pergilah belanja, ingat! satu jam ... aku akan makan dan menunggu kalian di sini,"
Santoz menerima ponselnya dan menatap Tuannya itu berlalu, masuk ke dalam restoran lokal yang menyajikan menu tradisional khas daerah itu di depan mereka.
Sementara di seberang sana, Lance menatap ponselnya dengan terheran heran. Seolah benda itu adalah benda aneh. Tuannya bicara seperti kereta api dan kemudian memutuskan pembicaraan begitu saja dengannya.
Apa Anda tidak tahu bahwa Anda sudah membuat semua orang khawatir ....
"Halo, Tuan Lance," suara Santoz kembali terdengar oleh Lance.
"Ada apa sebenarnya Santoz? Tadi kau bilang membawa Tuan Lucius ke rumah sakit? jadi bagaimana hasilnya? Apa ia gegar otak?"
"Beliau baik-baik saja ,Tuan. Dokter sudah memeriksanya. Hanya saja sekarang Beliau belum mau pulang ke hotel. Malah menyuruh belanja pakaian murah dan meminta sebuah ponsel baru."
"Lalu dimana Tuan Lucius akan tinggal jika ia tidak pulang ke hotel?" tanya Lance dengan dahi berkerut.
"Tuan Lucius tinggal di satu gedung kumuh, Tuan. Ia mengatakan seorang gadis sudah menolongnya saat ia dirampok, sekarang ia tinggal bersama gadis itu, ia tidak mengatakan sampai berapa hari ia mau berada di sana."
Lance mendengarkan penjelasan Santoz dengan seksama.
***********
Setelah mendapatkan semua kebutuhannya, Lucius kembali ke kamar Ally. Dua pengawalnya tidak dapat berbuat apapun untuk mencegahnya. Lucius juga menyuruh mereka mengawasi keamanan seorang gadis dan anak kecil yang akan pulang setelah tengah malam dan akan melewati jalan ke arah gang sempit itu. Gadis yang telah menolong Tuan Lucius ketika ia di rampok.
Lucius menunggu dengan berbaring di ranjang kecil yang ditidurinya malam sebelumnya. Ia menghitung detik, menunggu jarum jam menunjukkan waktu lewat tengah malam. Ia sudah mengenakan celana jeans baru dan kaos yang di beli oleh Santoz dan Brad dengan harga khusus.
Harga khusus yang dimaksud Brad dan Santoz bukan harga tinggi karena barang tersebut limit edition dengan kualitas terbaik atau karya desainer ternama. Tapi harga khusus karena sudah dikenakan diskon besar-besaran. Lucius sengaja, karena jika ia memakai pakaiannya sendiri yang ada di dalam kopernya di hotel, maka Ally akan bertanya-tanya dan mengira dirinya orang kaya dan akan segera menyuruh Lucius keluar dari kamarnya yang sempit.
Tepat lewat tengah malam, Brad dan Santoz yang telah berada di dalam mobil sewaan melihat seorang gadis yang tengah menggendong seorang anak kecil memasuki gang.
Mereka saling berpandangan dan yakin kalau gadis itulah yang dikatakan oleh Tuan Lucius telah menolongnya.
Ally sangat lelah, pekerjaan hari ini melebihi biasanya. Pengunjung bertambah sehingga alat makan kotor yang harus ia cuci juga bertambah banyak. Madam Gavany telah memberi tip tambahan untuk mereka malam ini, sebagai ungkapan terimakasih mereka tidak mengeluh walaupun sangat lelah, karena itu Ally membeli seporsi makanan hangat yang ingin ia berikan pada Lucius. Orang asing itu pasti hanya bisa makan mi atau roti yang ada di lemarinya.
Sasampai di depan pintu kamarnya, Ally mengetuk. Tidak menunggu lama, Lucius sudah membuka pintu itu. Pria itu telah mengganti pakaiannya. Rambut panjangnya diikat menjadi satu di belakang kepalanya.
Lucius mengulurkan tangan mengambil Alan dari gendongan Ally. Bocah itu masih tertidur dengan lelap walaupun tubuhnya berpindah ke gendongan Lucius.
"Terimakasih," ucap Ally ketika Lucius membaringkan adiknya ke atas kasur dan mulai membuka sepatu anak itu.
"Kau terlihat sangat lelah," ucap Lucius.
"Ya ... Bagaimana kabarmu hari ini? apakah sakit kepalamu sudah berangsur hilang?"
"Aku sudah merasa lebih baik, terimakasih," ucap Lucius.
"Aku membawakanmu ini, makanlah selagi hangat," ucap Ally sambil mengulurkan bungkusan berisi makanan itu pada Lucius, kemudian gadis itu berlalu ke kamar mandi dengan piyama yang akan ia pakai. Ia ingin bertanya bagaimana Lucius mendapatkan pakaiannya kembali, namun nanti saja, saat ia selesai dari kamar mandi.
Lucius memandang makanan di hadapannya dengan sedikit terharu. Gadis itu sempat sempatnya memikirkan untuk membawakannya makanan. Walaupun kemiskinan membelitnya, Ally tetap tidak keberatan membantu orang lain.
Ally keluar dari kamar mandi dan mendapati Lucius sedang makan dengan lahap, Ally lupa apa yang ingin ia tanyakan pada Lucius sesaat sebelum ia masuk ke kamar mandi tadi. Ia tersenyum dan mendekati Alan. Ally baru saja akan mengangkat Alan ketika Lucius menegurnya.
"Kemana kau akan memindahkannya?" tanya Lucius.
"Kami akan tidur di karpet seperti kemarin," ucap Ally.
Lucius segera menggeleng, "Tidak, tidurlah di sebelah Alan, Ally. Aku yang akan tidur di bawah,"
"Apa tidak apa-apa? bagaimana dengan ...."
"Kapalaku akan baik-baik saja. Sudah boleh menginap di sini aku sudah bersyukur." Lucius memotong ucapan Ally. Gadis itu mengangguk dan segera berbaring di samping Alan. Lucius menatap, dan tahu Ally sudah tertidur dengan cepat. Mata gadis itu terpejam dan tubuhnya meringkuk di samping Alan yang tidak kalah nyenyak. Menyerah pada rasa lelah yang menuntut tubuh keduanya untuk segera beristirahat.
Lucius mendekat ke pinggir ranjang, ia duduk dan mengulurkan tangan untuk mengangkat tangan Ally. Tangan Ally teraba dingin dengan kulit memucat. Lucius tahu Ally pasti bekerja sangat keras setiap harinya. Tubuh gadis itu terlihat kurus dan wajah cantiknya tampak sangat lelah.
Bagaimana caranya agar kau mau menurutiku dan menerima bantuanku, aku orang asing bagimu ... kau pasti tidak akan menerimanya. Kau pejuang sejati, mana mau menerima belas kasihan orang lain ...
Lucius menarik selimut flanel yang kemarin malam Ally pakai, ia menutupkannya ke tubuh kakak beradik itu, lalu dengan sangat sadar atas apa yang akan ia lakukan, Lucius mencium pipi Ally dan juga pipi Alan bergantian.
"Selamat malam ... dan selamat tidur," bisik Lucius di kening Ally.
Ia kembali pada sisa makanan yang tadi Ally berikan. Lucius sebenarnya sudah kenyang. Ia sudah makan banyak saat tadi menunggu Brad dan Santoz belanja. Namun Ally sudah bersusah payah membelikannya makanan ini. Dengan perlahan Lucius kembali menyuap, menghabiskan makanan itu sampai tidak bersisa.
*********
From Author,
Jangan lupa klik like, love, bintang lima, komentar dan vote ya Readers... jadi vitamin penyemangat Author untuk giat menulis.
Terimakasih semuanya... ketemu lagi di chapter selanjutnya.
Salam, DIANAZ.