Love Seduction

Love Seduction
Chapter 86. Erland birthday party part 3



Reggie merasakan tatapan itu. Tatapan menghujam ke arah punggungnya, seolah seseorang tengah melemparkan bara api ke arah punggungnya. Adrian tersenyum sangat manis dengan mata cokelatnya menatap lembut ke arah Reggie.


"Kurasa sebentar lagi akan ada yang mengajukan ajakan duel denganku," ucap Adrian geli.


Reggie terkikik pelan mendengar gurauan Adrian.


"Oh, tenanglah. Dia orang paling rasional dan menjaga sikap. Kurasa dia tidak peduli aku bersama siapa saat ini." Tapi tak urung jantung Reggie berdegup kencang.


"Jangan mengecilkan arti dirimu, Regina sayang. Kau lihat .... Dia menuju kemari, tersenyumlah," ucap Adrian.


"Regina ...."


Reggie berbalik ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Ia segera memasang senyum lebar yang ceria.


"Ah, Mike .... Dimana yang lainnya?" Reggie mulai mengajak berbincang. Merasakan suasana hatinya sangat riang saat ini, sedangkan suasana antara kedua pria di dekatnya mulai terasa memanas.


"Siapa pria ini?" Bukannya menjawab pertanyaan Reggie, Mike malah bertanya sambil menatap mata cokelat Adrian.


"Dia ...." Reggie menoleh ke arah Adrian yang telah mengulurkan tangannya. Dengan enggan Mike terpaksa menyambut uluran itu.


"Aku Adriano Corlence. Panggil saja Adrian. Kau teman Gina?"


Nama Gina yang disebut oleh Adrian memberitahu Mike bahwa mereka sudah akrab, hingga sudah saling memanggil nama depan.


"Dan kau siapa? Teman Regina?" Suara datar dan dingin dari Mike membuat Reggie sedikit salah tingkah. Ia melirik ke arah kerumunan orang dan mendapati Lucius dan Margarita tengah memandang sambil berdiri di sudut aula, lalu di arah satunya ada lagi pasangan Derek dan Amy serta Alex dan Eve yang menonton ke arah mereka.


Adrian menaikkan alisnya ketika mendengar Mike malah menanyakan pertanyaan yang sama padanya tanpa menjawab pertanyaannya barusan.


"Aku sedang berusaha keras menjadikannya sebagai kekasih. Orang tuaku sangat menyukainya." Adrian tersenyum ramah dan mengedip ke arah Mike yang mengetatkan geraham.


"Kau sudah membawanya menemui orang tuamu?"


"Tidak persis seperti itu ... Lucius adalah sahabatku, aku mengundangnya makan malam bersama Gina, mereka datang dan bertemu orang tuaku, begitulah. Eh Maaf, Tapi kau siapa?" tanya Adrian, seolah baru sadar kalau ia bicara dengan orang tak dikenal.


Dasar aktor! Reggie tersenyum geli dalam hati.


"Ah, dia Mike. Dia temanku, Adrian." Reggie bantu menjawab. Mike memicingkan matanya ke arah gadis berambut hitam itu. Mata itu seolah bicara.


Protes? atau apa? Reggie tidak sanggup mengira-ngira.


"Dialah orang yang ingin aku perkenalkan pada kalian semua," ucap Reggie pada Mike.


Mike merasakan sebuah lubang mulai menganga dalam hatinya.


Menjadikan Regina kekasih? Kata-kata Adrian terekam dan terngiang berulang-ulang dalam otak Mike, membuatnya gerah, kepanasan dan tidak nyaman.


"Kalian nikmati pestanya. Aku akan keluar sebentar. Ada yang harus aku kerjakan." Mike berpamitan pergi meninggalkan pasangan itu. Reggie memandang sampai punggung itu menghilang di balik keramaian orang, lalu ia menarik tangan Adrian menemui Amy yang masih berdiri bersama suaminya, Eve dan Alex.


Reggie mengenalkan Adrian pada mereka dan Adrian melakukan hal yang sama dengan mengatakan akan membuat Reggie menjadi kekasih. Amy dan Eve tersenyum senang, sedang Derek dan Alex memandang pria itu dengan wajah datar tapi mata penuh penilaian menatap Adrian.


Di ruang perpustakaan mansion, Mike mulai menuangkan minuman ke dalam gelas. Ia memutuskan naik menuju perpustakaan mansion, tempat ia suka menghabiskan waktu ketika tengah berada di mansion utama Langton. Ia menyesap minuman dan membawa gelasnya ke arah balkon. Memandang kerlip lampu di kejauhan dan langit gelap yang menaungi malam.


Terlintas kembali bagaimana Reggie berbisik dengan mesra dengan Adrian dan darahnya kembali menggelegak. Mike menarik napas panjang lalu melihat kursi santai yang ada di balkon. Ia membawa dirinya duduk dan mulai membaringkan tubuhnya. Gelas di tangannya ia taruh di atas lantai.


Mike memejamkan mata dan mencoba menjernihkan pikirannya. Selama ini ia menyadari ia menyangkal perasaannya pada Regina. Ketakutan tidak akan bisa memberikan sebuah nama keluarga dan ketakutan pada ikatan pernikahan membuat Mike menutup mata dan juga hatinya. Ia bahkan telah menyakiti perasaan gadis itu. Wajar saja jika Reggie akhirnya menyukai orang lain.


Sekarang ketika ia sudah siap dan berdamai dengan masa lalu, Regina malah sudah punya pria lain di sampingnya. Seorang pria yang sangat tampan, mapan dan terlihat bertanggung jawab. Tapi apakah Regina mencintainya? Seketika Mike membuka matanya lebar-lebar.


Ya ... pria itu mengatakan tengah berusaha menjadikan Regina sebagai kekasih, berarti sekarang Regina belum menerimanya sebagai kekasih. Sekarang status mereka hanyalah teman, walaupun pria itu terlihat sangat tertarik dan Reggie sepertinya ingin memberinya kesempatan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Derek di pintu menuju balkon mengejutkan Mike.


"Kau sendiri kenapa kemari?" Mike balik bertanya. Derek terkekeh.


"Kenapa mencariku?"


"Mau menemani kau minum."


Kali ini giliran Mike yang terkekeh. Derek memang membawa gelas minuman di tangannya. Ia bersandar di pagar pembatas menghadap ke arah kursi Mike.


"Sudah bertemu dengannya?"


Mike tahu dengan pasti arah pertanyaan Derek.


"Kudengar ia aktor yang sukses, punya reputasi bagus dan keluarga yang baik," ucap Derek lagi.


"Yeah ... Lucius tidak akan mengenalkan adiknya pada kriteria yang kurang dari itu bukan?" ucap Mike masam.


"Kau mengalah?" tanya Derek penasaran.


Mike mengangkat alisnya, merasa lucu dengan pertanyaan Derek.


"Aku melihatmu pergi meninggalkan aula, seolah kau tidak merasakan apa-apa melihat Reggie telah bersama orang lain .... Atau memang begitu? Apa mataku yang selama ini salah mengira kalau kau punya perasaan khusus untuk Regina."


Derek menunggu Mike membalas ucapannya. Laki-laki itu mengerutkan kening.


"Jika Regina menerima Adrian, Lucius akan segera membuat mereka bertunangan. Itulah yang di inginkan Adrian," ucap Derek lagi.


"Bagitukah? Kalau begitu aku harus mengacaukan rencana Lucius." Mike terkekeh.


Derek mengembuskan napasnya, lega. Ia mengira Mike akan mundur. Tapi tekad yang dilihatnya di kedua mata abu-abu itu membuatnya yakin ia salah mengira.


"Apa rencanamu?"


"Oh, aku tidak akan mengatakannya padamu, Derek." Mike kembali tertawa, kali ini hatinya merasa ringan. Merasakan insting berburunya bangkit dan kali ini Mike tahu pasti siapa mangsa yang ia incar.


Mereka sama-sama menyesap minuman sambil mengobrol. Setelah minuman habis, Derek mengajak Mike kembali turun. Pemandangan Reggie yang sedang berdansa dengan Adrian menyambut mata Mike. Kedua lengan Adrian memeluk Reggie dengan intim, kepalanya menunduk dengan bibir penuh senyum ke arah Reggie yang menatapnya dengan mata berbinar. Mike menyaksikan pasangan itu berputar di lantai dansa. Ia berjalan pelan di pinggir aula, matanya tidak pernah lepas menatap Regina.


Lucius menatap Mike yang menatap tajam adiknya sambil melangkah pelan mengitari aula tempat Regina tengah berdansa dengan Adrian. Sentuhan jari-jari lembut di lengannya membuat Lucius menoleh.


"Lucius ... kenapa aku bergidik melihat cara mata abu-abu itu menatap adikmu. Seolah ia seekor predator di tengah padang yang sedang mengintai mangsa yang akan ia buru." Margarita berbisik pelan.


"Kau yakin kita tidak sedang membangunkan macan tidur? Apa Regina akan baik-baik saja?" tanya Margarita lagi.


Lucius menatap di kejauhan. Margarita benar. Mike berputar mengelilingi aula dengan langkah pelan dan mata tajam. Ia jadi sedikit khawatir pada Gina.


Alunan musik berakhir. Dengan tawa sumringah, Adrian menggandeng Regina menyingkir dari tengah aula dansa. Mereka menuju meja minuman, namun langkah mereka berhenti ketika tubuh besar Mike menghadang. Ia menyeringai ke arah Adrian.


"Aku akan menculik pasanganmu,Tuan Corlence." Mike menarik lengan Reggie yang kebingungan dan akhirnya mengikuti langkah Mike menuju pintu samping. Mereka tersenyum pada beberapa orang yang mereka lewati. Reggie ingin sekali mengentakkan tangannya yang ditarik paksa oleh Mike ,tapi ia tidak mau membuat keributan dan menarik perhatian di aula itu.


Mike menyeret Reggie menjauhi mansion masuk ke arah taman. Reggie setengah berlari mengikuti langkahnya yang cepat.


"Mike ... Mike ... berhenti!" Reggie berulangkali menyentakkan tangannya. Tapi tidak berhasil terlepas karena cengkeraman kuat tangan besar di pergelangan tangannya itu.


"Mike! Lepaskan aku! Apa sebenarnya yang kau inginkan!"


**********


From Author,


Like jangan lupa ya my readers, komentar dulu baru pindah next chapter, buat vitamin penyemangat author biar ngetiknya lanjut.


Terimakasih semua.


Salam, DIANAZ.