Love Seduction

Love Seduction
Chapter 41. Rose



Reggie memandang hasil pekerjaannya sekali lagi. Kamar itu bersih, rapi dan mengkilat. Ia merasa puas dan segera meninggalkan ruangan itu.


Reggie mencondongkan tubuh mengintip ke kamar yang tadi dibersihkan Elina. Gadis itu terlihat masih berjongkok di sudut kamar membersihkan debu di bawah rak.


"Elina." Reggie menyapa temannya, yang segera menjawab tanpa menghentikan pekerjaannya.


"Rose ... kau sudah selesai? "


"Ya. Apa yang bisa kubantu?" Reggie memandang berkeliling. Ruangan itu sudah terlihat bersih.


Elina berdiri dan membersihkan tangannya. Gadis itu tersenyum lebar.


"Akhirnya selesai. Ayo kita turun dan pergi ke dapur! Sudah siang, aku lapar!"


Elina menggamit Reggie dan menariknya ke luar kamar.


Sampai di koridor, mereka dihadang oleh Liz.


"Bersihkan kamar itu dulu ... baru kalian akan mendapatkan makan siang."


"Memangnya kau siapa, memerintah kami semaumu!" Elina menjawab ketus.


"Ayo Rose ... jangan pedulikan wanita ini. Kita akan kembali bekerja setelah makan siang." Elina menarik Reggie sekuat tenaga, hingga Reggie harus setengah berlari mengikutinya. Senyum Reggie terkembang memperhatikan Elina yang bertubuh kecil berani membantah Liz yang lebih besar dan terlihat lebih kuat.


"Tunggu saja kalian ... dua gadis bodoh! Kalian akan tahu apa yang bisa kulakukan."


Bisikan jahat itu keluar dari mulut Liz yang menatap tajam punggung dua pelayan baru yang berlalu pergi meninggalkannya.


**********


Reggie tidak menyangka kalau Elina sangat mudah akrab dan bergaul. Gadis itu dengan cepat saling mengobrol dengan beberapa gadis lain yang sudah lama bekerja di sana.


"Kau tahu tidak alasan kenapa kami tidak boleh memasuki sayap barat ?" Elina bertanya penasaran.


Reggie menggamit lengannya dan mengedipkan mata.


"Sebaiknya jangan menanyakan alasannya, Elina. Kita bekerja saja." Reggie pura-pura mengingatkan temannya. Padahal ia sangat berharap gadis keriting dengan tahi lalat di dagunya itu mau memberitahu mereka.


"Ck, kalian orang baru, jadi wajar saja tidak tahu dan penasaran. Tapi kemarilah ... aku akan memberitahu alasannya." Gadis itu mendekatkan kepalanya dan memberi kode pada Reggie dan Elina agar segera mendekat.


"Kalian tahu? Tuan Muda kita sangat tampan, tapi ia hanya percaya pada Madam untuk mengurus sayap barat, jadi kita sangat jarang bisa melihat ketampanannya itu. Tidak ada orang lain yang pernah ke sana kecuali beberapa pengawal pribadi beliau yang sangat terpercaya dan asisten pribadinya Lance. Sayap barat adalah tempat Tuan Muda kita tinggal. Kudengar meskipun ia tampan, ia agak kasar dan bisa bersikap sangat kejam."


Elina terbelalak. "Kejam? " ulang gadis itu.


Si gadis bertahi lalat mengangguk.


"Tuan Sanchez senior sedang sakit dan sejak Tuan Lucius menggantikannya, bisnis mereka melesat. Tapi kudengar itu tidak luput dari penyiksaan yang kerap terdengar dari sayap barat. Kala malam hari sering terdengar suara orang melolong, menjerit, berteriak bahkan sampai menangis meminta pertolongan. Kabarnya orang yang menjadi musuh atau menghalangi usaha Tuan Lucius disiksa dan dibunuh di sayap barat ...."


Reggie dan Elina terbelalak mendengar cerita itu, tangan Elina bahkan menggenggam tangan Reggie.


"Tidak pernah ada orang yang boleh mendekati sayap barat. Hanya saja, suara pilu orang yang melolong di tengah malam itu kerap terdengar. Seperti menahan sakit teramat sangat ... Tuan Lucius pasti menyiksanya dengan amat kejam."


Tiga gadis itu berbisik dan terlihat seperti orang yang tengah bergosip. Suara Madam yang menggelegar membuat ketiganya sangat terkejut dan terlonjak.


"Hei para gadis! dilarang bergosip! Kalian akan kuhukum jika aku melihat lagi kalian berbisik-bisik!" Suara Madam sangat kencang, Elina sampai memegangi dadanya. Reggie langsung menunduk menyembunyikan wajahnya. Mereka menganggukkan kepala atas perintah madam dan segera melanjutkan makan mereka.


Jadi dia tinggal di sayap barat ... Lucius Sanchez. Benarkah dia berbuat kejam pada orang yang dianggapnya musuh?


Reggie menyuap makanan ke mulutnya sambil bergidik.


**********


Sudah beberapa hari Reggie menilai dan mengawasi area di sekitar sayap barat. Ia pernah melihat Lance dan tuannya Lucius beberapa kali. Tapi tidak ada yang dapat ia simpulkan setelah melihat sosok Lucius Sanchez. Pria itu tampan, dengan rambut hitam panjang yang terikat di belakang, satu anting berlian tidak pernah lepas dari telinganya.


Reggie turun dari lantai dua dan ingin sedikit menikmati udara segar di kebun bunga di samping mansion. Sudah lumayan lama ia pergi dari kehidupan Amy, ia harap Amy baik-baik saja dan tidak khawatir. Ia selalu teringat pada nonanya yang sudah seperti saudara baginya itu.


Reggie menelusuri koridor yang dibuat dari tanaman merambat di sisi kiri dan kanannya. Beberapa akar malah mulai merambat menutupi atas kepala Reggie yang di penuhi kawat sebagai tempat tanaman itu menjalar.


Suara seseorang di ujung sana membuat Reggie menghentikan langkahnya. Ia memandang ke belakang dan menyadari ia sudah berjalan terlalu jauh.


"Mike sudah mengatakan akan menemui orang itu dan memberikan informasi pada kita, Lance."


Reggie tidak tahu suara siapa yang bicara, tapi mendengar nama Mike membuat jantungnya mulai berdebar kencang.


"Ya, Tuan. Selama ini mereka sibuk mencari Nyonya Amy. Sekarang Nyonya Derek itu sudah ditemukan. Jadi kurasa Tuan Mike mulai fokus membantu Anda."


Debaran jantung Reggie makin menjadi. Ada apa dengan Amy? Apakah terjadi sesuatu?


"Terlalu banyak rahasia yang ditutupi oleh Erland Langton. Pria itu membawanya sampai mati. Aku yakin hilangnya Marinna dan Regina adalah hasil pekerjaan Erland."


Tubuh Reggie tanpa bisa dikendalikan gemetar ketika menyadari Lance bicara dengan Lucius. Dua nama yang disebut oleh pria itu membuatnya limbung dan berpegangan pada tiang besi tempat kawat-kawat penyangga tanaman menjalar itu di ikat. Jari Reggie terkait ujung kawat dan tergores hingga mengeluarkan darah. Tapi ia tidak merasakan apa-apa sama sekali.


Suara gerakannya yang memegang tiang dan tanaman menjalar yang bergoyang membuat Lance berteriak.


"Siapa disana!?"


Dengan kalut Reggie menelan ludah dan membersihkan tenggorokannya. Ia harus segera menjawab atau Lance akan segera menyuruhnya keluar dari balik tanaman.


"Sa ... saya Rose, Tuan. Saya pelayan baru di sini. Saya tersesat. Maafkan saya, Tuan. Saya akan segera kembali ke tempat saya di belakang."


Tanpa menunggu jawaban, Reggie berlari kencang menuju arah tempatnya tadi datang. Napasnya memburu dan ketakutan di matanya terlihat jelas.


"Mommy ... dia masih mengingat kita dengan sangat jelas ...." Regina berbisik sambil terus berlari.


**********