Love Seduction

Love Seduction
Chapter 50. Search



Madam mengernyit mendengar Elina berbicara. Gadis itu menceritakan kronologi dirinya dibekap, lalu diseret ke tempat yang ia tidak ketahui. Tapi kemudian ia terbangun di tempat tidurnya sendiri.


Reggie memceritakan bagiannya sendiri ketika Liz dan teman-temannya membawanya, lalu mengurungnya di dalam penjara bawah tanah. Tak lupa ia menceritakan bagian tuan Lance yang tanpa sengaja turun ke sel itu dan menemukan mereka.


"Apa benar yang dia ceritakan, Liz?" Madam memandangi gadis kepercayaannya itu. Liz selalu bisa diandalkan untuk setiap pekerjaan. Ia lincah, gesit dan bertanggung jawab. Dia juga berbahasa lembut dan tidak pernah tertangkap berlaku kasar. Apa yang Rose ceritakan sungguh kebalikan dari sifat gadis itu.


"Maafkan saya, Madam." Liz mulai menangis dengan tubuh membungkuk di lantai, membuat Reggie menaikkan alisnya.


Sandiwara apalagi yang akan kau perlihatkan.


"Kami diancam oleh Monica, Madam. Dia mengatakan akan melukai kami bila kami bicara. Dia bilang dia benci kedua gadis itu." Liz menunjuk pada Reggie dan Elina.


"Apa! Kau berani menyalahkan orang lain! Dasar ...."


Elina membentak, namun tiba-tiba berhenti ketika melihat ekspresi Madam.


"Siapa yang memintamu bicara gadis berbintik! Diamlah!" Perintahnya sambil melotot.


"Lanjutkan, Liz ...." Madam mengernyit melihat keempat gadis di hadapannya. Satu orang yang bernama Monica terlihat pucat.


"Dia mengatakan akan membuat kami berhenti seperti suzy dan yang lainnya bila tidak menurut, Madam."


Gadis yang bernama Monica menggeleng kuat.


"Itu tidak benar, Madam," ucapnya sambil menggeleng.


"Itu benar, Madam. Dia bahkan membuat kepalaku bengkak tadi malam. Dengan ancaman agar merahasiakan kejadian di sel penjara. Tapi ... karena Tuan Lance dan kau sudah tahu, aku baru berani bicara." Liz sedikit mendongak, menunjukkan benjol di kepalanya bekas hantaman Reggie.


Reggie memang tidak menceritakan bagian ia menyerang Liz. Tidak menyangka Liz menggunakannya untuk memfitnah teman sekamarnya, Monica.


"Apa yang dia ceritakan benar?" Madam memandang pada dua gadis lain yang merupakan rombongan Liz kemarin. Keduanya mengangguk bersamaan.


"Benar, Madam," ucap mereka berbarengan. Membuat Monica terbelalak lebar dan terus menggeleng tidak percaya.


"Madam ... Anda harus memercayaiku. Semua ini adalah idenya Liz. Dialah yang mengancam kami. Bukan sebaliknya." Monica memandang panik pada Madam yang sepertinya sudah mengambil keputusan. Dua pelayan lelaki datang dan menghadapnya.


"Bawa dia dan kurung di sel bawah tanah. Selanjutnya kita akan memberinya hukuman."


"Baik, Madam." Dua pelayan laki-laki tadi segera memegang Monica dan menyeretnya ke arah pintu besi. Gadis itu berteriak putus asa.


"Tidak! Bukan aku, Madam! Tidak!"


Reggie memicingkan mata ke arah Liz yang menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Senyum yang dengan cepat menghilang ketika Madam kembali fokus pada mereka.


"Baik, Madam." Serentak mereka menjawab.


"Dan kau Liz ... aku memerlukanmu menggantikan Mary. Dia terserang flu dan memerlukan istirahat beberapa hari. Kau yang akan menggantikannya untuk mengurus Tuan besar Eloy di rumah sakit. Kau akan bergantian dengan yang lainnya. "


"Baik, Madam." Dengan wajah lembut menurut, Liz kembali membungkuk pada Madam.


Reggie mendengus dalam hati.


Aktingnya bisa memenangkan oscar. Huhhh!


"Sudah! Bubarlah dan kembali bekerja!" Dengan perintah itu Madam berlalu meninggalkan mereka.


Dengan senyum kemenangan Liz dan dua gadis lainnya bangkit berdiri dari lantai. Dengan sengaja Liz menabrakkan bahunya ke bahu Reggie sebelum melangkah cepat dengan dagu terangkat.


"Tunggu saja bagian kalian nanti. Sekarang Monica yang dia singkirkan. Besok-besok kalianlah yang dia fitnah untuk mengamankan posisinya." Reggie berbisik dan tersenyum sinis pada dua gadis yang akan melewatinya mengikuti Liz yang sudah lebih dulu berlalu. Keduanya terhenyak.


Reggie menggamit lengan Elina dan mengajaknya meninggalkan dua gadis yang masih berdiri di sana memikirkan kata-katanya barusan.


**********


Sudah berhari-hari Reggie tidak mendapat kesempatan mendekati Liz. Gadis itu menghindarinya, Reggie tahu Liz yang memegang gelang pemberian ibunya.


Sekarang gadis jahat itu juga bertugas mengurus Tuan Eloy di rumah sakit. Sehingga berkurang lagi kesempatan bagi Reggie untuk bicara padanya.


Sebuah ide terbit di kepala Reggie ketika ia akan meninggalkan kamarnya pagi itu. Elina sudah turun lebih dulu untuk sarapan. Ia melihat kamarnya yang kosong dan berpikir kamar Liz juga akan kosong siang ini. Gadis itu pergi ke rumah sakit bersama Madam. Jadi ia tidak perlu khawatir Liz akan kembali ke kamarnya tiba-tiba ketika ia menggeledah kamar itu.


Dengan rencana itu Reggie melangkah turun untuk sarapan, lalu bekerja seperti biasa sampai jam makan siang. Dimana para gadis semuanya akan berada di ruang makan. Ia akan leluasa membuka kunci kamar Liz dan menggeledah untuk mencari gelang miliknya.


Saat makan siang berlangsung, Reggie pamit pada Elina untuk ke toilet, Ia berdalih sakit perut. Dengan cepat ia kembali ke tangga pelayan dan naik sampai ke depan pintu kamar Liz. Sebuah Kawat kecil segera ia masukkan ke lubang kunci dan tidak menunggu lama pintu itu segera terbuka. Reggie menyelinap masuk dan kembali menutup pintu.


Ia memeriksa setiap centi dari kamar itu. Kasur, lemari, meja, laci bahkan di bawah tempat tidur. Reggie juga membuka sarung bantal satu persatu, mengira Liz akan menyimpannya di sana. Nihil.


Sudah hampir setengah jam dan ia tidak menemukan gelangnya. Sudah dua kali Reggie memeriksa dan hasilnya sama. Ia menarik napas berat.


"Dimana kau menyimpannya, Liz. Dia tidak terlihat memakainya tadi." Reggie mendesah, merasa kecewa karena tidak menemukan gelangnya.


Setelah merasa yakin gelangnya tidak ada di kamar itu, Reggie kembali keluar dan menutup pintu. Ia kembali pada Elina yang cemberut dan mengatakan kalau ia sudah terlalu lama mendekam di toilet.


**********