
Mike dan Alex telah bersiap dengan pakaian loreng dan senjata lengkap. Pasukan yang telah disiapkan untuk menjalankan rencana penyelamatan Derek dan Amy tengah menunggu perintah mereka. Alex menyiapkan pasukan dalam jumlah besar, ia tidak mau mengambil resiko.
"Kemana kau menyekap kucing liar itu?" Alex bertanya sembari mengecek pistol, lalu menyelipkannya dibalik dada. Ia mengambil senjata berikutnya dan kembali memeriksa sebelum menyelipkannya kembali ke tubuhnya.
Mike yang tengah melakukan hal yang sama menoleh sebentar ke arah Alex.
"Dia terkunci di apartemenku. Aku hampir saja membiusnya kembali." Sepasang sarung tangan hitam dicomot oleh Mike dari rak yang penuh perlengkapan dan senjata di ruang bawah tanah mansion utama Langton. Ia segera mengenakannya.
"Dia mengamuk lagi?" tanya Alex sambil tertawa.
"Ya."
"Kau yakin dia tidak akan melarikan diri?"
"Aku menggandakan penjagaan di apartemenku. Dia hanya bebas berkeliaran di dalam, takkan bisa keluar dari sana." Mike mengucapkan kata-katanya dengan yakin. Reggie takkan keluar kecuali ia melompat dari lantai atas tempat apartemennya berada dan itu sama saja dengan bunuh diri.
Alex terbahak. "Gadis itu sangat merepotkan. Kurasa sama saja dengan Evangeline ... kau tahu, ia meneleponku menanyakan tentang Derek."
Mike menghentikan aktivitasnya mendengar ucapan Alex. Ia melotot ke arah pria itu.
"Jangan katakan padaku kau membocorkan kejadian ini padanya ...."
Gelengan kepala dari Alex membuat Mike merasa lega. Evangeline yang biasa mereka panggil Eve, teman yang sudah seperti adik bagi Derek itu akan segera pulang jika mendengar kabar Derek di sandera. Mike tidak ingin satu lagi kerepotan mendatanginya sebelum Derek benar-benar sudah pulang dengan selamat.
"Sebenarnya apa hubungan Ivy dengan Derek, Mike? Apakah mereka sepasang kekasih?" Alex bertanya sambil lalu. Ia seolah masih sibuk dengan salah satu senjata yang ingin ia bawa.
"Apa?" Mike mengernyit heran, seolah tidak mengerti pertanyaan Alex.
"Kau mendengarku ... Ivy dan Derek. Mereka selalu tampak mesra. Apa mereka kekasih?" Alex mengulang pertanyaannya. Entah mengapa ia lebih senang memanggil Evangeline dengan panggilan Ivy.
"Pfftttttttt .... hahahahahhah" Tawa Mike meledak, Ia merasa sangat lucu mendengar pertanyaan Alex. Seolah Alex baru saja mengucapkan lelucon menggelikan.
Alex memandanginya seolah ia sudah gila. Laki-laki itu menunggu sampai tawa Mike mereda.
"Derek dan Eve tidak akan pernah menjadi kekasih, Alex! Derek memang mencintai Eve, tapi sebagai seorang adik. Ia tidak akan bisa memandang Eve sebagai seorang kekasih karena akan teringat bagaimana ia mengganti dan memakaikan popok Eve sejak masih kecil!" Tawa Mike kembali menggema, "Eve pun begitu. Bagi gadis itu Derek adalah kakaknya, keluarganya satu-satunya." Mike menjelaskan sambil memandang kasihan ke arah Alex yang sudah dibodohi oleh Eve. Mike yakin Eve sengaja menampilkan kemesraan dengan Derek agar Alex salah paham.
"Hei Man, kurasa ia menyukaimu." Mike tersenyum geli memandang Alex yang pura-pura sibuk.
"Siapa?" tanya Alex pura-pura tidak tahu.
"Si gadis Cinderella tetangga sebelah," ujar Mike geli. Ia tahu Alex sengaja berpura-pura.
Alex menghentikan aktivitasnya. Memandang jengkel ke arah Mike.
"Jangan menggodaku, Mike."
Mike mengendikkan kedua bahunya. Kembali tertawa geli.
"Kau pura-pura tidak tahu siapa yang aku maksud. Evangeline terlihat berbeda bila bersamamu," ucap Mike lagi.
"Yeah ... jangan harap aku percaya itu! Wanita cantik dan sexy sepertinya dikelilingi banyak pria dimana pun berada. Kau baca majalah bisnis? Wanita itu didaulat sebagai pebisnis handal karena gebrakannya membuka cabang perusahaan Langton di Asia. Dia didapati datang bersama pria berbeda di setiap pesta kalangan elite dunia bisnis."
"Kurasa kau benar. Lelaki mana yang tahan terhadap Eve kita yang sensual. Dia cantik dan sungguh sexy. Terlihat sangat berani dengan rambut merah yang menakjubkan!"
Dorr!
Dorr!
Dorr!
Suara tembakan di zona latihan menembak yang berada jauh di ujung ruangan terdengar membahana. Alex menembakkan senjatanya ke arah target latihan tembak dari tempatnya berdiri.
"Kurasa tanganku masih sangat hebat menggunakan ini."
Kata-kata Alex disambut tawa terbahak-bahak dari Mike yang memandanginya sambil menggelengkan kepala.
**********
Perimeter daerah itu telah ditandai oleh pasukan mereka. Langit berwarna biru dan cerah. Angin berhembus pelan seolah alam turut mendukung upaya penyelamatan dari pasukan Alex dan Mike.
Dibalik celah batu besar Mike mengintip ke arah rumah dua tingkat berwarna putih di puncak bukit. Pandangan mata mereka leluasa memindai bagian depan rumah itu.
Pasukan mereka telah mengepung keliling lokasi itu. Mike menemukan tempat itu dengan sangat mudah. Ia tahu Lucius Sanchez memberikan andil terhadap penyelidikan mereka. Walaupun pria itu melakukannya tanpa ketara. Dalam waktu cepat Mike dan Alex bisa bergerak menemukan Derek.
"Kau lihat itu? Mereka terlihat baik-baik saja walaupun agak berantakan." Alex berbisik pada Mike di sebelahnya. Mike tidak bersuara. Matanya melahap sosok Derek lewat teropong yang ia bawa, memindai tubuh pria itu, melihat apakah Derek terluka.
Mike terdengar menarik napas lega. Alex tersenyum di sampingnya.
"Berkat Sanchez ... kita menemukannya, bukan begitu, Mike?" Alex kembali berbisik.
"Ya. Kuakui ia sangat berjasa. Kuharap Derek memenuhi kesepakatan yang aku buat dengannya," ujar Mike pelan.
"Pasti, Mike. Derek tahu kau melakukannya untuk nyawanya." Alex kembali memindai halaman depan rumah itu.
Amy Sky tampak masuk ke dalam sebuah mobil, lalu berlalu meninggalkan rumah putih itu. Dua laki-laki yang mengintip lewat teropong mereka menyeringai lebar, tahu bahwa entah bagaimana caranya, Derek telah membuat Amy menjauhi lokasi itu.
"Derek telah membuat gadis itu pergi dari rumah yang sebentar lagi akan menjadi ladang pertempuran." Alex mendesis yang disambut anggukan oleh Mike.
Di kejauhan, di depan halaman luas rumah putih itu, Derek tampak memandang langit biru yang cerah. Laki-laki itu menarik napas panjang dan memindai keseluruhan daerah di hadapannya.
Mike menyeringai. Tahu kalau Derek menunggu tanda darinya. Ia mengambil pisau tipis berkilat yang berada di pahanya, lalu meletakkannya sekilas di bawah matahari. Cahaya menyilaukan berkilat sepersekian detik, cukup bagi Derek untuk tahu jika Mike sudah datang dengan pasukan yang sudah ia tunggu.
Mereka menunggu beberapa saat agar Amy Sky yang pergi dengan mobil sudah berada jauh dari villa itu.
"Bersiaplah berpesta, Alex." Mike mendesis pada Alex yang menyambut ucapannya dengan menyeringai.
"Dengan senang hati kawan." Alex balas mendesis sebelum memberikan perintah pada pasukannya lewat alat komunikasi yang terpasang di setiap anggota pasukan agar semuanya bergerak menyerang!
**********