
Lucius mengernyit ketika mendengar suara Brad di seberang sana.
"Ketika saya menghubungi asistennya saat Anda berkeliling tanah perkebunan tadi pagi, Asistennya menyetujui pertemuan di hotel yang sudah kita sepakati, Tuan. Tetapi sore ini ia menghubungiku, menyatakan permohonan maaf karena tidak dapat melakukan janji temu seperti yang telah di sepakati." Brad menjelaskan panjang lebar.
" Apa alasannya?" tanya Lucius. Ia berharap bertemu Tuan Rico malam ini. Janji sudah di buat. Brad dan Santoz malah sudah menyewa sebuah kamar di hotel tempat akan diadakan jamuan makan malam dalam pertemuan dengan Tuan Rico. Lucius bisa bersiap dari hotel itu, tidak perlu dari rumah. Akan mengundang pertanyaan bila ia memakai setelan formalnya dari rumah perkebunan mereka.
"Mereka mengatakan sesuatu yang tidak terduga terjadi, Tuan. Tuan Rico terpaksa berangkat sendiri untuk mengurusnya. Jadi ia mengirim permohonan maaf karena harus membatalkan rencana pertemuan."
Lucius menarik nafas penjang mendengar kata-kata Brad.
"Apa boleh buat. Padahal aku ingin sekali bertemu pria itu ... Ya sudahlah. Kirimkan saja pesan, tanyakan kapan kira-kira Tuan Rico punya waktu."
"Baik, Tuan. Akan segera saya tanyakan." jawab Brad.
Lucius mematikan ponselnya. Tidak ada apapun yang bisa ia lakukan saat ini. Pertemuan dengan Rico batal. Lucius menatap ke arah Luar jendela, ada bagusnya, ia jadi bisa fokus pada Ally. Sesuatu mengganggu gadis itu dan Lucius akan membuatnya membuka mulutnya malam ini. Ia tidak akan diam saja dan menanggung rasa penasaran terhadap tingkah Ally yang memasang jarak dengannya.
**********
Rico memandang asistennya dan menganggukkan kepala pada pria itu sebelum masuk ke dalam mobil.
"Kau sudah mengurus permohonan maaf pembatalan pertemuan dengan perwakilan keluarga Sanchez bukan?" tanya Rico sebelum asistennya menutup pintu mobil.
"Sudah, Tuan. Saya sudah menghubungi asisten Tuan Sanchez dan mengirimkan permohonan maaf."
Rico menaikkan alisnya, ia menoleh penuh pada asistennya dengan sedikit terkejut.
"Tuan Sanchez? Beliau datang sendiri kemari?" tanya Rico.
"Ya, Tuan. Tepatnya putra Tuan Eloy. Lucius Sanchez."
"Ah ... Kukira hanya sekedar pegawai mereka yang mereka kirim meninjau tanah itu. Tak kusangka putra Tuan Eloy sendiri yang datang."
"Ya Tuan. Mereka juga mengirim pesan, menanyakan mungkin Tuan Rico punya waktu di lain kesempatan untuk bertemu kembali."
"Ya ... Tentu saja. Aku juga ingin bertemu. Ayahku berteman dengan ayahnya, sebelum ia meninggalkan tanahnya dan kembali ke negaranya untuk mengembangkan usahanya. Kita atur lagi nanti. Tanyakan sampai kapan Tuan Sanchez akan berada di tempat ini. Jadi kita bisa berkunjung."
Asistennya mengangguk hormat, lalu menutup pintu mobil yang akan membawa Tuannya ke kota tempat Carloz Salvadore menemukan Ally terakhir kali. Orang-orang mereka sudah menemukan letak restoran Madam Gavany, dan Tuan Rico ingin mendatangi sendiri pemilik restoran itu.
Asistennya menatap ke arah mobil yang menjauh, Gefry Adair ... ayah Alison Adair, salah satu pegawai di perkebunan Tuan Costra, meninggal dengan meninggalkan seorang istri dan seorang putri. Seorang putri yang sepertinya sekarang membuat masalah dan harus diurus oleh Tuan Rico. Sampai Tuannya itu harus membatalkan janji yang ia buat untuk bertemu Tuan Lucius Sanchez malam ini.
**********
Suasana makam malam di meja berjalan normal seperti biasa. Lucius dan Pabio terlibat percakapan tentang tanah perkebunan, Ester yang sibuk melayani Alan makan, keduanya makin akrab, dan Ally yang hanya tersenyum melihat adiknya yang terlihat begitu gembira akhir-akhir ini.
Ally hanya bersuara jika ada yang bertanya padanya. Selebihnya ia menutup mulut. Membuat Lucius sangat gemas dan cepat-cepat ingin mengakhiri makan malam, sehingga ia bisa berbicara dengan gadis itu.
Setelah selesai mencuci peralatan makan, Ally dan Ester pergi ke ruang tengah, bergabung bersama Alan yang menonton kartun. Ketika melihat jam di dinding telah menunjukkan waktu untuk tidur, Ally mengajak adiknya itu naik ke kamarnya. Namun Alan menolak, ia masih ingin terus menonton.
"Dengarkan kata-kata kakakmu, Alan. Pergilah tidur. Besok kau bisa kembali menonton TV." teguran dari Lucius yang datang kemudian membuat Alan mengerucutkan bibirnya.
"Sebentar lagi?" tawarnya.
Lucius bersedekap dan menggelengkan kepala.
"Tidak," ucapnya tegas.
Alan terlihat menarik nafas panjang, membuat Ester dan Ally tersenyum.
"Baiklah," ucap Alan. Bocah itu akhirnya menurut.
"Ayo, aku akan mengantarkanmu ke kamar."
Lucius mengulurkan tangannya yang segera si sambut oleh Alan.
Setelah tiga langkah, bocah itu berhenti, "Tunggu!" serunya.
Alan berbalik dan kembali ke arah Ester. Ia mencium pipi Ester.
"Selamat malam, Bibi." ucapnya manis.
"Selamat malam, Sayang," Ester mengelus pipi Alan sambil tersenyum.
"Malam, Ally ..." ucapnya lagi.
"Malam, Alan. Tidurlah." ucap Ally.
Alan kembali pada Lucius dan memegang tangan pria itu. Keduanya pergi naik ke lantai dua menuju kamar Alan.
"Apa yang akan kau lakukan jika Lucius sudah waktunya akan pulang Ally?" pertanyaan tiba-tiba dari Ester itu membuat Ally menoleh dan menatap wanita tua itu.
"Aku ... Tentu saja aku akan tetap berada di sini, Ester."
"Dan menanggung resiko kau akan bertemu Tuan Rico?" tanya Ester. Ally memang telah menceritakan pada Ester perihal Tuan Rico. Saat setelah makan malam dan Lucius memberitahunya bahwa tanah perkebunan itu bersebelahan dengan Costra Land, Ester terus memburunya dengan pertanyaan. Sehingga Ally akhirnya menceritakan semuanya.
"Aku sangat senang kau berada di sini, Sayang. Tapi jika memang kau di cari oleh Tuan Rico, maka tidak aman kau berada di sini. Tuan Rico terkenal baik dan murah hati. Tapi ia juga bisa bersikap mengerikan. Para gadis tergila-gila sekaligus takut padanya. Pabio mengatakan pria itu akan menggunakan segala cara jika ia menginginkan sesuatu. Ayahmu sudah menyerahkanmu untuknya. Ia menunggumu sampai umurmu layak ... dan kemudian kau melarikan diri. Aku yakin hanya masalah waktu sampai Carloz memberitahunya dan ia mencarimu."
Ally bergidik mendengar ucapan Ester.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ally.
"Nak ... Kenapa tidak kau temui saja Tuan Rico? Dia memang terkenal punya banyak kekasih. Tapi yang kuketahui, ia belum beristri. Mungkin memang ia menunggumu, Nak." ucap Ester.
Ally tiba-tiba tertawa. Rasa takutnya mencair ketika mendengar ucapan Ester.
"Kenapa kau malah tertawa?" tanya wanita tua itu.
"Ester ... Aku hanyalah anak seorang pemetik anggur. Pekerja harian di perkebunan Tuan Costra. Aku tidak berasal dari kalangan mereka. Seorang gadis desa yang tidak punya apapun ... Carloz sudah mengatakan padaku, aku akan diserahkan untuk dijadikan wanitanya, aku tahu itu artinya adalah simpanan ... Aku akan menolaknya selama aku masih bernafas!" tegas Ally.
"Jika kau dijadikan simpanan. Lalu bagaimana jika statusmu sebenarnya akan dijadikan seorang istri?" tanya Ester serius. Namun Ally kembali tergelitik geli.
"Itu tidak mungkin ... tapi jikapun itu benar. Aku tidak tertarik ...." ucap Ally yakin.
"Kenapa, Nak?" Ester menyadari Lucius telah berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka. Tapi wanita tua itu diam saja.
"Hatiku bukan milikku lagi ... Jika Tuan Rico menginginkannya, ia sudah sangat terlambat." Ally tersenyum, mata biru pucat itu menjadi sendu.
Ester menepuk lengannya, lalu mencium pipi gadis itu, "Aku akan beristirahat. Kau juga ,Sayang. Beristirahatlah." ujarnya.
Ally mengangguk, kembali menatap televisi setelah kepergian Ester. Hanya bertahan beberapa detik, ia mengambil remote lalu mematikan TV.
Ally berdiri dan melangkah menuju teras depan. Ia keluar menyambut angin malam yang meniup sulur tanaman merambat yang menghiasi bagian atas seputaran beranda itu.
Ally menumpukan kedua tangannya pada pagar beranda. Menatap langit di kejauhan, kembali pertanyaan Ester bergema di kepalanya.
Apa yang akan kau lakukan jika Lucius sudah waktunya untuk pulang, Ally?
Tanpa Ally sadari, Lucius yang sudah turun dari lantai dua dan mendekati Ester dan Ally yang tengah mengobrol, mendengar percakapan mereka.
Lucius berterimakasih dalam hati, Ester yang menyadari kehadirannya tidak memberitahu Ally. Lucius ingin tahu perasaan gadis itu. Dan sekarang ia menjadi sangat penasaran, jantungnya berdebar dengan ekspektasi.
Aku harus tahu siapa yang sudah mencuri hatimu ... hingga kau mengatakan hatimu itu bukan milikmu lagi ...
Perlahan dan tanpa suara, Lucius membuntuti langkah Ally ke arah beranda depan. Ia berhenti di tengah-tengah pintu yang dibiarkan Ally terbuka. Cahaya temaram menghiasi beranda, gadis itu terlihat menyangga tubuhnya dengan berpegangan pada pagar beranda dan mendongak menatap langit malam. Sedikitpun tidak menyadari kehadirannya di sana.
**********
From Author,
Ayo Lucius, buat Ally mengakui hatinya tercuri olehmu. Aku mendukung ... kirim hadiah kesini kalau ia sudah mengaku yah😝😝😝😝😉😉😉
Jangan lupa love, like, komentar, bintang lima dan vote ya my Readers.
Ribuan terimakasih juga Thor mau sampaikan pada para Readers sekalian atas apresiasinya terhadap semua karya thor. yang belum berkunjung, mampir juga di karya thor berikut ya:
*Passion Of My Enemy
*Embrace Love
Terimakasih semua....
Salam, DIANAZ.