
Lucius bergerak pelan, sengaja membuat langkah nya mengeluarkan suara. Ally menoleh dengan tangan masih memegang pagar beranda.
"Lucius? Kenapa kau belum beristirahat?" tanya Ally. Lucius melangkah dan berdiri di sampingnya.
"Kau sendiri? kenapa menyendiri di sini?" Lucius masih bersedekap. Menatap di kegelapan di luar sana. Ally hanya diam, ia merasa terjebak di sana, memikirkan alasan untuk segera berlalu dan pergi dari beranda.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kau menjaga jarak dari ku bukan? Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" Lucius bergerak dan menghadap ke arah Ally, kedua tangannya masih berlipat di depan dada.
Ally mendongak menatap mata hitam yang tidak terlihat di balik bayang-bayang itu. Ia tersenyum kaku, mencoba mencairkan suasana. Lucius tampak mengintimidasi dengan sosoknya yang bersedekap dan menatap seolah tidak akan membiarkan Ally lolos. Tanpa sadar, Ally mengintip di balik bahu Lucius.
"Jangan berfikir kau dapat melarikan diri sebelum menjawab pertanyaanku." ucap Lucius.
Ally kembali tersenyum kaku. Sekarang gadis itu melepaskan pegangannya di pagar dan mulai menjalin jari-jarinya.
"Tidak ... Aku tidak memikirkan itu,"ucap Ally berbohong.
"Kau tidak pandai berbohong. Jawab aku sekarang."
Ally kebingungan, Lucius menunggu, tidak akan pergi sebelum ia menjawab pertanyaan itu. Ia tidak mungkin mengatakan ia menjaga jarak agar hatinya tidak merasa sakit, hatinya yang tanpa sadar telah dicuri oleh laki-laki itu, sehingga dengan mudahnya tergores, berderak dan mungkin nanti akan patah, bila ia terus membiarkan angannya akan kedekatan dengan Lucius makin berkembang. Sedangkan Lucius sudah punya seorang gadis yang ia cintai ... Marie.
Lucius melangkah maju, selangkah, sambil masih bersedekap. Ally mendongak, mereka saling menatap. Lucius melangkah lagi. Selangkah. Kali ini Ally terpaksa mundur karena tubuh mereka terlalu dekat.
"Jawab aku," tegas Lucius lagi.
Ally masih diam, membuat Lucius kembali melangkahkan kaki, Ally kembali mundur.
"Luc ... Lucius. Jangan bergerak lagi." ucap Ally.
"Jawab aku, Alison Adair." kali ini Lucius mengucapkan nama Ally dengan lengkap, Ally menelan ludah. Ia kembali mundur ketika kaki Lucius melangkah lagi.
"Hei ... tidak perlu seperti ini. Hanya perasaanmu saja aku menjaga jarak," ucap Ally dengan nada ceria yang di buat-buat.
"Jawab aku, Ally." kali ini suara laki-laki itu terdengar serak di telinga Ally. Ally menyadari ia terperangkap ketika kakinya yang melangkah mundur terbentur pada pagar pembatas beranda.
Lucius berdiri menjulang di hadapan gadis itu, masih bersedekap. Ia memajukan tubuhnya, membuat Ally terpaksa memundurkan tubuhnya ke belakang, sejauh yang ia bisa.
"Gadis bodoh ... mau mematahkan pinggangmu ya," ucap Lucius geli. Ia mengulurkan tangan, memerangkap Ally di kiri dan kanan tubuh gadis itu. Lalu ia berpegangan pada pagar beranda. Sengaja menangkap dan memerangkap Ally dengan kedua lengannya. Ia akan membuat gadis itu jujur dengan hatinya dan akan mengatakan isi hatinya sendiri pada Ally.
Ally menatap lengan dengan ujung kemeja yang di gulung itu. Sebelah kiri, lalu sebelah kanan. Kemudian ia mengerutkan dahi.
" Lepaskan tanganmu!" ucapnya tegas.
"Jawab dulu pertanyaanku ...." ucap Lucius lembut. Ia menghidu dan tercium aroma vanilla dari tubuh gadis itu. Ia ingat Ally membuat kue sebagai pencuci mulut, beraroma vanila seperti yang tercium oleh hidungnya sekarang. Aroma yang membuat selera Lucius terbit dan akhirnya memakan kue itu, terasa lembut ... manis ... memuaskan lidahnya. Aroma Ally membuat Lucius berfikir yang tidak-tidak, apa gadis ini akan semanis itu jika nanti ia memilikinya?
"Ap ... Apa yang kau lakukan," suara Ally terdengar panik. Lucius tidak peduli. Ia meletakkan bibirnya ke sisi kepala gadis itu, lalu mengecup, kemudian berpindah kebawah telinga, kembali ia menjejakkan satu kecupan.
Ally gemetar, ia merasa sangat lemas, Ally mendorong lengan Lucius untuk membebaskan diri.
Lucius melepaskan pegangannya pada pagar, membuat Ally melihat kesempatan untuk lari. Tapi baru selangkah ia bergerak, telapak tangan lebar lucius sudah menangkap pinggangnya.
"Mau kemana Alison? Kau belum menjawab pertanyaanku."
Kali ini kedua lengan Lucius memerangkapnya lebih erat. Tangan itu tidak lagi berpegang pada pagar pembatas, tapi melingkar dan memeluk pinggangnya dan membuat tubuh mereka menempel.
"Lucius ... Apa yang kau lakukan," bisik Ally gemetar.
"Melakukan apa yang selalu ingin Aku lakukan sejak pertama melihatmu," bisik Lucius serak.
Ally mendongak, ia tersihir pada mata hitam segelap malam yang menatap intens, berkilat menatapnya.
Satu tangan Lucius berpindah, menangkup belakang kepala Ally, seolah menahan kepalanya agar tidak menjauh.
" Kau bertanya apa yang aku lakukan? Ini ... Aku akan melakukan ini ...." kemudian perlahan Lucius memajukan wajahnya, memaku mata biru yang terbelalak menatapnya.
Lucius mencium Ally, melakukan apa yang sudah lama ingin ia lakukan, tapi selalu ia tahan. Malam ini ia membebaskan keinginannya, memagut dan mencecap gadis itu sepuas hatinya. Jantungnya berdebar, darahnya memanas. Lucius mengeratkan pelukannya pada pinggang gadis itu dan mendorong bekapannya pada belakang kepala Ally. Sehingga gadis itu terperangkap, hanya bisa menerima ciuamannya.
Ally tidak dapat bergerak, Jantungnya bertalu, tubuhnya melemas. Jika saja lengan laki-laki itu tidak menyangga pinggangnya, ia akan jatuh seperti boneka kain.
Lucius memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman, memancing gadis di pelukannya membalas. Lalu ia mendengar suara itu, desahan halus bagai nyanyian di telinga Lucius. Desahan Allynya ....
Setelahnya Lucius mengangkat kepalanya, menempelkan keningnya pada kening Ally, mengatur nafasnya sendiri, berusaha memadamkan gairahnya yang bangkit. Ia tidak menyangka ia membuat dirinya sendiri terbakar.
"Ally?" Lucius mengernyit. Tersadar jika ia memaksakan ciuman itu pada Ally.
"Jangan lakukan ini padaku. Kau membuatku sakit hati," ucap Ally, kembali putus asa.
"Sakit hati? Tapi kenapa? Aku menciummu tanpa izin?" tanya Lucius. Ia menghapus airmata yang menetes di pipi gadis itu dengan ujung jarinya.
"Katakan ... bagian mana yang kulakukan yang telah membuatmu sakit," ucap Lucius lembut.
"Jangan bersikap lembut padaku! Jangan mendekatiku! Jangan menciumku!" seru gadis itu.
"Kenapa? Kenapa Aku tidak boleh melakukannya?"
"Karena kau akan mematahkan hatiku, Lucius! Tidakkah kau mengerti? Kau memasuki hidupku lalu mulai mengisi hatiku, Jangan beri aku harapan. Aku bisa bertahan jika kau menjaga jarak dan menjauh. Tapi aku tidak akan bisa menahannya jika kau terus bersikap baik. Aku akan mulai mengharapkan lebih ...."
"Harapkan saja, itu juga yang aku inginkan," Lucius menunduk, menatap bibir ranum yang terlihat sedikit bengkak karna ulahnya tadi.
Tangan Ally yang menempel di dada Lucius menggenggam, membuat kemeja pria itu tertarik kusut dalam genggamannya.
"Aku menolak jadi simpanan Rico ... Atau pria manapun, Lucius! Termasuk dirimu! Sebaik apapun kau bersikap!" desis Ally.
Lucius menaikkan kedua alisnya," Dan siapa yang mengatakan padamu kalau aku akan menjadikanmu simpanan?"
"Kau sudah punya kekasih,Lucius!" kali ini Ally berteriak, emosinya tersulut melihat sikap pria itu.
"Kekasih? Siapa? Aku saja tidak tahu kalau aku punya ...." Lucius terlihat tersenyum, membuat Ally sangat jengkel.
"Marie! Aku mendengarnya! Kau mengatakan kau mencintainya!"
Lucius terdiam. Ia menatap dan berfikir tentang bayi mungil bermata abu-abu yang membuatnya jatuh cinta.
"Ah, kau benar ... Aku sangat mencintainya," ucap Lucius manis.
Airmata Ally makin deras mengalir, ia terisak.
"Jadi kau mengakuinya ... Sekarang pergilah ... Aku mohon ... Jauhi aku ... Aku berterimakasih kau menolongku dan memberiku pekerjaan,"
Gadis itu menunduk, terlihat menyedihkan dan rapuh. Lucius kembali memeluknya, mengangkat dagunya dan menghapus airmatanya.
"Jangan menangis Ally ... Maafkan aku membuatmu meneteskan airmatamu hari ini. Aku berjanji tidak akan mengulanginya ...."
"Jangan membujukku! Aku hanya ingin kau pergi!" teriak Ally putus asa.
"Dan Aku hanya ingin kau selalu berada di sisiku Alison Adair! Aku tidak akan kemana-mana! Salahmu sudah membuatku jatuh cinta setengah mati!"
Lucius menatap, menunggu kata-katanya meresap di fikiran Ally, mata biru cantik itu membelalak terkejut.
"Ya, Alison ... Aku mencintaimu ... Tidak ada kekasih. Kau cemburu pada seorang bayi, Allyku Sayang ...."
Lalu dengan tertawa geli, Lucius mengangkat tubuh Ally ke pelukannya, sebelum mencium gadis itu dengan hati bersorak dan mengembang bahagia. Mengetahui dirinyalah yang telah mengisi hati gadis cantiknya yang bermata indah serta menakjubkan itu.
Cast: Alison Adair or Ally
**********
From Author,
Aihhhhh...Elu Bang..... akunya berflower ni bang. Tanggung jawab banggggg....😘😘😘😍😍💞💞
Jangan lupa like, love, komentar, bintang lima, dan vote ya my readers....jadi vitamin penyemangat Author untuk up lebih banyak...
Eh, ini belom tamat loh ya.... Rico blum ketemu mereka, lance masih di buat galau, cecil masih mikir cara menangkap Lance... So, ikutin terus LS season 2.
Luv you all my readers....
Terimakasih,
Salam,DIANAZ.