Love Seduction

Love Seduction
Chapter 62. The Wedding



Ally tersenyum gugup pada Cecilia yang tampak cantik dengan gaun bridesmaid berwarna pink pucat. Gaun pengantin Ally yang dipesan khusus oleh Enrico membuat Ally tampak berkilau dan semakin cantik, Gaun tulle berwarna putih dengan aksen renda perancis dan taburan kristal swarovski dibagian bawahnya membuat tampilan Ally bak seorang putri.


"Apakah ini tidak berlebihan Cecilia? Aku ... Aku merasa aneh."


"Kau merasa aneh? Kau sangat cantik seperti putri raja. Lucius akan berliur ketika memandangmu nanti."


Ally menyunggingkan senyum ketika mendengar kata berliur.


"Kau membuat aku terdengar seperti makanan," ucap Ally merasa geli.


"Oh, memang seperti itu adanya, Ally! Kau akan menjadi makanan untuk Lucius nanti malam! Dia akan melahapmu, me ...."


"Berhenti menakuti dan membuatnya makin gugup, Nona Damario ... kau sama sekali tidak membantu." Enrico bersandar di pintu ruangan yang sudah terbuka.


Ally makin gugup setelah melihat walinya tersebut.


"Sudah waktunya?" tanya Ally.


Cecilia terkikik geli, " kau mudah sekali percaya ... Hari ini Lucius akan berjanji untuk mencintaimu dan menjagamu sampai maut memisahkan. Kau juga sangat mencintainya kan? Jadi apa yang kau takutkan? Nikmati semuanya dan tersenyumlah ... berbahagialah ... Karena jika boleh memilih, aku juga ingin melakukannya dengan Lance sekarang ini." Cecilia mengakhiri ucapannya dengan terkekeh geli.


"Dan membuat Ayahmu kena serangan jantung! Dasar gadis jahil ... Ayo Ally ...." Enrico memberikan sikunya untuk digandeng Ally.


Ally tersenyum bahagia, ucapan Cecilia benar. Ia tak perlu jadi segugup ini, ia akan tersenyum dan menikmati pernikahan dengan pria yang sangat ia cintai.


**********


Langkah kaki Enrico dengan mantap dan perlahan membawa gadis perwaliannya melewati lorong yang dipenuhi keluarga dan juga para jemaat penduduk desa kecil tempat pernikahan Ally diselenggarakan. Semua orang itu berdiri ketika mereka tiba dan melangkah perlahan ke arah Lucius yang sudah menunggu.


Mata Ally membesar dan warna biru jernihnya terlihat jadi lebih pekat, ketika ia memandang pria tampan dengan rambut pendek dan berlian berkilau di telinga kiri. Pria dengan setelan berwarna hitam tersebut balik memandang dengan mata hitamnya yang berkilat. Senyum memuja tersungging di bibir pria itu.


Enrico melirik dan berpandangan dengan Derek dan Amy yang mengangguk dengan tersenyum. Mike dan Reggie yang memandang Ally dengan wajah bahagia, lalu tuan Eloy, yang tidak bisa membendung airmatanya sejak datang dan memandang Lucius yang akan menikah dengan Lance yang berdiri di belakangnya sebagai pendamping.


Prosesi sakral itu berlangsung hikmat, membuat beberapa wanita sampai menitikkan air mata. Termasuk pengantin wanita. Ally tidak sanggup menahan airmatanya yang akhirnya jatuh ketika selesai mengucapkan janji pernikahan dan saling menyematkan cincin.


Sampai mereka dinyatakan sebagai suami istri, airmata Ally sudah mengalir bahkan sampai menetes dari rahangnya.


Ally menatap mata Lucius yang menatapnya teduh dan memuja, pria itu menunduk, mendekatkan wajah berbisik di bibirnya sebelum menciumnya di depan semua orang.


"Jangan menangis Allison ...Ada aku bersamamu,"


Lalu mereka berbagi ciuman ditingkahi gemuruh suara tepuk tangan dari seluruh hadirin. Amy dan Reggie menghapus lelehan air mata mereka. Lalu menatap kearah suami mereka masing-masing ketika merasakan bahu mereka dipeluk lengan-lengan yang sangat mereka kenali.


"Jangan menangis Sweety, aku bersamamu," bisik Derek pada istrinya.


"Jangan menangis, Honey, aku bersamamu," Mikepun berbisik ke telinga Reggie.


Dari kejauhan, Cecilia menatap Lance dengan tatapan memuja, membayangkan pernikahannya sendiri dengan rasa tidak sabar. Kepala gadis itu sedikit miring dengan tangan memegang sebelah pipinya.


Lance memaku mata Cecilia dan merasakan detak jantungnya makin kencang bak suara genderang.


Jangan tatap aku seperti itu Cecil. Atau kita akan berakhir dengan rencana menikah kilat ....


**********


Resepsi meriah yang di adakan Enrico di desa berakhir lancar dan dinikmati semua orang. Namun Enrico pulang dengan keadaan sedikit jengkel. Pasalnya beberapa karyawan, pengawas dan pekerja perkebunannya tak henti menanyakan kapan ia sendiri akan menikah.


Pasangan Ally dan Lucius pulang ke mansion Costra di iringi oleh seluruh keluarga mereka. Sebuah mobil sudah disiapkan dengan seluruh keperluan mereka ada di dalamnya. Mereka akan langsung berangkat ke hotel mewah Enrico berjarak tiga jam perjalanan dan menunggu di sana sembari menikmati malam pertama. Setelahnya pagi-pagi sekali seluruh keluarga akan datang menyusul dan bersiap menghadiri resepsi yang akan diadakan malam harinya dengan undangan teman bisnis, kolega dan teman-teman Enrico.


Setelah memeluk dan mencium seluruh anggota keluarga, Lucius dan Ally masuk ke belakang mobil, Lance juga berpamitan karena dirinyalah yang akan mengantarkan pasangan pengantin baru itu.


Cecilia mengerucutkan bibirnya sambil menatap Lance.


"Apa aku tidak boleh ikut?" tanyanya berharap.


"Tidak Cecil! Kau pergi bersama kami besok pagi!" Derek menjawab pertanyaan gadis itu


"Apa bedanya kalau aku pergi sekarang?" ucap Cecilia sambil menoleh ke arah Derek dengan bersungut-sungut.


Lance tertawa, mengulurkan tangan dan memegang dagu Cecilia. Memutar kepala gadis itu agar memandangnya.


"Derek benar, kau pergi bersama mereka besok. Aku mesti mengurus beberapa hal. Jadi tidak akan bisa menemanimu ...." Lance menunduk dan mengecup kecil bibir Cecilia sebelum masuk ke belakang kemudi.


Mobil itu berlalu meninggalkan halaman mansion. Cecilia termenung menatap sampai mobil tidak lagi terlihat.


"Ayo, Cecil. Kita masuk. Kita mengobrol dengan Keluarga Sanchez. Mereka akan bersantai dulu di sini sebelum pulang ke rumah perkebunan. Besok, kita semua akan berangkat dan bertemu dengan Lance lagi," Amy menghela bahu Cecilia dan menariknya agar ikut masuk ke dalam mansion.


Di dalam mobil, Lucius menatap belakang kepala Lance dan bertanya,


"Apakah kau menyiapkannya seperti rencana kita, Lance?"


"Tentu. Kau akan langsung kuantar ke bandara besok pagi," ucap Lance.


Ally yang bersandar di bahu Lucius mengerutkan kening, " bandara? Kenapa kita ke sana?"


Lucius terkekeh, lalu memeluk bahu Ally dan mencium puncak kepalanya.


"Karena kita akan terbang, Ally ...." Kembali Lucius tertawa, disambut Lance yang ikut terkekeh geli.


Mereka tiba di hotel saat malam telah lama merangkak naik, Ally tampak lelah dan dilanda kegugupan sepanjang perjalanan. Lucius membimbing istrinya masuk kamar dan memikirkan cara apa yang bisa membuat gadis itu sedikit rileks. Ia akhirnya menyiapkan bathtub dan mengisinya dengan air hangat.


"Mandilah ... Aku akan keluar sebentar mencari Lance," ucap Lucius. Ally mengangguk dan tampak makin gugup. Namun ia mengikuti saran Lucius dan memanjakan dirinya dengan air panas dan sabun wangi. Aroma therapi dari sabun tersebut sedikit menenangkan sarafnya yang merasa gugup karena memikirkan malam pertamanya.


Ally berbaring ke atas ranjang selagi menunggu Lucius, rasa kantuk akhirnya mendatangi kelopak matanya. Kelelahan setelah berbagai acara dan juga menempuh perjalanan membuatnya dengan cepat terpejam.


Lucius tiba ke kamar, lalu memandang istrinya yang tertidur dengan memeluk bantal. Ia menaikkan kedua alis dan dengan menggaruk kepala, ia masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi, Lucius mendekat dan menatap ke arah tempat tidur, tapi istrinya masih terpejam. Dengan satu tarikan nafas panjang, Lucius merebahkan tubuhnya di samping Ally. Mencoba menjaga jarak dengan meletakkan sebuah bantal di tengah-tengah mereka.


"Aku harus tahan ... Dia lelah ... yang harus kulakukan adalah memejamkan mata dan jangan melihatnya." Lucius berbalik, berbaring dengan memunggungi Ally.


"Ya Tuhan ... Semoga pagi cepat menjelang ...." bisiknya lirih.


*********


Enrico melihat jam tangannya dan memandang Lance. Mereka tiba ke hotel dan Lance mengatakan Ally dan Lucius sedang pergi jalan-jalan, namun sampai matahari akan tenggelam, pasangan pengantin itu tidak juga kembali.


"Jangan bilang dia menculiknya lagi," ucap Enrico.


Lance terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya.


"Aku tadi sempat bertaruh kau akan tahu beberapa saat setelah tiba. Ternyata tidak ... Pasangan itu sudah pergi berbulan madu!" ucap Lance sambil tertawa.


"Sudahlah ... kita nikmati saja pestanya," ucap Mike.


"Alasan apa yang harus kukatakan jika mereka bertanya mana pengantinnya!" sungut Enrico.


"Kau katakan saja pengantin prianya tidak mau keluar dari kamar, dan pengantin wanitanya kelelahan sampai tidak bisa berjalan," ucap Derek dengan seringai lebar.


Tawa geli serentak membahana dari mulut Mike, Lance dan juga Enrico setelah mendengar ucapan dari kepala keluarga klan Langton tersebut.


**********


Lucius terbangun, suara ombak terdengar dari arah luar kamar yang ia tempati bersama Ally. Ia menoleh, mendapati Allynya tertidur dengan sebelah tangan di bawah pipi. Kilau lembut kulit telanjang gadis itu kembali menggoda mata Lucius.


Lucius bangkit, menarik selimut dan menutupi tubuh mereka, lalu mendekat dan mendekap Ally ke dadanya. Mereka telah berbagi gairah, Lucius menatap tiap ekspresi yang tergurat di wajah Ally ketika manatap tubuhnya yang penuh parut. Namun yang ia temukan adalah rasa kasih, pemujaan dan juga gairah mendalam yang Ally miliki untuk dirinya.


"Kau sudah bangun?"


Lucius menunduk, menatap Ally yang mendongak menatapnya dengan mata mengantuk.


"Ya ...."


"Apa yang kau fikirkan?"


Lucius tersenyum, lalu bangkit dan menyusun bantal ke belakang punggung. Ia menarik Ally agar bersandar di dadanya dan kemudian melingkarkan lengan ke sekeliling tubuh istrinya itu.


"Aku berencana akan menetap di perkebunan. Rumah itu akan dipugar kembali dan diperbesar. Lalu perkebunan juga akan dibuka kembali. Kita tetap bisa berada di sini bersama Alan."


Ally menatapnya dengan mata berbinar.


"Benarkah? Aku senang sekali ...." sambut Ally.


"Tentu saja kita tetap akan pulang dulu ke mansion Sanchez. Mengurus beberapa hal dan mengenalkanmu pada semua orang."


Ally mengecup rahang Lucius, " Alan akan senang sekali. Tapi apakah tidak apa-apa? Bagaimana dengan bisnis di sana nanti?"


"Ada Lance yang akan menanganinya. Jadi aku akan fokus menjadikan perkebunan ini menghasilkan kembali, tentu saja aku akan belajar dari walimu."


Ally tersenyum, kembali bergelung ke dalam pelukan suaminya. Lama keduanya diam menatap bulan setengah yang menghias langit malam dan menerpa air laut dengan ombak yang tidak henti memecah di pinggir pantai. Pemandangan itu langsung tersuguh lewat jendela lebar kamar tidur mereka.


"Ally?"


"Hmm?"


"Apa kau merasa sakit?"


"Kenapa?"


Lucius tersenyum, lalu menunduk dan ******* bibir istrinya. Setelah beberapa saat baru ia berhenti dan berbisik.


"Karena aku menginginkanmu lagi, Ally."


Ally tidak menjawab, namun lengannya yang terangkat dan bergelayut ke leher Lucius dengan bibir yang mendekat dan kemudian mencium suaminya itu memberitahu Lucius bahwa ia merasakan hal yang sama.


Gemerisik angin bernyanyi memberi latar indah penyatuan kembali dua insan suami istri itu dengan saksi cahaya bulan dan deburan ombak.


-- The End Of Love Seduction Series 1 & 2 --


**********


From Author,


Hai hai semua, begitulah akhir dari kisah cinta Reggie dan Mike serta Lucius dan Ally. Rayuan Cinta yang datang dan akhirnya melingkupi keduanya dengan ujung kebahagiaan.


Akhir kisah, Author ucapan terima kasih banyak buat para pembaca setia LS, so proud of you😭😭😭Aku nangis, gembira, senang, ketawa sendiri, ketika baca komentar para readers semuanya. Terima kasih sudah dukung DIANAZ sedemikian rupa.


Terima kasih banyak pembacaku😘😘😘😘 Mampir juga ke Embrace Love yang sekarang lagi on going, Luv you semua, sekali lagi terima kasiiiiiihhh.


Salam hangat, DIANAZ.