Love Seduction

Love Seduction
Extra Part



Lance baru saja mematikan mesin mobilnya ketika pintu mansion keluarga Damario terbuka lebar. Cecilia berlari dan mendekat ke arah mobil.


"Jangan lari Cecil."


Lance tertawa melihat gadis itu merentangkan tangan dan meminta dipeluk.


"Kau seperti anak kecil." Lance tetap memeluk Cecilia sambil tertawa geli.


Suara batuk dan orang berdeham dari arah pintu membuat Lance melepas pelukannya. Ia menghela bahu Cecilia dan mengajaknya segera mendekat ke arah tuan dan nyonya Damario yang sudah berdiri di teras.


"Selamat malam, Paman Damario, Bibi Marlene," sapa Lance.


Orang tua Cecilia menatap Lance dan tersenyum.


"Selamat malam, Lance. Cecil, Lance tidak akan pergi kemana pun. Dia akan makan malam dengan kita. Jadi jangan kau pegang begitu kuat seolah ia akan lari." Frank Damario menatap putrinya yang menggandeng siku Lance dengan erat, ia menggelengkan kepala berulang kali.


"Ayo masuklah, Lance. Cecilia, bantu ibu menyiapkan meja makan," ucap Nyonya Marlene.


"Tapi , Mom ...." Cecilia hendak protes, namun Lance menoleh dan menyentuh punggung tangan Cecil yang memegang sikunya.


"Pergilah, Cecil. Bantu ibumu. Aku akan bicara dengan ayahmu dulu," ucap Lance.


Dengan sedikit cemberut, Cecilia akhirnya menuruti permintaan itu.


Frank Damario mengajak Lance ke ruang keluarga. Dua pria itu duduk berhadapan sebelum mulai bercakap-cakap.


"Kuharap kau bersabar dengannya," ucap Frank.


Lance tersenyum mendengar ucapan Frank Damario.


"Cecilia gadis yang manja, Lance. Tapi bukan berarti tidak bisa melakukan apapun. Hanya kadang-kadang ... ia bisa menguji kesabaranmu."


Kali ini Lance terkekeh. "Itu membuatnya unik dan sangat menarik, Paman."


"Apakah kau benar-benar mencintainya, Lance? Karena kalau tidak ... Aku memintamu pergi mulai dari sekarang. Lebih baik bagi Cecilia bila ia menerima fakta itu sesegera mungkin."


Lance kembali tersenyum, sangat mengerti jika Frank khawatir dengan putri kesayangan satu-satunya dari keluarga Damario itu.


"Ya, Paman Damario ... Aku mencintai Cecilia," ucap Lance yakin.


"Kau akan menjaganya? Melindungi dan juga menyayanginya?"


"Pasti, Paman. Aku akan melakukannya."


Frank Damario menarik napas panjang, lalu mengembuskannya sebelum berucap,


"Jadi ... kurasa kau tidak akan keberatan jika aku meminta waktu 6 bulan agar kau menunggu. Aku ingin melihat, apakah perasaan Cecilia benar-benar adalah perasaan cinta untukmu. Bukan hanya rasa penasarannya karena ingin mendapatkan orang yang menolak dan bersikap acuh padanya."


Lance terpaku, diam dengan wajah sedikit terkejut mendengar ucapan ayah Cecilia.


"Dan aku juga ingin melihat, apakah perasaanmu untuk Cecilia benar-benar perasaan cinta. Maafkan aku, Lance. Bukan aku meragukanmu. Hanya saja ... kau menolak putriku pada awalnya, Jadi kurasa ... perlu waktu untuk menerima bahwa sekarang hatimu tiba-tiba berubah untuk Cecilia."


Lance menelan ludah, Frank Damario mau mengujinya. Enam bulan, setengah tahun, bukan waktu yang sebentar. Padahal yang ia inginkan adalah menyunting gadis itu jadi istrinya secepat mungkin.


"Bila kau menyanggupi ini, maka aku akan memberi restuku pada pernikahan kalian."


Lance menatap Frank Damario sambil berpikir keras. Cecilia gadis muda yang sangat cantik, bila tidak secepatnya di ikat, siapa yang tahu bila nanti datang seorang Adonis atau bahkan Casanova yang akan membuat Cecilia tergoda dengan ketampanan mereka. Lance tidak akan mau itu terjadi.


"Paman ... aku akan menunggu untuk pernikahannya. Sesuai waktu yang Anda inginkan. Tapi, aku ingin bertunangan dulu dengan Cecilia, Paman dan aku ingin secepatnya melakukan hal itu."


Frank Damario tersenyum lalu setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya mengangguk.


"Tentu Lance," ucapnya kemudian.


"Dad ... makan malamnya sudah siap." Suara Cecilia terdengar memanggil.


"Baiklah, Cecil ... ayo Lance, kita makan malam dulu."


**********


Cecilia menarik sebuah daun dari tanaman hias di taman samping mansion, gerakannya tampak kesal, kembali satu demi satu daun tanaman itu ia tarik lalu buang ke tanah.


"Kasihan tanamannya, Cecil. Kau mau membuat daunnya gundul?" tanya Lance, ia menghampiri gadis yang sedang jengkel itu lalu menghela bahunya dan membuatnya berbalik menghadap ke arahnya.


"Kau menerima permintaan ayah! Harusnya kau menolak. Kita harus menunggu enam bulan untuk menikah!? Itu terlalu lama, Lance! Harusnya kau meminta izin khusus, lalu mengatakan pada ayah kalau kau mau menikahiku besok!"


Lance terkekeh mendengar nada Cecilia yang terdengar bersungut-sungut.


"Tidak sabar lagi mau hidup bersama ku ya?" godanya dengan nada geli.


Cecilia makin jengkel lalu mulai berjalan pergi, bermaksud meninggalkan Lance.


"Cecil ...." Lance menangkap lengan gadis itu, lalu menariknya mendekat, untuk kemudian melingkarkan lengannya ke pinggang Cecilia.


"Ayahmu hanya ingin memastikan bahwa kita benar benar saling mencintai. Aku dulu bersikap seolah tidak menginginkanmu, jadi wajar saja bila ia merasa ragu untuk menyerahkan putri satu-satunya yang paling ia cintai."


"Tapi setidaknya ... kau kan bisa membujuk ayah agar tidak meminta waktu enam bulan. Kau kan bisa memintanya memotong jadi dua atau tiga bulan saja," sungut Cecilia dengan bibir masih cemberut.


Lance tersenyum, lalu menunduk untuk mengecup sekilas bibir ranum yang mengerut kesal tersebut.


"Kita bisa melakukan itu bersama-sama. Membujuknya dengan memperlihatkan jika perasaan kita benar-benar tulus untuk satu sama lain. Kurasa Ayahmu akan melunak dan memahami, lalu mengizinkan kita menikah sebelum waktu enam bulan. Lagipula ... aku sudah mengatakan padanya aku mau kau dan aku bertunangan dulu. Dan ia mengizinkan."


Senyum perlahan terbit di bibir Cecilia. Matanya kembali berbinar ceria menatap Lance.


"Benarkah? Jadi kapan kita akan melakukannya?"


"Kita akan mengumpulkan keluarga kita ketika bertunangan nanti, aku tidak ingin ada yang tidak hadir karena berhalangan, jadi aku ingin waktunya pas untuk semua orang."


Cecilia tersenyum lebar mendengar ucapan Lance.


"Kau memikirkan Lucius dan Ally ya?"


Lance mengelus bibir bawah Cecil dengan ujung jari telunjuknya.


"Ya ...." jawab Lance pelan.


"Kau merindukan saudaramu itu bukan?" Cecilia tertawa kecil.


Lance tidak menjawab, membuat Cecilia yakin jawabannya benar.


"Sudah dua minggu kita pulang sejak acara resepsi pernikahannya. Mereka pasti tengah menikmati bulan madu yang indah, kurasa Lucius lupa padamu karena apa yang tengah ia lakukan sekarang." Cecilia terkikik geli.


"Lupa? Kurasa tidak. Dia meneleponku dengan sederet perintah. Semua hal mengenai proyek pemugaran rumah perkebunan. Dia takut aku lupa dan tidak menyiapkannya. Lalu dengan sengaja memberikan semua yang menjadi tugasnya kepadaku, dengan alasan nanti dia akan sibuk mengurus pemugaran rumah itu. Memangnya untuk apa dia merenovasinya? Dia kan tidak tinggal di sana." Lance berbicara sambil menarik Cecilia untuk duduk ke bangku taman.


Cecilia tersenyum. "Mungkin supaya tempat itu menjadi lebih besar dan bisa menampung lebih banyak orang."


"Ya ... mungkin begitu." Lance mengangguk, menyetujui pemikiran itu.


"Kemarilah ...." Lance mengangkat Cecilia ke pangkuannya, kedua lengannya memeluk Cecilia, lalu ia menengadah ke arah langit.


"Hanya ada satu bintang di sana," ucap Lance.


Kemudian ia menunduk, ketika merasakan usapan lembut jemari Cecilia pada rahangnya. Mereka bertatapan dengan mata berkilau. Cecilia mendongak, mendekatkan bibir ke arah kekasihnya dengan kedua tangan melingkari leher Lance.


Ciuman malu-malu yang lembut itu disambut Lance dengan penuh suka cita, mereka larut dalam pernyataan cinta yang diutarakan lewat setiap pagutan dan tarian lidah. Membuat darah keduanya memanas dengan cepat. Kemudian gerakan tangan Cecilia yang menuruni pelan leher dan bahunya membuat Lance makin memperdalam ciuman. Sampai jemari lentik itu membuka dua kancing teratas kemeja Lance lalu menyusup dan menyentuh dada bidangnya, barulah Lance menghentikan ciuman. Ia menangkap pergelangan tangan Cecilia lalu menjauhkannya dari dalam kemejanya yang terbuka.


"Jangan lakukan itu, Cecil ... atau aku tidak akan bisa menghentikan diriku, lalu akan berakhir dengan ditembak oleh ayahmu di taman ini," ucap Lance setengah bergurau. Setelah beberapa saat saling memandang, keduanya lalu sama-sama tertawa dengan kening saling menempel dan hidung saling menyentuh. Geli dan ngeri membayangkan bagaimana jika Frank Damario menemukan mereka dalam posisi yang aneh dan memalukan di taman itu.


********


Lucius mencium pundak telanjang istrinya yang mengenakan gaun berwarna merah maron.


"Kau sangat cantik. Aku mencintaimu," bisik Lucius, mata mereka bertemu lewat kaca lebar yang memantulkan bayangan keduanya.


"Apa kau tidak akan mencintaiku lagi bila aku sudah tidak cantik lagi nanti?" tanya Ally.


"Tentu tidak, Ally. Kau tetap selalu tampak cantik karena cinta yang ada di hatiku ini. Bagaimanapun dirimu, aku akan selalu mencintaimu."


Ally tampak malu dan juga berseri-seri. Membuat Lucius gemas dengan istrinya itu. Sudah dua bulan sejak pernikahan mereka, tapi Ally masih saja sering merona jika ia menggoda dan mengajaknya bercinta. Membuat hati Lucius makin tergila-gila dan terus menerus menginginkan istrinya itu.


"Kau memakainya ...." Lucius menyentuh kalung dengan bandul berlian yang terpasang di leher Ally.


"Aku paling suka dengan yang ini," bisik Ally.


Lucius tersenyum, lalu kembali mencium bahu Ally. Berlian itu adalah pasangan dari anting yang ia pakai sebelah di telinga kirinya. Lucius mengikatnya menjadi bandul berlian untuk kalung Ally.


"Berliannya tampak kecil bila dijadikan kalung," bisik Lucius.


"Tetap saja ... aku suka memakai yang ini." Ally tersenyum lalu berbalik menghadap suaminya.


"Kita turun sekarang? Semua pasti sudah ada di bawah."


Lucius mengangguk, mereka keluar dari kamar dan bergandengan menuju aula tengah Mansion Sanchez. Di sana sudah ada Mike, Reggie dan juga Marie, lalu Eloy Sanchez yang tengah menepuk dada Lance sambil tersenyum lebar.


"Dia kenapa, Ayah? Apa dia gugup?" tanya Lucius dengan wajah geli melihat ayahnya yang menepuk-nepuk dada Lance.


"Aku tidak gugup," ucap Lance datar.


"Jangan lupa membawa cincinnya," ucap Reggie, mengingatkan kakak tertuanya itu.


"Sudah," ucap Lance sambil menepuk kantong celana tempat ia menyimpan kotak cincin.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang saja. Jangan sampai terlambat. Dia bergerak lambat sekali, sudah dua bulan lebih saling mengucapkan kata cinta dengan Cecilia, tapi baru sekarang bertunangan. Seharusnya sekarang, dia menikah bukannya bertunangan," ejek Lucius dengan sengaja.


Lance menatap datar ke arah Lucius.


"Andai kau tidak membuat keputusan sepihak dengan menyerahkan semua urusan di sini padaku dan tetap tinggal di rumah perkebunan, aku pasti akan bisa melakukannya lebih cepat. Kau membuatku sibuk berminggu-minggu," ucap Lance tanpa ekspresi.


Semua orang tertawa kecil, tahu bahwa Lance sangat kesal dengan keputusan Lucius itu.


"Sudah, sudah. Ayo pergi. Keluarga Damario pasti sudah menunggu." Eloy Sanchez menengahi kedua putranya sambil tersenyum.


Tiba-tiba ponsel Mike berbunyi, Mike segera mengangkatnya ketika melihat nama Derek di layar.


"Ya Derek," sapa Mike.


"Mike ... Katakan pada Lance Luiz. Aku akan memberinya pelajaran jika terlambat! Cecilia sudah sangat gelisah menunggu, gadis itu membuat kami semua hampir gila karena ulahnya! Kakinya seperti tidak pernah lelah bolak-balik mengecek ke halaman mansion!"


Mike terkekeh. "Kami baru saja akan berangkat. Katakan saja Lance sedikit gugup, jadi kami butuh waktu menenangkannya. Tapi jangan resah, kami akan segera sampai."


Mike menutup ponselnya, lalu menatap ke arah Lance. Ekspresi pria itu membuatnya menyeringai.


"Sudah kubilang aku tidak gugup!" ucap Lance tegas dengan rahang berkedut jengkel.


Mike tertawa terbahak mendengar ucapan itu.


"Akhirnya Lance. Ada ekspresi lain di wajahmu selain ekspresi datar," ucap Mike geli.


Eloy tersenyum, lalu segera memerintahkan anggota keluarganya segera menuju mobil dan berangkat ke kediaman Damario.


**********


Cecilia tersenyum lebar ketika cincin Lance sudah melingkari jemarinya. Ia menerima ciuman di pipi kiri, kanan, lalu kecupan kecil di bibir dari kekasihnya itu. Cecilia cukup puas dengan kecupan, ia dan Lance berjanji hanya berbagi ciuman mesra dan panas jika mereka hanya berdua saja.


Tepukan gembira membahana di aula Mansion Damario. Semua orang mengucap selamat pada Lance dan Cecil, dengan doa agar keduanya akan menikah pada hari yang akan ditentukan nanti tanpa kendala apapun.


Reggie mendekat ke arah Ally dan mengajak bicara iparnya itu.


"Ally, aku sudah membelinya," ucap Reggie.


"Kau membawanya sekarang?" tanya Ally antusias.


Reggie mengangguk, lalu menyerahkan sesuatu kepada Ally yang langsung memasukkan benda itu ke dalam tas.


"Aku akan melakukan tesnya besok pagi," ucap Ally.


"Kenapa tidak memberi tahu Lucius? tanya Reggie.


"Ini belum pasti, aku takut hanya terlambat saja, bukan karena hamil. Nanti kalau ini positif, baru aku akan memberitahunya dan meminta ia mengantarkan aku ke dokter," ucap Ally.


"Telepon aku apapun hasilnya nanti ya," pinta Reggie.


"Tentu, dan terima kasih mau membelinya untukku. Aku tidak bisa membelinya sendiri tanpa ketahuan Lucius," ucap Ally.


Reggie terkekeh. "Ia mengikuti kemanapun kau pergi, bukan begitu?"


"Siapa?" Suara Lucius membuat dua wanita itu kaget.


"Huh! Kalian membicarakan aku ya!" ucap Lucius sambil bersedekap.


"Ti ... tidak! Kami membicarakan Alan! Bocah itu biasa mengikuti kemanapun aku pergi. Tapi sekarang, ia memilih tidak ikut dan tinggal bersama Enrico. Seolah semua kegiatan dengan Enrico lebih menarik daripada apapun saat ini." Ally mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan adiknya.


Lucius menyipitkan mata, membiarkan saja dua wanita itu lolos. Ia tadi melihat dari kejauhan ketika Ally memasukkan sesuatu ke dalam tasnya. Pemberian dari Regina. Ia akan memeriksanya saat pulang nanti.


*********


Lucius mendekatkan wajah ke arah Ally yang tertidur nyenyak. Ia menyeringai karena istrinya itu sudah terpejam dan lelap.


Perlahan Lucius masuk ke dalam walk in closet dan memeriksa tas yang tadi Ally pakai. Kernyitan menghias kening Lucius ketika ia membaca kemasan aneh yang ia temukan, lalu matanya membulat ketika menyadari untuk apa benda itu sesungguhnya. Senyum lebar segera terbit di wajah Lucius. Ia meletakkan benda itu kembali ke dalam tas lalu melangkah kembali ke ranjang.


Bertubi-tubi ia menghadiahi wajah Ally dengan ciuman, membuat Ally merengek dan mendorong dadanya dengan mata masih terpejam. Lucius terkekeh.


"Maaf aku menganggu tidurmu, Ally sayang ...." Lucius berbaring di sebelah istrinya dan mengelus perut datar Ally sambil memejamkan mata dengan tersenyum.


Mimpi indah menghampiri tidurnya malam itu. Tentang seorang bocah lelaki berambut hitam yang tertatih mengejarnya sambil menjerit memanggilnya ayah. Hati Lucius melambung, seperti tubuh putranya yang melayang ketika ia memutar bocah itu. Mereka berputar sambil terus tertawa dibawah cahaya matahari sore di sebuah padang luas penuh bunga, membuat Senyum terbit di bibir Lucius walaupun ia tengah tertidur lelap.


**********


From Author,


Panjang loh ini. Extra Part yang dibuat karena permintaan para Readers. Semoga memuaskan kalian yah😘😘😘


Love you semuanya, terima kasih banyak sudah menyukai Novel ini. Tekan like dan love, bintang lima dan komentar ya. Yang punya poin dan koin, boleh dong vote lagi mereka😘😘😘


Yuk lanjut lagi ke novel author berikutnya Mr. Costra. Tahu kan siapa dia? hehehe


Terima kasih,


Salam hangat, DIANAZ