
"Maksudmu?" Derek membelalak tak percaya. Hatinya berdebar kencang ketika selesai mendengarkan ucapan Mike.
"Kau mendengarnya dengan jelas, Derek." Mike memandang Derek sambil mengernyit.
"Kau serius? Apa kau akan baik-baik saja?" tanya Derek khawatir
"Ya ... aku akan baik-baik saja." Mike telah memutuskan akan mengunjungi mansion keluarganya yang sudah bertahun- tahun ditinggalkan.
"Aku senang akhirnya kau mulai mau membuka hatimu ..."
Mike tersenyum pahit, masih terasa tidak nyaman bila ia mengingat ayahnya di mansion itu. Tapi ingatan pada kakek dan kakek buyutnya membuat Mike merasa amat bersalah. Ia mengubur sejarah tentang keduanya bersama ayahnya dengan cara melupakan nama Eliazar.
"Baiklah. Aku akan menyediakan waktu. Aku akan menemanimu ke sana."
Dengan perasaan bahagia Derek tersenyum dan berterimakasih pada tindakan ayahnya yang sudah memikirkan segalanya. Termasuk memperkirakan bila kejadian seperti ini terjadi, sehingga Derek sudah sangat siap mendampingi Mike untuk moment yang sudah ia tunggu ketika Mike meminta hal ini padanya.
**********
Mansion itu masih tampak sama. Besar dan terawat. Mike turun dari mobil dan membuka kacamata hitamnya. Mata abu-abunya memandang heran. Ia mengira akan melihat tempat mengerikan dimana sebuah mansion yang hampir tertutupi oleh belukar, kotor dan kosong.
Bangunan dihadapannya ini dirawat dengan baik. Di depan sana seorang pria dengan mata berkaca-kaca berdiri tegak bersama barisan pelayan dan pekerja yang menjaga dan merawat mansion.
"Aku mengetahuinya belum lama ini." Suara Derek membuat Mike berpaling.
"Mansion ini tidak pernah ditinggalkan, Mike. Ayah menyuruh mereka menjaga dan merawatnya. Ia berharap suatu hari nanti kau akan kembali ...."
Mike menyipit dan memandang seluruh area itu. Napasnya terasa berat dan sesak.
"Ketika tahu tentang latar belakangmu, aku mencari mansion keluargamu. Oh, sebelumnya aku berusaha dengan Paman Damario, Paman Noel dan Paman Steffano. Tapi kesetiaan dan sumpah yang dipegang oleh orang-orang kita sungguh sangat kuat. Aku tidak mendapatkan informasi apapun." Derek tersenyum. Tiga nama keluarga dari generasi kedua yang bergabung dengan klan Langton. Tiga pria tua itu memegang teguh perintah Erland seperti juga keluarga lainnya untuk tidak lagi menyebutkan nama keluarga Eliazar.
"Aku pergi ke sini dan menemukan kenyataan ini. Ayah menjaga tempat ini dan masih seperti itu hingga sekarang. Kau lihat Kepala Pelayan itu? Dia mengurus semuanya dan menutup mulutnya untuk memberitahumu. Berharap kau membuka hatimu dan kembali sendiri kemari, rumahmu ...."
Mike mengaitkan kacamata hitam yang ia pegang ke kemejanya. Dengan mengembuskan napas, ia melangkah, mendekati halaman mansion, lalu berhenti di hadapan pria tua yang berdiri paling depan di barisan itu. Pria itu mulai membungkuk.
"Jangan lakukan itu Leigh. Aku bukan lagi ...."
Tapi pria itu memotong kata-kata Mike.
"Kau akan selalu jadi Tuan Muda bagi kami, Tuan Michael." Setetes air mata mengalir dari sudut mata Leigh tua yang membungkuk di hadapan Mike.
Mike memegang bahu pria tua itu. Ia mengangkatnya berdiri dan memandangnya sambil menelan ludah.
"Maafkan aku, Leigh ...." Lalu Mike mendekap pria yang sudah menua dengan kesetiaan yang tiada luntur untuk keluarga Eliazar itu. Leigh menahan isakannya.
"Bertahun-tahun aku menunggu hari ini. Aku percaya Anda akan kembali ... dan aku benar. Kesabaranku membuahkan hasil. Aku melihat Anda menginjakkan kaki ke mansion ini lagi." Dengan suara serak Leigh mengangkat tangannya dan balas mendekap Mike.
Mike memejamkan mata, sungguh banyak yang ia buang ketika ia membuang nama ayahnya. Ia membuang jasa kakek buyutnya yang sudah berkorban nyawa untuk Klan Langton, melupakan kakeknya yang merekrut dan meluaskan klan bersama Steve Langton kakek Derek.
Beberapa pelayan dan pekerja menghapus lelehan air mata yang menuruni pipi mereka melihat pemandangan itu.
Mike menelan ludah, lalu mulai bergerak dan menyapa para pekerja dan pelayan yang sudah turun temurun mengabdi di keluarga Eliazar.
Derek mengiringi beberapa langkah di belakang Mike. Ketika memasuki mansion, Mike berkeliling aula besar utama, beberapa furniture sudah diganti dan ditata dengan desain terbaru, begitu juga dengan beberapa ruang tamu dan ruang santai.
Di ruang santai keluarga Mike berhenti. Ia berdiri di hadapan foto besar seorang pria yang berdiri gagah dengan ekor jas panjangnya yang menggantung di tarik oleh seorang bocah kecil yang terlihat mengernyit. Kakek buyut dan kakek Mike. Wajah bocah kecil itu mengingatkannya pada dirinya sendiri ketika masih kecil.
"Kuharap Anda tidak hanya sekedar berkunjung. Aku harap anda memikirkan untuk menetap ...." Suara pelan Leigh membuyarkan lamunan Mike. Derek hanya diam mendengarkan.
"Entahlah Leigh. Mungkin ... suatu hari nanti," jawab Mike pelan.
Leigh mengusap matanya. "Itu jawaban yang cukup untuk sekarang, Tuan. Saya akan menunggu."
Lalu Leigh berpamitan. Memberikan privacy pada dua tuan muda itu untuk berbicara .
"Pulanglah, Mike. Buka hatimu dan gunakan lagi namamu yang sebenarnya. Kembalikan posisi dan kehormatan keluargamu, kakek dan kakek buyutmu berhak mendapatkannya. Kau akan terkejut *B*ig brother ... kau akan melihat, tidak ada yang melupakan kebesaran Eliazar. "
Setelah terdiam lama, Mike baru menyahuti Derek.
"Aku akan memikirkannya ...."
Derek tersenyum mendengar jawaban itu. "Seperti yang Leigh katakan, itu saja sudah cukup untuk sekarang. Kami akan menunggu, Mike."
**********
Eloy Sanchez dan putranya Lucius terhenyak mendengar kata-kata yang diucapkan Regina.
"Maksudmu ... kk--kau ...." Lucius terbata.
"Le ... gina ... ibu ...." Eloy pun kesusahan mengucapkan kata yang ingin ia ucapkan.
"Kau mempercayaiku sekarang untuk bertemu dengannya?" ucap Lucius.
Regina mengangguk mantap dan tersenyum lebar.
"Berjanjilah kau akan berkata-kata yang baik padanya. Kau sudah mengatakan padaku kalau kau sudah memaafkannya."
Lucius menelan ludah. Ia melirik ayahnya yang sedikit syok mendengar nama wanita itu kembali di sebutkan. Terlihat antusias dengan rencana pertemuan yang diutarakan Reggie.
"Kurasa besok bisa kan?"
Lucius mengangguk cepat. Melirik lagi ke arah ayahnya yang juga tengah mengangguk berulang kali.
********
Mobil mereka melaju menembus jalanan padat, lalu beralih menuju jalanan yang lebih sepi dengan kendaraan. Sebelumnya Reggie meminta berhenti dan membeli tiga buket bunga mawar. Ia mengatakan untuk diberikan pada ibunya nanti. Lucius diam dengan jantung berdebar. Ia duduk di belakang mobil berdua Regina dan ayah mereka di depan.
"Kau gugup?" Reggie menggenggam tangan kakaknya sambil tersenyum. Lucius hanya menggeleng.
"Mommy akan senang sekali bertemu denganmu ...." Reggie bersandar di bahu kakaknya dan memejamkan mata.
Kami datang Mom ....
"Daerah ini merupakan tanah Sky ...." Lucius memecah keheningan. Reggie mengangguk.
"Kau benar. Sedikit lagi kita sampai."
Lucius mengernyit memandang daerah sunyi dengan pepohonan sebelum akhirnya mereka berhenti di sebuah gerbang besi.
Jantung Lucius berdebar.
Ini ... hatinya mencelos.
Reggie turun dan menunggu sopir mereka menurunkan kursi roda ayahnya dan ketika sang ayah sudah duduk mantap di sana, ia mendorong gerbang besi, terus melangkah mendorong kursi roda ayahnya di sepanjang jalur kecil jalan beton yang dibuat diantara petak-petak makam.
Eloy sudah menangis di kursi rodanya mulai dari memasuki komplek pemakaman itu. Lucius menelan ludahnya berkali-kali Merasa sangat hampa dan kosong. Kemarahan yang sudah hilang di hatinya kembali menguar.
Mereka sampai di sepasang makam bertuliskan nama Arthur Sky dan Greta Sky. Reggie meletakkan dua buket mawar yang ia bawa satu untuk masing-masing makam.
"Aku datang ... maafkan aku tidak ke sini bersama Amy. Putri kalian sehat dan baik-baik saja. Cucu kalian juga sudah sangat pintar. Ia hobi berlari ke sana kemari dengan kaki kecilnya."
Reggie memejamkan matanya sesaat. Mengingat wajah tuan Arthur dan *M*other Greta di pikirannya.
Lalu ia berbalik dan tersenyum pada Lucius yang memegang kursi roda ayahnya. Reggie melihat pemahaman di mata ayahnya dan juga Lucius. Reggie lalu mengajak mereka bergerak menuju sebuah makam tak jauh dari makam Greta Sky.
"Mom ... aku datang ... Kakak bersamaku ...." Reggie berlutut di depan makam ibunya. Air matanya mengalir deras.
"Kau bisa mengatakan padanya sekarang, Mom ... apa yang tidak sempat kau sampaikan sebelum kau pergi. Jangan takut, Mom ... Ia berkata padaku ia sudah memaafkanmu. Bukan begitu kakak?"
Reggie menoleh menatap Lucius yang masih berdiri disamping kursi roda ayahnya.
"Aku juga datang bersama Ayah ... kurasa Ayah merindukanmu. Bukan begitu, Dad?"
Eloy Sanchez memajukan kursi rodanya. Air matanya mengalir menatap nisan istrinya yang ternyata telah tiada. Penyesalan Eloy karena tidak segera mencari Marinna ketika ia hilang membuat Eloy merasakan penderitaan selama bertahun-tahun.
"Anna ... maaf ... kan ... aku ...." Kesulitan ayahnya mengucapkan kata-kata membuat Eloy berhenti, hanya matanya yang tidak berhenti mengalirkan cairan bening penyesalan. Eloy menunduk, terisak hebat, menyadari waktu mereka benar-benar telah habis. Marinna ternyata sudah lama pergi meninggalkannya.
"Katakanlah penyesalan terdalam dalam hidupmu, Mom ... kau menyesal karena telah meninggalkan putramu demi hidup putrimu. Kau menyesal meninggalkannya, kau ingin memohon maafnya, kau menginginkan pengampunannya ...." Reggie terisak-isak.
Lucius menelan ludah dan membuang pandangannya ke tempat lain. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Beraninya kau pergi dan menyuruh orang lain menyampaikan penyesalanmu. Aku ingin bertemu denganmu, Marinna ... aku ingin memarahimu, mengumpat dan mengataimu. Tapi sekarang ... kau bahkan tidak memberi kesempatan bagiku untuk memelukmu sekali lagi ....
Lucius menarik napas dalam, mengisi paru-parunya yang terasa amat sesak. Ia mulai mengeluarkan kedua tangannya dan melangkah mendekati Reggie. Lucius mengangkat kedua bahu adiknya itu dan membuatnya kembali berdiri.
"Katakan kau memaafkannya ... katakan padanya, Kakak."
Reggie menatap Lucius dengan mata basah. Lucius menarik Reggie kedalam rengkuhannya dan mengangguk. Ia mengangguk berulang kali sambil memeluk erat tubuh Reggie. Air matanya sendiri sudah tidak dapat ia tahan, mengalir deras membasahi lereng pipinya.
"Tidurlah dengan tenang dan damai, Marinna ... aku sudah memaafkanmu ... jangan khawatirkan Regina. Aku dan Ayah akan menjaganya untukmu ...."
Dengan kata-kata itu, Lucius melepas seluruh belenggu dari masa lalunya. Jiwanya seperti disinari cahaya dan ia memejamkan mata. Memeluk Reggie dengan erat disaksikan pandangan haru dari Eloy dan nisan Marinna Hasting yang tegak di hadapannya.
Desau angin yang bertiup seolah saling berbisik menyampaikan kedamaian yang akhirnya meliputi setiap jiwa yang ada di pemakaman itu. Membisikkan pengampunan dan maaf yang mengisi relung hati mereka, memberikan cahaya kesembuhan untuk masing-masing jiwa yang sudah bertahun-tahun terluka.
**********