
Lucius mencuci wajahnya di wastafel. Ia menunggu rasa mual yang berputar di perutnya menghilang. Rambut panjangnya kembali ia ikat menjadi satu di belakang leher. Ia memejamkan mata berharap rasa mual itu segera pergi karena ia harus segera menemui para tamunya.
Setelah beberapa lama, barulah Lucius merasa lebih baik. Ia mengambil handuk dan mengelap wajahnya sambil melangkah keluar dari toilet.
Lucius pergi ke aula tamu sayap barat dan perkiraannya benar, Lance telah membawa para tamunya dan pelayan yang bernama Rose ke ruangan itu. Sayap barat adalah kediamannya, hanya orang-orang tertentu yang bisa memasukinya, sehingga tidak akan ada pelayan atau siapapun yang akan mendengar atau melihat pertemuan mereka secara tidak sengaja.
Langkah kaki yang memasuki ruangan membuat Reggie kembali mengetatkan genggamannya di kemeja Mike. Ia tahu itu adalah langkah kaki Lucius yang telah mendatangi mereka.
Mike merengkuh Reggie semakin dalam ke pelukannya. Masih menutupi sosok gadis itu dari pandangan Lucius.
"Aku penasaran apa yang akan kakakmu lakukan setelah tahu identitasmu yang sebenarnya." Bisikan Mike membuat Reggie sangat terkejut dan segera mendongak.
"Kau ... kau tahu ...," bisik Reggie terbelalak.
"Ya. Aku tahu semuanya, Regina." Mike menunduk menatap mata bulat besar berwarna hitam yang terbelalak memandangnya. Mereka berpandangan lama sampai suara dehaman Lucius membuat keduanya tersentak.
"Ehemm! Adakah yang mau menjelaskan kepadaku kejadian sebenarnya? Siapa pelayan ini? Dan jika dia adalah anggota klanmu, Derek. Apa tujuannya masuk kemari menyamar sebagai pelayan."
Lucius pergi ke sofa yang berada paling jauh dari para tamunya. Ia lalu menghela tangannya ke arah sofa-sofa di hadapannya, mempersilakan tamu-tamunya untuk duduk. Namun tidak satu pun di antara mereka yang bergerak.
"Well ... kalian sepertinya lebih nyaman berdiri. Jangan menganggapku tidak sopan dengan mengatakan aku tidak menawari kalian tempat duduk." Ucapan Lucius tidak mendapat tanggapan. Ia menaikkan alis, lalu menyilangkan kaki dengan tangan bersedekap.
"Jelaskan siapa gadis ini, Derek!" Suara Lucius menjadi tajam. Dengan wajah dingin ia memandang pemimpin keluarga Langton yang berdiri tak jauh dari Mike.
"Kenapa kau memasukkan mata-mata ke kediamanku!" Lucius kembali bersuara ketika Derek masih saja diam.
Gadis pelayan yang berada dalam pelukan Mike terlihat menyandarkan keningnya ke dada Mike. Ia terlihat akan tumbang bila Mike tidak menyangga tubuhnya.
Mike mencium puncak kepala Reggie. Memeluknya erat dan berbisik, "kau hanya perlu membuka identitasmu. Selanjutnya serahkan semuanya padaku ... dia tidak akan dapat melakukan apapun padamu. Kami akan membawamu kembali ke keluarga Langton."
Reggie tidak bersuara, sekuat tenaga ia menahan diri agar air matanya tidak jatuh. Perasaannya campur aduk. Ia merasa ketakutan, merasa ngeri, merasa senang akan bertemu, namun juga merasa khawatir akan reaksi kakaknya, merasa lega karena ada Mike yang mendukungnya, tapi juga merasa was-was atas masalah yang akan terjadi antara Mike dan Lucius nantinya. Tapi Reggie menyadari perasaannya yang paling dominan adalah ketakutan, ia menggenggam kemeja Mike makin erat, merenggut kemeja itu sehingga kainnya tertarik ke genggamannya.
"Kau akan membuat kemeja itu robek dengan tanganmu ...." Lucius menatap punggung gadis itu yang berada dalam pelukan Mike.
"Ayolah, Langton! Kau harus memberikan penjelasan!" Lucius kembali menatap tajam pada Derek.
Mike mengangkat dagu Reggie lalu memberikan anggukan tanda dukungan pada gadis itu ketika mata mereka bertemu, kemudian dengan perlahan Mike akan memutar tubuh Reggie menghadap Lucius.Tapi tepukan Derek di bahunya membuat Mike berhenti tiba-tiba.
"Mike ... kita bisa langsung membawanya pulang. Kita tidak berhutang penjelasan apapun pada Sanchez."
Reggie menatap mata Derek dari balik bahu Mike. Ia mencoba tersenyum yang malah terlihat seperti ringisan bagi Derek.
"Tak apa ... aku ingin melakukannya ...," bisik Reggie serak. Ia memandang Mike yang kembali mengangguk dan memutar tubuhnya menghadap Lucius. Dada Mike menjadi sandaran bagi Reggie. Kedua lengannya memeluk Reggie dari belakang.
"Lihat baik-baik gadis ini, Lucius ...." Mike memandang Lucius yang mengarahkan matanya pada Regina. Kedua saudara itu saling menatap.
Awalnya tidak terlihat ekspresi apapun di wajah Lucius, lalu pria itu mulai berdiri dari sofa dan berjalan beberapa langkah, keningnya berkerut dalam, namun matanya tidak pernah pergi menatap sepasang mata hitam yang menatap balik ke arahnya. Ingatannya kembali ke masa lalu. Mata yang sama yang kerap memandangnya dengan kepolosan seorang gadis kecil. Lucius terbelalak lebar, menelan ludahnya berkali-kali.
Mike melihat ketika pengenalan terhadap sosok Regina terpancar di mata Lucius. Laki-laki itu tiba-tiba berjalan mundur, namun kali ini tubuh besarnya terlihat sedikit terhuyung. Lance segera mendekat dan memegangnya.
"Tuan ...." Lance memandang khawatir pada wajah tuannya yang sangat pucat. Dengan menyangga tubuhnya pada tangan Lance, Lucius berjalan menjauh, lalu ia berhenti di belakang sebuah sofa. Ia menumpukan kedua tangannya di atas sandaran sofa. Derek dan Mike menyadari kedua tangan Lucius terlihat gemetar.
Mike menyadari keadaan Reggie sendiri tidak lebih baik. Gadis itu gemetar hebat, pelukan Mike tidak mengurangi getaran yang terasa dari tubuh Reggie.
Mereka semua menunggu dengan hati gelisah. Memandang Lucius yang berdiri dengan tumpuan sandaran sofa di depannya. Melihat wajahnya yang pucat seolah darah di permukaan kulitnya sudah habis.
"Su ...." Lucius berhenti. Suaranya serak seolah sesuatu mengganjal tenggorokannya. Ia kembali menelan ludah berulang kali.
"Sudah hampir 19 tahun Gina ...," bisik Lucius serak. Memandang mata hitam yang sangat dikenalinya ketika mereka masih bersama hampir 19 tahun yang lalu.
**********
From Author,
Terimakasih masih mengikuti kemanapun Mike dan Reggie ya para pembaca.
Author sangat mengharapkan Vote dan juga likenya di chapter-chapter minggu ini ya. Semoga pembaca berkenan untuk memberikan vote minggu ini khusus untuk Love Seduction.
Mike and Reggie pengen banget masuk ranking😍
Hehe. Ngarep.com
Terimakasih semuanya.
Salam, DIANAZ